Eka Rahmawati

  • Beranda
  • Profil
  • Makan
  • Sehat
  • Cantik
  • Jalan
  • Buku&Film
  • Belajar



Siapa di antara kamu yang memanfaatkan situasi di rumah aja karena Covid-19 dengan membaca buku sampai selesai? Iya, selesai. Soalnya banyak nih orang (termasuk kadang-kadang saya) yang baca buku ngga kelar-kelar sampai berbulan-bulan, padahal ngaku-nya hobi baca buku :p. 

Udah dua bulan lebih di rumah aja saya akhirnya menyelesaikan tiga buku. Dua buku saya beli tahun lalu, satu buku lagi dibeli sebelum pandemi ini masuk ke Indonesia. 

Di bulan Mei kemarin saya sempat share tayangan Netflix yang ditonton selama di rumah aja. Nah, kali ini saya mau ngasih tahu tiga buku tersebut. Siapa tahu ada dari kamu yang sudah baca bukunya terus kita bisa balas-balas komentar atau mungkin ada juga yang punya bukunya sejak lama tapi belum selesai atau bahkan belum disentuh sama sekali, terus dengan baca postingan ini jadi pengin baca bukunya.

Oke, daripada kebanyakan intro, langsung aja nih simak review tipis-tipis dari saya. 

Baca juga: Pilihan Tayangan Netflix yang Saya Tonton Selama #dirumahaja

Happy Lucky Traveler: Kehidupan Adalah Perjalanan - Tatty Elmir


Saya membeli buku ini saat datang ke Big Bad Wolf 2018. Buku dari Mizan ini saya pikir sama seperti buku perjalanan lainnya yang menceritakan sang penulis melalang buana ke suatu negara atau daerah di Indonesia.

Ternyata memang benar, tapi tidak semua bab yang ada di dalam buku ini membahas demikian. Seperti judulnya, Happy Lucky Traveler: Kehidupan Adalah Perjalanan, Mba Tatty Elmir juga memberikan pelajaran bernilai di setiap perjalanan kehidupan. Maksudnya, gimana tuh?

Jadi ada beberapa bagian dalam bukunya yang menjelaskan soal kita dalam hidup ini harus melawan rasa takut, tidak boleh lupa akan tanah air, perbanyaklah melakukan perjalanan, bahkan hingga nasihat mencari jodoh. Bagian saya suka dari buku ini salah satunya pada tulisan yang berjudul "Menyoal Rasa Takut Kita" Saya saat membaca tulisan tersebut terasa tersentil dengan kalimat-kalimat yang disampaikan Mba Tatty. Saya juga jadi berpikir, bahwa sungguh rugilah orang-orang yang banyak takut mencoba berbagai hal di dunia ini.

Terus saya kagum sama pemikiran Mba Tatty di bagian tulisan berjudul Merantaulah Nak! Saya setuju sih dengan yang ada di bagian ini bahwa anak jangan dilarang untuk merantau. Dengan merantau ada banyak pelajaran hidup yang bisa diperoleh, seperti mandiri, tangguh, lebih bijak, bisa lebih toleransi, dan lain-lain.

Membaca buku ini ngga harus dimulai dari bab 1 kok. Tapi bisa dimulai dari bagian mana saja yang ingin dibaca, karena masing-masing kisah perjalanan punya makna tersendiri.

Saya membaca buku Mba Tatty Elmir, timbul pertanyaan di kepala, gimana caranya bertemu atau mendapatkan jodoh yang suka jalan-jalan juga, terus ngasih kesempatan buat istrinya untuk traveling  sama temannya disaat sudah menikah dan punya anak? gimana, gimana, gimana? Hal ini karena beberapa cerita, Mba Tatty Elmir mengisahkan jika suaminya sangat pengertian dengan 'hobi' istrinya yang gemar berkelana. Salah satu contohnya di tulisan dengan judul Sebelum Menutup Mata, sang suami mengizinkan Mba Tatty pergi ke Palestina (meskipun ada syaratnya)  untuk melakukan misi kemanusiaan. woow banget kan!

Kalau ada yang tahu gimana cara  mendapatkan suami seperti itu, tolong kasih tahu saya apa kiatnya, ya :)

Bukan niat untuk promosi diri, tapi saya tipikal cewek yang ngga gampang ngeluh kalau harus jalan kaki jauh dan panas-panasan (asal tujuannya jelas), mau tidur di tempat menginap yang ngga bagus-bagus amat demi melihat suatu tempat yang saya belum kunjungi. Karena saya lebih mementingkan pengalaman wisatanya sih. 

Jujur saja, saya agak sedih atau kesal kalau baca buku yang membahas soal traveling. Bukan sedih atau kesal sama bukunya, tapi sama diri saya sendiri. Alasannya, kenapa saya baru mulai traveling diumur 24 tahun? Kenapa saya ngga belajar giat buat bisa dapat beasiswa keluar negeri? Kenapa saya pemalu dan takut gabung ke komunitas backpacker? dan kenapa-kenapa lainnya. Yaudahlah ya, semua itu tidak perlu disesali dan perbanyak bersyukur karena ada banyak nikmat yang saya peroleh di hidup ini. 

30 Hari Bersama Bluebell: Sebulan Keliling United Kingdom Bersama Mobil Berusia 18 tahun - Ukirsari


Kalau kamu suka sama cerita perjalanan yang disisipi dengan informasi sejarah yang cukup kental, buku 30 Hari Bersama Bluebell: Sebulan Keliling United Kingdom Bersama Mobil Berusia 18 tahun  karya dari mantan jurnalis Kompas Gramedia, Mba Ukirsari bisa kamu nikmati. 

Saya beli saat tak sengaja mampir ke Gramedia Blok M dekat kantor sebelum pandemi ini muncul di Indonesia.Terus tergelitik sama judul di bawahnya 'Sebulan Keliling United Kingdom Bersama Mobil Berusia 18 tahun'. Kenapa? karena Saya tahun ini sebenarnya ada rencana mau ke UK, akhirnya harus diundur tahun depan (Mudah-mudahan terlaksana) karena adanya Covid-19 ini. 

Pikir saya buku ini bisa jadi bekal destinasi, kalau tahun depan saya jadi berkunjung ke Inggris dan sekitarnya. Ternyata, Mba Ukirsari yang melakukan perjalanan bersama sang suami tercinta Nick dan juga mobil kesayangan yang diberi nama Bluebell (mobil Ford Fiesta berwarna biru yang sudah berusia 18 tahun. Bluebell merupakan mobil pertama yang dibeli Nick dari tabungan hasil jerih payahnya)  ini melakukan perjalanan untuk bernostalgia dan mengunjungi beberapa tempat yang belum pernah didatangi di UK sebelumnya.  

Dengan tebal 332 halaman, pembaca akan diajak berkenalan dengan destinasi yang ada di UK (tepatnya Inggris, Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara). Jujur saya kagum dengan kemampuan Mba Arie yang tahu banyak soal sejarah tempat di UK. 

Menariknya lagi, cerita-cerita di dalam buku ini juga dibumbui dengan berbagai pengetahuan akan film, aktor, penyanyi, dan lainnya yang berkaitan dengan tempat yang dikunjungi. Saya terkadang saat membaca judul film, nama aktor atau penyanyi yang tidak ketahui dalam buku ini, langsung mencarinya di Google. 

Belum lagi terkadang saya dibuat iri dengan 'keromantisan' Nick dan Mba Arie sebagai suami dan istri yang hobi pelesir ke berbagai tempat di dunia. Mereka sangat kompak sekali sebagai traveler. Ada banyak sekali kesamaan di antara mereka. 

