Eka Rahmawati

  • Beranda
  • Profil
  • Makan
  • Sehat
  • Cantik
  • Jalan
  • Buku&Film
  • Belajar

 









  • 0 Comments





Banyak banget di antara kita yang menganggap sisa konsumsi seperti bekas kemasan itu sebagai akhir dari sebuah produk tanpa nilai dan harus segera dihilangkan begitu saja. Padahal, enggak sesederhana itu. Bekas kemasan itu enggak hilang begitu saja meski kita sudah membuangnya ke tong sampah atau diangkut sama petugas kebersihan yang sudah dibayar tiap bulan. 

Sisa konsumsi tersebut akan tetap ada, hanya berpindah tempat, entah ke sungai, laut, jalanan, selokan, atau tempat pembuangan akhir (TPA). Ia akan balik lagi dengan bentuk atau cara yang lain. Kalau berpindah ke sungai atau laut bisa mempengaruhi ekosistem hewan dan tumbuhan yang ada di sana. Ikan dan tumbuhan jadi terpapar mikroplastik, menghambat keanekaragaman mereka juga. 

Sedangkan kalo sisa konsumsi sampai ke jalanan dan selokan bisa merusak keindahan sampai yang paling bahaya adalah banjir. Bagaimana dengan TPA? Sampah yang masuk ke TPA bisa menggunung dan memunculkan gas metana yang bisa memicu kebakaran dan longsor. 

Bukan main-main lho dampaknya. Sudah ada kasus terbesar di Indonesia TPA Leuwigajah yang longsor dan mengakibatkan ratusan orang yang tinggal di dekat area tersebut meninggal dunia. 


Edukasi Interaktif Lewat Pameran Bukan Tentang Sampah 

Ada kolaborasi 4 orang desainer asal Belanda dan Indonesia yang berinisiatif membuat pameran buat dijadikan sebagai upaya pengenalan sisa konsumsi bukanlah sampah, tapi bisa dijadikan sebuah barang lain yang masih memiliki nilai dan fungsi. Sekaligus menjadi sarana edukasi dan menjawab problema sampah yang ada di Indonesia. 

Di tangan desainer  Noud Sleumer, Mayra Kapteijn, Dhania Yasmin, dan Ade Amelia terciptalah  pameran Bukan Tentang Sampah (It Is Not About Waste). Kegiatan ini termasuk dalam bagian program Co/Lab yang dibentuk oleh Dutch Design Foundation yang bermitra dengan Waste Hubs (Wahu), Erasmus Huis, dan Kedutaan Besar Belanda.


Bukan cuma itu, pameran Bukan Tentang Sampah sendiri juga mengajak komunitas Kompak yaitu warga RT 011 RW 006 Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan untuk membantu mengisi pameran lewat karya dari sampah yang sudah mereka kumpulkan untuk didaur ulang dan cerita menarik mereka.  

Salah satu tujuan dari diadakan pameran ini adalah untuk memperlihatkan kalo masalah sampah tidak bisa diatasi oleh satu individu, melainkan perlu adanya  pemberdayaan lokal dan tanggung jawab bersama.

Selain itu juga pameran ini dijadikan sebagai ajakan untuk mengubah mindset dari membuang menjadi meneruskan sisa konsumsi untuk bisa menjadi produk berguna yang baru.  Pengunjung juga bisa melihat gimana sih proses pembuangan bukan artinya menghilangkan sisa konsumsi tapi melainkan  sebagai aksi meneruskan material. 


Kenapa Dinamakan Bukan Tentang Sampah? 


Menarik nih, karena gue juga penasaran sama nama pamerannya kok unik ya? Gue cari tahu jawabannya ternyata hal ini karena asumsi dari sampah itu kan kotor, sesuatu yang sudah berakhir tidak ada fungsi lagi dan enggak ada nilainya, nah kita menyebut sisa konsumsi itu sebagai material, dan kata membuang diubah jadi  meneruskan. 

Makanya, kalo diperhatiin setiap keterangan di beberapa zona enggak menyebut 'sampah'  tapi menyebutnya 'material'. Ini menandakan  jika sisa konsumsi itu tidak dibuang, tapi material yang diteruskan fungsi atau nilainya .

Ada Apa Saja di Pameran Bukan Tentang Sampah? 

Gue sendiri berkesempatan datang di hari Selasa (28/4/2026) bersama teman gue Iis. Sebenarnya sudah menjelang berakhir masa pameran. Jadi, awalnya pameran ini dibuka untuk umum pada 5 Februari hingga 2 Mei 2026. Dan menurut gue pengunjung bisa jadi melihat kalo bekas kemasan yang sering dianggap sampah itu bukan sesuatu yang menjijikan, tapi bisa jadi sebuah material yang bernilai dan karya yang berguna. 

Dari yang gue baca-baca pameran Bukan Tentang Sampah ingin mengajak pengunjung untuk bisa melakukan refleksi terhadap keseharian masyarakat membeli, menggunakan, menghargai, dan membuang material plastik.


Di sini ada berbagai aktivitas yang dilakukan pengunjung. Bukan cuma lihat instalasi dan dekorasi dari bahan daur ulang aja, tapi pengunjung bisa melakukan permainan interaktif tentang pengelolaan sampah.

Ada beberapa zona yang tersedia, seperti papan yang ditempeli kertas bon, di mana di kertas tersebut ada tabel yang harus diisi sesuai kebiasaan konsumsi kita. Tujuannya agar pengunjung bisa refleksi dan melihat apa saja kemasan yang kita konsumsi sehari-hari dan tindakan apa yang sudah dilakukan. 

