Kak Yurgen Alifia (Kiri), Kak Stela Clarisa (Tengah) dan Bu Netty Kalalo dari PPIA dalam sesi talk show.

Sebenarnya postingan ini udah sempet gue share di Blog gue yang lain, yakni Tumblr. Tapi berhubung Tumblr terkadang angot-angotan dan gue sangat menyayangkan tulisan ini hanya menjadi sampah di Blog gue, ada baiknya gue repost lagi tulisan yang sangat berharga ini hahahaha.

So enjoy 🙂

Minggu ini adalah minggu yang gue nanti-nantikan. Kenapa? Karena ada dua hal yang sangat gue tunggu-tunggu kedatangannya.  Hal pertama adalah akhirnya senin kemarin (4/5) gue sidang akhir saudara-saudara!! Setelah hampir empat tahun gue merasakan namanya kuliah akhirnya gue lulus juga dan menyandang status S.Ikom  (Alhamdulillah ). Setelah berkutat dengan yang namanya Skrips***t eh maksudnya Skripsiiiii  (HAHAHAHA) selama kurang lebih 6 bulan, di hari Senin kemarin gue akhirnya bisa mempertanggungjawabkan apa yang sudah gue kerjakan selama ini dan sudah berhasil melepas masa  status lajang eeeehhh maksudnya status mahasiswa gue (HAHAHAHA, cerita lengkap tentang sidang akhir gue akan gue share di Blog ini. Tunggu aja ya).


Hal kedua yang gue nantikan adalah gue berhasil menghadiri (lagi)  acara Press conference PPIA-VOA yang diadakan di Pacific Place yang terletak di daerah Sudirman, Senayan. Kok ada kata ‘lagi’? Iya karena tahun lalu gue juga berkesempatan datang ke acara yang sama dan di tempat yang sama pula (Cerita tahun lalu juga sempat gue share di blog ini, silakan dibaca kalo minat hehehe).

Sebelum masuk ke cerita inti ada baiknya kalian membaca sedikit cerita di bawah ini Check it out!!!

Di hari Senin (4/5) siang tengah hari bolong ada tiga orang cewek yang sedang duduk di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh orang-orang yang lalu lalang sedang bekerja.  Satu cewek sedang komat kamit berdoa semoga sidang akhirnya lancar hari ini (itu gue). Satu lagi cewek berkrudung yang sedang duduk di samping cewek yang sedang komat-kamit itu tadi sedang menikmati cemilan yang ada ditangannya  (Tiara) dan cewek satu lagi yang sedang mainin handphonenya (Detta).

Satu jam sebelum gue sidang perkara, eh salah maksudnya Sidang akhir hehe, gue ngobrol-ngobrol sama 2 orang temen gue  ini yang sedang menemani gue dengan setia sebelum akhirnya gue masuk ke ruang sidang akhir. Kira-kira begini obrolan kita :

Gue : Eh Rabu ini mau ikut gue ke Pacific Place gak? Tanya gue dengan penuh antusias setelah komat-kamit baca doa.

Tiara : Ngapain?

Gue : Mau nonton acara PPIA-VOA

Tiara : emang ada siapa aja?

Gue : Ada jurnalis Metro TV  yang abis magang di Amerika, salah satunya ada Yurgen Alifia.

Tiba-tiba temen gue yang bernama Detta yang sejak obrolan gue ini terjadi dia lebih banyak mainin handphone nya, berdiri sambil kegirangan bilang “Ahhhhhhh gue mau ikut dong!!!”  Ekspresi Detta seakan-akan mau ketemu sama idola nya hahaha, btw emang Detta udah pernah ketemu sama Kak Yurgen sebelumnya di acara yang sama tahun lalu bareng sama gue. Dan dia bilang dia kagum sama Kak Yurgen (eccciiiieeeeeeeeeee)

Gue : Yaudah ayo.

Tiara nanya lagi “ Emang di sana acaranya ada apa aja?”