Dalam hati saya ngebatin, ya Allah, semoga suami saya kelak orang yang suka traveling juga dan menganggap jika jalan-jalan merupakan suatu kebutuhan bukan hanya sekadar hiburan semata yang menghabiskan uang. Atau seenggaknya, mengizinkan saya untuk tetap jalan-jalan keluar kota atau keluar negeri nanti meskipun sudah menikah dan punya anak. Muluk ngga sih? 

Oke balik lagi ke bukunya. Di dalamnya saya juga mendapatkan pelajaran jika dalam melakukan traveling bersama pasangan itu, tidak selalu harus pihak laki-laki yang membiayai semua kebutuhan. Tapi Mba Arie dan Nick bahu membahu atau secara bergantian membayar makan dan kebutuhan lain selama perjalan satu bulan mereka berkeliling United Kingdom. 

Belum lagi pesan di mana saat kita traveling itu kita harus percaya sama insting. Percayalah bahwa di luar sana banyak orang jahat tapi ada lebih banyak lagi orang baik di sana. 

Daya tarik buku ini juga ditambah dengan perbedaan budaya di antara Mba Arie yang merupakan orang Indonesia dengan Nick yang memang orang UK. Perbedaan-perbedaan tersebutlah yang bikin saya jadi mikir, wah seru sekali ya, kehidupan Mba Arie dan Nick ini. 

Sayangnya dalam buku ini gambar yang disajikan tidak berwarna dan tidak ada caption. Jadi terkadang saya bingung, foto ini diambil di daerah mana. 

Sekali lagi, kalau kamu suka dengan tema tulisan perjalanan yang kaya akan pengetahuan sejarahnya, buku ini cocok untuk kamu. Tapi kalau kamu lebih suka dengan buku traveling yang lebih banyak menceritakan keindahan suatu tempat, makanan khas, dan kisah-kisah perjalanan pada umumnya, mungkin beberapa bab yang ada di bagian buku ini sedikit menjenuhkan.

Baca juga: Enggak Ada Alasan Buat Malas Baca Buku. Karena Ada 6 Cara Atur Waktu yang Bisa Kamu Pilih


Vegetarian - Han Kang


Buku dengan tebal 221 halaman dan terbagi ke dalam tiga bagian, yakni Vegetarian, Tanda Lahir Kebiruan, dan Pohon Kembang Api ini telah 'menipu' saya. Awalnya saya kira buku ini akan menceritakan kisah romantis seorang 'penganut' vegetarian (ini terpengaruh dari covernya yang ada simbol bunga merekah. Hal ini makin meyakinkan saya dengan perumpamaan, don't judge the book by it's cover!) Ternyata saya salah. Diawal membaca buku ini saya sudah dibuat bingung oleh tokoh utama Kim Yeong Hye, seorang istri yang biasa-biasa saja, tidak cerewet, kalem, pintar memasak, dan patuh.

Di bab Vegetarian dimulai menceritakan tentang kehidupan rumah tangga Kim Young Hye dengan suaminya yang berjalan baik-baik saja namun membosankan karena pasangan ini tidak sering berkomunikasi layaknya suami istri pada umumnya.

Di suatu malam Young Hye bermimpi aneh dan membuatnya malah membuang semua daging maupun semua makanan yang memiliki unsur daging. Sang suami tentunya dibuat pusing bukan kepalang dengan tingkah istrinya. Saat suami bertanya pada Young Hye apa yang terjadi, ia hanya menjawab aku bermimpi.

Young Hye juga membuat kaget seluruh anggota keluarganya pada saat kumpul keluarga, ia menolak memakan daging. Perilaku sang anak membuat sang ayah malu pada menantunya dan membuatnya marah sekali. Dan hal yang paling mengerikan dalam novel ini menurut saya di mana saat Young Hye menggores urat nadinya sendiri dengan benda tajam karena dipaksa ayahnya makan daging.

Sungguh saya dibuat tak habis pikir dengan si Young Hye. Pada bagian ini saya sungguh gregetan sama si Young Hye, kenapa tidak menceritakan saja mimpinya pada suami atau anggota keluarga lainnya untuk dicarikan solusi atau ditenangkan, sehingga dia tidak perlu merepotkan semua orang, at least tak perlu merugikan dirinya sendiri.

Kebingungan sekaligus geregetan saya juga makin muncul membaca bab kedua Tanda Lahir Kebiruan dengan tingkah kakak ipar Young Hye, yang merupakan seniman. Dia sekonyong-konyong minta si Young Hye jadi model lukisan. Ini bukan lukisan biasa tapi kakak ipar yang tidak diketahui namanya itu melukis berbagai bunga dan gambar lainnya di tubuh Young Hye tanpa sehelai kain pun! Tentu kamu pasti sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, bukan?

Dibab ketiga emosi saya kembali dipermainkan dengan sosok kakak Young Hye yang begitu sabar, tabah, tapi rapuh menghadapi Young Hye yang akhirnya berada di rumah sakit jiwa dan ia bercerai dari suaminya. Jujur saja, jika saya berada di posisi kakak Young Hye di mana harus mengurus adik yang ternyata mengidap  skizofrenia, bercerai dengan suaminya, harus mengurus anak semata wayang, serta mengurus toko mungkin saya sudah tidak kuat.

Well, dibalik kerumitan kisah yang ada di novel Vegetarian, saya akui Han Kang sungguh apik menuliskan berbagai dinamika konflik yang dialami setiap tokoh. Ide cerita yang begitu unik dan mampu mempermainkan emosi pembacanya (setidaknya saya). Mungkin inilah yang membuat ia bisa berhasil memenangkan penghargaan Man Booker International Prize atas karya Vegetarian ini.

Baca juga: 5 Buku untuk Perempuan Rayakan International Women's Day!
  • 12 Comments



Saya sudah lama ngga me-review sunscreen. Terakhir membahas Biore UV Aqua Rich Watery Essence yang memang bagus di kulit kombinasi saya. 

Nah, kali ini saya mau share pengalaman memakai sunscreen Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++.  Senangnya ini merupakan susnscreen produk lokal, lho. Yuk simak reviewnya.

Kemasan

Pada kemasan kardusnya terbuat dari karton yang didominasi warna kuning kunyit di samping kiri, kanan, dan belakang. Sementara pada bagian depannya di dominasi warna hitam dengan ada tulisan keemasan. 

Di tampilan depan kardusnya sendiri tertera beberapa keterangan selain nama brand dan produk. Terdapat tulisan moisturizing, brightening, UV Protection, dan non comedogenic tested. Tertera juga ukuran dari produk ini yakni 20ml.







Bodi kemasannya di dominasi oleh warna kuning kunyit dan hitam untuk tutupnya. Bentuknya berupa tube  plastik yang berulir. Saat mengeluarkannya juga tidak terlalu sulit, hanya cukup ditekan sedikit langsung keluar isinya. Jadi nggak bakal kejadian menuang kebanyakan isi produk.





Pada kemasan kardusnya sendiri tertera keterangan 12M yang artinya produk ini bisa bertahan hingga 12 bulan sejak produk dibuka pertama kali. 

Jadi jangan salah ya. Tanggal kedaluwarsa yang tertera dalam kardus atau produk itu biasanya menandakan berapa lamanya produk tersebut bisa digunakan selama segel produk belum dibuka. Kalau  Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++  punya saya ini tanggal kedaluwarsanya bulan Maret tahun 2022. Jadi harusnya sunscreen ini bisa digunakan sampai Mei 2021 saja setelah kemasannya dibuka.

Dengan berat 20ml dan termasuk kecil, Lacoco sunscreen ini sangat handy buat dibawa ke mana-mana dan tidak makan tempat jika disimpan di pouch makeup. 