 Yang enggak kalah unik ada juga miniatur Tempat Pembuangan Bantar Gebang (TPST) beserta truk dari kardus yang seolah-olah sedang menaruh sampah di sana. Makin lengkap juga ada minatur sungai dan ikan. 




Kemudian ada instalasi "Rumah Kompak" di mana kita bisa melihat siapa saja warga, jenis sampah yang sudah dikumpulkan, dan apa saja yang sudah dilakukan oleh warga Srengseng Sawah dalam melakukan pemilahan sampah tingkat rumah tangga.




Buat sampah yang digunakan di pameran ini berasal dari  sampah yang sudah dikupulkan oleh Komunitas Kompak yang disetor melalui Waste Hub (Wahu). Ada juga beberapa video yang bisa kita dengarkan tentang cerita dari Komunitas Kompak menjalani gotong royong pemilahan sampah. Lalu ada zona pengenalan macam-macam jenis sampah plastik. 











Opini Gue

Meskipun pamerannya enggak terlalu besar, tapi cocoklah buat pemula yang mau belajar mengenal soal material plastik. Penjelasannya juga mudah dipahami dan cukup interaktif.  Berharap banget sebenarnya Bukan Tentang Sampah bisa dijadikan museum aja gitu, karena di Jakarta belum ada lho museum sampah. 

Bisa juga dibikin pameran keliling daerah kali ya, biar daerah lain juga bisa makin aware sama masalah sampah ini. Mungkin ada dari lu yang datang ke pameran ini juga? Gimana pendapatnya? Setuju enggak kalo kegiatan seperti ini perlu diperbanyak di daerah - daerah lain juga, atau perlu nih dibuat museum sampah? 

  • 0 Comments


 

Nada Arini seorang praktisi gaya hidup berkelanjutan dan juga pendiri Sustainable Indonesia sejak 2018. Mbak Nada aktif mengedukasi masyarakat terkait lingkungan,fasilitator workshop, pendampingan sekolah minim sampah, dan konten kreator lingkungan. 

Turning point.adalah saat punya anak kok ngerasa kayaknya waktunya habis buat mengerjakan pekerjaan rumah saja. Nah, Mbak Nada jadi mulai berpikir untuk mengurangi barang. Ternyata, banyak sekali manfaat yang bisa dirasakan,yaitu bisa punya banyak waktu buat mengerjakan hal lain. 

Nah, dari situ baru sadar ternyata itu juga bagian dari sustainable living. Awalnya kenal minim sampah dari komunitas Homeschooling di mana anak Mbak Nada sekolah homeschooling. Lalu ia ke Bantar Gebang dan menyadari kalo ternyata sampah itu enggak hilang cuma pindah tempat doang. 

Mbak Nada ini termasuk yang enggak suka belanja dan enggak suka kseseringan beli baju. Enggak suka juga kelamaan milih-milih di depan lemari buat pake baju apa. Jadi, cara Mbak Nada untuk mempersingkat waktunya adalah menganggap baju-bajunya seperti seragam. Jadinya enggak perlu lama-lama buat siap-siap. 

Baju apa yang ngerasa kita pantas ya itu aja yang dipake, enggak usah nanya ahli-ahli. Tips lainnya harus selalu milih atasan yang bisa dipake disituasi apapun, dari ngebon sampai ke acara. Tinggal disesuaikan aja. Kalo mau di rumah tinggal pake bawahan celana pendek, kalo mau ke acara tinggal dipakein celana panjang yang sopan dll. 

Kalo mau beli baju, harus dipikirin bisa dipake kemana aja. Pokoknya 1 baju harus dipake di berbagai situasi apapun dan di lemari enggak makan tempat. Jadi yang dilihat fungsinya bukan matching atau enggak. 

Kalo kita ngerasa ada beban baju itu-itu aja, kayaknya harus dipertanyakan. Karena pada dasarnya produk-produk yang dipasarkan itu sengaja membuat konsumen merasa ketinggalan, gimana caranya bikin konsumen harus ngerasa kurang kalo belum beli produknya mereka. 

Fun fact: Produksi baju sekarang itu kalo dihitung-hitung udah bisa dipake 7 turunan saking banyaknya. Dulu, sebelum produksi pakaian dan brand belum semasif sekarang, musim pakaian baru itu cuma 4, sekarang ada 52 musim. Jadi, tiap minggu brand bnayak yang ngelurarin desain terbaru. Tujuannya bikin konsumen selalu pengen punya baju baru. Wanita itu konsumen paling besar. 

Tips Agar Tidak Diperbudak Barang Kita Sendiri 

Ingat benda apapun yang kita miliki harusnya mempermudah hidup kita, bukan kita yang diperbudak oleh mereka dengan merasa jadi beban karena belum memilikinya. Dan terlalu banyak pilihan juga membuat kita jadi fatigue (kelelahan fisik atau mental)

Tips yang diberikan Mbak Nada adalah: 

1. Limit pilihan dan perkecil tempat penyimpanan. Jadi Mbak Nada lemarinya gak besar dan itu disengaja. Jadi, kalo ada barang yang gak ada tempatnya, tandanya harus declutter atau barang itu disingkirkan, bukan nambah tempat penyimpanan. 

2. Tahu style yang cocok dengan kita itu apa. Prinsipnya itu berpakaianlah yang menurut kita bagus dan nyaman, enggak usah menurut kata orang. Dengan punya prinsip ini kita jadi gak gampang tergoda dengan tren yang gak ada habisnya. 


Di sesi selanjutnya ada Kak Aisyah Winna yang founder dari Bersih Bersih Lemari dan juga  pendidik sekaligus peggiat inklusifitas sejak 2015. Mbak Aisyah ini bukan hanya concern terhadap sustainability, tapi juga orang-orang berkebutuhan khusus. 

