Content writer, agency, digital, agency digital
Sumber: Unsplash.com
Sebelum saya cerita soal pengalaman saya menjadi Content Writer (CW), saya mau kasih tahu dulu soal bedanya Content Writer sama Copywriter. Soalnya masih ada sebagian orang yang nganggep kalau kedua posisi ini memiliki tugas yang sama. Untuk yang belum tahu, perbedaan kedua posisi ini, mereka sebenarnya serupa tapi tak sama.

Content writer itu orang yang menulis atau yang menyediakan konten untuk web atau brand. Biasanya  artikel yang dibuat bertujuan untuk memberikan informasi kepada pembaca. Seringnya kalau Content writer itu nulis tentang artikel tips. Intinya artikel yang dibuat harus informatif, edukatif, dan menarik, tapi harus dikaitkan juga sama brand-nya dengan memasarkan brand se-smooth mungkin (soft selling).

Kalau copywriter tugasnya bikin tulisan sepersuasif mungkin untuk membuat pembaca tertarik dan akhirnya membeli produk yang ditawarkan. Pokoknya bikin tulisan pemasaran produk atau iklan (hard selling).

Saya kurang lebih sudah 11 bulan 12 hari (diitungin banget:P) menjalani pekerjaan seorang CW di digital agensi di daerah Jakarta. Awalnya saya bisa nyemplung di dunia digital agensi berkat teman saya yang ngajak untuk masuk kantornya karena waktu itu emang lagi perlu CW tambahan.

Saat itu, saya emang lagi menganggur, karena resign dari tempat kerjaan yang lama. Jadi pas ada tawaran kerjaan yang menurut saya cocok dengan saya, langsung saya meng-iyakan tawaran teman saya itu. Saya enggak tahu ya, apakah rata-rata proses recruitment di setiap kantor digital agensi enggak seribet kantor atau pekerjaan lainnya kayak media, PNS, atau bidang lainnya yang mengharuskan mengikuti beberapa tahap seleksi kayak psikotes, wawancara HRD, wawancara user, tes kesehatan, FGD, dan lain-lain. Karena waktu saya mau masuk jadi karyawan di tempat yang sekarang, saya langsung diwawancara sama user-nya, dua orang (Editor and Content Strategist dan Head of SEO) sekitar bulan Oktober 2016.

Sayangnya, pas saya masuk, Editor and Content Strategist-nya udah resign dan dua minggu setelah saya masuk Head of SEO-nya juga resign. Kalau yang saya denger sih mereka resign karena pada mau bikin usaha sendiri. Cuma enggak tahu deh ini bener apa enggak. Hehehe. Kalau  kata teman-teman saya yang udah lama kerja di digital agensi, rata-rata di ‘dunia’ ini turnover-nya tinggi banget. Dalam setahun bisa lebih dari 10 karyawan yang resign dan masuk. Ya tapi, hilang satu, dua, tiga, perusahaan bisa nyari lagi satu, dua, tiga, empat, lima, dan sebanyak yang mereka mau. hahaha.

Oke balik lagi ke topik. Saya enggak langsung kerja setelah melalui proses wawancara itu, saya diminta untuk menjadi freelancer dulu selama 3 bulan. Saat itu, buat saya yang memang lagi nganggur dan perlu uang, saya mau-mau saja ditawarin jadi freelancer dulu. Saya mikirnya positif aja, karena saya juga belum ada pengalaman banyak soal dunia tulis di bidang digital. Jadi emang butuh waktu untuk ngebuktiin ke mereka soal kebisa-an saya nulis. Mungkin. Hahahha. Masuk ke bulan Januari 2017, saya dapat kabar kalau saya diterima di kantor yang sekarang buat jadi SEO Content Writer. Wah denger itu saya langsung seneng pake banget.