Baca juga: Review Sunscreen Biore UV Aqua Rich Watery Essence. Cocok untuk Kulit Kombinasi

Aroma dan Tekstur

Dari sisi aroma, Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++ tidak memiliki aroma fragrance. Tapi jika didekatkan akan sedikit tercium aroma lembut. Bahkan hampir tidak tercium baunya saat diaplikasikan (kalau kita ngga benar-benar notice). Teksturnya sendiri krim mirip lotion, tapi tidak terlalu thick dan ngga cair juga. Mudah meresap dan diratakan saat dioleskan pada kulit

Cara Pakai

Oleskan Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++ secara merata pada wajah dan leher setelah menggunakan produk morning skincare dan sebelum beraktivitas. Gunakan dalam jumlah yang cukup. Oleskan lagi setiap 2-3 jam sekali. FYI, memakai sunscreen sebaiknya sebanyak dua ruas jari.




Sebagai tambahan aja nih. Karena Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++ ini merupakan chemical sunscreen, baiknya sih setelah digunakan diamkan dulu selama 20-30 menit agar meresap. Terus baru deh keluar rumah. Sama jangan lupa untuk melakukan re-apply sunscreen ya.

Biasanya saya kalau mau re-apply sunscreen siang-siang, membersihkan wajah dulu pakai micellar water yang dilanjutkan sama facial wash. Terus pakai hydrating toner, pelembap, baru sunscreen. 

Oh iya, sebagai tambahan aja. Meskipun kita lagi di rumah aja, tetap harus pakai sunscreen karena sinar matahari bisa menembus kaca jendela, lho. Ditambah paparan sinar biru terus-menerus yang berasal dari laptop.

Komposisi (Dari website Lacoco)

Water, Butyl Methoxydibenzoylmethane, Propylene Glycol, C12-15 Alkyl Benzoate, Ethylhexyl Methoxycinnamate, Squalane, Diethylhexyl Carbonate, Propylheptyl Caprylate, Niacinamide, Butylene Glycol, Polyglyceryl-2 Stearate, Octocrylene, Glyceryl Stearate, Stearyl Alcohol, Aluminium Starch Octenylsuccinate, Silica, Phenoxyethanol, Glycyrrhiza Uralensis (Licorice) Root Extract, Titanium Dioxide, PEG-100 Stearate, Lecithin, Ethylhexylglycerin, Disodium EDTA.

Klaim

Pada kemasan di kardusnya, tertera jika Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++ mampu melindungi kulit dari sinar UV A dan UV B, melembapkan kulit wajah, membantu menjaga eslastisitas kulit  wajah, mencerahkan kulit wajah, dan teruji secara klinis non-comedogenic alias tidak menyumbat pori-pori. 

Tambahan, di website resmi Lacoco https://www.lacoco.co.id/ sunscreen ini diformulasikan tanpa silikon, teksturnya ringan, nyaman digunakan tanpa membuat kulit berminyak, dan tidak meninggalkan white cast pada kulit. Plusnya lagi no animal tested, no silicon, dan aman juga untuk ibu hamil serta menyusui. Mantap, kan?

Hasil Setelah Menggunakannya

Saat mengoleskan Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++ ke wajah, proses blending-nya gampang, tidak terasa lengket di wajah maupun di telapak tangan, dan mudah meresap. Senangnya lagi, ngga ada white cast, ngga bikin kulit kering, ngga ada rasa ketarik, ngga muncul rasa panas, dan cukup melembapkan (mungkin karena efek kandungan squalane yang memang bagus untuk melembapkan kulit). Untuk efek mencerahkannya, saya belum merasakannya, ya. Jadi setelah memakainya, saya merasa warna kulit wajah saya seperti apa adanya saja.

Hasilnya juga satin finish, bukan yang matte banget serta bikin sedikit glowing di spot tertentu tapi ngga bikin wajah tampak greasy. Setelah digunakan seharian, sunscreen ini tidak terasa berminyak juga. Intinya, selama saya pakai Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++ untuk aktivitas indoor (karena lagi #dirumahaja), sunscreen ini bekerja dengan baik di kulit saya.



Setelah memakai Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++.


Tapi perlu diingat ya, saya sebelum mengoleskan sunscreen ini sudah memakai skincare essence, hydrating toner, serum, dan pelembap ya.

Saat lebaran kemarin juga saya menggunakan sunscreen ini sebelum memakai makeup. Hasilnya? Seperti yang kamu lihat di foto di bawah ini, wajah saja baik-baik saja, alias ngga ada sesuatu yang berlebihan karena sunscreen Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++ ditimpa makeup. Ngga terasa lengket dan berat setelah ditimpa makeup. Saya happy banget!



Kalau setelah mengoleskan sunscreen ingin memakai makeup, tunggu beberapa menit dulu ya. Jangan langsung ditemplokin makeup agar sunscreen meresap dan membentuk lapisan perlindungan dan makeup yang saya pakai tidak menggeser suncreen tersebut. 

Tambahan lagi, saat malam hari jangan lupa untuk melakukan double cleansing, ya. Meski kita di rumah aja tapi sisa-sisa skincare yang kita pakai di pagi dan siang hari perlu dibersihkan secara menyeluruh. 

Sabun wajah saja, belum cukup untuk menghapus bersih sisa skincare yang ada di wajah. Saya sendiri menggunakan cleansing balm dari Heimish sebagai pembersih pertama. Lalu lanjut menggunakan dengan face wash COS RX Salicylic Acid Daily Gentle Cleanser. 

Baca juga: Heimish Cleansing Balm Pembersih Wajah yang Bagus untuk Pemula [Review]


Beli di Mana dan Harganya

Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++  bisa dibeli di 3 e-commerce yakni Lazada, Shopee, dan Tokopedia. Saya sendiri membelinya di Tokopedia dengan harga Rp170.000.

Cocok Digunakan oleh Siapa? 

Sunscreen Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++  ini bisa dipakai oleh semua jenis kulit. Tapi kalau kamu masih ragu untuk menggunakannya, bisa dilakukan patch test dulu ya sebelum dioleskan ke wajah. 

Beli atau Ngga? 

Kalau kamu sedang mencari sunscreen yang ringan, handy, dan tidak memunculkan whitecase, Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++ bisa jadi pilihan. Apalagi ini merupakan produk lokal, otomatis gampang didapatkan dan harganya ekonomis. Apakah saya akan repurchase? Pastinya, apalagi sekarang di Indonesia sudah masuk musim kemarau dan cuacanya sangat terik, dengan SPF 50 dari Lacoco ini sangat bisa diandalkan.

Kamu sudah coba juga sunscreen ini? Atau punya rekomendasi chemical sunscreen nyaman lainnya? Kasih tahu saya di komen ya!


  • 78 Comments
Sumber foto: YouTube.com


Halo apa kabar?

Semoga kamu dalam keadaan sehat ya. Gimana kegiatan selama di rumah aja? Apakah ada yang punya kebiasaan baru? atau lagi asyik meneruskan hobi lama? 

Kalau ditanya kegiatan apa yang dilakukan selama di rumah aja, selain work from home, saya juga lagi suka masak nih hehehe. Kapan-kapan saya share ya menu apa saja yang berhasil saya buat di blog ini. 

Selain memasak, saya juga punya kebiasaan baru nih, yaitu nonton Netflix. Saya memang sudah lama langganan Netflix, tapi nontonnya jarang karena biasanya udah capek duluan sama kerjaan kantor. Terus pas weekend, kalau lagi inget aja nontonnya :(

Nah, daripada pusing lihat pemberitaan soal PSBB dan corona,nih saya kasih rekomendasi pilihan tayangan Netflix yang bisa nemenin hari-hari kamu selama di rumah aja.. 