Bersi Bersi Lemari merupakan organisasi yang berfokus bukan hanya recycle tapi juga upcycle. Dan usahanya ini juga melibatkan teman-teman disabilitas.


  • 0 Comments


Zaman sekarang apa sih pekerjaan yang gak mengandalkan Canva? Mau bikin CV yang kreatif aja pasti tujuan utama orang-orang membuka website yang dibuat Melanie Perkins ini. Memang sih paket lengkap ya, mau bikin desain apa saja ada. Memudahkan orang yang gak bisa desain sama sekali. 

Tapi, secanggih-canggih sebuah platform, kalo kita sebagai penggunanya gak terus update sama fitur yang dihadirkan, ya jadinya sayang aja. Menurut saya, Canva meskipun menyediakan template siap pakai, tapi sebagai user kita harus terus ngulik biar desain yang dibikin gak membosankan dan beda dari yang sudah ada. 

Nah, beruntungnya saya bergabung dengan komunitas yang selalu ngasih ilmu ke anggotanya yaitu Indonesian Social Blogpreuner. Salah satu sarana yang diberikan adalah #ISBWORKSHOP Level Up Your Blog with Visual Communication yang diisi oleh Mbak Tuty Queen di Kamis 12 Juni 2025 lalu. 

Mbak Tuty Queen adalah seorang blogger, Digital Creator, dan Canvassador. Beliau spesialisasi-nya lebih ke desain infografis, template, buku, e-book, dan ilustrasi. Fun fact, Mbak Tuty ini gak punya basic ilmu desain lho. Benar-benar skill desain di Canva ia pelajari secara otodidak khususnya saat pandemi. 

Ada banyak insight yang saya dapat dari mengikuti workshop ini. Biar ilmunya gak lupa, saya bakal tulis biar kamu juga ikutan belajar juga!

Elemen Penting yang Biasa Mbak Tuty Pakai di Canva

  • Bermain di warna
  • Typography 
  • Layout 

Bermain warna 

Pemilihan warna yang tepat sangat penting agar desain yang dibuat bisa lebih serasi dan menarik. Memadukan warna pada desain bisa mengandalkan berbagai fitur yang ada di Canva, di antaranya: 

Color palette, color wheel, copy style, apply colors to page, color picker . 

  • Untuk color palette sendiri ada perbedaan untuk Canva yang pro dan yang free. Keuntungan bagi pengguna Canva berbayar bisa membuat sendiri color palette yang diinginkan. Sedangkan buat yang pengguna free terbatas hanya bisa menggunakan Color Palette yang disediakan Canva. Cara mengaksesnya ada di bagian menu Design di sebelah kiri, lalu nanti tersedia pilihan ada Layout, Template, dan Style. Kita bisa pilih yang Style lalu akan muncul menu Color Palette.
  • Color Wheel. Color wheel di Canva memiliki banyak pilihan kombinasi warna, contohnya monokrom yaitu satu warna memiliki turunan warna yang sama. Lalu ada complementary yaitu warna yang bersebrangan. Biasanya hasilnya lebih kontras. 
  • Copy style. Maksudnya adalah menyalin warna dari satu elemen ke elemen lain. 
  • Apply colors to page. Mau mengambil warna dari elemen foto yang ada dalam desain. Misalnya kita sudah punya foto dan ingin warna desain kita sama seperti foto tersebut. Caranya klik aja foto, klik titik 3, paling bawah itu ada Apply colors to page. Jadi nanti otomatis warna dari elemen foto yang kita tambahkan akan mengubah desain yang ada. 
  • Color Picker. Dengan color picker kita bisa memilih warna dari image, text, atau elemen lain dalam desain. 

Typography (Font)

Sebaiknya dalam satu desain itu cukup ada 2-3 jenis font saja. Nah, kalo kita suka susah memadukan font mana yang cocok dan gak mau makan waktu, bisa banget pake fitur Style di menu Design. Jadi bukan cuma Color Picker saja, tapi juga direkomendasikan pasangan font dan warna. Tapi kalo cuma mau pasangan font aja, bisa pilih menu font set. 




Untuk pemilihan warna font pastikan warna font kontras dengan panduan teks gelap-latar terang, teks terang-latar gelap. Mbak Tuty juga ngasih saran nih font sebaiknya dipilih sesuai karakter blog kita. Bukan cuma itu, biar gak ngebosenin teks sebaiknya juga diberikan efek. Di Canva sendiri ada 3 jenis efek yang bisa dipilih yaitu shadow (memberi bayangan pada tulisan), lift (membuat tulisan lebih terang), dan outline (khusus untuk tulisan yang harus muncul besar, misalnya judul). Efek tulisan ini berada di menu effect-outline. 

Layout 

Menurut Mbak Tuty, layout harus dipilih visual benar agar desain kita itu lebih terstruktur dan menarik. 
Umumnya layout itu ada yang simetris dan asimetris. Kalo simetris itu sama proporsinya, balance antara kiri dan kanannya. Sedangkan kalo asimetris ciri khasnya banyak ruang kosongnya dan teksnya lebih sedikit, lebih minimalis, tapi setelah jadi desainnya tetap enak dilihat. 






Manfaatkan Template Canva Buat yang Gak Bisa Bikin Desain dari Nol

Nah, ini adalah jalan ninja bagi orang yang gak paham desain kayak saya buat bisa berkreasi membuat visual yang menarik tanpa repot mikirin elemen apa aja yang harusnya masuk dari nol atau kanvas kosong. Kita bisa pilih sesuai kebutuhan ya. 