Jujur, saya buta banget sama yang namanya dunia digital. Saya memang sebelumnya sudah suka nulis di blog pribadi dan di tempat kerja saya yang lama, kerjaan saya juga ada kaitannya sama nulis juga, cuma lebih ke nulis soal kegiatan kampus buat kepentingan website kampus. Di dunia digital, khususnya SEO saya enggak tahu apa-apa. Saya belajar dari nol (sampai saat ini masih belajar juga, karena SEO itu banyak banget tekniknya). Waktu itu saya cuma tahu, SEO itu bisa bikin sebuah situs ada di urutan nomor satu Google. Tapi saya enggak tahu aturan bikin artikel SEO itu kayak gimana.

Mungkin ada yang nanya, kan katanya Eka udah pernah jadi freelancer selama 3 bulan, masa iya belum tahu nulis artikel SEO kayak gimana? Menurut saya enaknya jadi freelancer adalah enggak banyak aturan. Waktu saya jadi freelancer, di-brief untuk nulis klien MAP, mereka cuma bilang ‘bikin artikelnya yang penting per artikel terdiri dari 500 kata, jangan copy-paste, hindari typo, sumber bisa dari mana saja, masukkan keyword sebanyak 1 persen dari 500 kata (berarti 5 keyword dalam 500 kata)’. Sudah gitu saja. Maklum namanya freelancer kan pasti tulisannya bakal diedit lagi sama editor. Hehehe.

Pas saya jadi SEO CW beneran, ternyata nulis artikel SEO enggak semudah itu. Ada aturannya kayak di judul, meta description harus dimasukkin keyword. Judul enggak boleh lebih dari 60 karakter, meta description enggak boleh lebih dari 160 karakter, gitulah pokoknya. Udah gitu, pas saya masuk jadi karyawan, editor yang harusnya ada malah resign. Jadi kerjaan saya double, nulis juga, ngedit tulisan sendiri juga. Emang sih di kantor saya ada yang namanya SEO Project Management, posisi-nya ini lebih kepada ngatur jatah berapa banyak seorang CW nulis artikel setiap bulan, ngatur jatah backlink, dan lain-lain. Semenjak editor enggak ada, si SEO Project Management membantu juga ngedit tulisan saya, tapi kan pasti enggak se-detail editor yang sesungguhnya hehehe.

Sesuai sama judul saya ‘Enak – Enggaknya Jadi Content Writer di Digital Agency’, berikut enak dan enggak-nya yang saya alami selama 11 bulan 12 hari.

Enak-nya Jadi Content Writer di Digital Agensi

1. Ada rasa bangga kalau tulisan kita diposting di website klien, apalagi kalo tulisan kita banyak yang baca dan ada di halaman satu Google. Salah satu klien yang saya pegang saat ini adalah klien yang ngebahas soal ajang olahraga yang sebentar lagi mau diadain di Jakarta dan Palembang. Klien ini sebenarnya cukup ribet karena pengin tulisan yang dibuat itu bagus banget, kayak tulisan portal-portal situs olahraga di website luar negeri dan harus detail.

Buat saya, ini tantangan sih. Karena saya harus melakukan riset lumayan lama buat bikin satu artikel. Kebetulan kliennya cukup detail soal data-data kayak cabang olahraga, prestasi atlet, dan lain-lain dan banyak maunya, enggak boleh nulis tentang ini -itu, jangan pakai kata ini-itu, dan lain-lain. Kalau kata atasan saya, artikel SEO itu enggak mesti cantik kayak artikel di majalah atau bikinan kayak tulisan advertising agency. Yang penting ada keyword, tulisannya nyambung, dan enggak banyak typo. Tapi kan susah juga ya, klien ini nuntut kita buat nulis artikel sebagus dan sedetail mungkin. Jadi bikinnya juga enggak bisa cepet-cepet. Ya kadang ngomong doang emang gampang, tapi pas dikerjain enggak semudah yang diomongin :’)

2. Jadi nambah ilmu tiap hari. Karena nulis artikel buat klien enggak bisa asal jadi, saya harus riset dulu kalo mau nulis. Otomatis saya jadi tahu kan soal topik yang saya mau tulis dan nambah wawasan juga sedikit demi sedikit.

