Belajar Mobile Food Photography with Komunitas Jangkrik Kuliner di Fimela Fest 2019



Beberapa bulan ini saya lagi suka banget posting tulisan soal makanan. Alasannya selain karena emang hobi makan, sekalian saja biar memacu diri saya untuk terus nulis di blog kesayangan saya ini. Kadang suka sedih gitu kalau dalam satu bulan saya ngga nulis apa-apa, sementara teman bloger saya yang lain udah mosting banyak tulisan.

Saya sebenarnya belum tahu apakah blog saya ini akan saya fokuskan saja ke niche makanan atau tetap campur-campur saja postingannya. Menurut saya mengangkat tema soal makanan itu cenderung tidak terlalu sulit dan dengan tujuan membuat tulisan, kita jadi ada alasan buat keluar rumah atau jalan-jalan kan? hehehehe.

Jujur saja saya juga masih belajar-belajar soal menulis review makanan dan juga pastinya fotografi makanan. Di luar sana ada banyak banget food blogger yang keren banget. Kalau lihat postingannya bikin iri hehehe.

Nah, untuk nambah skill saya mendalami konten yang berkaitan sama makanan, saya juga ikut kelas fotografi yang diadakan, salah satunya dari kelas Fimela Fest 2019 minggu lalu. Masih melanjutkan sesi sharing yang saya peroleh dari acara Fimela Fest 2019 Sabtu (16/11/2019) yang sudah saya tulis dipostingan sebelumnya. Kali ini tema yang saya akan sampaikan, yakni Photography Class: Mobile Food Photography - Komunitas Jangkrik Kuliner yang dibawakan oleh dua anggotanya, yakni Mba Christina S (@nanakoot) dan William (@jktfoodead).

Tapi sebelum saya kasih intisari dari materi mobile photography yuk kenalan sama Komunitas Jangkrik Kuliner dulu.

Jangkrik Kuliner 

Jangkrik Kuliner merupakan komunitas foodies yang dibentuk tahun 2017 yang beranggotakan para pencinta makanan dari berbagai latar belakang. Kegiatan yang dilakukan adalah me-review makanan dan tempat makan. Kamu bisa kepo-in Instagram mereka di @JangkrikKuliner

Sebagai pembuka, di awal kelas, sang host bertanya pada Christina dan William, apakah jika ingin memulai sebagai food photographer harus selalu memakai kamera? ternyata jawabannya tidak juga. Bisa dimulai dari handphone asalkan kita tahu teknik foto, angle yang tepat, dan food styling-nya seperti apa. Tidak ada patokan juga handphone-nya harus memiliki kamera berapa megapixel. Intinya kalau semakin hape-nya bagus maka foto yang dihasilkan juga makin bagus. Baru setelah terbiasa mengambil foto makanan yang bagus, bisa beralih ke kamera. 

Jika mengambil foto dengan memakai kamera, dalam fotografi ada namanya Exposure Triangle yang terdiri dari tiga hal, yakni Aperture, ISO, dan Shutter Speed.

Aperture 

adalah ukuran besar atau kecil terbuka-nya iris/diafragma lensa yang biasanya ditandai  dengan f-angka. Patokannya, semakin kecil angka f-stop yang tertera, semakin besar pula bukaannya.

Bila ukuran bukaan lensa makin besar (f angka semakin kecil), makin banyak pula cahaya yang masuk. Analoginya coba bayangkan seperti jendela bila dibuka semakin lebar maka cahaya akan semakin banyak yang masuk. Contohnya, aperture f/1.4 bukaan lensanya lebih besar daripada f/1.8.

Lantas apa pengaruhnya untuk hasil foto? Intinya, semakin besar bukaan lensa (f-angka semakin kecil) akan membuat foto yang dihasilkan semakin terang karena jumlah cahaya yang masuk banyak. Selain itu, depth of field  atau ruang tajam semakin sempit sehingga membuat bagian belakang foto (background) foto lebih bokeh / blur, dan sebaliknya.

ISO

ISO adalah ukuran jumlah sensifitas sensor kamera terhadap cahaya. Jika semakin tinggi setting ISO maka akan membuat sensor kamera semakin sensitif terhadap cahaya. 