Gue : Intinya kita ngedengerin cerita dari Yurgen Alifia yang setahun kemaren magang di VOA Washington DC, pengalaman dia apa aja dan juga nanti di kenalin sama jurnalis baru yang bakalan berangkat ke Amerika ngegantiin Yurgen Alifia itu. (Gilaaak tahu banget lo Ka!!!)

Tanpa banyak bertanya lagi Tiara mengiyakan untuk ikut juga sama gue dan Detta ke acara PPIA-VOA.

Cerita lengkapnya begini saudara-saudara

Rabu (6/5) akhirnya gue bisa nongol lagi di acara Press Conference PPIA-VOA Broadcasting Fellowship di Pacific Place Sudirman tepatnya di @america. Enggak ada yang berubah di @america, dia masih ada di lantai 3 Pacific Place. (Hahaha ya kali pindah ke Amerika beneran). Sekedar informasi @america adalah pusat kebudayaan Amerika, yang didirikan pada Desember 2010 dengan tujuan mengenalkan Amerika Serikat melalui diskusi, pertunjukan budaya, debat, kompetisi, dan pameran. Seperti tahun sebelumnya, gue tidak sendirian datang ke acara tersebut, gue pergi bersama teman gue. Berbeda dengan tahun sebelumnya, di mana gue cuma pergi berdua aja sama Detta tapi kali ini gue pergi dengan tiga orang (Detta, Tiara dan Netya).

Mungkin buat teman-teman yang belum pernah membaca tulisan gue tentang ini sebelumnya agak bingung, apasih itu PPIA, Broadcasting Fellowship? jangan sedih jangan gundah jangan ngamuk ya, gue akan menjelaskan sedikit tentang hal-hal tersebut kepada Anda saudara-saudara, sebangsa dan setanah air (Hahahahahaha).

Jadi PPIA itu adalah singkatan dari Perhimpunan Persahabatan Indonesia Amerika didirikan tahun 1959 sebelumnya namanya bukan PPIA, tapi masih bernama LIA (Lembaga Indonesia Amerika) nah udah ketahuan dong dari namanya, kalo organisasi ini dibuat hasil kerjasama antara Indonesia sama Amerika untuk mendorong hubungan persahabatan  antar kedua Negara. Salah satu hasil kerjasama antar Indonesia sama Amerika adalah program Broadcasting Fellowshipini. Yang gue tahu dari program ini Broadcasting Fellowship ini hasil kerjasama antara VOA yang ada di Amerika sama PPIA di mana dalam program ini jurnalis-jurnalis muda  Indonesia yang punya pengalaman kurang dari tiga tahun yang berhasil lolos dalam proses seleksi akan dikirim ke Amerika untuk ‘magang’ selama satu tahun di sana. Kebayang dong gimana serunya pengalaman-pengalaman para jurnalis Indonesia yang udah berhasil ke Amerika berkat program ini.

Tapi jangan salah jurnalis yang berhasil lolos juga gak mudah untuk mendapatkan kesempatan emas ini, mereka harus melewati beberapa seleksi. Mulai dari seleksi administrasi, bikin essay, wawancara langsung dengan pihak PPIA dan VOA di Jakarta dan Wawancara langsung dengan pihak VOA di Wahington DC. (Banyak ya…….), belum lagi pelamar yang ingin mendapatkan program ini mencapai ratusan orang (yaiyalah siapa juga yang gak mau ngerasain kerja  dan tinggal di Amerika???)

Terus apa hubungannya gue sama acara Broadcasting Fellowship itu?

