Di antara kalian pasti ada yang melakukan mudik saat lebaran tahun ini, bukan? Saya pun juga demikian. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya mudik ke kota asal ibu saya, yakni Pacitan, Jawa Timur, tepatnya 13 Juni 2018 lalu. Pasti kalau kamu mendengar kata Pacitan, yang ada dibenak kamu adalah “itu kampungnya Pak SBY”. Ya, Pak SBY memang lahir di kota yang dijuluki sebagai kota 1001 Gua tersebut.
Sebelum saya menuju Pacitan, saya sudah merencanakan selama di kampung ingin mencicipi berbagai hidangan khas Pacitan. Saya sempat searching di internet, apa saja sih makanan khas Pacitan? Mr. Google bilang ada sekitar 16 makanan, yakni Bakso Ikan Tuna, Cenil, Ikan Marlin, Jadah Bakar, Jenang Dodol Pacitan, Kolong Kithik, Kupat Tahu, Punten, Rengginang Manis,  Sale Anggur, Sego Gobyos, Sego Godhong Jati, Singkong Keju, Soto Pacitan, Tahu Tuna, dan Thiwul. Memang, tidak semua makanan khas Pacitan saya cicipi. Tapi dari sekian banyak yang ada, setidaknya saya mencoba beberapa di antaranya:

Kupat Tahu
Kalau makanan khas Pacitan yang satu ini saya suka banget! Enak sekali rasanya. Ternyata kupat tahu juga menjadi makanan favorit di kota Solo dan Magelang. Kupat tahu sendiri berisi potongan-potongan kupat (lontong) dan juga tahu. Dalam penyajiannya ditambahkan taburan kacang goreng, seledri dan toge serta disiram dengan kuah bumbu yang rasanya gurih tapi juga manis. Umumnya kupat tahu di Pacitan dimakan dengan kerupuk udang. Kebetulan saat saya ke rumah saudara saya, dia lagi masak ini. Jadi, kebetulan banget hehehhe. Isinya memang enggak sama persis dengan artikel yang saya lihat di internet, tapi kurang lebih sama sih.  

Kupat Tahu, Pacitan, Jawa Timur, Tahu, Lontong, Bawang Goreng, Seledri
Isi kupat tahu yang saya makan saat itu ada lontong, kacang tanah, tahu, seledri, dan bawang goreng 

Punten
Jujur, pas tahu nama makanan ini kok agak aneh ya? Hahaha. Soalnya, saya tahunya “punten” itu bahasa daerah dari kata ‘maaf’, 'numpang lewat' atau 'permisi', dalam bahasa sunda kata ini juga bisa digunakan untuk meminta tolong.
Tapi di Pacitan beda. Punten menjadi salah satu makanan khas Pacitan yang dikatakan sebagai makanan ringan. Tapi kalau dilihat-lihat, sebenarnya punten Pacitan bisa juga dijadikan sebagai makanan berat karena bahan dasarnya terbuat dari beras. Cara ngebuatnya, dimasak pakai santan lalu ditumbuk sampai halus. Kemudian, kalau udah jadi, dipotong kotak-kotak. Ketika saya cobain rasanya, emang enak dan mirip kayak ketan. Pokoknya, rasanya gurih – sedikit asin gitu deh. Saya makan dua potong punten aja udah kenyang. Punten sangat cocok bila dijadikan sebagai makanan pengganjal perut yang sedang lapar.

Punten paling sedap jika dilengkapi sama  sambal terasi. Tapi kalau saya lihat dari internet, punten disajikan dengan pecel sayur(toge, kacang panjang, dan bumbu kacang). Nah, makanan yang disajikan oleh bude saya punten dilengkapi dengan oseng mie, tahu, dan sambal terasi. Hahahaha, beda memang, tapi yaudah lah ya, bersyukur udah dibikinin. Hehehehe.




Sale Anggur
Pernah dengar sale anggur? Apa yang pertama kali ada dibenak kalian mendengar dua kata ini? Ya, sale yang biasanya kita tahu berbentuk helaian atau keripik, kalau sale anggur sale basah yang dibuat bulat-bulat lalu dibungkus oleh kertas krep warna-warni dan disusun layaknya untaian buah anggur. Bahan dasar sale anggur adalah pisang awak yang di potong tipis-tipis kemudian dijemur di bawah terik sinar matahari. Kalau udah kering baru deh dibungkus dengan cara dipadatkan hingga berbentuk bulatan.

Sale ini dibuat sama dengan pembuatan sale-sale pada umumnya hanya yang membedakan adalah proses pengemasan. Disebut dengan sale anggur lantaran sale ini di kemas bulat-bulat dan dirangkai menyerupai buah anggur.

Sale anggur ini bisa kamu jadikan oleh oleh khas Pacitan juga. Sebenarnya, saya tahu makanan ini dari teman kantor saya namanya Agung, yang bilang kalau makanan yang satu ini enak dan cukup unik. Terus dia nitip ke saya, katanya kalau saya udah balik dari kampung, dia minta oleh-oleh ini.

Pas saya lagi jalan-jalan ke pantai Klayar, ternyata ada yang jual sale ini. Langsung deh, tanpa pikir panjang saya beli. Kata Mba-mba yang jual, 10 ribu dapat 3 ikat sale anggur. Saya beli Rp50 ribu dapat 15 ikat sale Anggur. Pas sampai rumah Mbah, saya langsung cobain. Menurut saya rasanya biasa aja, agak asem malah. Jadi manis asem gitu. Teksturnya kenyal. 

Ketika saya bawa ke kantor dan temen-temen kantor saya yang lain ikut nyobain,  mereka ada yang bilang enak, ada yang ngerasa kayak apa yang saya rasain (kurang enak), nah kalau Agung, orang yang minta oleh-oleh ini bilang sale ini enak banget dan dia doyan. Ya, balik lagi sih ke selera orang heheheh.

Sale Anggur, Makanan Khas Pacitan, Oleh-oleh Khas Pacitan

Sego Godhong Jati
Saya juga sempat nyobain makan sego godhong jati. Maksudnya, makanan berupa nasi yang dibungkus menggunakan daun jati. Kalau yang saya cari di internet,  isi dari sego godhong jati, yakni nasi dengan urap, tumis tempe (kering tempe), serundeng serta lauk ikan asin atau peyek. Memang sih, isi dari sego godhong jati itu biasa banget, kayak makanan yang kita jumpain di warteg atau rumahan. Tapi yang membedakan, aroma daun jati yang sangat khas makin menambah nikmat makanan yang ada di atas daun jati tersebut. Pas pulang kampung makan ini, isi lauknya enggak sama kayak yang saya lihat di internet hahaha. Karena emang ibu saya kreasi sendiri. Kata ibu saya "Yang penting makannya di atas daun jati. Jadi deh sego godhong jati" hahahaha. Saya sih iya-iya aja deh, toh dimasakin dan saya tinggal makan aja. heheehhe.