Buat permudah, kita bisa masukkan keyword desain yang mau kita buat. Misalnya infografis, brosur, dll nanti keluar tuh semua rekomendasi desainnya. Menariknya, sekarang di Canva bisa lho membuat desain yang sangat spesifik sesuai keeinginan kita. Misalnya, kita lagi mau buat infografis tentang kesehatan mental, nah tinggal ketik aja mental health atau kesehatan mental, nanti bakal keluar rekomendasi infografis yang berkaitan dengan kesehatan mental. 

Sangat Tidak Disarankan untuk 100 Persen Menggunakan Elemen yang Sudah Ada

Meskipun template sudah tersedia, kita sebagai pengguna wajib mengkreasikan kembali desain yang sudah ada dengan menyesuaikan kebutuhan kita. Karena kan di Canva itu ada kreatornya. Jadi, kita perlu juga ubah bisa dari fontnya, warnanya, elemen gambarnya, geser letaknya, dll dengan menggunakan kreasi kita sendiri. Di Canva juga ada yang namanya lisensi. Macam-macam-macam desain dan elemen baik yang free maupun berbayar ada lisensinya, jadi kita perlu cermat juga jangan asal pake aja. 

Yang saya baru tahu, kalo di Canva bisa lho cari elemen yang mirip dengan yang sudah kita pakai. Caranya dengan memanfaatkan menu View Collection. Buat saya yang suka lama dan ragu-ragu milih elemen yang sesuai karena takut gak serasi, ini sih menu yang useful banget. 

Pokoknya kalo mau bikin desain lagi, wajib pake menu ini dan pastinya gak perlu worry lagi gak serasi. 

Bener-bener deh ilmu daging materi ISB Workshop Your Blog with Visual Communication ini. Saya banyak banget dapat insight baru. Kalo gini caranya bisa makin pede deh bikin postingan selanjutnya. Makasih ISB dan Mbak Tuty untuk wadah dan ilmunya ya. Berkah buat yang memberi dan yang menerima :)
  • 0 Comments
Sumber foto: www.pinktravelogue.com

Sabtu, 22 Februari 2025 saya mengikuti acara Mini Talk Show bertema Hari Peduli Sampah Nasional 2025: Kurangi Sampah, Maksimalkan Manfaat! yang merupakan salah satu rangkaian dari acara Tukar Baju dari komunitas Zero Waste Indonesia. 

Ada 3 narasumber yaitu Irene Komala (Content Creator @pinktravelogue ), Shifa Nuraini Khairi (Corporate Communication @donasibarang), dan Tiara Laraswati (Program Coordinator#TukarBaju, Zero Waste Indonesia) Dimoderatori oleh Fanani dari #TukarBaju

Tukar Baju sendiri sudah berjalan mulai tahun 2019 dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang apa yang kita pakai sehari-hari termasuk salah satunya adalah pakaian bisa menjadi sampah. 

Nah, daripada pakaian yang ada di lemari langsung menjadi sampah padahal masih bisa digunakan, maka kenapa tidak saling bertukar saja dengan orang lain? Yang bertukar sama-sama untung punya "baju baru" dan yang lama bisa diperpanjang usia pakainya.

Jadi, kalo bosan dengan baju yang ada di lemari, nggak perlu baju baru. Namun, dalam bertukar baju pastinya ada ketentuan ya. Misalnya kondisi pakaian masih layak pakai,  tidak lusuh,  bersih, tidak bernoda, dan tidak ketinggalan zaman. Pakaian yang akan ditukarkan akan dicek dan dikurasi saat acara berlangsung.

Sedangkan Donasi Barang merupakan lembaga sosial bagi siapa saja yang punya permasalahan terhadap barang-barang yang sudah tidak terpakai di rumahnya. Mereka punya jargon adalah sisa-sisa tak selalu sia-sia. Jadi, barang di rumah yang sudah tidak terpakai lagi bisa diperpanjang usia dan manfaat barangnya. Caranya beragam, ada yang dikelola lagi, dijual, maupun disalurkan. 


Kenapa Fashion Berkelanjutan Itu Penting? dan Apa Dampaknya Buat Lingkungan?

Menurut Kak Tiara yang namanya sustainability itu berkaitan dengan jangka panjang. Dari proses pembuatan pakaian, barang, atau apapun juga mempunyai proses. Kalo kita memilih sesuatu dengan tidak bijak, pasti akan mempengaruhi berbagai isu. Mulai dari isu lingkungan, kemanusiaan, dll. 

Contohnya kejadian  di Pabrik Garmen Rana Plaza di Bangladesh tahun 2013 menewaskan 1000 karyawan lebih dan membuat bangunannya hancur. Ternyata pabrik tersebut juga bekerja di gedung yang ilegal dan sangat child labour, bayarannya juga tidak adil. Itu terjadi karena perusahaan hanya ingin mengeruk profit tapi tidak memperhatikan kesejahteraan karyawan dan kualitas dari si pakaian yang dibuat. 

Sedangkan kalo kita memulai sebuah produksi baju atau barang dengan proses yang panjang, dipikirkan secara matang, dan memperhatikan berbagai aspek lingkungan, kemanusiaan, dan lain-lain, jadinya produk yang dihasilkan bisa lebih long lasting, perusahaan juga tidak semena-mena pada karyawan, lingkungan juga tidak akan rusak. Makanya sebaiknya yuk kita mulai untuk berkonsumsi secara berkesadaran. 

Baca juga: Lyfe with Less Meet Up: Sustainable and Minimalist, Why Not?


Kalo Kita Nggak Hidup Berkesadaran Akan Merugikan Diri Kita Sendiri dan Banyak Orang 

Coba bayangin kalo setiap apa yang mau kita beli kita turutin, dibeli semua, padahal kita gak tahu apakah beneran butuh atau cuma pengen aja, ujung-ujungnya barang yang kita beli bisa aja jadi mubazir, nggak kepake, dan jadi sampah. 