Atypical 

Sumber foto: https://www.tribunnewswiki.com/

Saya tahu series ini dari melihat ig story-nya Fellexandro Rubi (tahu dong koko ganteng ini siapa?) yang share soal tayangan-tayangan Netflix favorit dia. Saya tertarik karena tema dari cerita ini mengangkat cerita soal anak remaja yang mengalami autisme sedang berusaha mencari pacar. 

Tema yang sangat menarik bukan? Atypical sendiri ada 4 season, 3 season sudah ada di Netflix dan season terakhir akan tayang tahun 2021. Saya baru menonton season 1 yang terdiri dari 8 episode. 

Kenapa menurut saya ini series yang bagus? Di film ini saya merasa penonton diajak untuk memahami spektrum autisme dan apa saja dampaknya bagi orang di sekitarnya. Kisahnya juga ringan dengan fokus kehidupan sehari-hari. Ditiap episode selalu ada hal-hal yang bisa kita ambil pelajaran.  

Salah satu pesan yang saya suka dari serial ini adalah orang tua dan adik Sam selalu berusaha ada untuk Sam, meski ayahnya Sam, Dough sempat meninggalkan keluarganya selama beberapa bulan. Terus cara orang tuanya Sam mendidik Casey (adik Sam) untuk menerima dan melindungi kakaknya dan tidak egois dengan dirinya sendiri yang memang normal. 

Lalu bagaimana orang tua Sam saling dukung satu sama lain. Ini bisa terlihat di salah satu episodenya di mana ibu Sam, Elsa merasa khawatir dengan anak laki-lakinya yang berniat mencari pacar. Elsa takut Sam akan sedih, patah hati, kecewa, dan lain-lain. Sementara sang Ayah, Dough justru memberikan beberapa tips bagi Sam untuk mendekati lawan jenis.  

Satu dialog yang saya ingat di serial season 1 Atypical, saat Sam berkata
"Orang berpikir orang dengan autis tak punya empati. Tapi itu tak benar. Terkadang aku tak tahu apa orang marah. Tapi setelah tahu, aku sangat berempati".
Memang benar, karakter Sam digambarkan sangat to the point dan jujur menyampaikan sesuatu yang ada dalam kepalanya. Makanya untuk orang normal, sifat dari Sam itu dianggap mengganggu bahkan menyakiti perasaan orang di sekitar Sam.

Setidaknya dengan menonton Atypical, muncul rasa empati karena kita sedikit lebih tahu karakter dari orang dengan autisme. 

Breakfast, Lunch & Dinner

Sumber foto: Netflix.com

Kalau suka tayangan yang menceritakan soal makanan sambil jalan-jalan mengenal budaya suatu kota, mungkin Breakfast, Lunch & Dinner bisa kamu tonton. Ini merupakan series dari David Chang, koki international yang cukup terkenal dan pendiri Momofuku Noodle Bar. 

Serial ini baru ada satu season yang terdiri dari 4 episode. Masing-masing episode Chef David Chang ditemenin sama selebriti untuk mencicipi makanan lokal saat sarapan, makan siang, dan makan malam di 4 kota besar sambil membahas berbagai topik. Di tiap episode juga David dan para bintang tamu ngobrol sama orang lokal untuk bahas makanan, budaya, sejarah, dan lain-lain.

Episode pertama, Vancouver with Seth Rogen, episode kedua Marrakesh with Chrissy Teigen, episode ketiga Los Angeles with Lena Waithe, dan Phnom Penh with Kate McKinnon. Nah, 4 kota yang dipilih itu ternyata hasil rekomendasi dari 4 selebriti di atas lho. Jadi pasti pemilihannya cukup personal.

Kayak misalnya alasan Kate McKinnon milih Phnom Penh (Kamboja) karena dia suka negara yang tidak ada konsepsi Amerika. Sedangkan Chrissy Teigen memilih Marrakesh (Maroko) karena dia telah empat kali ke sana dan merasa memiliki pengalaman istimewa saat berkunjung ke Marrakesh.

Masing-masing episode berdurasi 43-44 menit. Ada dua episode yang paling saya suka, yakni episode Marrakesh dan Phnom Penh. Pertama, selain makanan yang dikenalkan adalah makanan halal, kedua cerita budaya di dua kota (Marrakesh dan Phnom Penh) lebih kental.

Di episode Marrakesh, sang pemandu mengatakan jika orang Marrakesh jarang makan di restoran. Jika makan di restoran mereka lebih suka yang lokasinya dekat dan harganya murah.

Terus saya suka episode ini karena David dan Chrissy berkunjung ke rumah salah satu orang lokal. David dan Chrissy dihidangkan makanan khas Marrakesh, yakni Tagine ayam. dan couscous. Tagine sendiri adalah tungku yang digunakan untuk menghangatkan makanan). Diajarkan juga budaya orang Marrakesh makan tagine, yakni biasanya di piring besar dan orang-orang mengelilinginnya untuk menyantapnya. Pokoknya di episode bersama Chrissy Teigen, rasa lokalnya dapat banget!

Kalau episode di Phnom Penh, Kamboja saya suka karena lebih banyak membahas sejarah negara tersebut dan makanannya. Disebutkan juga kalau makanan Kamboja banyak dipengaruhi oleh bumbu-bumbu India, sayur dan ikan dari China, dan makanan barat dari Perancis.

Dan yang paling seru lagi, Kate dan David sempat juga makan di atas tuk tuk (kendaraan sejenis bajaj), makan di tengah padatnya pasar, dan makan malam di atas perahu. Menarik, kan?

Selain itu saya suka dengan cara Chrissy Teigen dan Kate McKinnon di serial ini karena mereka berani mencoba berbagai makanan unik. Seakan mereka pasrah dengan rasa yang bakal mereka dapatkan saat mencicipi makanan baru tersebut. Yang ada di pikiran saya "ya ini lah yang saya tunggu!"

Contohnya, Kate McKinnon yang seorang vegetarian pertama kali mencoba Durian, dalam bentuk Durian Fruit Ice Cream. Kate bilang rasanya seperti susu atau tahu basi. Tapi dia menghabiskan ice  cream tersebut.

Saya membaca beberapa artikel luar negeri untuk mencari tahu pendapat tentang series ini. Kebanyakan berpendapat jika Breakfast, Lunch & Dinner tidak sebagus Ugly Delicious yang juga dibawakan David Chang. Ada yang berpendapat jika series Breakfast, Lunch & Dinner tidak sedalam Ugly Delicious dalam membahas makanan. 

Jujur saja saya belum menonton Ugly Delicious. Mungkin ada dari kamu yang sudah menontonnya? Kalau sudah coba sampaikan di kolom komentar ya.

Becoming

Sumber foto: Netflix.com

Membaca judulnya mungkin kamu sudah tahu tayangan ini akan mengisahkan apa? yup film dokumenter berdurasi satu jam 29 menit ini akan bercerita soal kehidupan setelah tidak menyandang status ibu negara dan perjalanan Michelle Obama melakukan tur ke 34 kota pada 2019 untuk mempromosikan bukunya yang berjudul  sama dengan film dokumenternya.

Pada film ini Michelle juga menemui dan membagi berbagai pesan-pesan inspiratif pada anak muda dan komunitas. Tak lupa disampaikan kisah perjuangannya sebagai kaum minoritas, bagaimana ia bisa menonjol di lingkungan yang kurang menerimanya, dan peran kedua orang tuanya dalam membentuk pribadi Michelle hingga bisa seperti sekarang.

Ada beberapa bagian di mana Michelle menceritakan kisah masa kecilnya di Chicago, remaja, bertemu Barack, dan sampai akhirnya dia bisa menjadi FLOTUS.