Cuma kata Mbah saya, kalau mau makan sego godhong jati beneran yang kayak saya lihat di internet, bisa dibeli di pasar tradisional, kayak pasar legi atau pasar-pasar tradisional lainnya. Berhubung rumah Mbah saya itu jauhhhhhhhh dari pasar dan agak effort banget buat ke sana kalau jalan kaki, jadi yaudah bikin seadanya aja. kebetulan banget di depan rumah si Mbah, ada pohon jati, jadi tinggal metik deh daunnya. 

Nasi sego godhong jati, makanan khas Pacitan, Jawa Timur
Sego Godong Jati ala Ibu saya, isinya selain nasi ada daging rendang, tahu, sama ikan goreng kecil-kecil hahaha


Nah, itu dia makanan khas pacitan yang saya sempat cicipi. Semoga tahun depan kalau pulang kampung lagi, saya bisa nyobain khas Pacitan lainnya ya J Oh iya, kalau di kampung ibu saya, ketika lebaran, masyarakatnya enggak biasa menyajikan ketupat, opor ayam, sayur pepaya, ya pokoknya makanan khas lebaran itu lah. Karena emang bukan tradisi mereka. Jadi, pas lebaran makanan khasnya apa dong? Sepenglihatan saya, tiap rumah pasti memiliki hidangan masing-masing. Tapi, yang paling sering disajikan adalah bakso sama soto ayam. Hahahah, lucu ya!. Kalau di Jakarta sih dua makanan itu enggak usah nunggu lebaran, tiap hari juga ada. Hahaha. Ya, yang paling penting apapun makanannnya, tetap bisa kumpul sama keluarga besar di hari raya pasti harus disyukuri. Ya, enggak? :)



Popbela

Media digital saat ini sangat berkembang pesat yang ditandai dengan banyak bermunculan situs-situs yang memiliki segmentasi sendiri, baik untuk anak-anak, laki-laki, maupun perempuan. Khusus untuk situs perempuan ada banyak yang bisa kamu pilih sesuai dengan kebutuhan dan umur kamu.
Menarik jika dilihat begitu banyak situs-situs perempuan yang sejenis yang memiliki keunggulan masing-masing. Hal ini tentu memudahkan kaum hawa menentukan sendiri media mana yang cocok untuk ‘dikonsumsi’, bahkan bisa menjadi panduannya dalam menjalankan aktivitas.

Salah satu media khusus perempuan adalah Popbela.com. Anak perusahaan dari IDN Times Indonesia ini merupakan media digital yang khusus menyediakan informasi tentang fashion trend masa kini, kecantikan, gaya hidup, karier, dan budaya pop untuk perempuan usia 20-30 tahun. Popbela sendiri dalam situsnya berusaha untuk memberikan konten yang berkualitas dengan berpedoman pada 7 pilar, yakni kesetaraan gender, pelecehan seksual, anti intimidasi, anti stereotipe, persatuan dalam ras dan etnis yang berbeda, kesatuan dalam agama yang berbeda, dan mendefinisikan kembali kecantikan.

Awal mula tahu soal situs Popbela.com, ketika saya menjadi seorang freelancer content writer untuk sebuah brand e-commerce khusus fashion di akhir tahun 2016. Ketika itu saya diharuskan membuat artikel yang berkaitan dengan busana perempuan, nah salah satu referensi untuk saya membuat artikel berasal dari Popbela.com.

Ketika pertama kali saya melihat situs yang diluncurkan pada akhir Februari 2016 ini, benar-benar eyecatching dari sisi desainnya dan sangat feminim sekali yang bisa dilihat dari dominasi warna putih dan juga pink. Hingga saat ini (ketika saya sudah menjadi content writer tetap di salah satu digital agensi di Jakarta) saya masih menjadikan Popbela sebagai salah satu referensi untuk menulis terkait dunia perempuan.

Mungkin kamu mau tahu, kenapa sih saya sering membaca dan menjadikan Popbela sebagai salah satu referensi dan bacaan saya sehari-hari? Ini dia 6 alasannya.

Konten yang Menarik
Saya juga sering membuka situs Popbela.com diwaktu senggang, karena selain untuk menambah pengetahuan seputar dunia perempuan, saya juga menjadikan situs ini sebagai media ‘belajar’ bagaimana cara menulis topik yang menarik dari bahasa-bahasanya yang ringan, singkat, namun juga jelas.

Bahkan Popbela juga memiliki rubrik khusus, yakni seputar sex yang menurut saya enak dibaca tanpa terkesan menggurui. Bahasan soal sex diulas dalam sisi yang edukatif dan tentunya menarik untuk dibaca. Agar pembaca tidak bosan membaca tulisan di Popbela, disertakan juga gambar atau foto yang menarik dan sesuai dengan bahasan tulisan yang diangkat. Yang menarik dari situs Popbela, yakni sering sekali memuat gambar atau foto dari cuplikan-cuplikan film yang menurut saya selalu pas penempatannya. Namun, terkadang Popbela juga memuat foto yang berasal dari model luar maupun dalam negeri.

Dari segi judul, para writer dari Popbela juga sering membuat judul yang unik dan menarik, sehingga membuat banyak pembaca tertarik untuk meng-klik dan membaca artikelnya sampai habis.  Seringnya judul artikel yang dibuat seperti tips and trik identik dengan angka seperti 4 Trik Mudah Membuat Makeup Jadi Tahan Lama Seharian. Selain itu, penjelasannya pun juga dikemas dengan poin-poin yang sangat membantu pembaca supaya paham dengan topik yang disampaikan. Popbela.com juga menyediakan share button yang memungkinkan kamu untuk membagikan artikel yang dianggap menarik ke media sosial atau platform lainnya.

Kanal yang Beragam
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, situs yang memanggil para pembacanya dengan sebutan Bela ini memiliki banyak kanal yang terdiri dari beberapa tema utama yang berbeda baik seputar fashion, kecantikan, percintaan, karier, healthy, hiburan, budaya pop, dan lain-lain  yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Tapi bukan hanya sekadar informasi biasa, tak jarang Popbela juga memberikan  informasi terbaru dari produk makeup yang sedang trend digunakan oleh para artis, ataupun selebgram. Di mana informasi ini bisa menjadi referensi para pembacanya untuk mengetahui produk apa yang digunakan oleh public figure pujaannya.