Rugi banget dari sisi finansial, uang kita habis buat beli yang nggak penting, belum lagi sampah dari produknya maupun packagingnya yang gak dipikirin bisa merugikan lingkungan. 

Untungnya ada NGO seperti Donasi Barang yang bisa membantu menyalurkan barang yang sudah tidak terpakai oleh pemilik sebelumnya. Donasi Barang sebagai yayasan nggak hanya memikirkan dari sisi kemanusiaan tapi juga dari lingkungan. Donasi Barang bermula hadir atas keprihatinan terhadap anak-anak autis yang dari keluarga prasejahtera. Donasi Barang bekerjasama dengan Rumah Autis untuk membantu mendapat terapi dan pendidikan. 

Kalo donasi uang mungkin hanya untuk memberikan uang saja. Namun, Donasi Barang juga memikirkan lingkungan yang lebih bersih dan semua yang terlibat mulai dari penerima manfaat, kita yang membantu mengelola, bahkan sampai yang pemberi barang juga Donasi Barang ingin mereka mendapat manfaat. 

Standar Kelayakan untuk yang Ingin Memberikan Barang ke Donasi Barang

Mini Talk Show Hari Peduli Sampah Nasional 2025 Kurangi Sampah, Maksimalkan Manfaat


Sebagai pemberi atau donatur kita perlu paham dulu barang yang mau diberikan ke Donasi Barang juga nggak bisa seenaknya dan akan disalurkan lagi ke orang lain untuk digunakan kembali. 

Jadi harus mindful dan bukan dijadikan sebagai sarana untuk 'membuang' barang yang sudah tidak diinginkan. Intinya sih pastikan barang yang ingin diberikan ke Donasi Barang itu masih layak pakai, tidak bernoda, tidak belel, tidak ada bolong, nggak kusam, tidak berbau, dll. 

Kurang lebih sama dengan aturan yang berlaku di program Tukar Baju ya yaitu:

Masih layak pakai dan bersih

Pakaian atau barang harus dalam kondisi tidak sobek, tidak berlubang, dan tidak bernoda. Pastikan sudah dicuci sebelum dibawa.

Bukan pakaian dalam atau baju tidur

Jika pakaian Donasi Barang dan Tukar Baju tidak menerima pakaian dalam (bra, celana dalam, lingerie) maupun piyama dan daster.

Tidak kusam, luntur, melar

Pastikan pakaian atau barang masih dalam kondisi bagus secara visual dan bentuk — tidak melar, luntur, atau terlihat usang.

Barang bisa dipakai ulang oleh orang lain

Sebaiknya Kapan Sih Kita Mendonasikan Barang Khususnya Pakaian?

Menurut Kak Tiara ada beberapa kriteria kapan kita perlu melakukan decluttering dan mendonasikan barang khususnya pakaian, yaitu:

1. Kalo pakaian atau barang yang ada di lemari sudah 3 bulan tidak terpakai.
2. Kalo ngerasa baju atau barang yang dipunya sekarang udah nggak muat lagi, atau kebesaran, bukan style kita, dan lain-lain. 
3. Baju atau barang yang dipakai itu lagi-itu lagi.

Tidak ada waktu khusus untuk melakukan deculttering dan donasi. Saat kita merasa sudah banyak barang dan tidak mmiliki tempat untuk menyimpan barang sebaiknya mulai lakukan decluttering sesuai waktu yang dimiliki. 

Baca juga: Lyfe with Less Meet Up: Mindful Consumption & Belajar Jadi Minimalis

Kalo Mau Pake Baju Baru saat Traveling, Salah Nggak Sih?

Sebagai travel content creator Kak Irene pasti sering berkunjung ke berbagai tempat dan saat berpergian ia sempat ada difase yang ingin selalu memakai baju baru ketika melakukan perjalanan. Apalagi untuk diposting di blog dan media sosial lainnya, rasanya ada rasa kurang percaya diri kalo menggunakan pakaian yang sama. 

Untungnya seiring berjalannya waktu Kak Irene belajar dan menyadari kalo nggak apa-apa pake baju yang sama,  karena kan tempat yang dikunjungi juga berbeda. Orang lain juga gak terlalu peduli kita mau pake baju baru. Justru yang orang penasaran adalah value dan pengalaman perjalanannya. Bahkan menurut gadis yang sudah punya 57k followers di Instagram ini dengan menggunakan baju yang sama terus bisa menjadi signature. 

Kak Tiara menambahkan jika setiap ia traveling pasti ada satu baju yang wajib dia bawa. Fun fact juga kalo yang sebenarnya selalu ingat kita pake baju apa itu justru kita sendiri bukan orang lain. 

Bagaimana Mengontrol Komen dari Netizen tentang Baju yang Dipakai Sama Terus?

Bagi Kak Irene yang merupakan content creator pasti ada aja yang memberi tanggapan kok pake baju itu lagi, tapi ia sekarang sudah tidak lagi memusingkan tanggapan orang lain. Malahan dia menchallenge diri sendiri kalo seberapa banyak dan berapa lama baju yang 
udah digunakan untuk traveling dan udah dibawa kemana aja. Itu sekarang yang lebih matters. 

Bagaimana Tanggapan Brand Fast Fashion yang Punya Program Sustainable Fashion?

Sekarang karena sustainability sedang naik daun, banyak brand fast fashion yang juga nggak mau ketinggalan untuk mengikuti tren tersebut. Berbagai cara dilakukan misalnya dengan menyediakan layanan perbaikan baju atau baju yang sudah tidak diinginkan oleh pengguna sebelumnya dari brand tersebut bisa diberikan kembali melalui drop box agar bisa didaur ulang oleh brandnya. 

