Caraku Memulai Hidup Minim Sampah untuk Wujudkan Lingkungan & Hidup yang Lebih Baik

sampah-bantar-gebang
Sumber foto: Kompas.com

“Tadi jalan ke warung sama beli es kelapa di depan, Ya Allah panas banget!”

“Mana tadi lupa pake sunscreen lagi.”

“Perasaan ini uda Oktober deh. Harusnya musim hujan.”

Begitu Ninik, sepupuku, ngoceh tiada henti saat main ke rumah.

“Parah si ini panasnya. Aku udah masang kipas angin sampai speed ketiga kayak cuman angin sepoy-sepoy doang?!”

"Mama juga tadi bilang semalam dia enggak bisa tidur karena gerah padahal udah pake kipas angin full speed.” 

Aku menanggapi Ninik setelah ngomong tanpa jeda.

“Suhu 34 derajat, Nik! Tadi ngecek hape, pantes kayak di sauna.“

***

Apakah kalian juga merasakan hal yang sama dengan aku dan sepupuku tadi?

Nah, karena kejadian ini aku jadi teringat dengan apa yang ada di film dokumenter David Attenborough: A Life on Our Planet.

“Suhu rata-rata global saat ini lebih hangat satu derajat celcius akibat perubahan iklim yang terjadi,” begitu petikan film yang tayang di Netflix itu.

Di film ini juga memberikan gambaran jika tiap beberapa tahun hutan di dunia terus berkurang akibat penebangan liar, es di kutub utara maupun selatan terus mencair, gas efek rumah kaca meningkat, dan banyak populasi hewan yang terus mengalami kelangkaan. 

Di waktu sekarang saja, suhu panas bisa mencapai 34 derajat celcius. Aku tidak bisa membayangkan akan menjadi seperti apa  jika bumi semakin panas. 

“Oiya, aku suka lihat postingan di IG story Mba soal zero waste lifestyle. Itu maksudnya kita enggak nyampah sama sekali gitu Mba? Emang bisa?” tanya Ninik. 

“Gaya hidup zero waste tuh bukan berarti kita enggak menghasilkan sampah sama sekali. Tapi lebih ke mengurangi jumlah sampah yang terbuang ke TPA. Zero waste lifestyle ini jadi salah satu upaya untuk membantu mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim.” 

Seberapa Urgensinya Sampah di Indonesia?

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Jenna Jambeck (dosen & peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat)  yang dipublikasikan pada Jurnal Science (www.sciencemag.org) pada 2015, Indonesia sendiri menduduki posisi kedua teratas penyumbang sampah plastik ke laut dari 192 negara. 

Sampah plastik juga baru bisa terurai puluhan bahkan ratusan tahun.  Belum lagi jika sampah plastik tersebut berada di air, akan lebih sulit lagi terurai. Sampah plastik yang tak terurai dapat membahayakan kehidupan dan ekosistem banyak makhluk hidup bukan hanya manusia, tapi juga hewan dan tanaman.

Selain itu, data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI pada siaran persnya tahun 2020 dikatakan jika sampah di Indonesia yang masih menumpuk setiap tahunnya ada sekitar 67,8 juta ton.

Untuk sampah plastik sendiri, menurut data dari The National Plastic Action Partnership (NPAP), di Indonesia ada sekitar 4,8 juta ton sampah plastik per tahun yang tidak terkelola dengan baik, misalnya sebanyak 9% mencemari saluran air dan laut, 13% tidak dikelola secara layak di tempat pembuangan sampah resmi, dan 48% dibakar di ruang terbuka.

Belum lagi kondisi pandemi sekarang ini juga berimbas pada sampah plastik yang cenderung meningkat akibat dari kebiasaan masyarakat yang banyak melakukan belanja online dan hampir semua pengemasannya menggunakan plastik. 

Ditambah pula dengan pembelian makanan lewat layanan jasa antar makanan yang packaging-nya juga menggunakan plastik. Sampah organik berupa sisa makanan atau sisa memasak juga meningkat dua kali lipat selama pandemi.


Kalau Sampah Enggak Dikelola dengan Baik, Emang Dampaknya Apa?

“Wah banyak juga ya jumlah sampahnya. Tapi apalagi sih dampak dari sampah yang tidak terkelola dengan baik selain banjir dan bikin cuaca jadi enggak menentu?”

