Banyak banget di antara kita yang menganggap sisa konsumsi seperti bekas kemasan itu sebagai akhir dari sebuah produk tanpa nilai dan harus segera dihilangkan begitu saja. Padahal, enggak sesederhana itu. Bekas kemasan itu enggak hilang begitu saja meski kita sudah membuangnya ke tong sampah atau diangkut sama petugas kebersihan yang sudah dibayar tiap bulan.
Sisa konsumsi tersebut akan tetap ada, hanya berpindah tempat, entah ke sungai, laut, jalanan, selokan, atau tempat pembuangan akhir (TPA). Ia akan balik lagi dengan bentuk atau cara yang lain. Kalau berpindah ke sungai atau laut bisa mempengaruhi ekosistem hewan dan tumbuhan yang ada di sana. Ikan dan tumbuhan jadi terpapar mikroplastik, menghambat keanekaragaman mereka juga.
Sedangkan kalo sisa konsumsi sampai ke jalanan dan selokan bisa merusak keindahan sampai yang paling bahaya adalah banjir. Bagaimana dengan TPA? Sampah yang masuk ke TPA bisa menggunung dan memunculkan gas metana yang bisa memicu kebakaran dan longsor.
Bukan main-main lho dampaknya. Sudah ada kasus terbesar di Indonesia TPA Leuwigajah yang longsor dan mengakibatkan ratusan orang yang tinggal di dekat area tersebut meninggal dunia.
Edukasi Interaktif Lewat Pameran Bukan Tentang Sampah
Pengenalan tentang sisa konsumsi bukanlah sampah dilakukan dengan cara menarik lewat bentuk pameran Bukan Tentang Sampah (It Is Not About Waste). Kegiatan ini termasuk dalam bagian program Co/Lab yang dibentuk oleh Dutch Design Foundation yang bermitra dengan Waste Hubs (Wahu), Erasmus Huis, dan Kedutaan Besar Belanda.
Desainer yang merancang pameran Bukan Tentang Sampah berasal dari 2 desainer asal Belanda yaitu Noud Sleumer, Mayra Kapteijn, dan dua dari Indonesia yaitu Dhania Yasmin, dan Ade Amelia. Mereka berkolaborasi untuk membuat exhibition yang bisa menjadi sarana edukasi dan menjawab problema sampah yang ada di Indonesia.
Bukan cuma itu, pameran Bukan Tentang Sampah sendiri juga mengajak komunitas Kompak yaitu warga RT 011 RW 006 Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan untuk membantu mengisi pameran lewat karya dari sampah yang sudah mereka kumpulkan untuk didaur ulang dan cerita menarik mereka.
Salah satu tujuan dari diadakan pameran ini adalah untuk memperlihatkan kalo masalah sampah tidak bisa diatasi oleh satu individu, melainkan perlu adanya pemberdayaan lokal dan tanggung jawab bersama.
Selain itu juga pameran ini dijadikan sebagai ajakan untuk mengubah mindset dari membuang menjadi meneruskan sisa konsumsi untuk bisa menjadi produk berguna yang baru.
Ada Apa Saja di Pameran Bukan Tentang Sampah?
Gue sendiri berkesempatan datang di hari Selasa (28/4/2026) bersama teman gue Iis. Dan menurut gue pengunjung bisa jadi melihat kalo bekas kemasan yang sering dianggap sampah itu bukan sesuatu yang menjijikan, tapi bisa jadi sebuah material yang bernilai dan karya yang berguna.
Di sini ada berbagai aktivitas yang dilakukan pengunjung. Bukan cuma lihat instalasi dan dekorasi dari bahan daur ulang aja, tapi pengunjung bisa melakukan permainan interaktif tentang pengelolaan sampah.
Ada beberapa zona yang tersedia, seperti papan yang ditempeli kertas bon, di mana di kertas tersebut ada tabel yang harus diisi sesuai kebiasaan konsumsi kita. Tujuannya agar pengunjung bisa refleksi dan melihat apa saja kemasan yang kita konsumsi sehari-hari dan tindakan apa yang sudah dilakukan.
Yang enggak kalah unik ada juga miniatur Tempat Pembuangan Bantar Gebang (TPST) beserta truk dari kardus yang seolah-olah sedang menaruh sampah di sana. Makin lengkap juga ada minatur sungai dan ikan.
Kemudian ada instalasi "Rumah Kompak" di mana kita bisa melihat siapa saja warga, jenis sampah yang sudah dikumpulkan, dan apa saja yang sudah dilakukan oleh warga Srengseng Sawah dalam melakukan pemilahan sampah tingkat rumah tangga.