Dan buat orang-orang yang belum memahami tentang sustainability dan dampak dari fast fashion mungkin akan berpikir, oh nggak apa-apa beli produk fast fashion, kan mereka juga ada program sustainability-nya.

Tanggapan dari Kak Tiara sendiri memang saat ini sustainability lagi digaungkan di berbagai bidang termasuk fashion. Makanya nggak heran kalo ada banyak brand pakaian yang juga menyelipkan gerakan ramah lingkungan pada produknya. 

Sebenarnya itu sah-sah aja, tapi sebagai konsumen kita harus pintar memilih dan memilah apakah program sustainability yang dijalankan memang untuk memperlambat laju produksi mereka atau hanya sekadar teknik marketing. 

Kita bisa cermati dari beberapa hal, misalnya apakah ada hasilnya dari baju yang mereka kumpulkan di drop box itu diolah jadi apa? bagaimana prosesnya? bajunya dikemanakan? apakah mereka terbuka tentang hal tersebut? 

Lalu cara memberi tahu orang terdekat untuk sebaiknya mengurangi membeli produk fast fashion lebih menekankan buat nggak membeli secara berlebihan. Namun, pastinya agak sulit ya ngasih tahu untuk tidak membeli sama sekali karena kan itu uang mereka. 

Mungkin kita bisa juga menyarankan untuk membeli pakaian yang terbuat dari bahan katun organik dan linen yang sudah terkenal ramah lingkungan. Bisa juga sambil mengingatkan tentang buyerarchy of needs. 

Baiknya, sebelum membeli, kita tuh tanya ke diri sendiri, kenapa sih harus beli baju itu? Utamakan pake yang ada di rumah, lalu kalo gak ada bisa pinjam, tukar, atau thrifthing, bikin, atau pilihan terakhir baru beli. Jadi, membeli tuh jadi opsi paling akhir. 

Nggak ada salahnya juga sih buat memberi tahu sedikit tentang fakta fast fashion seperti dalam pembuatannya biasanya fast fashion itu mempekerjakan anak di bawah umur tanpa bayaran yang layak dan tidak diberikan fasilitas yang baik. 

Namun, perlu diingat, sebagai teman atau saudara kita hanya cukup memberi tahu dengan baik tanpa harus terkesan menggurui. Setidaknya kita sudah berusaha dan biarkan mereka yang memilih. 

Kak Syifa menambahkan, bisa juga diperkenalkan tentang metode one in one out. Jadi kalo membeli satu baju harus ada satu baju yang keluar. Baju yang dikeluarkan bisa diberikan ke saudara, dijual, atau didonasikan yang jelas jangan dibuang ya. Dengan begitu isi lemari nggak menumpuk dan nggak jadi sampah juga. 

Yang perlu diingat, kita nggak bisa kontrol apa yang orang jual, tapi kita bisa kontrol apa yang kita beli. 

Sebelum Beli Baju Coba Pikirkan Ini Dulu

Sebelum membeli baju baru biasanya Kak Irene memikirkan beberapa hal seperti:

1. Kira-kira beneran butuh nggak ya beli baju baru?
2. Kira-kira bisa dipake berapa lama?
3. Bisa dipake dioccasion apa aja?
4. Bisa versatile nggak ya?

Dengan menanyakan hal-hal tersebut, ia bisa lebih mengontrol keinginannya untuk belanja berlebihan. 

Bagaimana Caranya Melepaskan Barang Sentimentil agar Bisa Diperpanjang Usia Pakainya?

Ada pertanyaan menarik di sesi kemarin dari salah satu peserta yaitu Kak Putri. Dia bertanya bagaimana caranya bisa melepaskan atau mengikhlaskan barang-barang milik ibunya untuk dimiliki orang lain agar bisa diperpanjang usia pakainya? Karena Kakak Putri ini sampai sekarang belum bisa merelakan barang milik ibunya karena penuh kenangan, tapi ia tahu kalo didiamkan begitu saja malah akhirnya jadi sampah. 

Kak Syifa menyarankan untuk menanyakan ke diri sendiri dulu apakah kita ikhlas memberikan barang milik orang tersayang untuk dimiliki orang lain? Karena bagaimana pun juga kita harus ikhlas merelakan barang tersebut agar yang menerima juga berkah. 

Kedua, selalu ingat manfaat dari memberikan barang ke orang lain itu bisa memperpanjang usia dan manfaat barang tersebut. 

Itu dia beberapa insight yang didapat dari Mini Talk Show dari komunitas Zero Waste Indonesia yang saya ikuti. Banyak sih perspektif baru yang saya dapatkan, semoga kamu yang membaca juga bisa dapat ilmu baru ya dari postingan ini. 



  • 0 Comments

Instagram BBBBook Club

Weekend 15 Februari lalu saya mengikuti webinar yang diadakan oleh BuIbu Baca Buku Book Club (BBBBook Club) yang mengangkat tema "Menyambut Ramadan dengan Keberlanjutan." Selain tema, saya juga makin tertarik dengan narasumber yang diundang yaitu Ibu DK Wardhani. 

Saya yakin buat teman-teman yang sudah menerapkan zero waste di kehidupan sehari-hari pasti sudah familiar dengan ibu Dini (sapaan ibu DK Wardhani). Soalnya ibu Dini adalah salah satu penulis yang bukunya selalu jadi panduan untuk pemula yang mau mempelajari soal gaya hidup minim sampah. 

Ngomongin apa aja? 