Popbela juga menyediakan kanal yang menurut saya cukup spesial, yang diberi nama PopCreator, yang merupakan kanal berisi para creator (perempuan inspiratif  yang berprestasi di bidangnya) yang selalu berganti setiap bulannya. Di sini, Popbela.com akan mengupas tuntas creator tersebut terkait gaya berpakaian, hobi, inspirasi karyanya, dan lain sebagainya. Untuk PopCreator bulan Mei 2018 ini adalah Febby Rastanty. Sebelumnya ada juga Yura Yunita yang menjadi PopCreator pada bulan April lalu. Yang menjadi favorit saya, yakni Maudy Ayunda yang menjadi PopCreator di bulan Oktober 2017. Di sini dibahas tentang karier, pandangan Maudy soal perempuan dan lain-lain. Kalau boleh request, bulan-bulan selanjutnya tolong bahas Tasya Kamila, Tatjana Saphira, sama Gita Gutawa ya hehehe.

Popbela, Perempuan, Beauty, Fashion, Healthy, Hiburan, IDN Indonesia, Popbela Website, Situs Popbela


Ada pula kanal Quiz yang sangat menghibur dikala waktu senggangmu. Kamu bisa mengetahui soal kepribadianmu berdasarkan warna  favorit maupun lipstik sesuai kepribadian kamu. Sering banget  lihat hasilnya benar-benar sesuai dengan diri saya sendiri. Nih, contohnya saya coba ikuti Quiz yang membahas tentang karakter diri sendiri yang bisa dilihat dari warna favorit.

Quiz Popbela, Popbela, Perempuan, Beauty, Fashion, Healthy, Hiburan, IDN Indonesia, Popbela Website, Situs Popbela


Saya suka warna hijau, pas saya klik hasilnya muncul seperti di bawah ini. Hasilnya, saya dibilang mirip dengan Nikita Willy dan dituliskan karakter saya adalah sosok yang semangat mengejar karier dan ingin merasa aman dari segi keuangan serta hubungan. Maka dari itu, pencinta warna hijau memastikan semuanya sesuai dengan ekspektasi. Ini bener banget sih hehehe. Sesuai sama kepribadian saya. Kamu pun bisa membagikan hasil Quiz Popbela di Facebook maupun Twitter. Eheeem, siapa tahukan si dia lagi ngepoin FB atau Twitter kamu hehehe.



Adanya Nama Penulis dan Sumber Foto di Setiap Artikel
Siapa sih yang nggak senang bila namanya tercantum di sebuah website terkenal atas karya tulis yang yang dibuatnya? Nah, disetiap artikel yang dibuat oleh Popbela, tak pernah lupa untuk mencantumkan nama penulis dan juga sumber foto yang digunakan di dalam artikel.  Bahkan, nama yang tertera bukan inisial atau nama panggilan, melainkan nama lengkap! Dengan penyebutan nama itu, pastinya penulis merasa bangga dan sekaligus bertanggung jawab dengan tulisan yang telah dibuatnya.

Untuk sumber foto memang seharusnya dicantumkan sumbernya untuk mencegah terjadinya plagiarisme atau menjiplak karya orang lain. Bukan cuma itu, website ini karena dilengkapi dengan waktu publikasi dari tanggal, bulan, dan tahun seperti yang gambar di bawah ini. Menurut saya hal ini penting, supaya kamu bisa tahu apakah artikel yang di-publish merupakan artikel terbaru atau bukan.

Up to date, Popbela, Perempuan, Beauty, Fashion, Healthy, Hiburan, IDN Indonesia, Popbela Website, Situs Popbela

Up to date

Selalu ada saja konten baru setiap harinya di situs Popbela.com. Jadi, kamu tidak akan bosan dengan artikel-artikel yang itu-itu saja.  Artikel yang terus ditambah setiap hari tentu membuat kamu tidak akan merasa kehilangan informasi mengenai dunia perempuan.
Kanal yang paling sering saya baca, yakni bagian Single  di kanal Relationship karena berhubung saya masih sendiri alias jomblo hahaha. Jadinya sering baca bagian itu deh. Saya paling suka sama artikel yang membahas sudut pandang laki-laki terhadap perempuan. Seperti artikel Ternyata Pria Bisa Ilfeel Pada Wanita Karena 9 Hal Ini  dan Bagi Cowok, Ini 11 Tipe Cewek yang Berhasil Menarik Perhatiannya di mana kedua artikel tersebut membahas pandangan laki-laki terhadap perempuan. Jadi, saya bisa mengetahui apa saja sih hal-hal yang bisa membuat laki-laki itu ogah mendekati perempuan, dan lain sebagainya.

Situs yang User Friendly dan Responsive
Seperti yang saya jelaskan di atas juga, jika situs Popbela cukup kece dari sisi tampilan sehingga tidak akan membuat pembacanya bosan. Selain itu, tampilannya juga cukup user friendly dan simple, baik diakses melalui smartphone maupun PC. Ketika kamu baru membuka situs Popbela.com, kamu bisa langsung melihat artikel terbaru or fresh news yang baru saja naik. Dibuka melalui device apapun baik smartphone, tablet, laptop, atau komputer  pun tetap mudah digunakan dan teks juga mudah dibaca.

Sering Mengadakan Kompetisi Menulis dan Membuka Lowongan Kontributor
Nah, ini juga bagian yang saya suka dari Popbela. Sudah beberapa kali Popbela mengadakan kompetisi menulis bagi kamu yang ingin tulisannya mejeng di situs Popbela.com dan IDNtimes.com serta mendapatkan hadiah jutaan rupiah. Bukan hanya itu, situs kece ini juga mengundang kamu yang antusias dengan dunia perempuan bisa juga menjadi kontributor Popbela.com yang nantinya akan diseleksi dan diterbitkan di website Popbela.com untuk dinikmati oleh lebih dari 2 juta pembaca setiap bulannya dan juga akan dimunculkan di halaman Facebook Popbela.com yang sudah mengumpulkan total 50 ribu fans. Bila tertarik, kamu bisa mengirimkan tulisanmu ke redaksi@popbela.com.

Popbela pun juga aktif di media sosial seperti Instagram, Facebook, dan juga Twitter. Ada banyak informasi yang bisa kamu peroleh seperti postingan artikel terbaru, Popbela Facts, Popbela News, Popbela Tips, dan lain-lain. 