ISO perlu dinaikkan jika dalam kondisi di bawah ini tapi tidak bisa menghasilkan eksposur yang normal: 
1. Kondisi yang kurang cahaya
2. Memakai aperture dengan bukaan terbesar
3. Mengatur shutter speed pada kecepatan yang wajar

Tujuan dari menaikkan ISO adalah untuk memperoleh shutter speed yang sesuai dan mengurangi hasil foto yang shake (goyang) atau blur. Sayangnya jika ISO dinaikkan, berpengaruh pada kualitas gambar sehingga muncul noise atau bintik pada foto.

Shutter Speed

Shutter speed merupakan kecepatan buka tutup jendela sensor atau lamanya sensor menerima cahaya.
Biasanya kecepatan shutter diukur dalam satuan detik. Bila semakin cepat shutter speed maka akan semakin cepat pula sensor dalam menerima cahaya, dan sebaliknya. Contoh: Shutter speed 1/25s lebih lambat 5 kali dibanding 1/125s. Intinya, semakin lama shutter speed yang dipasang, akan membuat foto semakin terang. Alasannya cahaya yang masuk ke sensor semakin banyak. Kegunaan shutter speed biar gambar yang dihasilkan itu jernih tidak ada goyang atau blur. 

Dengan memperhatikan 3 hal ini saja, kita sudah bisa menghasilkan foto yang baik.  Sementara bagaimana jika mengambil foto dengan memakai handphone? Sebenarnya di handphone juga ada 3 fitur tersebut. Hanya saja jika di handphone setting-annya berbeda-beda.

 Komposisi 

Yang dimaksud komposisi dalam fotografi adalah dalam satu frame apa saja komponen di dalamnya. Ada beberapa aturan di dalam komposisi fotografi. 

Rule of Third: Dalam satu frame terbagi dalam sembilan atau 16 kotak sehingga dalam satu frame. Tujuannya itu biar ada keseimbangan, apakah kanan dan kirinya sudah balance atau belum. 
Dalam memfoto makanan pastikan depan dan belakang (foreground dan background) makanan yang kita ingin ambil gambarnya jelas. Makanan utamanya apa, jangan sampai semua yang ada frame itu dianggap penting. Jadi fokus pada makanan yang ingin ditonjolkan. 

Saat mengambil foto makanan juga pastikan posisi kamera atau handphone 45 derajat ya agar makanan yang diambil fotonya bisa terlihat semua dengan jelas tanpa ada blur.

Mba Christina dan Mas William sedang men-demokan pengambilan gambar bakmi dengan posisi 45 derajat. 
Dalam fotografi makanan juga ada istilahnya, food porn. Itu adalah foto yang menampilkan gambar yang sangat detail (close up) yang hanya menonjolkan makanannya saja sehingga setiap orang yang melihat foto tersebut bisa membayangkan makanan tersebut. 

Kebanyakan para fotografer makanan mengambil angle foto dengan posisi flatray. Flatray itu kebalikan dari foto 45 derajat. Jadi kalau flatray diambil 90 derajat dari atas. Kebanyakan orang foto pakai kamera itu pasti foto flatray harus ditata secantik mungkin jadi semua kelihatan bagus.



Lightning 

Lightning menjadi hal yang paling penting dalam fotografi karena cahaya itu bisa membantu merefleksikan makanan itu sendiri. Cahaya bisa memberikan gambaran apakah makanan tersebut dingin atau panas dan bisa menggugah siapa pun yang melihat jadi laper. Yang paling baik itu sinar alami dari sinar matahari. Sementara kalau dari lampu kurang begitu bagus, karena akan menimbulkan bayangan. Tips dalam fotografi makanan itu cari jendela. Jadi foto makanan di dekat jendela. Saat di tempat makan jangan cari tempat duduk yang di pojok jauh dari jendela. 


Choose your Hero 

Makanan yang ingin difoto tentu harus ditata sedemikian rupa. Kita harus menentukan, mau fokus sama makanannya saja atau mau mengikutsertakan bagian lain seperti piring, sendok, garpu, sumpit, dan lain-lain.  