Ada beberapa pesan yang saya sukai, di antaranya, ketika ada seorang perempuan muda berkulit hitam bertanya pada Michelle

"Bagaimana caramu sebagai perempuan kulit hitam bertahan dengan situasi yang sering tidak dianggap oleh lingkungan sekitar?"
Jawaban Michelle adalah
"Aku tak pernah merasa tak dianggap. Karena orang tuaku membuatku selalu merasa dianggap. Ibuku membolehkan aku dan kakakku bertanya apapun saat di meja makan. Kita tak bisa menunggu dunia menerima kesetaraan untuk merasa dianggap. Tak akan terjadi dengan satu presiden satu suara. Kau harus cari alat dalam dirimu untuk merasa dianggap dan didengar serta menyuarakannya."
Ada lagi, saat Michelle menghadiri forum diskusi, salah satu perempuan muda bertanya bagaimana kau menghindari stigma bahwa seseorang dikatakan pintar jika ipknya sekian-sekian, berasal dari universitas mana, dan sebagainya (Melihat sesuatu hanya dari angka atau statistik). Michelle menjawab:

"Hal yang membuatmu lebih sekadar dari statistik yaitu saat kau melihat dirimu lebih dari sekadar statistik dan mulai berpikir siapa dirimu? apa yang kau pedulikan? apa yang membuatmu gembira? lihatlah kekuatan dari kisah hidupmu"

Alasan lain mengapa film dokumenter Becoming ini bagus, tidak hanya fokus menceritakan perjalanan hidup Michelle Obama, tapi juga diceritakan beberapa anak muda yang terinspirasi setelah membaca buku Becoming dan mereka jadi lebih termotivasi untuk menata masa depan meski mereka termasuk kaum minoritas di Amerika Serikat.

Saran saya, baiknya film dokumenter ini jangan dihapus di My List kamu meski sudah menontonnya. Percayalah, film ini tidak membosankan untuk dinikmati berkali-kali (saya sendiri sudah menontonnya dua kali). Jika kamu sedang butuh motivasi, saya rasa film ini bisa membuatmu bangkit dan lebih kuat lagi. Cobain, deh :)

Baca juga: 5 Buku untuk Perempuan Rayakan International Women's Day!

Unorthodox

Sumber foto: https://fashioncommentator.com/

Sebelum akhirnya saya menyaksikan miniseri ini, beberapa teman saya sudah menonton dan memamerkannya di Insta Story mereka hehehe. Jujur, pas baca judulnya, saya pikir ini film yang agak seram dan membahas kefanatikan suatu agama. Yang kedua benar sih, tapi ngga seseram yang saya bayangkan.

Singkatnya, miniseri yang terdiri dari 4 episode ini mengangkat kisah seorang perempuan pemberani (Esther Saphiro atau yang dipanggil Esty) usianya 19 tahun yang tidak mau terkungkung dengan segala tradisi dan aturan yang ada dalam keluarganya maupun keluarga suaminya yang menganut agama Yahudi fanatik.

Yang saya suka, film ini setidaknya menyampaikan pesan bagi penontonnya, khususnya kaum perempuan untuk berhak menentukan pilihan dalam hidupnya.

Ada satu adegan dalam episode ketiga di mana ibu mertua Esty datang ke rumahnya dan memberikan sebuah benda yang bisa digunakan untuk mempermudah Esty berhubungan badan dengan suaminya. Di film diceritakan Esty mengalami vaginismus.

Ibu mertuanya bilang jika Esty harus melayani anaknya di atas ranjang, (suaminya Esty bernama Yanky Saphiro)  dengan sebaik mungkin layaknya seorang raja. "Kau harus mengatasi ini sebelum anak itu hilang percaya diri. Kau harus membuatnya merasa seperti raja."

Nah, yang saya suka Esty bilang kalau suaminya adalah raja, berarti dia juga ratu. Di mana maksudnya Esty juga berhak diperlakukan sama dengan Yanki Menurut saya ini dialog yang mencerminkan kesetaraan  dalam pernikahan.

Belum lagi pesan-pesan tersirat di mana Esty menjadi sosok perempuan kuat dan nekat untuk pergi meninggalkan suami, nenek, bibi, dan ayahnya yang tergabung dalam komunitas Satmar Hasidic (Komunitas  cabang Yahudi Ortodoks di Williamsburg, Brooklyn, Amerika Serikat). Esty memilih tinggal di Jerman demi melihat tempat berbeda dan berusaha mengejar kecintaannya terhadap musik.

Menurut saya Shira Haas sangat bagus memerankan peran Esty yang digambarkan sebagai perempuan kaku, polos, kuat, berani mendobrak nilai-nilai yang dipercayai dan mencoba hal-hal baru serta mempertanyakan banyak hal. Sangat bertolak belakang dengan suaminya Yanky Saphiro yang pasrah, penakut, sangat patuh pada orang tua, dan agama Yahudi yang dipercayai.

Unorthodox bakalan mengaduk-ngaduk emosi penontonnya sih. Kalau saya, geregetan melihat  Yanky, yang manut-manut aja sebagai laki-laki yang punya akal dan perasaan :(

Maaf kalau saya ngga menyampaikan jalan cerita dari ke empat tayangan Netflix di atas. Karena sesungguhnya sinopsis bisa kamu cari di Google, ya. Selamat menonton dan kalau ada rekomendasi tayangan Netflix yang seru selain horor dan thriller, kasih tahu saya ya di kolom komentar :)


  • 24 Comments


Salah satu produk pembersih wajah yang sekarang banyak dipakai karena kemampuannya yang oke adalah cleansing balm. Biasanya produk ini dipakai sebagai langkah pembersihan pertama sebelum memakai face wash. 

Cleansing balm mampu menyingkirkan sisa makeup di wajah, bahkan yang waterproof seperti maskara atau eyeliner.

Produk cleansing balm yang pertama kali saya coba adalah Heimish All Clean Balm yang berasal dari Korea Selatan. Langsung aja yuk cari tahu gimana review lengkapnya berdasarkan pengalaman saya. 

Kemasan

Kemasan Heimish All Clean Balm dibungkus kemasan kotak terbuat dari karton. Sementara produknya sendiri dikemas dalam bentuk jar berbahan plastik yang didominasi warna putih bersih. Heimish All Clean Balm bagian depan kotaknya memiliki desain gambar dedaunan. 





Semua beauty blogger maupun beauty vlogger yang sudah pernah mencoba Heimish Cleansing Balm pasti sepakat kalau kemasan dari produk ini unik dan sangat higienis. Gimana nggak, produk ini menyediakan spatula yang memudahkan untuk mengambil produk. Terus, spatula yang biasanya ada di luar produk, bisa disimpan di dalam produknya. Jadi nggak perlu takut hilang deh spatulanya.  




Tentunya keunggulan kemasannya ini sangat berguna bagi orang yang agak clumsy seperti saya hehehe. 

Meski kemasannya agak bulky tapi saya suka sama bentuknya karena simple dan enak dilihat. Di dalamnya juga ada pembatas antara tutup dengan produk. Jadi ini menambah ke-higienisan produk Heimish All Clean Balm. 

Tekstur, Warna, dan Aroma 

Sesuai namanya, teksturnya seperti balm yang kalau kita gosok sedikit saja bisa berubah menjadi minyak dan itulah yang mengangkat segala sisa makeup maupun kotoran yang ada di wajah kita. 

Sementara dari sisi warnanya putih. Untuk aroma Heimish All Clean Balm juga segar sekilas mirip dengan aroma citrus karena ada kandungan Citrus Aurantifolia (Lime) Fruit Extract di dalamnya. Berat bersihnya sendiri yakni  120ml. 





Cara Penggunaan 

Cara menggunakannya juga gampang banget. Tinggal oleskan saja satu sendok spatula ke wajah terus gosok secara perlahan ke seluruh permukaan. Terus lama kelamaan tekstur Heimish All Clean Balm ini berubah jadi minyak untuk mengangkat makeup dan kotoran yang ada pada wajah. Jika sudah, bilas dengan air bersih. 