Instagram, Popbela, Perempuan, Beauty, Fashion, Healthy, Hiburan, IDN Indonesia, Popbela Website, Situs Popbela

Facebook, Popbela, Perempuan, Beauty, Fashion, Healthy, Hiburan, IDN Indonesia, Popbela Website, Situs Popbela

Twitter, Popbela, Perempuan, Beauty, Fashion, Healthy, Hiburan, IDN Indonesia, Popbela Website, Situs Popbela

Supaya kamu nggak ketinggalan informasi lomba atau kegiatan yang diadakan oleh Popbela, update terus informasinya di media sosial Popbela seperti Instagram di @Popbela_com, Twitter di  @Popbela_com, maupun fanpage-nya di https://www.facebook.com/popbelacom/, serta situs resminya.

Bukan hanya aktif di dunia maya, anak perusahaan IDN Indonesia ini juga mengadakan event gathering untuk para pembaca setianya sebagai tanda kecintaan Popbela dengan para pembacanya. Ini merupakan acara perdana bersama para pembaca setia dalam bentuk kegiatan lari bersama sahabat yang bertajuk Run For Your Love pada 22 April 2018 kemarin di Jakarta. Bekerjasama dengan Nike Indonesia, para peserta gathering mendapatkan pengetahuan baru soal lari yang benar dari tim Nike Indonesia. Seru banget, kan? Buat kamu yang nggak mau ketinggalan soal informasi terkini tentang dunia perempuan, kompetisi menulis, dan acara keren dari Popbela, jangan sampai lupa untuk terus update infonya di situs resmi Popbela dan media sosialnya ya!




Kamu ada yang sudah mengenal Podcast? Atau mungkin ada dari kamu yang lebih suka mendengarkan podcast daripada radio? Media suara ini memang belum se-terkenal Blog atau Vlog di Indonesia.  Peminatnya juga belum sebanyak negara asalnya, yakni Amerika. Di negara Paman Sam, podcast sama terkenalnya dengan Youtube. Kebanyakan mayarakat di Amerika mendengarkan informasi di sela-sela waktu dengan mendengarkan podcast. Memang podcast sendiri diproduksi oleh Apple.

Podcast sendiri adalah sebuah platform siaran suara yang sekilas mirip dengan radio, tapi bedanya bisa di-download dari internet dan bisa didengarkan kapan aja yang kamu mau. Podcast atau iPod Broadcast ini juga diartikan sebagai sebuah blog bersuara (atau audio blog). Saat ini podcast bukan hanya terbatas pada suara aja, tapi sekarang video juga bisa, tapi yang lebih popular adalah untuk suara.

Adanya podcast, sebenarnya sangat memudahkan kamu mendengarkan informasi audio yang sesuai dengan kebutuhan. Di podcast juga banyak tersedia jenis kategori yang bisa dipilih untuk bisa didengarkan, misalnya tentang dunia hiburan, olahraga, lifestyle, bahkan bisnis juga ada. Kalau berbicara soal platform untuk podcast, ada banyak yang bisa digunakan baik gratis maupun berbayar. Selain Apple Podcast bawaan aplikasi dari iphone, salah satu platform yang banyak digunakan juga  oleh para podcaster adalah Soundcloud

Mungkin kamu udah familiar, sama yang satu ini ya? Saya juga udah tahu soundcloud dari kuliah, buat dengerin cover-an lagu. Ya, dulu Soundcloud memang menjadi salah satu media yang digunakan banyak orang sebagai ajang media sosial buat orang yang suka nyanyi tapi hanya ingin didengar suaranya aja. Hahahaha.

Saya sendiri udah punya podcast dari beberapa tahun lalu sejak kuliah. Tapi enggak pernah diurus hahaha. Buka cuma buat dengerin cover-an lagu yang dinyanyiin sama cowok yang saya suka di kampus. Hahaha. Terus di tahun 2018 ini saya kepikiran buat coba mulai ‘isi’ Soundcloud saya dengan podcast yang ngebahas tentang buku (rencananya sih gitu), tapi enggak tahu kalau sore. *Lah hehehe

Jadi, untuk podcast pertama saya ini, saya mencoba membahas novel yang berjudul Resign karangan Almira Bastari. Sekilas tentang buku ini, bercerita tentang satu geng yang terdiri dari 4 orang yang menyebut diri mereka cungpret, alias kacung kampret yang ada di sebuah kantor konsultan di Jakarta yang berlomba-lomba untuk resign duluan dari kantor gara-gara bos mereka yang super nyebelin dan selalu bisa mengendus niatan karyawannya yang mau resign. Kata resign tentu jadi agak sedikit menggelitik karena di luaran sana ada banyak karyawan yang mau resign dari tempat kerjaannya, salah satu alasannya karena bos! hehehe. Soundcloud saya sendiri bernama Eka Rahmawati. Buat kamu yang mau mendengar Soundcloud saya tentang buku Resign, bisa klik di sini.

Jadi, tujuan saya bikin podcast sebenarnya buat memotivasi saya baca buku biar enggak malas. Hehehe. Saya punya kebiasaan kalau abis beli buku baru, enggak langsung dibaca. Jadi, buku baru pada numpuk tuh di lemari. Dengan adanya podcast sebenarnya kayak membuat saya memiliki kewajiban aja buat bikin konten baru. Heheheh. Mudah-mudahan bisa terus konsisten buat bikin podcast baru. Aamiin 😊. 

Untuk membuat podcast yang bagus, memang memerlukan beberapa persiapan yang seharusnya dilakukan, salah satunya adalah membuat script atau naskah. Ya, naskah bukan cuma buat acting aja lho ya, tapi bikin podcast pun juga harus bikin, biar ngomongnya terarah gitu. Di podcast saya yang pertama ini jujur saya enggak pakai script. Saya cuma nulis poin-poin mau ngomong apa, dengan maksud biar terarah kalau ngomong.

Eh tapi pas udah mulai nge-record suara pakai hape, malah enggak sesuai sama yang ada di poin-poin. Hahaha. Tapi saya pikir ya udah enggak apa-apa, namanya juga masih belajar. Saya buat bikin 1 podcast aja ngerekam sampai 4 kali hahaha. Kalau menuntut kesempurnaan di awal, kayaknya karya enggak bakal jadi-jadi. Iya, enggak? Bener apa bener? 😊





Tampak Luar Coto Makassar Senen Syamsul Daeng Awing

Sabtu (28/4/2018) kemarin saya pergi ke daerah Senen, Jakarta Pusat untuk makan coto Makassar. Daerah rumah saya itu Tangerang, tepatnya di daerah Kreo. Nah, ngapain sih jauh-jauh ke Senen buat makan coto Makassar aja? Kata temen kantor saya, Ardan yang emang asli orang Makassar, selama dia tinggal di Jakarta, coto Makassar di Senen-lah yang cukup juara.