Emang gak ada hubungannya, tapi gue sebagai salah satu fan berat dari VOA, pengin banget jadi jurnalis dan salah satu orang yang punya mimpi bisa ke Amerika  merasa sangat sedih banget kalo gue gak datang ke acara yang bermanfaat at least buat gue hehehehehe (ya walaupun baru dua kali datang sih hahaha)

Eh nanti dulu, tadi gue bilang gue adalah fan berat dari VOA? Emang kenapa gue bisa suka banget sama VOA? Jadi gini saudara-saudara, awal mula gue tahu VOA (Voice Of America) itu SMP kalo gak salah gara-gara acara Dunia Kita. Duh apa lagi tuh? Tenang-tenang, gue gak pelit informasi kok. Jadi Dunia kita itu adalah salah satu program yang isinya berupa liputan tentang warga Indonesia di Amerika Serikat, tapi gak cuma itu juga ada liputan dari mancanegaranya. Tapi sayang tayangannya cuma berdurasi 30 menit dan kadang suka berubah-ubah jam tayangnya. Dulu gue nonton Dunia Kita itu masih dibawain sama Mbak Ariadne Budianto (salah satu host VOA favorit gue) sama Mbak Susi Tekunan. Sampe Dunia Kita dibawain sama Mbak Anne dan Kak Yurgen Alifia masih tetep gue tonton karena saking sukanya gue sama acara-acaranya VOA. Terus sekarang juga ada acara yang bisa terbilang baru yaitu VOA Pop News yang dibawain sama Ian Umar dan Debbie Summual Patlis di Jak TV setiap hari minggu jam 15.30 sore.

Karena dari kecil gue udah dijejelin sama film-film Hollywood sama bokap gue (tenang bukan film-film yang tidak seharusnya gue tonton pada saat itu kok hahaha) dan gara-gara film Hollywood yang keren-keren itu dari kecil sudah tertanam di kepala gue kalo Amerika itu kereeeeeeeeeeeennnn buaaangeettt. Nah makanya sejak gue tahu kalo ada tayangan yang menampilkan cerita dari Amerika, berita dari Amerika and all about America gue langsung jatuh hati lah sama VOA.

Balik lagi kecerita inti, kali ini gue gak datang terlambat seperti tahun lalu. Gue datang on time  bahkan sebelum acara di mulai gue sudah menginjakan kaki di Pacific Place dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Nah para mantan fellow (sebutan bagi para peserta Broadcasting Fellowship yang lolos dan berkesempatan ‘magang’ di VOA Wahington DC) yang datang lebih sedikit dari pada tahun lalu hehehehe. Kalo tahun lalu itu ada Kak Kartika Octaviana, saat ini Kak Vina bekerja di Metro TV dan alumni dari UI. gue suka sama cara Kak Vina membawakan berita, cara bicaranya enak  terus cantik dan ramah pula lagi. hehehe. Terus ada Kak Rafki Hidayat, dia juga pernah kerja di Metro TV, tapi sekarang dia udah pindah ke Bloomberg (informasi ini gue tanyakan langsung ke orangnya lho hahahahahaha), menurut gue kalo Kak Rafki membawakan liputan pasti selalu semangat, apa lagi pada saat bawain acara VOA, bawain acara selalu  semangat, jadi penonton juga antusias kalo nonton acaranya dia. ada Kak Retno Lestari, Nurina Safitri dan Yurgen Alifia juga yang saat itu adalah fellow yang akan berangkat ke DC.Kak Yurgen juga alumni UI,  orangnya gigih banget lho, kenapa gue bisa bilang kayak gitu, karena dia itu sampe 3 kali ikut seleksi PPIA-VOA ini, kebayang dong betapa niatnya dia buat ngedapetin kesempatan ini.

Di pertemuan kemarin mantan fellow yang hadir ada Kak Vina, Kak Rafki dan pastinya Kak Yurgen yang baru kembali dari Amerika (Alhamdulillah akhirnya balik juga haha). Terus siapa dong jurnalis yang menggantikan Kak Yurgen? Gue????? (Penginnya hahahahahahaha). Dia adalah Maria Stela Clarisa Nau yang juga merupakan jurnalis dari Metro TV. Kak Stela ini lulusan dari Universitas Parahyangan Bandung dengan jurusan Hubungan Internasional.