Di bawah ini saya kasih contoh produk makeup yang saya swatch ke punggung tangan dan dibersihkan dengan Heimish All Clean Balm, ya.



Kiri-Kanan (foundation The Body Shop Matte Clay Skin Clarifying Foundation, Concealer Maybelline Fit Me, Blush Face Glow BLP , dan Laneige Silk Intense Lipstick)



Bersihkan? 

Biasanya sehabis memakai Heimish ini saya lanjut lagi dengan memakai face wash yang sesuai jenis kulit. 

Komposisi

Ethylhexyl Palmitate, Cetyl Ethylhexanoate, Peg-20 Glyceryl Triisostearate, Polyethylene, Peg-8 Isostearate, Butyrospermum Parkii (Shea) Butter, Cocos Nucifera (Coconut) Fruit Extract, Citrus Aurantifolia (Lime) Fruit Extract, Freesia Refracta Extract, Iris Versicolor Extract, Jasminum Officinale (Jasmine) Extract, Lilium Tigrinum Extract, Leontopodium Alpinum Extract, Nelumbium Speciosum Flower Extract, Narcissus Pseudo-Narcissus (Daffodil) Flower Extract, Rose Extract, Citrus Aurantium Dulcis (Orange) Peel Oil, Lavandula Angustifolia (Lavender) Oil, Pelargonium Graveolens Flower Oil, Amyris Balsamifera Bark Oil, Citrus Paradisi (Grapefruit) Peel Oil, Eucalyptus Globulus Leaf Oil, Melaleuca Alternifolia (Tea Tree) Leaf Oil, Juniperus Mexicana Oil, Boswellia Carterii Oil, Citrus Aurantium Bergamia (Bergamot) Fruit Oil, Tocopheryl Acetate (Vitamin E), 1,2-Hexanediol, Water, Butylene Glycol, Citric Acid, Phenoxyethanol, Ethylhexylglycerin.

Manfaat Kandungan 

Saya bakal coba kasih sedikit informasi terkait beberapa kandungan yang ada di Heimish All Clean Balm. 

Cetearyl Ethylhexanoate menjadi bahan yang bagus untuk membersihkan dan mendinginkan kulit.

Peg-20 Glyceryl Triisostearate adanya produk ini membuat produk jadi lebih lembut saat diaplikasikan ke kulit dan cenderung mudah dibilas.

Butyrospermum Parkii (Shea) Butter atau lebih singkatnya shea butter. Sudah terkenal bisa membantu menjaga kelembapan kulit lebih lama. 

Klaim

Tertera di kardusnya jika Heimish All Clean Balm bisa membersihkan makeup berat yang ada di wajah dengan mudah dan bisa dipakai sehari-hari. Dilengkapi juga dengan aroma minyak yang natural. 

Setelah Penggunaan

Setelah memakai produk ini dua bulan lebih saya merasa cukup mudah membersihkan sisa makeup yang ada di wajah. Untuk riasan bagian mata seperti maskara, eyeliner, dan eyeshadow juga mudah sekali dibersihkan. Yang penting jangan sampai terkena sampai ke dalam mata ya, karena bakalan perih. 

Terus setelah memakai produk juga wajah ngga ada rasa ketarik atau kering, dan ngga meninggalkan rasa kesat juga. Saya suka banget sama sensasi aroma yang ada. Wangi aroma citrusnya bener-bener seger. Pas banget disaat kita abis pulang dari berkegiatan bisa bikin fresh. 

Cocok Digunakan Oleh Siapa?

Produk ini bisa digunakan oleh pemilik jenis kulit apapun termasuk acne prone.

Beli Dimana dan Harganya

Heimish All Clean Balm saya beli di Sociolla dengan harga Rp174.000.

Beli atau Nggak

Tentunya beli dong. Kenapa? Karena pemakaiannya gampang, kulit jadi bersih, dan setelah pemakaiannya tidak menimbulkan rasa tertarik atau kering. Buat kamu yang baru pertama kali mau nyobain cleansing balm, produk ini bisa jadi pilihan. 


  • 29 Comments


Salah satu brand dari Korea Selatan yang sudah banyak di-review beauty vlogger dan beauty blogger adalah Laneige. Saya sendiri sudah pernah me-review produk Laneige yang lip sleeping mask-nya karena memang juara banget hasilnya. 

Baca juga: Review Laneige Lip Sleeping Mask yang Bikin Bibir Lembap

Kali ini saya mau me-review salah satu produk yang juga dibicarakan oleh banyak perempuan penggemar skincare Korea, yakni Laneige Water Sleeping Mask. Mungkin ada dari kamu yang belum tahu soal produk ini atau mungkin masih ragu buat beli produknya karena takut tidak cocok atau mempertimbangkan harganya.

Coba yuk simak poin-poin yang bakal saya kasih tahu soal review Laneige Water Sleeping Mask berdasakan pengalaman saya menggunakannya selama satu bulan  ini. Check it out ya!


Packaging 







Dari sisi packaging, Laneige Water Sleeping Mask terbuat dari kaca yang didominasi warna biru muda. Dengan sentuhan warna putih untuk tulisan produk. Di dalamnya ada seal putih yang membatasi produk dengan tutupnya. Jadi lebih higienis. 

Pada saat saya membuka pertama kali produknya, sealnya sangat sulit dibuka. Tapi menurut saya itu bisa menjadi kelebihan karena untuk menjaga kualitas produk tetap aman sampai ke tangan konsumen.




Di dalam kemasannya juga sudah disediakan spatula. Kalau mau pakai, tinggal oleskan saja produknya ke wajah menggunakan spatula, praktis dan tetap higienis. 




Aroma, Tekstrur,  dan Warna

Untuk aroma Laneige Water Sleeping Mask saya suka karena baunya ringan, lembut, dan menyegarkan. Mirip aroma air. Tekstur dari Laneige Water Sleeping Mask ini semi gel. Sekilas seperti krim tapi tidak terlalu thick dan agak sedikit cair jadi mudah meresap.  Setelah bangun pagi, hanya di area hidung saja yang terasa greasy, selebihnya fine, bahkan lembap. Warnanya biru muda.





Varian 

Di pasaran, Laneige punya 3 jenis masker. Selain yang biru, ada dua lagi nih yang juga jadi andalan. 

Water Sleeping Mask (Lavender)

Laneige Sleeping Mask Lavender membantu kulit nampak lebih sehat, cerah, dan bersih keesokkan hari. Sama seperti Water Sleeping Mask yang biasa, produk ini juga memiliki manfaat Sleep-tox™ yang bisa memberikan nutrisi pada kulit. 

Laneige Cica Sleeping Mask

Ini merupakan masker tidur yang berguna sebagai penguat skin barrier, yang bisa membantu menambah kekuatan alami kulit sehingga lebih sehat dan tahan terhadap iritasi eksternal. Laneige Cica Sleeping Mask cocok digunakan untuk semua jenis kulit termasuk sensitive skin. 


How to Use

Kalau dari para beauty vlogger, ada yang bilang kalau memakai sleeping mask ini boleh setelah memakai produk skincare lain. Jadi, setelah membersihkan wajah dan memakai produk skincare perawatan wajah malam hari seperti pelembap, tinggal oleskan saja Laneige Water Sleeping Mask agak tebal ke seluruh wajah serta leher dan diamkan selama tidur. Saat pagi hari tinggal bersihkan menggunakan air. 

