Climate Literacy for Mothers: Pemimpin Hari Ini, Penentu Masa Depan Anak-Anak Kita

Source: https://www.instagram.com/bbbbookclub/

Tanggal 21 Januari 2024 gue ikut webinar seru yang topiknya sendiri belum pernah gue ikuti. Maklum, kalau dibaca sekilas topik ini harusnya dilihat sama para wanita yang sudah menjadi ibu. Tapi, kalo dicermati lagi, gak harus yang udah jadi ibu kok, perempuan single pun bisa ikut menonton. 

Emang webinar apa sih Ka? Jadi, gue tidak sengaja melihat postingan dari BijakMemilih.id di Instagram kalo mereka mau mengadakan webinar bersama komunitas BuibuBacaBukuBook Club (BBBBookClub), Bijak Memilih, Sustaination, dan Kompas.id. Tema yang diangkat adalah Pemimpin Hari Ini, Penentu Masa Depan Anak-Anak Kita. 

Selain karena acaranya bertepatan dengan debat ke empat cawapres yang diadakan malam hari, tema yang diangkat pun juga pas sekali yaitu Pembangunan berkelanjutan dan lingkungan hidup, Sumber daya alam dan energi, Pangan, Agraria, Masyarakat Adat, dan Desa. 

Webinar ini sendiri masuk dalam program Climate Literacy for Mothers yang digagas oleh (BBBBookClub). Program ini fokus membahas soal literasi, iklim, dan pemberdayaan perempuan, khususnya para ibu. 

Salah satu alasan dibentuknya program ini karena isu iklim masih termasuk isu yang sulit dan kesannya terlalu sciencetific untuk dibicarakan sehari-hari. Program ini hadir juga karena  BBBBookClub percaya jika ibu memiliki peran penting untuk terlibat dalam aksi yang ada hubungannya dengan iklim. 

BBBBookClub juga pengen ngajakin ibu-ibu paham dan kritis akan isu iklim. Sebenarnya isu iklim itu bukan masalah yang bisa dibahas oleh para ahli ilmuwan atau hanya beberapa kelompok aja kayak aktivis lingkungan, dan pemerintah,  tapi ibu-ibu pun juga perlu paham karena sebetulnya berdampak langsung ke masyarakat. Misalnya harga pangan, listrik, kehidupan kita dan anak-anak kita. 

BBBBookClub juga percaya jika kekhawatiran, pendapat, dan gagasan para ibu harus terwakili dan perlu dipertimbangkan dalam perubahan kebijakan yang berlaku di negeri ini. 

Harapannya dengan adanya program ini, isu iklim bisa menjadi isu yang biasa dibicarakan oleh para ibu, agar kebutuhan dari para ibu bisa lebih didengar, diperhatikan, dan dipertimbangkan dalam berbagai kebijakan publik, politik, dan ekonomi nasional. Ada beberapa kegiatan yang akan dilakukan dalam program Climate Literacy for Mothers, salah satunya webinar ini. 

Webinar ini dibagi beberapa sesi. Pertama adalah sesi sambutan dari Founder & Executive Director Buibu Baca Buku  Book Club Puty Puar. Lalu dilanjut dengan Michael Batubara dari Bijak Memilih. Kemudian sesi QnA di mana moderator menyampaikan 4 pertanyaan ke narasumber yaitu Anita Yosihara yang merupakan Wakil Kepala Desk, Politik dan Hukum Harian Kompas dan wartawan Kompas sejak 2004. Dwi Sasetyaningtyas yang merupakan sustainability and renewable energy enthusiast, CEO dan founder Sustaination. 

Sesi 1 Mbak Puty Puar

Sumber: Webinar Climate Literacy for Mothers BBBBookClub 


Mbak Puty menjelaskan Buibu Baca Buku Book Club adalah komunitas yang didirikan tahun 2018. Cita-citanya ingin memberdayakan perempuan khususnya ibu-ibu dalam kemampuan literasi dan berpikir kritis. 

Gue suka sama pengingat yang disampaikan Mbak Puty, bahwa knowledge is power. Jadi kemampuan literasi, kemampuan memilah dan memilih informasi bisa digunakan sebagai 'senjata' kalo kita mau mendapat power itu. 

