Belajar Food Storytelling Bersama Ade Putri di Tempo Media Week 2019

Di tengah-tengah mengerjakan deadline tulisan dari kantor, Selasa (3/12/2019) siang saya tiba-tiba dapat chat dari teman kantor saya, Ardan. "Untuk pencinta kuliner" katanya. Jadi, dia ngasih tahu saya soal acara Tempo Media Week 2019 di Perpustakaan Nasional Jakarta, salah satunya adalah Master Class Food Storytelling bersama Ade Putri.

Saya yang melihat narasumber-nya, tanpa pikir panjang langsung daftar di website di Kelas Tempo Institute dan membayar HTM sebesar Rp150.000.  Dalam hati saya, sudah tidak sabar ingin cepat-cepat hari Sabtu, soalnya udah ngebet banget mau tahu rahasianya Mba Ade bikin konten story telling makanan.

Duh, kalau kamu lihat Instagramnya di @misshotrodqueen bukan cuma bikin ngiler sama mayoritas postingan makanannya, tapi bakal terhanyut deh baca caption-nya, meskipun agak panjang tapi benar-benar selalu saya baca sampai tuntas (biasanya kalo baca caption Instagram yang panjang, suka skip wkwkwkw). Apalagi sekarang Mba Ade juga jadi host untuk program Cerita Sebuah Rasa di Youtube Channel Grab Indonesia.

Nah, saya enggak mau ilmu yang didapat dari acara kemarin hilang begitu saja atau hanya ter-onggok di notes saya doang yang bisa saja hilang atau robek. Mending saya rangkum saja ya ilmu yang sudah saya 'curi' dari Mba nyentrik berambut pendek ini.

Master Class: Food Storytelling Bersama Ade Putri 

Mba Ade membuka kelas ini dengan menyampaikan kebiasaan orang-orang termasuk saya saat ingin membuat konten makanan. Mayoritas yang dilakukan adalah hanya mengambil foto makanannya  dan saat menuliskannya hanya fokus pada rasa dan tekstur seperti nasinya pulen, kuahnya gurih, dan lain sebagainya. Sebenarnya itu saja boleh, sah-sah saja, namun jadinya cerita soal makanan tidak terlalu dalam dan hanya penggambaran umum saja.

Hal-hal yang Biasa Ditulis pada Konten Makanan 

Kalau nulis makanan  hal apa saja sih yang bisa dituliskan? Beberapa komponennya, yakni rasa, bahan, aroma, tekstur, tampilan, porsi, lokasi, dan harga. Tapi kita juga bisa melengkapinya dengan  budaya, sejarah, minat, atau anggapan orang. Jika kita membahas soal budaya sebuah makanan tidak melulu makanan tradisional, tapi bisa juga makanan yang sedang tren. Mba Ade memberikan contoh, misalnya adalah boba. Kita bisa kasih tahu minat masyarakat tentang boba. 

Salah satu hal yang paling challenging ketika menyampaikan soal rasa makanan adalah mendeskripsikan rasa yang memiliki makna hampir mirip. Mba Ade mencontohkan tekstur makanan lunak, empuk, dan lembek. Ketiganya sering dianggap sama padahal berbeda persepsi. Kalau lunak dan empuk itu adalah tekstur yang mudah dikunyah dan dicerna, jadi maknanya hampir sama. Sementara lembek itu merupakan persepsi sebuah tekstur yang kelewatan atau sesuatu yang tidak nikmat. Namun kalau berbicara soal bubur, yang dikatakan nikmat yang memiliki tekstur lembek.

Perlu juga menceritakan soal rasa yang tidak umum agar orang lain bisa paham. Misalnya, masir. Masir sendiri adalah adanya tekstur pasir di lidah yang bisa kita rasakan kalau mengonsumsi telur asin. 

Mba Ade menyarankan saat ingin menceritakan makanan baiknya gunakan kalimat yang mengundang agar seseorang bisa membayangkan makanan apa yang kita sedang ceritakan. Perlu juga membandingkan antara makanan yang satu dengan makanan yang lain yang hampir mirip. Misalnya, aroma sop buntut dan sop iga biasa.