3. Traktiran dari klien. Enaknya lagi nih¸ kadang suka dapat traktiran makan dari klien. Emang enggak tiap bulan sih. Tapi lumayan lah bisa makan enak. Terakhir saya makan di Abuba Steak di Senopati, ditraktir makan steak yang kalau saya beli sendiri, saya pasti mikir-mikir buat belinya. Cuma karena ini traktiran, otomatis bisa pesen yang mana saja. Hehehe.

Enggak Enaknya Jadi Content Writer di Digital Agensi

1. Sering pusing, sakit punggang, leher dan tangan pegal. Ya, saya sering pusing saking banyaknya artikel yang saya tulis. Sebulan bikin 80 artikel untuk 4 sampai 5 klien yang berbeda-beda, bahkan pernah 7 klien sebulan, gimana enggak pusing? Dalam sehari kadang saya bisa ngerjain 2 sampai 3 klien yang beda-beda. Satu soal HP, satu soal lifestyle, satu tentang biskuit, dan lainnya. Selain itu, jadi CW itu kan kebanyakan duduk. 

Tangan dan leher jadi sering pegal. Koyo adalah benda yang selalu ada di laci kerja saya. Kalau lagi kerja, tapi tangan lagi pegal, ya saya ngetik dengan tangan ditempelin koyo. Mending kalau tangan doang yang pegal, kalau leher sama punggung juga lagi pegal yaudah saya kerja dengan tiga tempelan koyo di badan 😦

2. Klien banyak maunya. Paling kesal kalau ada klien yang banyak aturan dan banyak mau. Saat ini saya megang klien biskuit buatan luar negeri yang katanya sih enggak dijual di Indonesia. Mereka punya standar tinggi banget kalo soal pemilihan gambar buat artikel yang saya buat. Setiap saya ajukan gambar, mereka sering nolak dan bilang gambarnya kurang menarik. Saya sudah cari di Google bahkan hingga ShutterStock (situs gambar berbayar) kadang itu masih enggak di approved

Pas ditanya, mau gambar kayak gimana, mereka cuma bilang cari gambar yang elegan, mewah, dan sesuai-in sama produknya. Bingung enggak tuh? Kan selera saya sama mereka kan beda ya. Saya kadang bisa cuma cari satu sampai dua  gambar itu lebih dari satu jam, gara-gara biar sesuai sama yang klien mau.

3. Mengira seorang content writer itu tahu semua hal. Menghadapi klien emang harus sabar sih. Secara klien itu raja kan? (Begitu kata bos saya dan bos-bos lainnya hahaha). Tapi kata-kata ini saya enggak suka. Justru menurut saya malah bikin klien ngelunjak. Saya pernah menghadapi klien yang banyak enggak tahunya kalau ditanya. Wajar dong kalo saya tanya soal product knowledge-nya, masa iya perusahaan enggak ada product knowledge-nya, atau at least press release-nya gitu. Tapi mereka bilang enggak ada. 

Si klien malah nyuruh saya cari di Google. Emang sih klien ini udah punya nama di Indonesia maupun Asia. Jadi mereka nganggep-nya semua informasi tentang brand mereka ada di Google. Kayaknya impossible banget kalo mereka enggak punya product knowledge tentang produk mereka sendiri, iya kan? Ini mah alasan mereka saja kali, enggak mau susah nyari di data base mereka. Malah bikin susah orang lain. (sabar kan aku ya Allah :’)). Di website resmi mereka katanya ada soal produknya. Iya memang ada, tapi cuma dikit banget. Itu juga informasinya enggak sampai 200 kata kali! Jadi mereka cuma ngasih guideline seadanya tapi minta saya bikin artikel se-cakep mungkin. Katanya referensi bisa dari mana saja. Tapi kalau saya salah nulis, saya dimarah-in dengan kata-kata yang lumayan bikin elus-elus dada.