Di bulan ramadan potensi-potensi konsumsi berlebihan apa aja sih dan apa yang bisa kita lakukan. Serta ada gak sih hubungannya pola konsumsi kita dengan perubahan iklim. 

Narasumber: DK Wardhani (Penulis buku, pegiat komunitas, dan gaya hidup berkelanjutan yang juga seorang ibu dari 2 anak kembar dan 7 tahun menjalani home schooling. Lulusan arsitek ITB ) dan Romauli Panggabean (Knowledge Generation Lead) Koalisi Sistem Pangan Lestari, dipandu oleh Rewina Ika Pratiwi (BBBBook Club). 

Koalisi sistem pangan lestari merupakan bagian dari Food and Land Use Coalition (FOLU) yang merupakan inistif global yang bekerjasama dengan para mitra guna mentransformasi sistem pangan dan tata guna lahan dunia melalui penyusunan solusi berbasis science dan aksi kolektif. Indonesia jadi salah satu negara pelopor inisiatif ini. Bekerjasama dengan kolumbia, cina, india, Australia, negara nordik lain dan inggris.

WRI (World Resource Institute Indonesia) berperan sebagai sekretariat yang bertanggung jawab untuk membangun kepercayaan ini dan juga kerjasama kolaboratif antara para pemangku kepentingan di Indonesia. 

Food Waste yang Bisa Kita Hasilkan di Bulan Ramadan 

Bu Diah menemukan sebuah artikel menarik dari Imam of the Albanian Australian Islamic Society yaitu  Dr Bekim Hasan Beliau menyampaikan kekhawatirannya ketika puasa tiba, maknanya jadi bergeser yang harusnya menjadi bulan puasa atau fasting menjadi feasting atau bulan berpesta.

Memang pastinya suka cita saat menyambut ramadan, tapi terkadang berlebihan jadi kita kehilangan inti dan makna apa sebenarnya bulan ramadan itu. Jadi, yuk di bulan ramadan kali ini kita mengembalikan lagi niatnya apa makna ramadan itu. 

Sejak kita kecil diajarkan yang namanya puasa itu identik dengan menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu. Jadi, harusnya kita itu kembali lagi memaknai fasting itu apa dan apa itu menahan diri. Jangan sampai terjebak.  

Baca juga: Climate Literacy for Mothers: Pemimpin Hari Ini, Penentu Masa Depan Anak-Anak Kita

Menurut pengamatan Bu DK Wardhani, orang Indonesia punya mentalitas takut kekurangan. Jadi, mau memuliakan tamu pasti dilebihkan. Jadi, misalnya mau ngundang 10 orang, kita bikin menu untuk 15 orang. 


Sampah Naik saat Bulan Puasa, Kok Bisa? 

Data dari DLH, di bulan Ramadan sampah meningkat hingga 20 persen. Sampah terdiri dari campuran makanan dan kemasan. 

Namun, ternyata fenomena kenaikan jumlah sampah saat ramadan ini bukan cuma terjadi di Indonesia saja. Di negara lain seperti di Uni Emirat Arab, Malaysia, maupun negara-negara msulim lainnya. Salah satu sebabnya karena mungkin semangat menyambut ramadan dan banyak orang yang berlomba-lomba untuk memberikan seeprti menu buka puasa, sedekah makanan, mentraktir untuk masjid, di jalan, dll. 

Kenapa hal ini bisa terjadi? padahal di Al-quran juga diingatkan jangan kamu hambur-hamburkan harta kamu secara boros. Karena pemborosan adalah saudara setan. Sampah itu adalah jejak setan, karena yang menghambur-hamburkan dan berlebihan itu adalah setan.  

Kita harus lihat bahwa sampah kita itu harta. Plastik misalnya botol air mineral banyak yang gak tahu kalo plastiknya asalnya dari minyak bumi dan dieksplorasi di lepas pantai untuk mendapatkan minyak bumi yang kemudian kita jadikan botol, padahal botolnya cuma dipake sekali. Alangkah borosnya kita. 

Ada Fatwa MUInya 



Saya baru tahu lho kalo ternyata (Majelis Ulama Indonesia) MUI sejak 2014 sudah mengeluarkan Fatwa tentang pengelolaan sampah untuk mencegah kerusakan lingkungan seperti dilarang mubazir, dilarang israf, menyia-nyiakan harta, barang dan dilarang berlebih-lebih, mendaurulang barang yang masih bisa digunakan. Kayaknya sih sosialisasinya kurang kenceng kali yaa, makanya gak semua orang tahu akan Fatwa ini. 

Peristiwa TPA Leuwigajah Jadi Salah Satu Ledakan  Sampah Terbesar di Dunia 

Buat yang belum tahu, pada 21 Februari 2005, di TPA Leuwigajah, Jawa Barat pernah terjadi peristiwa ledakan dan longsor akibat becampurnya gas metana dan sampah lainnya. Akibatnya 157 orang meninggal dan 2 wilayah hilang dari peta karena tertimbun sampah. 

Dari peristiwa tersebut kita perlu menyadari bahwa ternyata dari sampah yang kita hasilkan bisa mencelakai orang lain. Nabi Muhammad SAW sendiri itu mengingatkan bahwa tidak boleh ada bahaya dan membahayakan orang lain. 

Kita itu diingatkan bahwa menyingkirkan gangguan di jalan adalah salah satu cabang keimanan. Jadi, ayo kita amalkan yang kita bisa. Menyingkirkan gangguan di jalan saja sudah bagian dari keimanan, apalagi kalo tidak menghasilkan gangguan, itu akan lebih lagi nilainya. 