Saat mencontohkan perbandingan makanan ini, Mba Ade meminta kami para peserta untuk mencicipi rasa dan aroma dari lemon cui dan jeruk nipis. Kalau rasa dari lemon cui sangat asam tapi aromanya tidak terlalu mencolok. Sementara jeruk nipis tidak terlalu asam tapi wanginya cukup kuat. Begitu juga dengan rasa, aroma dan penggunaan dari cabe merah besar, cabe merah keriting, dan cabe rawit merah masing-masing memiliki perbedaan.
Mba Ade sedang memotong jeruk lemon cui dan jeruk nipis agar bisa dicoba oleh peserta

Ajak Teman saat Makan Agar Kita Bisa Diingatkan dan Menambah Isi untuk Konten yang Kita Buat

Saat kita sedang makan sesuatu khususnya makanan atau minuman yang baru saja kita cicipi sebaiknya ajak teman untuk mencobanya agar kita juga bisa tahu pendapat teman kita terhadap sajian tersebut. Memang kita bisa mencari tahu aspek - aspek soal makanan yang kita ingin bahas di Google. Tapi di Google kita tidak bisa mendapatkan informasi yang konkret terkait aroma dan rasa.

Tips Tambahan

Menurut saya bagian di bawah ini menjadi tips tambahan yang sebaiknya dilakukan jika ingin mendalami makanan sebagai konten.
  1. Mba Ade bercerita jika dia sedang pergi ke luar kota yang selalu ia cari dan kunjungi adalah pasar tradisional-nya untuk mengetahui bahan-bahan yang dipakai di lingkungan sekitar. Kalau misalnya kita tidak berbelanja di pasar tradisional, kita bisa hanya sekadar bertanya pada penjual pasar. Misalnya saat Mba Ade ke Makassar, ia pergi ke pasar tradisionalnya dan ternyata di sana ada jagung putih. Selain itu, di Papua juga ada jagung yang memiliki beberapa warna dalam satu batang yang bersamaan. Namun sayangnya jagungnya tidak manis, makanya kurang laku. Di daerah Jawa Barat ada juga namanya cabe gendot. Bentukya kecil seperti cabe rawit tapi bentuk cabai ini mengembung, sekilas mirip paprika. Ada sebagian orang yang mengolah cabe gendot dengan menumisnya karena ada rasa pahit, gurih, dan manis. 
Jagung Putih di Makassar. Sumber: https://fanirestudiani.files.wordpress.com/
Cabe gendot. Sumber gambar: Shoppe.co.id
2. Jika ingin menyebutkan harga itu tidak masalah dan jangan dibilang suatu makanan atau minuman itu mahal atau murah karena tolak ukur setiap orang berbeda
3. Untuk aroma sendiri bukan hanya menceritakan soal aroma makanan dan minuman saja tapi bisa juga dari pertama kali kita masuk tempat makan tersebut ternyata sudah bisa menimbulkan aroma tersendiri. Misalnya baru datang ke sebuah tempat makan, tapi kita sudah bisa mencium aroma terasi. Mungkin untuk sebagian orang, aroma terasi itu mengganggu, tapi buat sebagian orang lagi itu bisa menggugah selera makannya. 
4. Porsi juga penting untuk diceritakan. Kalau harga makanan dengan harga Rp.30.000 itu sudah dapat apa saja, contohnya sudah dapat nasi, sate, sop, kerupuk, sambal, atau jika ada tambahan lain juga harus disampaikan.
5. Presentasi (Tampilan) lebih menjelaskan apa yang kita tampilkan di foto. Apakah tampilannya cantik atau tidak
6. Jika berbicara tekstur iga sapi misalnya, tidak hanya dagingnya tapi juga kuah. Kuah tidak hanya encer, tapi bisa juga pekat, kental, dan warnanya seperti apa. Kalau membicarakan tektur dan warna kuah pembaca akan membayangkan terbuat dari apa. 
7. Satu lagi,  jangan pernah menaruh tambahan apapun sebelum kita makan makanan tersebut. Contoh nih, kalau kita makan soto, jangan pernah tambahin apa-apa dulu kayak jeruk limau, sambal, atau kecap sebelum kita icip soto aslinya. 
8. Mba Ade juga memberikan tips, agar kita juga banyak pengetahuan soal rasa dan makanan dengan banyak membaca hal-hal yang berkaitan dengan kuliner serta sering mencoba makanan. Dengan banyak membaca dan mencicipi makanan, kita akan banyak mendapatkan kosa kata baru dan mengasah kepekaan lidah sehingga berguna untuk memperkaya tulisan kita.
9. Jangan sampai lupa juga untuk selalu mencatat hal-hal yang kita rasakan, lihat, dan lainnya (gunakan 5 indera tubuh) saat berkunjung ke tempat makan dan makan makanannya. Bisa juga kita menceritakan hal-hal apa yang tersedia di meja, apakah sudah ada sambalnya yang bisa kita ambil sendiri sesuai selera, ada acarnya, dan lain-lain.  