4. Banyak orang yang menilai jadi CW itu kerjanya gampang. Saya paling sebal kalau ada yang bilang, "Jadi CW itu gampang, kan udah ada referensinya di Google, tinggal riset dikit, tulis pake kata-kata sendiri, masukin keyword, asal jangan copas jadi deh artikel SEO. Jadi enggak usah capek-capek mikir". Pikiran ini bukan cuma dari teman-teman saya yang tidak menjadi CW maupun yang tidak bekerja di agensi digital, tapi orang-orang di kantor saya pun ada beberapa yang menganggap enteng pekerjaan CW. 

Saya yang dengar kata-kata itu, biasanya langsung bilang ‘mending lo rasain deh satu hari aja jadi CW kayak gimana. Rasain gimana pusingnya ngerangkai kata, yang cuma berdasarkan dari 2-3 kata keyword tapi lu harus kembangin jadi 500 kata. Yang ada lo mungkin langsung ajuin surat resign.’ Saya sampai seketus itu, karena kesel banget. Hahahha. Maap yak. 

5. Sering bawa kerjaan ke rumah. Kadang weekend enggak berasa. Saya sering banget kerja weekend di rumah. Ini biasanya terjadi karena di weekedays saya ngerjain revisi dari klien, bahan buat bikin artikel susah dicari, ada meeting sama klien, atau datang ke event klien yang bisa dimasukin buat bikin artikel. Jadi otomatis, waktu saya buat ngerjain artikel berkurang. Bisa aja sih dikerjain pas weekdays selanjutnya, tapi otomatis akan mempengaruhi jadwal pekerjaan saya buat mengerjakan artikel lainnya.

Itu dia cerita pengalaman saya kerja menjadi CW digital agensi. Terlepas dari enggak enaknya jadi CW, Buat kamu yang emang passion banget di dunia tulis dan tertarik sama dunia digital, jadi CW bisa banget jadi salah satu pilihan buat ngembangin kemampuan nulis dan gajinya juga lumayan (Yang pasti di atas UMR :p). Selain itu, naik jabatannya juga lumayan cepat (kalo kerja-nya bagus). Tapi ya, emang banyak banget yang resign dan masuk jadi karyawan baru. Karena rata-rata yang kerja di digital agency itu anak-anak yang masih muda yang masih mau banyak-banyakin pengalaman dan enggak mau cepat puas (katanya sih gitu).

Jadi buat kamu yang mau mengembangkan karir di dunia digital, digital agensi bisa jadi tempat belajar yang bagus banget buat membentuk mental, networking, ilmu, dan lain-lain. Oh iya, maaf ya kalau kepanjangan ceritanya 🙂

Semoga bermanfaat!

Dibeberapa minggu lalu saya nonton film dokumenter berjudul Negeri Dongeng yang menceritakan tentang sebuah komunitas yang bernama Aksa 7 yang melakukan ekspedisi pendakian ke tujuh gunung tertinggi yang ada di Indonesia.  Saya waktu itu nonton di Blok M Square.  Sebelum saya membahas tentang film Negeri Dongeng, saya pengin ngasih tahu kenapa saya kepengin banget nonton film ini.

Jujur ini adalah film dokumenter pertama yang saya tonton full sampai habis. Karena sebenarnya saya agak kurang tertarik sih sama film dokumenter.  Alasan saya kepengin banget nonton Negeri Dongeng, karena cerita filmnya yang menarik, yakni berkaitan sama pendakian gunung. Saya sebenarnya punya keinginan, minimal sekali semasa hidup ngerasain yang namanya mendaki gunung itu kayak gimana. Keinginan naik gunung itu ada sejak saya baca novel dan nonton film 5 CM karya Donny Dirghantoro dan disutradarai sama Rizal Mantovani yang dirilis di bioskop tahun 2012.