Kalau enggak ada pengendalian sampah plastik, misalnya dari regulasi dan juga kesadaran masyarakat, di tahun 2050 sampah plastik bisa meningkat dua kali lipat. Pastinya hal itu bakal menimbulkan banyak masalah kayak lingkungan jadi tercemar dan jadi memunculkan penyakit, merusak ekosistem laut, polusi udara yang sampai mengganggu pernapasan, cuaca panas yang semakin meningkat, dan merusak sanitasi.”

"Kok bisa ya plastik sekali pakai memberikan efek yang buruk banget?" 

"Salah satu alasannya sih karena dari proses produksi, pemakaian, sampai akhirnya dibuang plastik sekali pakai menghasilkan emisi karbon yang tinggi. Akibatnya bikin gas rumah kaca yang ada di bumi tuh juga ikutan meningkat."

Langkahku untuk Menciptakan Lingkungan yang Sehat dan Bersih 

Mengirim Kemasan Produk yang Sudah Tidak Terpakai ke Bank Sampah dan Mengurangi Penggunaan Plastik

“Terus apa yang bisa dilakukan Mba buat bantu mengubah keadaan?”

“Ubah habit kita. Misalnya dengan mengurangi sampah plastik di kehidupan sehari-hari.”

“Kayak bawa tas belanja atau bawa wadah sendiri kalau mau beli makanan ya, kayak yang kamu suka share di insta story ya Mba?”

“Iya. Itu salah satu langkah kecil yang aku lakukan untuk kurangin sampah plastik. Aku juga mengirimkan kemasan produk yang masih bisa diolah lagi ke bank sampah tiap bulan.


langkahku-mengurangi-sampah-plastik


Baca juga: Memulai Hidup Zero Waste, Karena Sampahku Tanggung Jawabku


Mengganti Pembalut Sekali Pakai ke Pembalut Kain

“Terus, sejak satu tahun terakhir aku udah mengganti pembalut sekali pakai ke pembalut kain.”

“Oh iya, aku lihat tuh video di channel YouTube kamu Rahmawatieka05 soal pengalaman Mba pake reusable menstrual pad. Tapi risih enggak sih Mba pakainya?

“Ya, bisa karena terbiasa Nik.”


pengalaman-menggunakan-menstrual-pad

Menghindari Produk Sekali Pakai untuk Pemakaian Skincare

reusable-cotton-pad



"Mba ada tisu enggak?" Ninik ingin membersihkan tetesan es kelapa yang sedikit tumpah.
 
"Wah enggak ada Nik, udah lama aku enggak pakai tisu lagi. Kapas juga udah enggak pakai."

"Lah terus kamu kalau mau ngolesin skincare gimana Mba kalau enggak pakai  kapas? Pakai tangan?"

" Sekarang pakai reusable cotton pad sama handuk kecil. Udah lama tahu aku enggak pakai tisu sama kapas. Bahkan aku aja udah enggak pakai sheet mask lagi. Lumayan jadi bikin aku hemat pengeluaran."


Kebiasaan Lain 

Sambil menyeruput es kelapa, Ninik bertanya lagi “Terus apa lagi Mba yang bisa dilakuin?”

 “Bisa juga dari kebiasaan sehari-hari kayak misalnya menghabiskan makanan yang dikonsumsi, beli produk sesuai kebutuhan dan menghindari produk sekali pakai, efisien menggunakan air dan listrik. Itu dulu aja dilakuin secara konsisten. Kalau udah terbiasa, nanti pasti kamu bakal mau ngelakuin hal yang lebih lagi.”

Ninik manggut-manggut.

 “Ya emang sih kebiasaan-kebiasaan tadi efeknya enggak bisa dirasakan secara cepat, tapi kalau banyak orang yang mulai mencoba menerapkan gaya hidup minim sampah atau hidup ramah lingkungan, pasti alam bakal jadi jauh lebih baik sama manusia. Soalnya kan manusia dan alam itu saling bergantung sama lain.”


Mengelola Akun Instagram yang Fokus dengan Sampah Makanan

zero-waste-culinary


Langkah lain yang juga aku lakukan yaitu dengan mengelola sebuah akun Instagram yang khusus membahas sampah makanan bernama @zerowaste.culinary. Akun ini sebenarnya dibuat oleh temanku yang juga sesama blogger yaitu Kak Dewi. Dia mengajak aku membantunya membuat konten di sana. 

Alasan aku mau ikut bikin konten di akun @zerowaste.culinary sederhana, yaitu ingin mencoba menyebarkan value positif dan tips bemanfaat ke orang lain agar mulai bergerak untuk mencoba mengurangi sampah dari makanan yang dikonsumsi maupun kemasan, dan peralatan makanannya. 