Kalau saya sendiri biasanya memakai produk ini sehabis membersihkan wajah malam hari dengan facial wash terus langsung pakai Laneige Water Sleeping Mask tanpa menggunakan skincare lain. Oh iya, cukup ambil sebanyak satu spatula udah bisa kok dipakai ke satu muka dan leher karena mudah diratakan. Tapi itu bukan patokan ya, kalau memang kamu perlu lebih dari itu, silakan ditambah aja sesuai kebutuhan.

Sensasi saat mengoleskan Laneige Water Sleeping Mask ke wajah, yakni terasa sedikit dingin yang menyegarkan gitu dan saat sudah diratakan ke wajah terasa ringan, nyaman, dan tidak lengket. 

Di brosur-nya, produk ini baik digunakan satu atau dua kali seminggu. Tapi jika kulit memang sedang dalam kondisi sangat kering, boleh dipakai lebih dari yang disarankan. Dan senangnya, produk ini ngga transfer ke bantal, yeeeay!

Ingredients 

Water, Butylene Glycol, Cyclopentasiloxane, Glycerin, Cyclohexasiloxane, Trehalose, Sodium Hyaluronate, Oenothera Biennis (Evening Primrose) Root Extract, Prunus Armeniaca (Apricot) Fruit Extract, Beta-Glucan, Chenopodium Quinoa Seed Extract, Ascorbyl Glucoside, Magnesium Sulfate, Zinc Sulfate, Manganese Sulfate, Calcium Chloride, Potassium Alginate, Ammonium Acryloyldimethyltaurate/VP Copolymer, Polysorbate 20, Dimethicone, Dimethiconol, Dimethicone/Vinyl Dimethicone Crosspolymer, Propanediol, Ethylhexylglycerin, Stearyl Behenate, Polyglyceryl-3 Methylglucose Distearate, HYDROXYPROPYL BISPALMITAMIDE MEA, Inulin Lauryl Carbamate, Alcohol, 1, 2-Hexanediol, Caprylyl Glycol, Carbomer, Tromethamine, Disodium EDTA, Phenoxyethanol, Fragrance, CI 42090.


The Benefit of Ingredients 

Saya coba sedikit bahas soal dua komposisi utama (biasanya ada ditulis di baris pertama) yang ada di Laneige Sleeping Mask ya. Seperti yang terlihat, jika salah satu bahan utama dari produk ini adalah Butylene Glycol. Berdasarkan dari situs Beauty Journal Sociolla, Butylene Glycol bersifat humektan (mengikat air pada lapisan kulit terluar untuk menjaganya tetap lembap). Lalu ada Glycerin yang sifatnya  juga humektan. Glycerin ini bisa membantu melembapkan kulit dan terlihat lebih sehat.

Claim Product

Jika di situs resminya, dijelaskan jika Laneige Sleeping Mask ini mampu melembapkan dan merevitalisasi kulit. Cocok buat orang yang sangat sibuk dan suka kurang tidur ngga perlu khawatir kulit jadi nampak lelah dan tidak sehat.

The Benefit of Use  Laneige Water Sleeping Mask

1. Berkat Teknologi SLEEP-TOX™ bisa bantu membuat kulit terasa bersih, sehat, dan meremajakan kulit dalam semalam sehingga kulit nampak cukup istirahat di keesokan harinya.

2. MOISTURE WRAP™  yang mampu membantu kulit mempertahankan kelembapan sepanjang malam. ini karena ada kandungan beta-glukan, Hydro Ion Mineral Water, ekstrak akar mawar malam, ekstrak aprikot Hunza, dan lainnya. 

3. Meski memakai masker semalaman, namun kita tetap bisa merasa nyaman, aman, dan tidak menyebabkan komedo, kepekaan teruji.

4. SLEEPSCENT™ yang merupakan AMOREPACIFIC asli. Aromanya yang lembut membantu kulit lebih santai dan beristirahat serta meningkatkan kemampuannya untuk beregenerasi.

The Result on My Skin 

Rutin seminggu dua kali (biasanya saat weekend) memakainya selama satu bulan lebih, saya merasa saat bangun tidur kulit terasa lebih lembap bila sehabis memakainya di malam sebelumya. Kulit juga lebih cerah dan halus. 

Sepertinya Laneige Water Sleeping Mask, oke buat dipakai jika dikeesokan harinya kamu perlu tampil dengan kulit yang terleihat lebih sehat dan cerah.

Who is Suitable to Use This Product? 

Kabar gembira nih, Laneige Water Sleeping Mask bisa dipakai oleh semua jenis kulit. Saya suka banget sama produk yang seperti ini karena memudahkan konsumen untuk juga merasakan manfaat produk yang banyak dipuja-puja orang. Hehehe.

Where to Buy and Price 

Laneige termasuk produk yang mudah ditemukan baik secara offline maupun online. Tinggal cek aja di situs resmi Laneige. Saya beli Laneige Water Sleeping Mask di Metro Gandaria City. Harganya Rp400.000. Tersedia juga lho varian travel size-nya jadi bisa dicobain dulu buat ngetes works atau ngganya selama pemakaian dan apakah ada masalah-masalah yang ditimbulkan.

Membedakan Produk Asli dan Palsu

Ada aja oknum tidak bertanggung jawab yang membuat fake product dari Laneige Water Sleeping Mask ini. Apalagi kalau kamu membeli bukan dari official store Laneige. Ada beberapa hal yang perlu kamu cermati saat membelinya.

1. Harga. Seperti yang saya sebutkan di atas, kalau harga Laneige Water Sleeping Mask itu harganya Rp400.000. Mungkin kalo di online shop resmi Laneige seperti di Lazada, Sephora, Sociolla, dan Shopee terkadang diberikan potongan harga. Nah, kalau memang mau beli online mending kamu langsung klik menu Laneige Store di situs resmnya. Jadi kamu langsung diarahkan ke official store Laneige Indonesia.

2. Kemasan. Produk Laneige Water Sleeping Mask asli memiliki warna lembut namun tegas. Pada  produk palsu, warna birunya agak pucat dan sedikit transparan.

3. Tulisan yang ada pada kemasan. Produk asli memiliki warna tulisan putih dan terasa agak timbul bila disentuh. Sementara yang palsu warna tulisannya agak pudar dan gampang dihilangkan bila digosok dengan jari.

4. Tekstur dan Aroma. Seperti yang terlihat di atas, kalau produk asli nampak seperti creamy-gel dengan warna biru seperti air dan aromanya lembut seperti aromaterapi. Sementara produk palsu, teksturnya encer dan wanginya seperti ada wewangian parfum. 

5. Setelah diaplikasikan ke kulit. Bila sudah diaplikasikan ke kulit, produk asli tidak lengket dan mudah meresap. Untuk produk palsu jika didiamkan beberapa saat terasa lengket di kulit.

Semoga dari review Laneige Water Sleeping Mask yang sudah saya jabarkan di atas bisa lebih mencerahkan kamu yang masih ragu buat membelinya. Memang sih harganya cukup mahal. Tapi, dengan berat 70 ml dan dipakai dua kali seminggu rasanya bisa dipakai lebih dari tiga bulan. 

Ngga apa-apa dong inves produk skincare yang agak mahal tapi kualitas oke. Kan yang merasakan manfaatnya untuk kulit kita juga. Iya, kan? :)

Jadi, menurut saya produk ini memang bagus dan kelembapan yang diberikan juara banget. Untuk mencerahkan, efeknya ada tapi ngga yang sampai bikin kulit wajah glowing. 

Semoga review Laneige Water Sleeping Mask bermanfaat, ya!

Baca juga: Review Luxcrime Duo Lipcare Peach Crush #ProdukLokal

  • 15 Comments

Saya pernah banget mengalami bibir super kering, sehingga tampilan bibir jadi kasar, gradakan, pakai lipstik apapun jadi kelihatan nggak bagus. Akhirnya setelah pencarian singkat, saya menemukan dua produk khusus bibir yang oke banget. Thanks banget buat beauty vlogger Gel Angelica yang sudah share lip care routine-nya di Youtube. 