Acara dimulai dengan pembukaan pemutaran video dari Kak Yurgen yang isinya kegiatan-kegiatannya di sana, liburan dia ke Chicago dan pengalaman-pengalaman lainnya yang bikin gue doa dalam hati pas lagi nonton videonya ‘Ya Allah semoga Eka bisa ke Amerika dan kerja di VOA suatu saat nanti. Aamiin. Dan ada sambutan dari Ketua PPIA, Bapak Rudy J.Pesik, lalu ada kata sambutan juga dari Direktur VOA Jakarta, Bapak Frans Padak Demon, nah pastinya sesi yang gue tunggu-tunggu adalah di saat Kak Yurgen Alifia dan Kak Stela membagi cerita mereka. Sayangnya waktu disesi ini sangat sedikit sekali jadi cerita yang di share kurang banyak hahahaha. Dan sesi tersebut juga dibuka sesi Tanya jawab. Mendapatkan kesempatan itu gue tidak menyia-nyiakannya. Gue mengajukan pertanyaan langsung ke Kak Yurgen terkait dengan perbedaan bekerja menjadi jurnalis di Amerika dengan di Indonesia dan juga gue sempat bertanya berapa lama proses penyeleksian sampai akhirnya terpilih menjadi fellow. Menurut jawaban dari Ibu Netty Kalalo (PPIA) proses seleksi dari proses administrasi hingga terpilih menjadi fellow dari Bulan November sampai April lama jugaaa yaaa.)

Dan gue tidak menyia-nyiakan moment tersebut, gue sempat berfoto-foto dengan mantan fellow.

Ini dia foto-foto di acara kemaren.

Akhirnya gue bisa foto bareng sama Kak Yurgen Alifia. (Fellow tahun ke tujuh. Tahun lalu enggak sempet foto bareng. soalnya Kak Yurgen udah kaaabbbborrrrrr dari lokasi kejadian hahaha) *Pas foto ini diambil rasanya gue pengin banget nyubit pipinya Kak Yurgen. Pipinya bikin gemessssssssss wuehehehehehehe

Gue bersama Kak Kartika Octaviana (Jurnalis Metro TV dan fellow tahun ke empat)

Direktur VOA Jakarta, Bapak Frans Padak Demon saat memberikan kata sambutan kedua.

Penandatangan MoU antara Kak Stela Clarisa dengan PPIA & VOA





“Hah??? lo mau ketemu sama jurnalis dari Amerika?” Begitulah pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu teman gue di hari selasa tengah hari bolong.

terus gue jawab “Iya, jurnalisnya dari Amerika.” jawab gue sekenanya.

“Maksud lo bule?” tanya temen gue lagi.

“Bukan.” Jawab gue sekenanya lagi.

“Terus?”

“Dia jurnalis Indonesia, tapi baru balik dari Amerika.”

“Ohhh, cewek atau cowok? cakep?”

“Cowok! Belum tahu. belum liat aslinya.”

“Namanya siapa?”

“Rafki Hidayat.”

“Siapa tuh?”

“Jurnalis.”

“Iya gue tahu, tadi lu kan udah cerita.”

“Kalo mau tahu, besok ikut gue aja ke Pacific Place.”

“Oke.”

percakapan di hari selasa pun selesai!

Dan cerita lengkapnya pun dimulai.

Rabu (23/4) adalah salah satu hari yang cukup membuat gue sangat gembira. Kenapa? karena gue bisa bertemu dengan para jurnalis hebat dari Amerika yang dimiliki sama Indonesia (ceillah bahasa gue kaya orang bener HAHAHA!). Ditemani oleh teman gue Detta akhirnya rencana buat datang ke acara Press Conference PPIA-VOA Broadcasting Fellowship yang diadakan di @Atamerica Pacific Place Sudirman yang sudah gue agendakan sejak tahun lalu akhirnya terwujud. Setiap tahunnya VOA Indonesia yang bekerja sama dengan PPIA (Perhimpunan Persahabatan Indonesia Amerika) membuka kesempatan bagi jurnalis muda Indonesia untuk bekerja di VOA Washington DC Amerika (Weiitsss jangan shock gitu dong). Dan sayangnya dari sekian Press Conference PPIA-VOA Broadcasting Fellowship, baru kemaren gue bisa dateng 😦