Untuk mengurangi sampah makanan juga sebenarnya dimulai dari hal sederhana, misal ambil makanan seperlunya, menghabiskan makanan yang dikonsumsi, dan mengirimkan kembali kemasan makanan yang masih bisa diolah lagi ke bank sampah.

Selain itu, ada juga anggapan yang berkembang jika ingin memulai gaya hidup minim sampah yang terkait makanan itu ribet dan perlu mengeluarkan banyak biaya karena dianggap harus membeli peralatan khusus seperti tempat makan khusus, sedotan stainless, dan lainnya. Padahal anggapan tersebut tidaklah benar. 

Untuk memulai gaya hidup minim sampah sangat bisa kok dilakukan dengan menggunakan peralatan yang ada di rumah seperti tempat makan, sendok makan, sapu tangan, dan lainnya. 

Pesan-pesan tersebutlah yang mau disampaikan di akun Instagram @zerowaste.culinary.

Alasan Meyakini Gaya Hidup Minim Sampah Layak untuk Dijalani

 “Apa sih Mba yang men-trigger kamu mau merubah kebiasaan lamamu ke gaya hidup minim sampah?”

“Kamu inget kan, kejadian banjir di JABODETABEK 1 Januari 2020 tahun lalu? Banjir di daerah rumah aku ini sampai lutut orang dewasa. Belum lagi perabotan rumah dari kayu punya Mama banyak yang rusak. Mama aja sampai harus mengeluarkan duit tabungan 20 juta buat bikin lemari dapur sama lemari pakaian dengan yang baru. Itu banjir terparah yang pernah aku alamin seumur hidup sih.”


Tanggapan Orang-orang Terdekat 

“Bude sama Pakde juga udah mulai kurangin sampah Mba? Mereka suka nanya-nanya enggak?”

“Mereka belum action sih. Cuma mungkin udah aware aja. Tapi memang di awal aku mulai tahun lalu, mereka bingung dan suka protes kenapa aku mau meribetkan diri sendiri dengan mengumpulkan sampah. Mereka juga takut kalau sampah tersebut bikin penyakit.”

“Terus jelasinnya gimana ke mereka?”

“Aku bilang kalau sebelum dikirim ke bank sampah, sampah kemasannya dibersihkan dan dikeringkan dulu. Terus sebisa mungkin kurangi penggunaan plastik sekali pakai. Tapi, lama kelamaan mereka enggak lagi komen dan bahkan Mama sekarang suka ngingetin aku kalau beli makan di luar bawa wadah sendiri.” 

“Banyak yang nanya-nanya enggak sih Mba sama kamu soal kebiasaan ini?” 

“Yang banyak justru yang pada bilang aku anaknya ribet, sok-sok-an mau menolong dunia dan lain-lain. Kalau ada yang komen begitu, ya aku coba kasih tahu aja kalau aku ngelakuin ini bukan buat siapa-siapa kok. Ya buat diri sendiri.”

“Buat diri sendiri? Maksudnya gimana Mba?”

 “Aku enggak mau cuaca makin panas, aku enggak mau ngerasain banjir lagi, aku enggak mau insecure pas lagi makan seafood karena takut jangan-jangan di dalam tubuh mereka ada microplastik yang bisa membahayakan tubuh aku, aku enggak mau anak aku nanti enggak bisa melihat hewan dan tumbuhan yang dimiliki Indonesia karena kebanyakan dari mereka udah pada punah.”

Sembari Ninik mau membuang kemasan bungkus es kelapa ke tempat sampah ia berkata “Iya sih ya, mulai dari diri sendiri dulu aja. Terus enggak usah tanggapin komentar orang selama kita tahu apa tujuan kita ngelakuinnya ya.” 

“Eh bentar. Bungkus plastiknya jangan dibuang di situ. Itu masih bisa diolah lagi. Cuci aja sampe bersih, terus dikeringin di luar. Nanti aku setorin ke bank sampah.” 

“Oh iya, okeh Mba.”