Saya juga sempat mendengar beberapa cerita dari orang-orang yang pernah mendaki gunung, kalau naik gunung itu bisa membuat pendakinya semakin mengenal dirinya sendiri, mengingat apa-apa saja yang sudah pernah dilakukan di dunia, makin mencintai ibu pertiwi, dan pastinya semakin mengingat akan kebesaran Tuhan YME.  Maka dari itu, saya ingin sekali naik gunung suatu saat nanti, pengin ngebuktiin sendiri 🙂

Oke, balik ke topik utama. Jadi, seperti yang sudah saya singgung di atas jika Negeri Dongeng ini bercerita tentang perjalanan sekumpulan tujuh pemuda Indonesia yang bukan hanya ingin mengeksplor keindahan Indonesia, namun juga ingin menceritakan kepada masyarakat luas jika Indonesia itu memang benar-benar indah dan memiliki alam yang kaya lewat sebuah karya, yakni film.

Film Negeri Dongeng dibuat dari mengumpulkan kisah pendakian yang dilakukan selama kurang lebih dua tahun yang dimulai bulan November 2014 menuju Gunung Kerinci, kemudian dilanjutkan pada bulan Desember 2014 untuk Gunung Semeru. Pada Januari 2015 untuk Gunung Rinjani, Februari 2015 untuk Gunung Bukit Raya, Mei 2015 untuk Gunung Rantemario, November 2015 untuk Gunung Binaiya. Ditutup dengan pendakian ke Gunung Cartenz, Papua, yang termasuk dalam seven summit dunia pada April 2016.

Lewat film ini para penonton diperlihatkan bagaimana sulitnya mendaki gunung, apa saja tantangannya (bukan hanya dari alam, melainkan dari partner mendaki, bahkan dari diri pendakinya sendiri). Negeri Dongeng juga menggambarkan secara apa adanya konflik-konflik yang terjadi oleh para tim Aksa 7, yang terkadang menimbulkan sisi ego dari masing-masing tim. Menurut saya yang paling menyentuh adalah ketika ada salah satu orang yang ikut mendaki, namun sudah tidak bisa atau tidak sanggup mendaki karena sakit bahkan harus dirawat di rumah sakit, namun saat sebelum dibawa ke rumah sakit, semua kru ikut turut membantu agar perempuan tersebut bisa mendapat pengobatan dan meneruskan pendakian, namun apa daya, perempuan tersebut harus menyerah lebih dulu dan dirawat di rumah sakit.

Dari situ saya belajar akan arti dari gotong royong, saling membantu, susah senang ditanggung bersama, meskipun tidak bisa dipungkiri jika terkadang ego diri sendiri pun masih muncul sesekali.  Selain itu, terlihat pula kehidupan masyarakat pegunungan serta proses interaksi personal antar tim ekspedisi demi mencapai ke-7 puncak gunung yang didaki. Dan tak ketinggalan gambaran kekayaan Indonesia baik tumbuhan maupun satwa yang begitu banyak, namun sayangnya tidak bisa dinikmati seluruhnya oleh masyarakat Indonesia sendiri.

Contohnya, dalam film ini menceritakan fakta tentang produksi teh Indonesia, di mana pasar nasional hanya membeli kualitas kelas III, sementara untuk kelas I-II untuk diekspor. Dan digambarkan pula adanya kerusakan alam seperti penebangan pohon.

Film Negeri Dongeng disutradarai oleh Anggi Frisca. Dalam film juga ditampilkan perjalanan komunitas Aksa 7 bersama dengan personel lainnya, ada Chandra Sembiring sebagai produser, Teguh Rahmadi, Jogie KM Nadeak, Rivan Hanggarai, Wihana Erlangga, Yohanes Patiassina.  Ada pula Nadine Chandrawinata, Medina Kamil, dan Darius Sinatria.

Yang saya lihat dari film ini, seakan ingin menyampaikan nilai pesan jika masyarakat Indonesia diharapkan bisa bergotong royong untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik, dengan salah satunya adalah tidak merusak alam.  Dan ingin pula mengedepankan sisi empati antar sesama manusia.