Harapannya dengan kemampuan literasi perempuan pada umumnya dan khususnya untuk ibu-ibu bisa mengambil keputusan yang lebih baik dan well-informed bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang-orang terdekatnya seperti keluarga, masyarakat, teman dekat, dll

Kebiasaan baik seperti membaca, menulis, dan berdiskusi perlu dimulai dari keluarga. Jadi ibu-ibu bisa banget jadi role model. Kalau mau anak-anak suka baca, maka ibunya juga harus suka baca dong. 

Aksi-aksi kita dalam level personal seperti memilah sampah, daur ulang, kdan juga aksi kolektif kita seperti memilih saat nanti pemilu, itu juga berdampak ke iklim. 

Tujuannya adalah untuk mengajak dan menggerakkan para ibu untuk menerapkan climate action, gagasan kita dan sudut padang, kekhawatiran, concern semuanya bisa terinput dalam perubahan yang sistemik yang bisa mendorong pengambil kebijakan untuk lebih berpihak pada lingkungan dan perempuan. 

Sesi 2 Michael Batubara - Community Partnership Bijak Memilih 

Disesi selanjutnya, penjelasan dari Mas Michael tentang Bijak Memilih. Apa sih Bijak Memilih itu? Bijak Memilih adalah salah satu gerakan berbasis platform teknologi yang berupaya membentuk 'critical mass' untuk meminta proses politik dan kebijakan yang lebih baik. Karena segala keputusan sangat penting untuk hidup kita. 

Bijak Memilih dibentuk oleh para anak muda yang concern terhadap politik dan keberlangsungan pemilu 2024. Penggagasnya terdiri dari Afutami, Abigail Limuria, dan beberapa anak muda lainnya tergerak karena melihat keprihatinan anggapan yang ada di masyarakat kalau anak muda itu apatis dan hanya sering buat konten di media sosial saja. Padahal anak muda bisa juga menyampaikan gagasan dan pandangannya untuk membuat Indonesia lebih baik. 

Sumber: Webinar Climate Literacy for Mothers BBBBookClub 


Yang menarik adalah beberapa data yang disampakan yaitu dari Katadata (2021) 70% orang muda khawatir atau sangat khawatir terhadap berbagai isu. 68% orang muda tidak merasa pemerintah sudah efektif  baik secara program, eksekusi, dan bagaimana impact yang dirasakan masyarakat.

Sumber: Webinar Climate Literacy for Mothers BBBBookClub 

Hanya 8% yang berani identifikasi diri sebagai polically engaged' dan tahu apa sih esensi dari politik. Di tahun 2024 ada 52% pemilih muda atau 107 juta pemilih di bawah 40 tahun (42 juta di bawah 30 tahun, 17.5 juta di bawah 20 tahun) yang bisa menentukan hasil. Mas Michael juga punya jargon yang gue suka yaitu Suara Kita Menentukan Masa Depan Indonesia.

Sesi QnA:

Nah, ini nih materi yang ditunggu-tunggu. Jadi moderator akan menyampaikan 4 pertanyaan ke narasumber. Pertanyaan ini sudah dibuat oleh panita BuibuBacaBukuBook Club (BBBBookClub). 

Pertanyaan 1: 

Informasi beredar di mana-mana, mulai dari sosial media, orang-orang berpikir memilih berdasarkan tren dan mana yang jadi favorit, dan lingkungan sekitar. Hal ini menjadikan orang-orang bingung. Ada beragam informasi yang menakutkan khususnya perubahan iklim dan kondisi lingkungan yang semakin parah. Bahkan tak jarang informasi yang diberikan terlalu berlebihan. 

Bagaimana relevansi pemilu ini jadi kesempatan untuk para ibu mulai membicarakan dan mempertimbangkan isu iklim di sekitar kita?