Oke, berhubung saya emang enggak tahu apa-apa soal makanan Makassar, jadi saya ngikut aja. Tempat makannya bernama Coto Makassar Senen Syamsul Daeng Awing, yang lokasinya enggak jauh dari Atrium Senen, tepatnya di Jalan Kramat Raya / Soka No. 2 Jakarta Pusat. Tempatnya di belakang deretan warung padang dan posisinya paling pojok. Kalau dari segi tempatnya, samalah kayak tempat makan pada umumnya, cuma emang di salah satu dinding tempat makan ini banyak foto-foto tempat bersejarah di daerah Makassar.

Oh iya, buat yang belum tahu, sebenarnya apa sih coto Makassar itu? Apa sama kayak soto-soto lainnya? Jadi, coto Makassar itu terbuat dari jeroan sapi yang direbus dalam waktu yang lama. Terus dipotong kecil-kecil dan dibumbui dengan bumbu khusus. Bukan cuma isi sama kuahnya aja yang beda, tapi dari sisi penyajiannya juga beda.

Coto Makassar dihidangkan dalam mangkuk kecil seukuran mangkuk sekoteng menurut saya. Kalau kata Ardan, emang sengaja disajiin dalam porsi kecil karena makan coto Makassar bisa bikin kolesterol kalau kebanyakan, apalagi kalau sampe coto Makassarnya enak dan bikin nagih. Hahaha. Terus biasanya, coto Makassar dimakan sama ketupat dan "burasa" atau yang biasa dikenal sebagai buras, semacam lontong tanpa isi tapi bentuknya kecil, agak pipih dan dibungkus daun pisang.

Saya dipesenin sama Ardan coto Makassar campur, yang isinya itu ada usus, hati, daging, dan paru. Pas saya cobain emang rasanya enak apalagi kalau dimakan sama ketupat dan burasa, wah makin tambah nikmat. Kuahnya juga pas bumbunya. Biar makin maknyos, bisa juga ditambahin bawang goreng, kacang tanah sama daun bawang. Buat yang suka pedes sama ada rasa asam juga bisa ditambah sambal cabai sama perasan jeruk nipis yang disedia-in sama coto Makassar Senen.


Coto Makassar sebelum dan sesudah dicampur ketupat, kacang tanah, bawang goreng, dan daun bawang (Dokpri) 


Bukan cuma itu aja, saya juga diminta cobain Jalangkote, makanan ringan kuliner khas Makassar yang mirip sama kue pastel. Cuma bedanya kalo dari tampilan kue pastel kulitnya lebih tebal daripada jalangkote. Sementara dari cara makannya, pastel biasa dimakan dengan cabai rawit, tapi kalau jalangkote dimakan sama sambal cair yang terbuat dari cuka, gula, dan cabai.


Jalangkote. Gimana, mirip banget pastel, kan?


Isi dari jalangkote yang saya makan kemarin itu, ada wortel dan kentang yang dipotong dadu, tauge, sama laksa. Terus cara makannya, sambal jalangkote dituangin di isi jalangkotenya. Pas digigit, duh rasanya nikmat banget, bahkan pas saya gigit, sambal cairnya sampai keluar ke sela-sela jari tangan kanan saya.  Rasanya sendiri, menurut saya hampir sama sih kayak pastel cuma lebih sedikit lembek dari pastel. Pas saya tanya sama Ardan harga satu jalangkote itu berapa, katanya 1 jalangkote  Rp5.000. Sementara untuk satu porsi coto Makassar dihargai Rp30.000.

Ardan bilang, kalau di Makassar sendiri biasanya coto Makassar bisa dibanderol harga sekitar Rp15.000 cenderung lebih murah daripada Jakarta. Iyalah, pasti di tempat asalnya akan lebih murah daripada di luar daerah asalnya. Buat kamu yang pengin juga cobain coto Makassar yang enak di Jakarta, Coto Makassar Senen Syamsul Daeng Awing bisa menjadi pilihan. Saya senang bisa nyobain coto Makassar, jadi udah enggak penasaran lagi sama makanan khas Sulawesi Selatan ini.

Buat kamu yang punya rekomendasi tempat makan daerah Makassar di Jakarta, boleh lho sharing di kolom komentar ya.


Rambut bagi manusia itu adalah aset berharga terutama untuk wanita. Makanya ada istilah rambut sebagai mahkota bagi wanita. Impian saya sebenarnya, pengin banget punya rambut kayak Kate Middleton atau Meghan Markle, tapi kayaknya enggak mungkin karena buat ngedapetin rambut macam Duchess of Cambridge atau calon istrinya Pangeran Harry itu perlu biaya yang enggak sedikit (ya iyalah mimpinya ketinggian, mau gaya ala-ala mereka hahaha. Mana bisa?).

Kalau dipikir-pikir lagi, bukan cuma biaya aja yang mahal, rambut saya sendiri enggak pernah panjang kayak mereka sejak kecil sampai sekarang. Karena pas masih bocah agak tomboi, terus suka dipotong pendek. Paling pendek se- leher lah (enggak pernah dipotong pendek kayak rambut laki-laki sih) dan kebawa deh sampai sekarang. Seumur hidup, rambut saya paling panjang kayaknya sebahu lebih dikit deh

Selain itu, rambut saya banyak masalahnya dari dulu, jadi agak susah diaturnya. Rambut saya sejak kecil sampai sekarang cenderung kering, agak ikal, warnanya juga agak kecokelatan (ini bukan turunan bule, tapi kayaknya karena pengaruh suka main panas-panasan pas kecil) dan mengembang. 

Belum lagi semenjak kenal sama yang namanya catokan, rambut saya makin parah, kayak bercabang, rontok, dan makin cokelat. Kayaknya kok semua masalah rambut ada di mahkota saya ya? Hahahaah. Makin kesini saya mulai nyari-nyari informasi gimana sih cara ngatasin masalah rambut saya. Awalnya saya mencari informasi lewat Google yang bilang, salah satu cara untuk ngatasin masalah rambut yang saya alami, dengan pakai masker rambut dari bahan-bahan alami kayak alpukat, lemon, pisang, dan lain-lain.