Sampah adalah Sisa Konsumsi Manusia yang Tidak Terkelola 

Jadi, ketika mengganti kata-kata sampah dengan sisa konsumsi manusia ternyata banyak orang lebih paham. Berarti kalo kita mengonsumsi ini tidak bersisa tidak akan ada sampah ya. Kalo kita ganti kata sampah dengan sisa konsumsi, bayangan kita jijik, bau, dan ingin menyingkirkan akan jauh berkurang ketika kita menggunakan kata sisa konsumsi. 


Kiat Ramadan Hijau 

Yang bisa dilakukan: 

1. Melakukan cegah, pilah, olah sisa konsumsi di rumah tangga kita. Kalo belum menjadi habits, ramadan kali ini bisa menjadi momen baik buat belajar dan mengubah habit kita. Karena bulan ramadan itu kan bulan pelatihan, bulan untuk melatih kebiasaan baru. 
2. Kita latih semua anggota keluarga kita untuk menghabiskan makanan yang dikonsumsi. Meski terdengar sepele, tapi bisa menjadi struggling untuk ibu2 yang anaknya GTM. Tapi, solusinya perlu kita sesuaikan lagi menunya, porsinya, waktunya diatur, dan jangan dipaksa. 

Mungkin bisa kalo bulan ramadan masaknya cukup 1 atau dua jenis masakan aja. Misalnya sayur bening dan tempe/tahu saja agar gak ribet. Karena waktunya mau dipake buat yang lain yang lebih produktif untuk ibadah, dll. Jadi nggak terjebak dengan menghamburkan atau masak kebanyakan. 

3. Menghemat air saat berwudhu dan mandi juga sangat penting untuk diingatkan. Perlu diingat 97% air di bumi kita ini adalah air asin atau air laut. Hanya 3 persen air tawar, dari 3 persen air tawar, 2 persennya adalah es di kutub. Jadi, manusia ibaratnya rebutan 1 persen air untuk digunakan sehari-hari.

Kalo kita wudhu dan mandi masih boros air coba deh bayangkan banyak orang yang susah mendapatkan akses air. Air kan juga dipake untuk kebutuhan petani seperti menanam.  Air memang bisa diperbaharui, tapi memerlukan waktu lama untuk bisa menjadi air yang bersih dan layak pakai. 

Wudhu 1 mud

4. Hemat energi listrik. Perlu diketahui kalo listrik kita itu mayoritas masih berasal dari batu bara. 

5. Belajarlah mengompos dan bercocok tanam. Karena dengan mengompos itu adalah salah satu cara yang indah dan sangat membangkitkan rasa syukur. Karena apapun dari tanah bisa kembali ke tanah lagi. Ini adalah salah satu nikmat Allah untuk manusia. 

6. Pasang Penanda Area Minim Sampah ketika kita ingin melakukan buka puasa minim sampah di luar rumah. Kita bisa berkoordinasi dengan RT/RW dan warga sekitar. Contoh dengan banner yang guna ulang. Sebaiknya tidak ada tahun hijriahnya biar bisa dipake ulang. 

7. Mulai gerakan sedekah sampah berbasis masjid. Dengan begitu DKM bisa diilibatkan dan DKM nanti juga bisa menapatkan kas dari donasi sampah. 

8. Menyediakan tempat sampah terpilah. Tapi ini perlu dimulai dari diri kita sendiri dulu di rumah baru bisa nular ke yang lain. 

9. Sediakan takjil yang minim sampah 

10 Peminjaman wadah untuk ifthar di masjid. Untuk cara ini pemilik bisa memberikan aturan, misalnya saat dikembalikan dalam keadaan bersih dan harus dimasukkan dalam boks sebelumnya. 

11. Siapkan air isi ulang untuk berbuka. Sistem ini harus ada orang yang piket untuk mencuci gelas agar gelas tidak kehabisan. 

12. Berikan pesan hijau di setiap hantaran kita. Isinya bisa apa saja yang mengingatkan untuk minim sampah. Misalnya : wadah ini bisa digunakan kembali, habiskan makananmu, ayo sayangi bumi. 

13. Paket sehat ramadan yang isinya sayuran, protein mentah, telur, dll menjadi pilihan bagus daripada memberikan sembako yang isinya ultra process food. Bisa dilakukan dengan yang datang bisa pake wadah sendiri.

14. Berikan donasi minim sampah misalnya buah-buahan minim sampah.

15. Hantaran dan zakat fitrah. 

16. Sholat Ied yang bersih, syahdu, dan indah


Mulailah dari apa yang kita bisa. Jangan merasa wah itu terlalu tinggi, karena pasti ada 1 atau dua hal yang bisa dilakukan. 


  • 0 Comments





 

  • 0 Comments
Older Posts Home
BloggerHub Indonesia

About me

Eka-Rahmawati


Eka Rahmawati

"Behind Every Successful Woman, It's Her Self — Unknown


Follow Us

  • instagram
  • Twitter
  • facebook
  • Linkedin
  • YouTube
  • Kompasiana

Banner spot

Blogger Perempuan

recent posts

Labels

Belajar Bareng Buku & Film Cooking digital agency Healthy Kecantikan Kelas Penyiar Indonesia Lomba blog Makan Melancong Produk Lokal Review

Popular Posts

  • Kenalan dengan InShot, Aplikasi Edit Video untuk Pemula yang Mudah Digunakan
  • Senangnya Jadi Narablog di Era Digital
  • 7 Langkah Perawatan Wajah yang Wajib Dilakukan Perempuan

My Portfolio

  • SEO Content Writing 1
  • SEO Content Writing 2

Blog Archive

Eka Rahmawati. Powered by Blogger.

Pageviews

instagram

Created By ThemeXpose | Distributed By Blogger

Back to top