Jawaban: 

Mbak Tyas 
Menurut Mbak Tyas, di setiap pemilu manapun pasti nggak ada sosok yang ideal. Gue setuju sama Mbak Tyas, sebelum ada Bijak Memilih informasi terkait calon, partai, isu, dan lainnya sangat sulit diperoleh dan informasinya juga nggak bisa dicek kebenarannya. Nggak ada yang bener-bener valid. 

Dengan adanya Bijak Memilih, sekarang jadi gampang banget untuk akses berbagai informasi terkait visi misi, profil, kandidat, partai, isu dan lainnya. Kita jadi tahu mana presiden dan wapres yang punya visi misi, gagasan, dan apa yang mau mereka lakukan untuk lingkungan dan hal-hal lain yang menurut kita penting ketika mereka menjabat.

Kita pun bisa lebih fokus pada isu yang menurut kita penting aja. Karena kan banyak banget ya hal yang perlu diurus di suatu negara. Kalo semuanya dipikirin ya pusing. 

Mbak Tyas cerita kalo dia sudah 2x ikut pemilu dan dua-duanya golput. Lalu selama perjalanan beberapa tahun terakhir, Mbak Tyas sempat komplain dengan kebijakan yang ada. Jadi, Mbak Tyas merasa bersalah karena sudah tidak memilih, malah komplain. 

Menurutnya kalo misalnya nggak milih kandidat, harusnya nggak berhak komplain. Kalo mau komplain sebaiknya menetapkan pilihan, sejelek apapun pilihannya, paling tidak ada satu yang lebih baik daripada yang lain. Satu suara itu sangat menentukan, apalagi diisu lingkungan. 

Mbak Tyas sendiri concern terhadap dua isu yaitu pendidikan dan lingkungan. Dengan punya concern terhadap isu tertentu memudahkan kita menentukan kandidat. 

Kita bisa cek visi misi, gagasan, dan program-program dari masing-masing calon terkait isu yang kita anggap penting. Mana calon yang punya visi misi paling oke terkait isu penting yang kita perhatikan.

"Menurutku penting banget, ibu-ibu melek politik untuk menentukan 5-10 tahun Indonesia." Mbak Tyas

Bu Anita



Sebuah kebijakan UU diambil dari DPR dan Presiden dibahas bersama oleh DPR dan presiden dan wakilnya. Nah, meskipun banjir informasi di berbagai media, sebaiknya cari dari sumber kredibel, misalnya Kompas.id. 

Dalam pemilu sebaiknya kita memilih terbaik dari yang terburuk. Jika melihat para kandidat capres dan cawapres 2024, menurut tim data democracy research monash university Indonesia menganalisa dengan menggunakan 4 kata kunci yang dicari oleh mereka yaitu iklim, lingkungan, ekologi, dan energi. 

Ternyata dari dokumen visi misi masing capres-cawapres hanya memuat 1 persen dari kata yang terafiliasi dari kebijakan perubahan iklim dan lingkungan. 

Padahal dampak dari perubahan iklim luar biasa ke berbagai sektor seperti ketahanan pangan, bencana alam, dan lainnya. 

Kalau ingin mendapatkan perubahan, suara itu menentukan dan jangan ragu untuk mencari informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Kita perlu mencermati visi misi capres-cawapres maupun caleg karena akan menentukan ke depannya seperti apa.

Pertanyaan 2: Bagaimana ibu-ibu mulai mensortir informasi dan menyuarakan kalo isu lingkungan ini penting untuk jadi prioritas para capres dan cawapres sebelum mencoblos?

Jawaban:

Bu Anita

Di saat kampanye terbuka seperti sekarang ini, para caleg dan capres dan cawapres sudah banyak yang menemui masyarakat untuk melakukan kampanye ke masyarakat. Ketika para calon sedang menemui masyarakat, atau di lingkungan sekitar kita ada caleg yang mencalonkan diri, kita bisa memberikan masukan atau menanyakan langsung ke mereka komitmen mereka terkait isu lingkungan. 

Kita juga sebagai masyarakat jadi tahu nih bagaimana pertimbangan mereka dan bisa menentukan pilihan dari situ. 