Cuma dasarnya emang males jadinya sekadar nyari aja dan enggak dipraktekkin. Tapi beberapa bulan belakangan ini saya mulai rajin pakai masker alami dari bahan utama buah alpukat. Saya mutusin praktekkin cara ini, gara-gara nonton acara I Look Net TV tiap weekend yang bahas soal fashion dan kecantikan (hahahah, ini tontonan wajib saya kalo weekend). Cewek-cewek suka nonton I Look juga enggak? J

Di salah satu episodenya beberapa bulan lalu, I Look menayangkan beberapa masker alami buat ngatasin masalah rambut kering dan bercabang yang diakibatkan seringnya menggunakan catokan. Saya pikir pas banget buat saya yang hampir tiap hari pakai catokan. Dari beberapa masker yang dikasih tahu I Look, saya pilih masker alpukat yang biasa saya pakai 1 minggu sekali. Cara membuat masker alpukat ini gampang banget. 

Tinggal campurkan ½ atau 1 buah alpukat yang sudah matang (ini tergantung dari pendek panjangnya rambut. Berhubung rambut saya pendek, saya biasanya cuma pakai setengah alpukat) dicampur dengan satu telur (kuningnya juga ikut dicampur ya) dan sedikit air dingin. Tapi ingat, sebelum mencampurkan alpukat dengan telur dan air dingin, alpukat harus benar-benar dihaluskan ya. Jika sudah halus baru deh dicampur.

Setelah masker jadi, saya biasanya enggak langsung mengoleskannya ke rambut saya, tapi saya basahin dulu rambut, kayak macam orang mau keramas aja. Habis itu, baru deh pakai masker alpukat tadi. Diamkan selama kurang lebih 30 menit. Kemudian bilas dengan air hangat. Setelah dirasa sudah bersih, saya akan keramas seperti biasa untuk menghilangkan bau amis telurnya.

Yang paling menyebalkan dari masker ini adalah bau amis telurnya. Tapi tenang aja, biasanya dengan keramas bau amisnya bakal hilang kok. Tapi keramasnya jangan asal keramas ya. Saya sendiri kalau habis pakai masker ini keramas dengan menuangkan lebih banyak sampo daripada biasanya. Kemudian dipijit-pijit dan tidak langsung dibilas tapi didiamkan selama 3-5 menitlah, lalu baru dibilas.

Nah, abis keramas kayak gini, jangan ditambahin conditioner ya. Karena itu bakal menghilangkan nutrisi dari maskernya. Oh iya, kalau abis keramas rambut kita jangan langsung disisir ya dan biarkan dia kering secara alami (jadi sebisa mungkin hindari mengeringkan rambut dengan hair dryer).

Terus, kalau rambut sudah setengah kering saya biasanya ngasih vitamin rambut. Saat ini saya lagi pakai vitamin rambut dari The Body Shop yang Grapeseed Glossing Serum 75ml. Pakai produk ini lumayan membantu bikin rambut jadi lembut, halus, dan mudah diatur. Teksturnya cair jadi cepat meresap di rambut dan enggak lengket di tangan. Aromanya juga enak. Kalau urusan harga sih, emang agak mahal, yaitu Rp199.000. Tapi sepadan sih sama kelebihan dari produk ini (ehh maap, tulisan ini bukan bagian dari promosi lho. Ini jujur apa adanya hehe). 

Ini dia produk The Body Shop Grapeseed Glossing Serum yang biasa saya pakai.

Cara pakainya cukup dioleskan aja ke bagian tengah rambut hingga ujung rambut. Jangan sampai kena kulit kepala ya, karena bisa menimbulkan ketombe. Pokoknya setelah saya rutin pakai masker alpukat sama pakai serum rambut, mahkota saya jadi lebih mendinglah daripada sebelumnya. Udah enggak terlalu kering dan bercabangnya juga agak berkurang. Yang masih belum teratasi juga adalah masalah kerontokan dan warna kecokelatan rambut. Kalau masalah rambut kecokelatan itu kayaknya emang harus dicat deh. Cuma saya masih agak ragu mau nge-cat rambut, takut makin nge-rusak rambut saya. Apalagi kalau rambut diwarna itu perawatannya lebih sulit dan lebih mahal lagi.

Itu dia cerita saya soal mengatasi masalah rambut. Kalau kamu gimana? Apa punya masalah yang sama kayak saya? Yuk, sharing juga pengalaman kamu mengatasi masalah mahkotamu di kolom komentar ya J



Kondisi jalanan di Bangkok
Sumber foto:www.sooperboy.com


Hari Jumat, tanggal 23 Maret 2018 adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh saya dan juga seluruh teman kantor saya, karena kami semua akan outing ke Bangkok, Thailand (Ini pengalaman pertama saya pergi ke luar negeri). Sebenarnya saya dan teman-teman kantor sudah cukup pesimis dengan rencana outing ini, karena awalnya akan diadakan pada Januari 2018. Tapi ada alasan satu dan lain hal akhirnya diundur sampai Maret 2018.

Outing kali ini berlangsung 3 hari dua malam, (23-25/03/2018), singkat tapi harus tetap disyukuri karena semua yang bayarin kantor, jadi saya sama temen-temen cuma tinggal jajan aja. Pesawat kami menggunakan Thai Lion Air yang berangkat dari Bandara SOETTA jam setengah 7 pagi dan tiba di Bandara International Bangkok sekitar jam setengah 11 pagi. Perjalanan kali ini sudah diatur sama tim tour guide yang akan mengantarkan kami ke tempat tujuan selama di Bangkok.

Hari pertama, 23 Maret 2018
Setibanya kami di Bangkok kami langsung dijemput oleh 2 bus dan 2 orang tour guide asli orang Thailand yang fasih Bahasa Indonesianya. Tujuan pertama adalah berkunjung ke Show DC Shopping Mall. Ya, tempat ini mirip sama mall-mall besar yang ada di Jakarta pada umumnya lah.

Di sini kami mengunjungi 3D Art in Paradise. 3D Art in Paradise semacam galeri seni yang berisi banyak lukisan dan pengunjung bisa menjadi bagian dari lukisan tersebut. Jadi seolah-olah kita berada di lukisan tersebut. Beberapa gambar di sana ada gambar di tengah air terjun, karpet terbang, penobatan kaisar, gambar di akuarium, Majalah Times, National Geographic, dan lain-lain.  Oh ya, kalau datang ke sini, kamu harus lepas alas kaki. Karena ditakutkan bisa mengotori lukisan yang juga ada di di lantai.