Platting your Food 

Jika kita mau mengikutsertakan elemen lain seperti piring, gelas, dan alat makan juga dalam foto makanan, tata secantik mungkin. Jangan sampai ada ruang kosong. Dalam foto makanan juga ambil-lah dalam posisi portrait.

 Food Stylist 

Penataan makanan sangat penting. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

Fresh Food

Pastikan makanan yang difoto adalah makanan yang segar agar warna dari makanan terlihat alami dan tampilan makanannya juga menggugah selera. 

Editing 

Mba Christina dan Mas William biasanya menggunakan 3 aplikasi edit foto, yakni Snapsheet, Snapsheet, Lightroom, dan VSCO. Mereka menyarankan sebagai pemula, baiknya gunakan Snapsheet terlebih dulu karena lebih ringan dan mudah.



Tips Fotografi Lainnya

Jika ingin melakukan cropping, lakukanlah cropping (4x5) potrait, naikkan sedikit kontras, shadow, highlight, tenprature (warm naikin sedikit jangan sampai biru). 

Nah jika kamu bertanya apakah dalam foto makanan resolusi tinggi itu perlu? Jawabannya iya, karena untuk mencegah agar fotonya pecah. Tapi tergantung kebutuhan. Kalau untuk Instagram cukup 500-600 kb. Tapi kalau untuk cetak poster atau spanduk, dan lain-lain itu perlu resolusi tinggi sama berapa megapixel. Mas William sendiri saat memfoto makanan dengan kamera, pasti akan di-resize lagi sebelum di upload. Kalau punya waktu sedikit untuk foto makanan, fokus pada makanan dan bawa keluar cari matahari.

Saat kelas, Mba Christina juga mencontohkan foto bakmi yang menggugah selera seperti apa. Biasanya ia akan mengangkat bakminya agar terlihat banyak porsi bakminya dan diberikan sambal yang banyak, karena menurutnya masyarakat Indonesia suka pedas. 

Audience ada yang bertanya bagaimana kalau foto di siang hari? Karena cahaya bisa banyak sekali masuk. Jawabannya cari cahaya yang merata dan tidak kena matahari langsung. Jam 9 sampai jam 10 masih oke. Namun, jangan benar-benar saat matahari terik. Misalnya di jam 12 siang. Cari tempat yang teduh.

Ada juga nih audience yang bertanya, bagaimana cara mengatasi rasa malu saat memfoto makanan di tempat umum? Karena terkadang saat kita mengambil foto makanan ada saja pengunjung lain yang memperhatikan atau nyinyir yang bilang kita norak.

Jawaban dari Mba Christina dan Mas William seragam, intinya tidak perlu malu karena kita juga secara tidak langsung mempromosikan makanan dan tempat makan tersebut. Bahkan dari pengalaman Mas William, ia pernah ditanya oleh pihak restoran nama Instagramnya. Jadi secara tidak langsung, kita selain mempromosikan usaha mereka, kita juga jadi lebih dikenal oleh pemilik tempat makan tersebut.

Wahhh jadi banyak insght nih soal food photography. Saya juga jadi termotivasi nih buat mem-foto makanan jadi lebih bagus lagi. Pastinya kita harus sering banyak berlatih, cari ilmu-ilmu soal food photography dari teman, komunitas, seminar atau workshop kalau mau menekuni bidang ini.

Baca juga: Tips Membuat Infografis Untuk Pemula Biar Enggak Ketinggalan Sama Bloger Lainnya

22 komentar:

  1. Asyik nih terima kasih atas semua shared ilmunya. Praktik lebih banyak bikin kita makin terampil dalam mengambil foto makanan yg dihidangkan ya. Jangan menyerah ah saya juga hehehe

    BalasHapus
  2. Whoaa, ternyata food fotografi tidak sesimpel yg daku kira, ya
    Pantesaan, para fotografer ffoodies itu kok kalo motret buagusss dan bikin pengin buat segera makan :D Plus, ternyata fee mereka GEDE BANGET, karena emang ilmu dan effort-nya luar biyasaaaa

    BalasHapus
  3. Untuk food photography Saya masih harus banyak belajar. Terima kasih sharing-nya, Mbak 🙏

    BalasHapus
  4. Mantap nih mba..kebetulan aku suka food fotografi

    BalasHapus
  5. Tantangan juga buat foto makanan tuh adalah nahan lapar saat liat berbagai makanan enak tapi belum foto. Hahaha. Apalagi kalau makan ama teman2 :) kan sungkan ya foto lama lama. Hahha. Makasih tipsnya mba

    BalasHapus
  6. Agak susah kalau lagi makan di resto, trus jauh dari jendela. Padahal kalau motretnya pakai hp, saya juga lebih suka dekat jendela.