Film yang berdurasi 1 jam 44 menit ini juga memiliki beberapa kutipan yang menurut saya jleb banget. Dua diantaranya kalau saya tidak salah ingat yakni  “Semakin tinggi kita naik gunung, kita semakin bisa mengenal diri kita sendiri” dan  “Setiap hidup kita adalah film kita. Kita adalah sutradara dalam hidup kita”.
Dalam tulisan ini saya mau sedikit curhat, soal apa yang saya rasakan belakangan ini. Bisa dibilang, tahun 2016 ini adalah tahun yang menyenangkan sekaligus challenging buat saya.  Berkat baca bukunya Raditya Dika tentang “Menulis Kreatif”  saya jadi terinspirasi buat nulis kegalauan saya hehehe. Enakan sih saya bahas yang dari menyenangkannya dulu kali ya.


Bagian menyenangkan:

Saya punya teman baru jumlahnya 24 orang! Banyak? Apa biasa aja? Ya terserah sih mau nilainya gimana hahaha. Sekitar bulan April tahun ini, saya ikut pendidikan informal, atau lebih tepatnya kursus di bidang komunikasi atau penyiaran, namanya Kelas Penyiar Indonesia (KPI). Saya mengikuti program Broadcasting Advance Class (BAC) Batch 4. Sesuai namanya Kursus ini mempelajari dunia komunikasi seperti public speaking sampai ke penyiaran baik radio maupun televisi. Saya ikut program exclusive BAC yang hanya diperuntukkan bagi 25 orang. Macam-macam latar belakang teman-teman baru yang saya jumpai, mulai dari freelancer videographer, model, MC, pegawai kantoran dan ada juga yang masih kuliah. Ya pokoknya yang ikut program KPI, orang-orang yang minat di bidang komunikasi dan penyiaran. Kami ber-25 punya group di WA, yang saat ini masih sangat aktif buat saling ngasih kabar dan tentunya lowongan kerjaan hehehe.

Dapat pengalaman baru menjadi  seorang freelancer. Setelah memutuskan untuk resign dari tempat kerja yang lama, karena alasan tertentu, saya sempat ngerasain yang namanya jadi pengangguran (jobless). Tapi Alhamdulillah, saya ditawari menjadi freelancer di tempat kerja teman saya sebagai freelancer content writer. Jadi tugas saya adalah membuat artikel SEO (Search Engine Optimazation) untuk klien yang menjadi mitra di kantor teman saya. Saya sangat berterima kasih pada teman saya yang namanya Ricka, karena berkat dia saya jadi ada kegiatan yang lebih ‘menghasilkan’ hehe. Walaupun masih sekadar freelancer, saya jadi banyak tahu tentang dunia fashion, bisnis waralaba dan lainnya  serta penulisan soal artikel SEO.

Merasakan Jadi Pengangguran. Jadi pengangguran tidak melulu’ enggak enak. Memang menjadi pengangguran kita enggak memiliki banyak kegiatan dan tidak mendapatkan uang, tapi setidaknya dengan menjadi pengangguran sejenak, saya bisa lebih memikirkan tentang diri saya sendiri, saya jadi lebih banyak punya waktu ‘me time’. Saya juga bisa lebih introspeksi diri terhadap apa saja yang sudah saya pelajari selama ini, kelebihan dan kekurangan saya. Saya juga pastinya tidak mau menjadi jobless terus menerus, karena lama kelamaan pasti enggak enak (dan memang banyak enggak enaknya!.)  Tapi saya mencoba menjadi pengangguran produktif, dengan lebih banyak membaca buku, belajar otodidak photoshop, mulai nge-blog lagi dan belajar TOEFL Bahasa Inggris. Jadi walaupun saya jobless saya berusaha menyibukkan diri dengan kegiatan produktif yang akan berguna dikemudian hari saat saya bekerja kembali di kantor atau di manapun.
Bagian Challenging :