Mbak Tyas

Mbak Tyas menyarankan untuk mengirim email dan kirim DM instagram. Bisa juga bersuara di media sosial terkait isu lingkungan yang kita anggap paling urgent misalnya dengan membuat konten yang kita nyaman dan mampu untuk membuat dan mempertanggungjawabakannya. Hilangkan juga pikiran 1 suara dari kita itu nggak berguna. Kalo kita ada sesuatu yang mau disuarakan di media sosial, coba suarakan saja. 

Kemudian kalo ada kesempatan untuk berdialog dengan caleg, partai, dan capres serta cawapres secara langsung, misalnya datang ke sebuah acara yang ada mereka sampaikan saja pertanyaan, pendapatan, komplain lainnya.

Lalu sampaikan juga ke tim suksesnya para kandidat seperti influencer yang mendukung paslon. Dari situ kita juga bisa membandingkan mana paslon yang mau merespon kita dan punya itikad baik untuk merespon. Jadi kita tahu mana paslon yang sekiranya punya niat untuk membuat kebijakan lingkungan yang lebih baik. 

Jadi, kita bisa reach out para kandidat lewat offline atau media online yang kita punya. Meskipun di visi misinya belum ada, tapi komitmen untuk lingkungan seperti apa?

Pertanyaan 3: Ada banyak aspek terkait masalah lingkungan yang perlu diperbaiki, tapi bagian mana yang perlu diprioritaskan? Bagaimana caranya agar ibu-ibu bisa lebih bijak memilih mana prioritas isu lingkungan dari sumber-sumber yang tersedia?

Mbak Tyas. 

Nggak semua isu itu menjadi prioritas. tapi, pastikan kita pilih yang benar-benar menjadi penting buat kita dan perlu dicek satu-satu ke paslon mana yang punya program atau rencana paling oke. 

Misalnya Mbak Tyas fokus ke pendidikan dan lingkungan. Dari semua informasi yang kita peroleh, fokus aja ke isu yang menurut kita penting. 3 isu lah maksimal. 

Dari situ kita bisa cek dokumen visi misi, interview di YouTube dan persona (cara mereka menjawab, menaggapi pertanyaan, menangani konflik, dan komentar netizen itu seperti apa). Perlu diingat juga negara kita ini punya UU ITE yang sekarang makin banyak pasal karetnya. Jadi, dalam berkomentar harus sangat hati-hati. 

Bu Anita.

Kalo masalah isu prioritas itu bisa diserahkan ke masing-masing individu karena concern orang berbeda-beda. Kita perlu perhatikan kandidat mana sih yang bisa memperjuangkan atau mencegah dari dampak krisis iklim semakin meluas. 

Dari debat yang sudah dilakukan bisa dilihat lagi mana kandidat yang bisa memperjuangkan perbaikan isu lingkungan ini. 

Pertanyaan 4: Gimana cara kita menyampaikan prioritas isu-isu dan keresahan, persoalan yang kita hadapi ke orang terdekat seperti keluarga, teman, komunitas, dan lainnya yang punya ketertarikan isu yang sama agar bisa berbagi keresahan, bertukar pikiran sebenarnya mana sih  yang cocok untuk kita pilih?

Bu Anita

Ruang diskusi sekarang makin luas di media sosial atau di circle lingkungan manapun misalnya teman kantor, sesama orang tua di sekolah, keluarga misalnya lewat chat grup keluarga, perkumpulan dengan tetangga, arisan keluarga, saat nongkrong di warung kopi.  

Gue sedikit iri sama keluarga Mbak Anita, di keluarga Mbak Anita, ngomongin politik itu nggak tabu. Misalnya ibu Mbak Anita bilang capres ini punya program A, itu dibahas. Obrolin juga rekam jejak caleg, capres, dan cawapres. Bisa juga di media sosial kita melontarkan dulu keresahan kita seperti apa. Tapi, pastikan kita tetap punya argumen yang bisa dipertanggungjawabkan.

Mbak Tyas

Menurut Mbak Tyas, penting untuk membuat pembicaraan soal politik jadi tidak tabu. Mbak Tyas sendiri masih merasa trauma karena dari pemilu lalu banyak orang yang sampai konflik dengan keluarga, teman, dan lainnya karena perbedaan pandangan. Kalo belum bisa ngobrolin ke komunitas, bisa ngobrol sama keluarga atau teman dekat  dulu. 