Dua produk itu adalah Luxcrime Duo Lipcare Peach Crush dan Laneige Lip Sleeping Mask. Untuk yang Laneige Lip Sleeping Mask sudah saya review ditulisan sebelumnya. Jadi, ditulisan kali ini saya akan nge-share review Luxcrime Duo Lipcare Peach Crush. 

Baca juga: Review Laneige Lip Sleeping Mask yang Bikin Bibir Lembap

Luxcrime Luxcrime Duo Lipcare Peach Crush

Sebelum-nya mungkin ada yang belum tahu ya, siapa sih itu brand Luxcrime? Kita perlu kasih tepuk tangan nih karena Luxcrime adalah produk lokal, lho. 

LUXCRIME merupakan perusahaan yang fokus pada produk perawatan kulit dan kosmetik dengan menyediakan produk berkualitas yang terinpirasi dari kecantikan wanita Indonesia. 

Di website-nya LUXCRIME memiliki tagline “I, Makeup, Skin, Happy :)” yang artinya LUXCRIME menyediakan rangkaian produk lengkap untuk kulit hingga kosmetik dan berharap saat memakai produk LUXCRIME konsumennya bisa merasa senang. 

LUXCRIME juga menjadi salah satu brand yang tidak melakukan pengujian terhadap hewan dan tidak menggunakan bahan kimia berbahaya dalam komposisi produknya.

Jadi, Luxcrime Duo Lipcare ini diproduksi oleh PT. Continental Cosmetic, Bandung Jawa Barat. 

Selain Luxcrime Duo Lipcare, ada juga produk setting spray, highlight, eyeshadow, dan juga lipstik. Skincare pun mereka juga menyediakan cleansing oil, serum, pelembap, dan masker.

Review Luxcrime Duo Lipcare Peach Crush

Ada dua varian Luxcrime Duo Lipcare. Satu yang Peach Crush dan yang satu Strawberry Glaze. Seperti judulnya saya mencoba yang  Luxcrime Duo Lipcare Peach Crush.

Kemasan Luxcrime Duo Lipcare Peach Crush


Kemasannya terbuat dari karon kardus berwarna orange berukuran kecil. Saya suka desainnya lucu dan warnya juga tidak terlalu mencolok.

Kalau dari sisi produknya terbuat dari plastik. Dalam satu kemasan terdapat dua produk beda fungsi. Yang satu adalah lipbalm dan yang satu adalah lipscrub. Pokoknya handy dan straight to the point (simple), dan warnanya orange soft.

Cara Penggunaan Luxcrime Duo Lipcare Peach Crush

Aplikasikan lipscrub ke bibir. Lalu pulaskan dengan rata dan lembut untuk membantu menghilangkan sel kulit mati. Kemudian bilas dengan memakai air bersih, tisu, atau washcloth. 

Sementara untuk lipbalm pakailah setelah melakukan scrubbing dan sebelum memakai lipstik atau perona bibir lainnya. 

Manfaat Luxcrime Duo Lipcare Peach Crush

Luxcrime lipscrub bisa membuat bibir nampak sehat, menyehatkan, melembutkan, dan mengangkat sel kulit mati yang ada di bibir. Untuk lipbalm-nya bisa  membantu memberikan kelembapan bibir sepanjang hari. 



Ini setelah saya pakai untuk scrub bibir. Kelihatan kan butiran gulanya?



Komposisi Lipbalm

Polyglyceryl-2 Triisostearate, Diisostearyl Malate, Ceresin, Ozokerite, Bis-Diglyceryl Polyacyladipate-2, jojoba (Buxus Chinensis) Oil, Olive (Olea Europaea) Oil, Vitis Vinifera, seed oil, Candelilla (Euphorbia Cerifera) Wax, Silicone Dioxide Hydrate, Titanium Dioxide CI 77891, Flavor, Squalane, Phenoxyethanol Cl1580:2, Cl47005:1, Tocopheryl Acetate, Ethylhexylglycerin, CI77491, Aluminum Hydroxide, Cl77499, Dimethicone/Methicone Copolymer, Cl 77492, Talc. 

Komposisi Lipscrub 
Polyglyceryl-2 Triisostearate, Sucrose, Ozokerite, Petroleum Hydrocarbon Waxes/ Cera Microcristallina, Isononyl Isononanoate, Propylene Glycol  Dicaprylate/Dicaprate, Caprylic/Capric Triglyceride, Diisostearyl Malate, Ethylhexyl Palmitate, Hydrogenated Polycyclopentadiene, Polyethylene, Synthetic Wax, Isododecane, Butyrospermum Parkii Butter, Flavor, Phenoxyethanol, Tocopheryl Acetate, BHT, Ethylhexylglycerin, Cl 19140:1, Cl 15850:2, Cl 77491, Cl 77499, Cl 77492, Talc.  

Kesan Setelah Memakainya

Saya suka banget sih sama produk Luxcrime Duo Lipcare Peach Crush karena praktis banget. Mau dibawa buat traveling juga gampang dan ngga makan tempat. 

Kalau saya biasanya bawa Luxcrime Duo Lipcare Peach Crush kemana pun saya keluar rumah (kecuali ke warung deket rumah ya). 

Untuk lip scrub-nya saya suka banget, karena teksturnya lembut dan ngga kasar saat digosok di bibir. Tapi please pakainya pelan-pelan ya. Lumayanlah mengangkat sel kulit mati di bibir. Jangan terlalu kencang, karena butiran gulanya itu lumayan besar. 

Terus ngga berantakan juga pakainya.  Dan yang ngga kalah penting, bentuknya yang stick jadi bikin lebih higienis. Kalau mau bersihin scrub-nya setelah dipakai biasanya saya lap aja pakai tisu. 

Dari sisi lipbalm-nya, udah ngasih warna pink ke orange-an di bibir. Jadi, kalau lagi malas pakai lipstik, tinggal pakai lipbalm Luxcrime ini, tampilan muka jadi ngga pucat, hemat lipstik dan sekaligus bibir jadi lembap.

Untuk aroma lipbalm dan lipscrub-nya sama-sama segar dan manis.  

Harga dan Beli di Mana? 

Saya beli Luxcrime Duo Lipcare Peach Crush di Sociolla dengan harga Rp109.000. Tapi juga udah banyak kok online shop yang jual ini. Dengan harga segitu udah dapat dua produk dari satu kemasan. plusnya lagi easy to use dan easy to bring juga. Praktis!

Kalau Luxcrime Duo Lipcare Peach Crush udah habis, saya mau beli yang varian Strawberry Glaze, ah!
  • 45 Comments
Newer Posts Older Posts Home
BloggerHub Indonesia

About me

Eka-Rahmawati


Eka Rahmawati

"Behind Every Successful Woman, It's Her Self — Unknown


Follow Us

  • instagram
  • Twitter
  • facebook
  • Linkedin
  • YouTube
  • Kompasiana

Banner spot

Blogger Perempuan

recent posts

Labels

Belajar Bareng Buku & Film Cooking digital agency Healthy Kecantikan Kelas Penyiar Indonesia Lomba blog Makan Melancong Produk Lokal Review

Popular Posts

  • Kenalan dengan InShot, Aplikasi Edit Video untuk Pemula yang Mudah Digunakan
  • Senangnya Jadi Narablog di Era Digital
  • 7 Langkah Perawatan Wajah yang Wajib Dilakukan Perempuan

My Portfolio

  • SEO Content Writing 1
  • SEO Content Writing 2

Blog Archive

Eka Rahmawati. Powered by Blogger.

Pageviews

instagram

Created By ThemeXpose | Distributed By Blogger

Back to top