Beberapa gambar di atas adalah lukisan yang ada di Art in Paradise


Sehabis dari 3D Art in Paradise saya dan teman-teman makan siang di BaanDee Buffet yang masih ada di dalam Show DC Shopping Mall. Konsep makan di sini adalah prasmanan. Jadi kita bisa bebas memilih makanan. Makanan yang ada di sini sebenarnya mirip makanan di Indonesia, ada sayur yang mirip kangkung, kwetiau, mie kuning, bahkan ada makanan sejenis oncom, tapi saya lupa namanya. Kata temen saya makanan sejenis oncom itu rasanya kurang enak.

Setelah makan siang, kami semua meluncur ke Chocolate Ville. Yang ada dibayangan saya, Chocolate Ville itu semacam pabrik cokelat, atau banyak hal-hal yang berkaitan dengan cokelat lah pokoknya. Tapi ternyata dugaan saya salah. Jadi Chocolate Ville itu adalah restoran yang dikemas seolah-olah pengunjungnya berada di sebuah kota ala-ala Eropa. Kalo kata temen-temen saya, Chocolate Ville semacam Farm House yang ada di Lembang (Maklum belum pernah ke Farm House) hehehe.

Perjalanan dari Show DC Shopping Mall ke Chocolate Ville kurang lebih 1 jam perjalanan, dan pada saat itu kondisi jalanan cukup padat (Jakarta dan Bangkok memiliki masalah yang sama, yakni sering banget macet).

Di sini saya dan teman-teman saya enggak makan di restorannya. Cuma foto-foto aja, karena emang di sini harga makanan katanya mahal. Tapi sempet sih curi-curi pandang ke orang-orang yang lagi makan, kebanyakan makanan yang ada di sini itu makanan ala-ala Western sama Asia. Di sini juga ada mercusuar buat pengunjung yang pengin ngambil foto dari ketinggian.

Oh ya, biaya masuk Chocolate Ville itu gratis dan kamu bisa foto-foto sepuasnya di sini. Di sini juga ada semacam penjual makanan di stan-stan di dalam Chocolate Ville. Makanan yang dijual ya makanan ringan kayak kentang goreng, donat goreng, ice cream, minuman, dan lain-lain.  Jadi kalau mau lebih irit tapi mau nyetok foto-foto bagus, sekadar berkunjung ke Chocolate Ville dan jajan makanan yang ada di stan-stan  cocok banget untuk kamu kunjungin.









Mohon maaf kalo fotonya beda-beda bentuk dan beda pencahayaan (ada yang lanscape, ada yang potrait. Ada yang rada gelap dan ada yang lumayan terang. Soalnya ada yang ambil sendiri, ada yang minta ambilin temen pake hpnya hehehe)


Setelah dari Chocolate Ville, rombongan menuju Royal Dragon Resto untuk makan malam, sekaligus ada games kecil-kecilan yang tujuannya katanya untuk makin mengenali teman-teman satu sama lain. Makanan yang ada di sini semuanya adalah makanan Chinese food dan dipastikan halal. Setelah dari Royal Dragon Resto kami semua menuju hotel untuk beristirahat di The Patra Rama 9.

Hari Kedua, 24 Maret 2018
Di hari kedua, kami berkunjung ke Chaopraya River + Wat Arun. Untuk bisa ke tempat wisata ini kita harus nyebrangin sungai Chao Phraya pake perahu motor. Oh iya, sungai di sini sangat terawat, enggak banyak sampah yang saya lihat. Yang menarik dari wisata perahu ini, kita bisa ngasih makan ikan pakai roti. Rotinya dari mana? Di dalam perahu ada satu orang (seperti kenek perahu) yang menawarkan roti pada pengunjung untuk diberikan pada ikan yang ada di sungai tersebut.

Satu bungkus roti saat itu, dijual 20 bath. Kalau dirupiah-in sekitar Rp8.890. Setelah itu, baru deh sampai di Wat Arun. Jadi Wat Arun atau nama lainnya adalah Temple of Dawn atau candi fajar itu tempat kuil Buddha yang terbuat dari porselin dan keramik dan didominasi warna putih dan emas. Wat Arun  sebenarnya menjadi salah satu tempat wisata favorit di Bangkok karena di sini banyak banget turis baik lokal maupun mancanegara yang datang ke sini. Di Wat Arun banyak banget candi-candi cantik dan artistik. Kalau kata tour guide-nya Wat Arun itu bagus di saat matahari terbit atau sore hari ketika mendekati matahari terbenam.

Berkeliling di Wat Arun harus hati-hati karena di sini tangganya cukup sempit dan agak curam atau nukik. Saya aja baik naik atau turun pegangan pinggir-pinggir candi karena takut jatoh atau kesandung. Kalau kita udah berhasil menaiki beberapa candi, kita bisa lihat pemandangan yang begitu indah.





Seluruh tim kantor saya. Foto ini diambil pake kamera DSLR, pantes bagus hehehe.

Abis dari Wat Arun, kami makan siang di Sophia Restaurant & Dining yang ada di Suan Luang, Bangkok. Restoran ini 100% halal. Saya bisa tahu dari slogan mereka yakni Halal, Happiness, and Tasty. Makanan-makanan di sini sama kayak makanan yang ada di Indonesia, kayak ikan bakar, sayuran seperti sup jamur, tumis jagung muda, tumis ayam. Seinget saya hidangan khas Thailand yang disediakan waktu itu adalah makanan sejenis Tom Yam.

Setelah makan siang, langsung saya dan rombongan meluncur ke Chatuchak Weekend Market. Sesuai namanya, tempat ini cuma dibuka pas weekend aja. Di sini kita bisa belanja oleh-oleh dengan harga yang relatif lebih murah dan bisa ditawar. Kalau berdasarkan informasi dari Mbah Google, Chatuchak Weekend Market menjadi tempat belanja yang cukup terkenal di Bangkok dan terbesar di Asia Tenggara.

Yang di jual di sini macam-macam, mulai dari produk fashion, furnitur, kain, cinderamata, perhiasan, makanan, minuman, sampai binatang peliharaan juga ada. Di sini saya beli oleh-oleh seperti kaos yang per-pieces-nya dijual 100 bath atau kalau dirupiah-in sekitar Rp44.450. Pouch 3 pieces 100 bath, gantungan kunci 6 pieces 100 bath, dan tote bag juga 100 bath satunya.