Tahun ini lebih challenging dan menguras perasaan saya. Hahahaah. Kenapa? Karena seperti yang sudah sempat saya singgung di atas, saya memutuskan untuk resign dari kerjaan saya. Banyak orang yang menyayangkan keputusan saya untuk keluar dari kerjaan yang lama. Karena faktor mencari pekerjaan yang sekarang susaaaahnya minta ampun. Mulai dari orang tua hingga beberapa teman yang memberikan masukkan positif maupun negatif terkait putusan saya untuk resign. Orang tua saya, awalnya menentang keputusan tersebut, ya karena faktor nyari kerja susah dan kebutuhan hidup juga makin bertambah. Tapi setelah saya kasih pengertian, Alhamdulillah mereka mengerti dan mengizinkan saya keluar juga. Kalau teman-teman saya, yang saya mintai pendapat ada yang setuju, dan memberikan support pada saya bahwa akan ada rejeki lain dikemudian hari. Tapi ada juga yang berpendapat sama dengan orang tua saya, bahwa saya jangan terlalu mengambil risiko, karena sekarang nyari uang itu susah.

Secara pribadi saya menghargai pendapat orangtua maupun teman-teman saya yang telah memberikan saran dan masukkan soal ‘dilemma’  yang saya alami. Sebelum akhirnya saya bulat memutuskan untuk resign saya juga memikirkan baik-buruknya untuk kehidupan saya. Saya juga berkali-kali berdoa kepada Tuhan, untuk diberikan yang terbaik. Sampai akhirnya saya membulatkan tekad untuk resign dan menghadapi tantangan serta berani mengambil risiko (mungkin buat sebagian orang keputusan saya ini bodoh) menjadi pengangguran yang ternyata benar-benar menguras emosi, perasaan dan tenaga.

Tapi saya selalu berusaha semaksimal mungkin untuk terus berpikir positif dan berusaha mengingatkan lagi bahwa segala yang telah terjadi saat ini pada saya, adalah risiko yang harus saya jalani. Yang selalu saya tanamkan dalam diri saya, saat menjalani hari-hari menjadi  jobless maupun freelancer adalah bahwa mungkin jika saya tidak merasakan jadi pengangguran, saya tidak akan mendapatkan pengalaman menjadi freelancer di tempat teman saya, yang otomatis menambah skill baru saya terkait penulisan artikel SEO dan saya juga yakin akan ada rejeki lain buat saya, selama saya tidak berhenti belajar, bersyukur dan berusaha memperbaiki diri kedepannya.

Itu dia sebagian curhatan saya, yang saya rasakan belakangan ini. Yang jelas menyambut datangnya tahun baru 2017, saya berharap bisa lebih baik kedepannya. Baik dari sisi pekerjaan, karir, cita-cita dan juga cinta 🙂