Yang perlu diingat, kita negara demokrasi jadi tiap orang berhak memilih jagoannya masing-masing. Semua orang perlu menghormati itu. Kalo masuk ke komunitas atau lingkungan baru, jangan langsung ujug-ujug tanya "eh lu milih siapa?" Karena kan kita nggak tahu mereka siapa dan gimana orangnya, tabu nggak kalo ngomongin politik sama dia? dll

Kalo misalnya komunitas atau circle tersebut nganggap ngomongin politik itu tabu, perlu dinetralisir dulu. Misalnya dengan ngomongin soal isu-isu terdekat dulu yang banyak dirasakan oleh circle terdekat juga sebelum ngomongin ke politik atau pilihannya.

Baca juga: Violence Against Women More Aware, Dare to Speak Up

Sesi QnA dari Audiens

Kenapa ibu-ibu sering tidak dilibatkan dalam diskusi politik karena konstruksi gender? Bagaimana cara mengubahnya? Padahal ibu-ibu banyak yang berurusan dengan rumah, pendidikan, dan kesehatan. 

Tyas

Di Indonesia sendiri sejak dulu wanita jarang sekali yang terjun ke politik. Nah, untuk memperbanyak jumlahnya, maka perempuan perlu banyak yang terjun ke politik agar lebih banyak perempuan dan aspirasi perempuan tersampaikan di pemerintahan.

Di pemerintahan sendiri bukannya tidak ada representatif perempuan, tapi relatif sedikit. Nah, kita bisa cari informasinya di internet seperti instagram, Linkedin, Bijak Memilih siapa aja dan bagaimana track record-nya.  Sampaikan aspirasinya ke caleg-caleg ini. Bisa lewat DM atau email. 

Kalo misalnya banyak masyarakat yang membicarakan isu lingkungan, para pejabat juga bisa berpikir isu lingkungan ini penting. 

Pendekatannya juga bisa lewat para istri capres dan cawapres. Para capres dan cawapres ini punya istri, kita bisa reach out ke istrinya. Bisa juga ke timsesnya atau tim kampanye nasional para paslon apa saja si concern dari para perempuan.

Bu Anita

Dari jawabannnya Mbak Anita gue baru tahu kalo dari regulasi yang dibuat  partisipasi politik perempuan sudah berupaya untuk memenuhi, ada 30%  minimal caleg perempuan. Tapi sayangnya di DPR caleg perempuan yang kepilih nggak sampe 30%. Di pemilu 2014 hanya 17% anggota DPR  perempuan. 

Di pemilu 2019, lumayan naik 21% dari 575 anggota DPR. Tapi kita kan juga nggak melihat hanya dari kuantitas aja, tapi juga kualitas. Kita juga perlu lihat apa sih yang mereka perjuangkan saat duduk di wakil rakyat. Tapi minimal, kita sebagai perempuan mendukung perempuan. 

Menurut Bu Anita selama dia beekerja meliput DPR, yang ia perhatikan legislatif perempuan itu lebih mengerti lebih memahami persoalan masalah masyarakat real seperti apa. Jadi, masalah yang diperjuangkan oleh legislatif perempuan ini juga kebanyakan masalah real berkaitan dengan perempuan. Contohnya pelecehan seksual terhadap perempuan,  dan di beberapa isu juga melibatkan perempuan seperti kenaikan BBM.

Persoalannya adalah memang tidak semua legilatif perempuan yang terpilih itu punya kapasitas mumpuni. Ada sebagian yang sangat bagus, ada yang kurang. Namun, kalo legislatif DPR perempuan itu lebih banyak, maka suaranya bisa lebih terdengar. 

Jadi, pastikan pilih perempuan, tapi perhatikan juga kapasitasnya. Persoalan selanjutnya, partai politik ada yang hanya menjadikan caleg perempuan sebagai pelengkap saja untuk mencapai 30%, tapi tidak dilihat kapasitasnya. 