Oh iya, saat belanja di sini, kamu harus benar-benar menjaga barang bawaan kamu. Karena kata temen saya yang udah kesini sebelumnya, di sini banyak copet. Penjual-penjualnya pun kurang bisa bahasa Inggris. Jadi kalau mau tawar menawar harus nunjukkin harga yang kita ajuin pake kalkulator. hehehe. Tapi jangan khawatir, di sini penjualnya ramah-ramah, jadi enggak usah takut bakal dijutekkin kalau kita enggak jadi beli. 

Saat berbelanja di Chatuchak, saya belanja sama temen saya namanya Agung. Kalau jalan sama dia, itu pasti diajak kemana-mana. Bisa dibilang saya sama dia hampir ngunjungin semua area belanja di Chatucak yang gede dan banyak banget toko-tokonya. Hasilnya? Saya sama Agung menjadi segelintir orang yang paling telat nyampe di bis. Hahahaha. (Waktu itu cuma dikasih waktu belanja 1,5 jam dari jam setengah 4 sampai jam 5 sore). Bos saya aja sampe masang muka marah ke saya sama Agung, karena kami baru balik sekitar jam 5.15. hahaha. (Sekali-kalilah bikin bos marah hahaha).


Aksesoris yang dijual di Chatuchak.
Sumber foto: www.traveloista.com
Sumber foto: ifeisabook51.blogspot.co.id/

Setelah dari Chatuchak Weekend Market kami makan malam di Bung Terrace, kemudian lanjut ke Asiatique The Riverfront. Asiatique The Riverfront adalah sebuah mall terbuka yang di dalamnya ada banyak toko-toko mulai dari outlet barang lokal yang harganya murah-murah maupun branded yang pasti harganya lumayan mahal.

Di Asiatique The Riverfront banyak banget stan-stan makanan maupun restoran yang menyediakan makanan enak mulai dari makanan Asia sampai Western. Di sini saya juga beli barang lagi, gelas yang pegangannya belalai gajah. Tapi sayangnya, pas sampai rumah, gelas itu udah pecah belah (petugas yang ngatur barang dibagasi, kasar banget sampai gelas beling pecah. Padahal udah dibungkus koran dua lapis dan dialasin baju). Sedih L








Ini nih tempat kosmetik yang selalu diincer para perempuan kalo ke Asiatique




Hari Ketiga, 25 Maret 2018
Di hari terakhir kami di Bangkok, setelah check out dari hotel kami menuju Platinum Fashion Mall yang merupakan pusat perbelanjaan yang saya bilang mirip semacam ITC di Jakarta atau tempat perbelanjaan di Tanah Abang. Di sini banyak banget baju, tas, sepatu, aksesoris atau sovenir yang harganya murah dan kalo beli dalam jumlah banyak (grosir) bisa lebih murah lagi. Kebetulan di sini saya cuma beli oleh-oleh makanan buat orang rumah sama temen-temen deket aja. 

Sumber foto: www.kempinski.com
Sumber foto: http://www.livingincmajor.com

Saya juga nyobain mango sticky rice yang jadi makanan khas Thailand yang dijual disekitaran Platinim Fashion Mall. Makanan ini terbuat dari ketan putih yang bentuknya seperti beras atau nasi dan rasanya lebih manis dan teksturnya lebih lengket dari nasi. Terus sebagai lauknya (ibaratnya) adalah mangga, dan santan yang makin menambah nikmat makanan satu ini. Rasanya enaaaaaakkkk banget, manisnya juga pas. Satu bungkus harganya 50 bath, kalo dirupiahin sekitar Rp22.225.  Sayang saya cuma beli satu bungkus. Karena saya pikir kalau beli banyak dan mau dibawa ke Jakarta ribet. Bawaan saya yang ditaro di kabin pesawat aja udah lumayan banyak.



Setelah dari Platinum Fashion Mall, sebenarnya kita mau ke MBK (tempat belanja juga). Tapi enggak jadi karena, waktu yang udah mepet sama jam makan siang dan jam untuk ke Bandara. Jadi akhirnya destinasi ke MBK dibatalkan. Huhuhu. Alasannya kata tour guide-nya jalanan di Bangkok lagi macet banget, dan enggak keburu kalau mau belanja lagi. Ngerasa rugi sih enggak kesana. Tapi apa mau dikata, namanya juga udah diatur, ya kita peserta ngikut aja daripada enggak dapat makan siang sama telat nanti ke bandara hehehe.

Makan siang di hari ketiga ini kami makan di Bangkok Palace Hotel. Makanan di sini juga lebih beragam sih. Ada sushi ala-ala yang lumayanlah rasanya menurut saya terus banyak juga makanan sea food di sini dan rasanya lumayan oke. Waktu makan siang di sini ditentukan lumayan lama sekitar 2.5 jam. Lama ya? Tapi saya dan beberapa teman enggak makan selama itu kok. Setelah makan, sembari ngisi waktu untuk berangkat ke bandara, kami jalan-jalan aja di dekat-dekat restoran Bangkok Palace. Saya sempet mampir ke 7-Eleven buat beli Nestea dan Instan Thai Tea yang menjadi oleh-oleh minuman khas Bangkok. Setelah makan siang di sini kami langsung berangkat menuju air port.




Itulah sekelumit pengalaman saya pertama kali Bangkok. Semoga ada kesempatan lagi buat ngunjungin negara yang ramah ini untuk bisa eksplore lebih banyak tempat wisata yang lainnya, naik tuk tuk, sama nyobain naik MRT-nya. 

*Tambahan
Meskipun banyak orang yang bilang, Bangkok itu mirip banget sama Jakarta mulai dari bangunan-bangunannya dan lalu lintasnya yang sama-sama macet juga. Tapi saya kagum banget sama masyarakat Bangkok yang benar-benar menjaga kebersihan di mana pun. Salah satu contohnya, di jalan raya. Saya jarang banget lihat sampah berserakan, atau jaranglah ngeliat sampah di jalanan Bangkok. Bahkan pas di Chatuchak Weekend Market aja, pedagangnya diatur dengan rapi dan jarang banget ada sampah.

Kalau saya enggak salah inget, tour guide di bis yang saya tumpangi bilang, di Bangkok, kalau ada orang yang buang sampah sembarangan itu bisa kena denda berapa ribu bath gitu. Jadi, enggak heran kalau masyarakat Bangkok itu benar-benar menjaga kebersihan lingkungan mereka. Pelajaran bagus buat dicontoh, at least buat diri saya sendiri dulu. Hehehe.