Mba Ade memberikan contoh soto betawi dan sop kaki. Apakah dua-duanya rasa dan teksturnya sama karena warnanya sama-sama putih, pekat, dan gurih? Apakah keduanya terbuat dari susu atau santan? Aslinya kuah soto betawi terbuat dari santan. Hal seperti ini haruslah ditanya sama yang buat, karena biasanya mereka punya racikan bumbu sendiri agar tidak ditiru orang lain. 




Mba Ade juga membagi cerita soal sate kere yang menjadi ciri khas kota Solo. Dibuat sate kere karena pada saat itu orang-orangnya tidak sanggup membeli daging, sehingga dibuatlah sate yang terbuat dari tempe dan tahu tapi ini sate kere versi modern. Dulunya sate kere terbuat dari tempe gembus yang dibacem. Tempe gembus sendiri terbuat dari ampas kedelai.  

Proses Kreatif Teknik Penulisan 

Nah ini bagian yang tidak kalah penting. Gimana sih caranya proses menulis food storytelling?

1. Menentukan Topik dan Angle-nya 

Topik adalah tema besar terkait tulisan yang ingin kita tulis. Cara menentukan angle adalah dengan membuat pertanyaan. Dengan membuat pertanyaan bisa menjadi panduan kita saat menulis. Setelah membuat pertanyaan kita bisa menentukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita harus bertanya pada siapa dan kemana. 

Lalu saat ingin bertanya pada orang yang punya tempat makan atau restoran untuk menggali informasi lebih jauh, kita perlu pendekatan personal. Misalnya kita bisa memuji masakannya, dan ucapkan terima kasih dari situ kita bisa gali informasi lebih dalam lagi soal makanan tersebut. 

Dikasih contoh, topiknya adalah ayam goreng. Gimana caranya kalau kita mau bahas ayam goreng di mana semua orang sudah pasti tahu dan pernah makan, tapi bisa dibuat jadi lebih menarik. Nah, menurut Mba Ade kita bisa bahas dari sejarah munculnya ayam goreng, perkembangan olahan ayam goreng sendiri di mana sekarang sudah banyak varian ayam goreng mulai dari ayam goreng biasa, atau ayam goreng tepung seperti yang ada di restoran cepat saja, atau ayam goreng kremes, dan lain-lain.  

2. Penulisan Konten di Instagram

Menurut Mba Ade ada beberapa trik yang bisa dilakukan saat ingin menarik perhatian orang untuk melihat konten makanan di Instagram kita. 

  1. Kalimat pertama pada sebuah caption adalah kunci. Biasakan untuk membuat judul dengan jelas dan menggunakan huruf kapital semua agar mencuri perhatian pembaca. 
  2. Jika makanan yang dibahas tidak terlalu dikenal atau tidak semua orang tahu, kita bisa  memulai dengan menuliskan kalimat pembuka, dengan menggunakan pertanyaan atau menyebutkan nama makanannya. Contoh yang diberikan Mba Ade, "ada yang sudah pernah makan ulat sagu gak?" Tapi yang perlu diingat, dalam membuat konten di Instagram, kita juga harus membuat foto yang baik dan menarik. Misalnya soal ulat sagu, tadi, cobalah tampilkan foto ulat yang sudah ditusuk sate.

Pertanyaan dari Peserta Lain

Di acara ini ada sesi tanya jawab. Tentu pertanyaan yang diajukan tidak akan saya lewatkan untuk disampaikan pada tulisan ini.

Bagaimana caranya kita mendeskripsikan kata-kata yang sudah umum seperti pedas, gurih, dan lain-lain agar memiliki makna yang tidak biasa dan orang lain juga paham dengan rasa yang kita maksud?

Mba Ade bilang, jika kita ingin menceritakan rasa pedas, kita harus jelaskan pedasnya seperti apa dan asalnya dari bahan apa. Pedasnya cabe rawit dan pedasnya lada itu memiliki rasa yang berbeda. 
Kita juga bisa menjelaskan rasa dengan membandingkan. Misanya rasanya itu sepedas kayak kita makan makanan tertentu, misalnya mie samyang. 

Jujur saja, saya banyak sekali mendapatkan ilmu baru soal food storytelling. Sungguh weekend saya sabtu kemarin sangat berfaedah wwkwkkwkw.


Terakhir, sebagai penutup dari tulisan sharing saya kali ini satu pesan dari Mba Ade yang saya ingat dari kelas kemarin

Kita yang merupakan orang Indonesia harusnya yang menyampaikan kepada masyarakat luar soal kuliner Indonesia, karena kita yang punya akses cukup mudah untuk mencicipi makanan Indonesia, kita yang tahu kenapa makanannya seperti itu. 


You Might Also Like

1 comments

  1. Bagus cara berceritanya, kak. Bisa jadi panduan buat aku nulis tentang makanan trus komprehensif gitu.

    BalasHapus