‘Emang kenapa sih pengen banget ke sana?’ Alasannya adalah gue pengen ketemu sama para mantan fellow (sebutan bagi para peserta VOA Broadcasting Fellowship yang berhasil lolos seleksi dan berkesempatan bekerja di VOA Washington DC) dan pastinya pengen denger cerita-cerita seru dari para Fellow. Gue beruntung kemarin bisa bertemu sama empat mantan fellow diantaranya ada Nurina Savitri, Retno Lestari, Kartika Oktaviana dan juga enggak ketinggalan Kak Rafki Hidayat yang baru hari senin kemarin balik ke tempat asalnya the one and only Indonesia tercintaaaahhh ;).

Sayangnya kemarin gue telat dateng, seharusnya gue sampai jam 2 di sana tapi karena terhalang oleh penyakit Jakarta yang sudah akut apalagi kalo bukan MACET! Gue baru sampai jam setengah tiga lewat. Sesampainya gue di @atamerica gue disambut dengan video dari Kak Rafki yang isinya mempertontonkan kesenangan dan kegiatan-kegiatan yang luarrrrrr biassaaaaaaahhh yang dia alami selama satu tahun di sana (DAN BERHASIL MEMBUAT SELURUH YANG HADIR DI TEMPAT ITU ENVY MAMPUSS TERMASUK GUEEEEEHH! ).

Setelah ada tayangan itu Kak Rafki membagi pengalamannya selama satu tahun di sana dan Yurgen Alifia (Fellow yang terpilih tahun ini) menceritakan betapa antusiasnya dia untuk bisa kerja di VOA (Yaiyaaaaalaaah). Intinya dari session interview kemaren gue bisa mengambil suatu kesimpulan kalo kita mau meraih sesuatu harus berjuang dan kalo gagal coba lagi. Ini gue dapetin dari cerita kak Yurgen yang ternyata sudah pernah dua kali melamar di program Broadcasting Fellowship ini, dan baru ketiga kalinya ia diterima. Sebenarnya gue cukup sering melihat Kak Yurgen melaporkan berita di Metro TV, dan pada saat kemaren gue tahu dia yang menang gue udah ngenalin mukanya (hahaha sok akrab!).

Mau cerita sedikit tentang Kak Rafki haha (maaf ya kak kalo ada yang salah akibat kesotoyan gue), Kak Rafki Hidayat juga merupakan reporter Metro TV dan fellow angkatan ke enam ini lulus dari ITB di jurusan matematika (enggak nyangka orang lulusan matematika tapi orangnya enggak seserius jurusannya, kelihatan dari setiap video yang ada dia, dia selalu penuh dengan ekspresi alias GOKILLLL ! ). Selain itu dia juga berdarah minang. Kesimpulannya adalah dia udah terbiasa merantau, dari Padang, ke Bandung dan nyangkut di Amerika dan Alhamdulillah balik lagi ke Negara asal hahaha).Dan kalo enggak salah tidak hanya bisa bahasa Inggris tapi dia juga bisa bahasa Prancis (Sungguh terlalu hahaha). Ada kesamaan antara gue sama Kak Rafki, menurut cerita dia kemaren, dia dari SMP udah pengeeeeennn banget ke Amerika dan kerja di VOA, bahkan sejak SMP dia juga selalu nonton acara Dunia Kita dan honestly itu juga yang menjadi impian gue dari SMP pengeeeen banget ke Amerika dan kerja di VOA Washington dan gue juga udah ngikutin Dunia Kita dari mulai Dunia kita masih dibawain sama dua host andalannya yakni Mbak Ariadne Budianto sama Mbak Susi Tekunan sampai yang terakhir Dunia Kita dibawain sama Mbak Ariadne Budianto dan juga Kak Rafki. Dan satu lagi kesamaan gue sama dia, Kak Rafki dulu punya keinginan sehabis lulus kuliah pengen kerja di Metro TV dan Alhamdulillah sekarang tercapai.itu pula yang gue inginkan ketika gue lulus kuliah nanti.