    BalasHapus
  7. Sinar matahari memang bisa menguntungkan tapi juga merugikan . Suka backlight .


    duduk jauh dari jendela memang tips ok untuk food photography

    BalasHapus
  8. Ajip banget ini ilmunya. Ternyatauntuk foto makanan ada seninya juga ya. Aku suka pakai lightroom btw lightroom itu warna warmnya bagus.

    BalasHapus
  9. Wah TFS y mba..jadi ikutan belajar motret makanan nih..secara aku hobi motret tapinya masih..ya gitu deh...hihi..

    BalasHapus
  10. Langsung bookmark deh tulisan ini mba..kebetulan aku lagi butuh pencerahan soal fotografi nih. Infonya lengkap banget. Thnks ya mbaa

    BalasHapus
  11. Paling susah kalo mau review makanan itu di platting dan styling hehehehe, dibolak-balik kok gitu2 aja

    BalasHapus
  12. Belajar fotografi itu menyenangkan ya mbak, supaya kita bisa menghasilkan foto bagus dengan angle yang menarik. Terlebih bila fokus pada Niche makanan untuk tulisan di blog. Pastinya daya tarik dari foto ini bisa mengundang rasa penasaran pengunjung blog. Terimakasih sharing tip-tip fotografi mbak, bisa dipraktekkan nih untuk menghasilkan foto yang bagus.

    BalasHapus
  13. Makasih ya mbk sudah share ilmu kecenya. Ternyata banyak yg harus diperhatikan sebelum jeprat jepret makanan. Terutama soal pencahayaan ya mbk.

    BalasHapus
  14. Tulisanya membantu banget mba buat aku foto-foto makanan, ak mau langsung kepoin ig ahh belajar cara foro yg bagus kya apa hasilnya

    BalasHapus
  15. Wuih, acara yang berfaedah banget ini. Nambah skill fotografi ya. Mupeng deh ih. Skill fotografiku jeleeek. Kudu banyak ikutan acara yang begini.

    BalasHapus
  16. Perlu banget nih aku belajar lebih banyak supay apunay foto yang bagus-bagus. KEmarin ini udah diajarin teknik dasarnya tinggal diterapkan aja

    BalasHapus
  17. Iya loo...kalo foto makanannya pake malu-malu, jadinya blur, aneh.
    Hahaha...mendingan kebal aja yaa...
    Mau foto yang niat, diatur-atur dulu komposisi makanan dan pendukungnya, kaya sendok, minuman, dll.

    Tapi ada aturannya gak siih...kita masukin makanan sama minuman dalam satu frame sekaligus?
    Soalnya menurutku, jadi bingung mau fokes ke mana.
    Gitu gak?

    BalasHapus
  18. Wah materinya ini daging banget ya Mbak. Bagi yang serius ingin mendalami food fotografer kudi banget ikut acara sharing yang seperti ini. Saya kalau bahasa masalah fotografi masih awam banget sih, hehe

    BalasHapus
  19. Seru ya jadi dapat insight baru seputar food photography sayang gak ada tutorialnya biar aku bida ikutan belajar hehe

    BalasHapus
  20. Cita-citaku banget mbak bisa memotret makanan yang bisa masuk kategori foodporn sampek bikin org ngiler hehe. Namun ya kyknya emang butuh banyak latihan ya mbak :D
    Seru deh ikutan acara kyk gtu, dapat banyak teorinya yaaa, tinggal praktik :D

    BalasHapus
  21. Nah ini poin2 penting yg emang harus kita kenal ya meskipun dikata pemula dr HP juga biar bisa maksimal, hehe

    BalasHapus
  22. Memotret jug agak sembarangan asal jepret ya. Perlu tekhnik yang pas. Wow keren ini sharingnya. Makasih Kak.

    BalasHapus