Pesanku kepada teman-teman yang baru mencari tahu atau udah memulai menerapkan gaya hidup berkesedaran seperti zero waste

  1. Cari tahu sebanyak mungkin informasi soal gaya hidup ini agar kita bisa konsisten menjalankannya. 
  2. Jangan memulai gaya hidup ini hanya karena ingin mengikuti tren atau orang lain saja. Gali motifnya dari dirimu sendiri.
  3. Hindari memaksa orang lain untuk mengikuti cara kita. Karena yang namanya kebiasaan itu harus dimulai dari diri sendiri.
  4. Pasti disaat menjalaninya sesekali kita akan lupa atau malas. Enggak apa-apa itu manusiawi. Jangan jadikan kebiasaan baru ini sebagai beban. Namun, jangan lama-lama, ingat lagi pada komitmen di awal kenapa kita mau melakukannya. 
  5. Jangan ambil pusing dengan perkataan orang lain yang menganggap kita ingin menjadi pahlawan dunia atau bilang kita ribet. Biarkan saja mereka. Tapi coba sampaikan alasan kenapa kamu mau melakukan gaya hidup ini. 
  6. Lakukan perlahan saja. Hidup ini bukan perlombaan. Harapannya gaya hidup ini bisa kita terapkan jangka panjang atau bahkan bisa diturunkan untuk anak-cucu kita, jadi memang perlu adaptasi terus setiap harinya. 
  7. Terakhir, semangat!

Sampai di sini, aku kembali mengingat film David Attentborough: A Life on Our Planet. 

 “Jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita.”

Lalu, “Yang kita butuhkan hanya kemauan untuk melakukannya.” 



Sumber:

 







 

You Might Also Like

11 comments

  1. Eh iya ya, akhir-akhir ini makin panasnya minta ampun, di Surabaya rasanya kayak membara gitu, di luar panas di dalam rumah gerah minta ampun.
    Dan emang sih sekarang musimnya udah nggak jelas, sekarang kan mestinya udah hujan, tapi belum ada kejelasan hujan juga hehehe

    ReplyDelete
  2. kereenn nih mba sudah mulai menerapkan gaya hidup minim sampah, bahkan sampai rutin ngirim ke bank sampah. patut ditiru sih ini. tapi, btw kalau pakai pembalut kain aku belum pernah cobain nih.. masih takut gak nyaman dan lainnya :D

    ReplyDelete
  3. Saya memulainya dengan bawa tas belanja sendiri mba tiap belanja bulanan, jadi minimal mulai dari sendiri yaa ngurangin sampah plastik, semoga ke depannya bahan2 kemasan yang ramah lingkungan juga harganya lebih ramah kantong yaa

    ReplyDelete
  4. Jadi inget waktu pertama haidl dulu zaman SMP aku pakai pembalut kain khusus yang diberi ibu... Baru paham setelah banyak belajar tentang persampahan kalau itu justru bagus utk lingkungan :D

    ReplyDelete
  5. Di kawasan rumahku belum aku temukan bank sampah, mba. Usaha untuk minum sampah di usahakan, mba. Makasih sudah berbagi ya mba

    ReplyDelete
  6. thanks mbaaa... urusan persampahan ini memamng memerlukan perhatian khusus ya dan pastinya kita semua harus berpartisipasi

    ReplyDelete
  7. Di sini juga panas banget mbak tapi suka tiba-tiba hujan deras banget sampai seram petirnya.
    Kemarin lihat serial terbaru Grey Anatomy juga lagi bahas tentang suhu panas yang tinggi sampai mereka gak kuat.
    Ternyata sampah bisa menjadi penyebab suhu bumi dan perubahan iklim terjadi ya

    ReplyDelete
  8. penggunaan reusable cotton pad ini sungguh menginspirasi, mbak. soalnya sejauh ini aku belum bisa pakai itu. padahal minimal itu 3x sehari pakai kapas, tuh. makasih ya sharingnya.

    ReplyDelete
  9. Banyak kebiasaan bagus yang bisa kita mulai dari sekarang untuk mengurangi limbah sampah yaa..
    Aku belum punya banyak pembalut kain, huhuu...rasanya sedih banget.
    Tapi ini beneran jadi menghemat dan minim sampah.

    ReplyDelete
  10. Kadang ga kebayang ya gimana perilaku kecil kita dalam mengurangi sampah plastik bisa segitu pengaruhnya kepada kondisi lingkungan secara globa. Makanya PR banget bagi kita nih untuk terus mengedukasi perilaku pemilahan dan pengelolaan sampah agar tidak bikin bumi kita makin menderita.

    ReplyDelete
  11. Thank you atas insightnya ya, Mbak. Masalah sampah ini jadi masalah bersama yang butuh uluran tangan banyak orang untuk berperan serta. Yuk ah kita mulai hidup hemat dan minim sampah mulai dari diri sendiri dan keluarga ya

    ReplyDelete