Gue adalah penggemar berat acara VOA Indonesia, dari semenjak gue SMP sampai gue kuliah saat ini, gue masih sangat setia mengikuti acara VOA Indonesia. Mulai dari acara yang dulunya ada sampai sekarang udah enggak ada lagi (lebih tepatnya diganti oleh acara VOA Indonesia yang lain) contohnya, seperti acara VOA Pop Notes yang dulu ditayangkan di Jak TV setiap minggu sore yang dibawain sama Kak Vivit Kavi dan suaminya Irfan Ihsan. Acara VOA Pop Notes itu adalah acara gaya Hidup di Amerika Serikat lewat mata anak muda di Amerika.

Nah sekarang diganti sama acara VOA Career Day, yang tayang setiap hari minggu jam 15.00 WIB di Jak TV. Gue hampir enggak pernah ketinggalan nonton acara itu setiap minggunya (ya walaupun kadang-kadang tayangan ulang sih hahaha tapi tetap gue tonton :)), belum lagi dengan acara Dunia Kita yang tayang di Metro TV (terakhir yang gue tahu tayang setiap hari kamis dalam Wideshot Metro TV) dan masih banyak acara-acara VOA Indonesia lain di berbagai stasiun TV Indonesia.

Moment pertemuan gue dengan para fellow tidak gue sia-siakan. Gue sempat sedikit ngobrol-ngobrol dan berfoto-foto dengan mereka dan mereka sangat ramah dan pastinya enggak pelit informasi soal Broadcasting Fellowship ini. Gue sempat ngobrol sama Kak Kartika Oktaviana yang merupakan mantan fellow angkatan keempat (kalo enggak salah) yang juga bareng sama Mahatma Putra dan sekarang bekerja di Metro TV juga. Kak Vina pernah kerja di Kompas TV, dan di Sun TV juga (udah banyak ya pengalamannya). Kalo mau liat Kak Vina nongol di Metro TV tonton aja deh acara Bincang Pagi Metro TV jam 6-8 pagi bareng sama Kak Rory. Kak Retno Lestari mantan fellow angkatan ke lima yang sekarang bekerja di Kompas TV dan dia megang acara olah raga. Kak Vina dan Kak Retno ini sama-sama lulusan UI. Gue sempet nanya ke mereka tips buat bisa kaya mereka gimana dan inilah kata mereka “Yang penting harus bisa bahasa Inggris dan juga banyak baca.” Nah itu pesan-pesan yang sebenarnya cukup sederhana dan harus gue perdalam baik bahasa inggris dan juga memperbanyak pengetahuan.

Dan pasinya gue juga bertanya pada Kakak yang baru saja menyandang status baru “mantan fellow” Kak Rafki Hidayat. Gue sempet nanya tes apa saja yang harus dilalui untuk bisa keterima jadi fellow, dan ia berkata ini saudara-saudara “Tesnya itu essay ada wawancara juga sama orang VOA Indonesia di Jakarta dan DC, dan tes lain-lainnya.” Dan macam-macam pertanyaan lainnya yang gue tanyakan ke dia. Sebenarnya masih banyak sih pertanyaan yang pengen gue tanyain, tapi berhubung banyak teman-teman sejawatnya yang kangen sama dia, kemarin itu dia juga sibuk berfoto-foto. Hahaha.