Di kertas suara saja, jarang ada caleg perempuan yang ada di posisi nomor 1, 2, 3. Pasti selalu urutan bawah. Sebaiknya selain menggunakan hak pilih, jika ada perempuan yang dirasa mumpuni, menyalonkan saja, tapi memang tidak mudah. 

Apalagi di era sekarang yang cenderung liberal, siapa yang punya kekuatan, uang banyak, suara terbanyak itu yang menang. Memang agak sulit. Tapi apapun bisa mulai dari kita sendiri dengan bagaimana memanmbah jumlah perempuan yang duduk di DPR agar suara kita terdengar. 

Pertanyaan selanjutnya dari gue. Jadi, gue bertanya tentang 

kalau sudah keluar pemenang, bagaimana rakyat bisa memantau dan mempertanggungjawabkan apa saja yang sudah dijanjikan para paslon?

Bu Anita:

Sebenarnya ada saluran untuk mengawasi. Misalnya ada kesalahan administrasi yang dilakukan oleh pejabat negara, itu bisa disalurkan ke ombudsman. Lalu kalo ada yang harus diperjuangkan yang memang harus masuk ke UU, bisa juga ke DPR itu ada namanya hearing rapat dengar pendapat. Kelompok masyarakat bisa mengusulkan kita mau ketemu sama siapa, mau mengeluhkan soal ini, mau menceritakan persoalan apa. 

Misalnya kalo mau menyampaikan permasalahan pendidikan bisa ke Komisi X, Pangan di komisi V, dan sebagainya. Jika kita mau ngobrol suatu topik tertentu, kita bisa mengajukan permohonan audiensi untuk rapat hearing.

Nggak harus masyarakat sipil yang teroganisir, kadang bisa juga dari masyarakat desa yang mau ketemu, masyarakat kayak rempang, atau dari performa agraria, masyarakat lampung mau ketemu, karena mereka punya masalah-masalah seperti tanah yang bersengketa.

Gue juga baru tahu kalo presiden dan wakil presiden itu ada call center-nya yang bisa mengadukan persoalan, masukkan, yang kita hadapi, email, dan jika ingin bertemu presiden pun bisa. Bisa kirim surat permohonan ke presiden melalui Sekretariat Negara (setneg), masalahnya apa, kepetingannya apa dll

Pembangunan yang ramah lingkungan. Pembangunan di kalimantan, pembangunan selama ini merelakan pembabatan hutan dan dampaknya asap yang ada dan anaknya mengalami ispa karena pembukkan lahan. Adakah pembangunan ramah lingkungan?

Tyas. 

Sebenarnya ada, tapi konsepnya nggak bisa buru-buru banget. Konsep ramah lingkungan ini luas, makanya perlu dipertimbangkan bagaimana kota dibangun? Bukan tidak mungkin membangun kota, dari kota yang sudah ada. 

Pembangunan ramah lingkungan, pro ramah lingkungan, gak harus dilakukan di kota baru. Pembangunan kota ramah lingkungan bukan hanya perlu dilakukan, tapi perlu didukung dengan kebijakan yang bagus. 

Kalo bangun kota tapi kebijakannnya gak siap, jadinya cuma dibangun aja. Belum tentu kota yang dibangun itu, dipelihara secara ramah lingkungan. Bangun kota tinggal babat hutan, udah selesai. Tapi, gimana kotanya nanti berjalan. Pengolahan sampahnya, limbahnya gimana, limbah rumah tangga gimana? koneksi transportasi jalannya, edukaisnya gimana ke orang-orang. 


Itu dia sesi QnA yang seru banget. Jadi membuka wawasan gue untuk lebih melek politik dan lingkungan lagi. Selain nambah ilmu, gue juga dapat rezeki dapat buku dari Laura Bates "Fix The System, Not The Women" dari pertanyaan yang gue ajukan.

Terima kasih komunitas BuibuBacaBukuBook Club (BBBBookClub), Bijak Memilih, Sustaination, dan Kompas.id yang sudah mengadakan acara ini.




Baca juga: Lyfe with Less Meet Up: Mindful Consumption & Belajar Jadi Minimalis


 

You Might Also Like

0 comments