Semester 2 ini gue mendapatkan mata kuliah yang mengharuskan gue melek sama yang namanya media (internet). Mata Kuliah apa itu? Dia adalah Komunikasi Multimedia. Dari namanya aja udah keren yang berasala dari suku kata multi berarti banyak. seperti judul gue di atas, tugas gue di semester ini adalah membuat video yang temanya kita disuruh milih antara stand up comedy, musik, tips-tips / cara membuat sesuatu. akhir nya kelompok gue memilih untuk membuat video mengenai tips-tips. Kenapa tips-tips? karena gue dan temen-temen gue ngga bisa ngelawak plus ngga bisa nyanyi (nyari aman). gue ngga mau nanti malah banyakan cacian dan dislike di video gue yang mengakibatkan nilai gue jadi ngga bagus. Cara penilaiannya adalah dilihat dari banyaknya yang melihat (viewer), meninggalkan bekas jempolnya alias nge-like video gue dan yang ngomen video gue. Oh iya gue lupa bilang kalo di video ini gue ngga sendirian, yupzz, gue buat video ini berkelompok (seperti yang sudah gue jelaskan di atas). Terdiri dari empat cewek yang kece dan mukanya ngga ada satu pun yang saling mirip  (hahaha ya iya lah udah jelas beda mak ama babe) nama nya terdiri dari gue sendiri Eka yang memakai baju merah bergambar Che Guevara.  Tiara yang memakai baju Hijau, Tami satu-satunya cewek yang pakai jilbab (ngga perlu gue kasih tahu dia pake baju warna apa karena udah jelas penjelasan gue. tenang-tenang sabar ya buuu) dan Netya yang rambutnya paling panjang (jangan di sangka kaya kunti ya hahaha peace Net yang pake baju biru). Syutingnya berlokasi di rumah gue di jalan Swadaya II No. 61 (stop ngga ada guna juga gue masukin alamat rumah gue, hahaha). Pertanyaan nya video apakah yang gue buat itu? apakah ada unsur pornografi, unsur SARA, ataukah ada unsur negatif lainnya. Tenang, itu semua ngga ada, jadi layak untuk di tonton untuk SEMUA UMUR (SU). Video yang udah gue buat bersama teman-teman gue adalah Tips-tips Liburan Murah Meriah di Rumah. Apa aja sih isi tips-tips nya? nah dari pada penasaran dan bertanya-tanya dalam hati nih gue kasih lihat video gue beserta temen-temen gue. CHECK IT OUT GUYS :D





Hari ini gue buka situs salah satu statiun tv tempat dimana gue mau kerja nanti, di websitenya tertulis persyaratan jika ingin jadi Jurnalis harus memiliki kriteria yaitu : Camera Face, interested in Journalistic and toefl score min 500. its very hard. Ngelihat persyaratannya gue merinding banget. Gue aja belum tahu sampai sejauh mana kemampuan toefl gue. Diluaran sana pasti banyak orang yang mau jadi Jurnalis juga.Dan banyak orang yang lebih dari gue.

Gue mulai tergerak buat menulis itu kira-kira sejak gue SMA. Alasan gue untuk memulai menulis karena gue mau jadi seorang Jurnalis. Seorang Jurnalis dituntut harus bisa menulis baik berita hardnews atau softnews.
Gue tahu banyak juga orang yang punya cita-cita sama seperti gue. Jujur terkadang gue agak malas kalo buat mengutarakan apa yang gue pikirkan lewat tulisan tangan. Capek,nggak tahu harus nulis apa, tulisan gue jelek dan banyak pemikiran-pemikiran lain yang membuat gue akhirnya tidak menuliskan apapun dibuku diary gue.
Tapi lama-lama gue berpikir untuk segera menyingkirkan pikiran negatif itu. kalo gue ngga mulai dari sekarang kapan lagi.
Liburan saat mau masuk Universitas gue gunakan untuk menulis. gue mulai menulis puisi,resensi buku, cerpen (walaupun gue rasa itu bukan cerpen karena lebih dari 10 halaman dan juga bukan novel karena kurang dari 50 halaman).
Gue juga mulai nulis diary yang isinya kalo diurut itu tidak bisa menjadi sebuah rangkaian cerita berlanjut. Tapi walaupun demikian gue nggak akan berhenti nulis, karena gue baru sadar tulisan itu lebih tajam dari sebuah ucapan belaka.
Tulisan gue belum pernah dimuat satupun dimedia apapun kecuali di notes Facebook gue.

Gua udah lama ngga buka dan posting blog gue.
Gue sekarang mesti rajin buka blog gue dan mesti belajar bagamana memodifikasi blog tua gua ini.
Mulai sekarang gua ngga usah capek-capek buat nulis kegiatan sehari-hari gue dibuku diary yang kalo gue baca setiap hari cuma bikin sakit mata gara-gara tulisan gue yang ngga bagus.
Selamat aktif kembali blog ku sayang ....
gua harap dengan adanya blog ini bisa membantu gue buat berkarya sesuatu. ngga cuma asal nuangin pikiran doang.


Salam BLOG !!!