Pokoknya pengalaman kemarin itu pengalaman yang luar biasa (walaupun gue cuma bisa ngobrol sebentar sama mereka tapi itu sudah menumbuhkan motivasi buat gue yang harus ingat dan percaya sama mimpi! Thank you Kak Rafki, Kak Vina dan Kak Retno buat short sharing nya. :’)

Ini dia hasil foto-foto gue dengan para Fellow (Jurnalis-Jurnalis Hebat dari Amerika ! )

prelo.co.id


Cerita yang Mencerahkan Dan Berarti



Hallo,,, lohaaaaa
Kali ini gue bakal meresensi novel (lagi), kayanya udah lama gue enggak ngeposting tulisan soal resensi buku. Gue bakal bayar utang kali ini. Utang nulis resensi novel 23 Episentrum. Mau tahu seperti apa? Ayo kita mulai 😀

Gue bakal mengawali resensi buku 23 Episentrum dengan memperkenalkan lebih dulu tentang rupa dan detail mengenai Buku 23 Episentrum. Man-teman, kalian perlu tahu lho, kalo buku 23 Episentrum itu terdiri dari dua buku. Satu buku yang berisi novel bercerita tentang tiga tokoh utama yang bernama (Matari Anas, Awan Angkasa dan Prama Putra Sastrosubroto yang memiliki kisah saling terkait antar ketiganya. Dan dipostingan resensi gue kali ini, gue bakal membahas tentang cerita dari ketiga tokoh tersebut. Buku ini bersampul merah kemerah jambuan). Satu lagi adalah buku yang berwarna biru, berisi cerita tentang 23 orang yang telah sukses dengan cara mereka sendiri, tokoh-tokoh yang ada dalam buku bercover biru ini bercerita tentang pengalaman mereka dalam meraih mimpi mereka yang disertai dengan urusan kecintaannya pada pekerjaan yang mereka kerjakan.) salah satu tokoh yang membagi pengalaman kariernya adalah Mochamad Achir seorang jurnalis TV dan juga news anchor.

Judul Buku : 23 Episeentrum
Penulis : Adenita
Penerbit : Grasindo
Tebal : 504 Halaman (gabungan dengan Suplemen 23 Episentrum)
Tahun Terbit: 2012
Harga: Rp 70,000 (gabungan dengan Suplemen 23 Episentrum)

Udah selesai baca detail bukunya?
Yuk, sekarang kita mulai membedah isi bukunya (lebih tepatnya novel 23 Episentrum).
Mari gue perkenalkan dengan ketiga tokoh utama dari novel 23 Episentrum, check it out right here

Matari Anas
Seorang Sarjana Komunikasi Universitas Panaitan, bercita-cita menjadi news anchor. Ia berusia 26 tahun. Diterima sebagai reporter di TvB (Tv Berita), bukan news anchor sebagaimana yang dinginkannya. Sebelum ia bekerja di TvB, selama masa kuliahnya ia pernah menjadi reporter dan penyiar radio paruh waktu di kampus. Dua minggu setelah wisuda, ia memasuki dunia kerja yang sesungguhnya di Jakarta. Ia bekerja Bukan semata ia rajin, tapi karena butuh; butuh menghasilkan uang secepatnya agar bisa segera menghidupi dirinya dan juga membayar biaya utang kuliahnya yang berjumlah 70 juta, sisa 55 juta karena di cicil kerja saat kuliah).

Awan Angkasa.
Seorang penyuka Liverpool yang bekerja sebagai Treasury Finance di Bank Madani dengan prestasi kerja tidak terlalu membanggakan. Tujuan dirinya bekerja di Bank hanya ingin mewujudkan keingian ibunya agar bisa seperti almarhum ayahnya Hanafi Angkasa. sebagai seorang bankir. Dan juga Awan, ingin menggugurkan kewajibannya sebagai seorang lulusan perguruan tinggi ternama yang harus cepat bekerja. Awan menyesal telah menuruti kehendak ibunya begitu saja tanpa mampu berargumen. Menjalani hari dengan tidak semangat., ia menyimpan sebuat hobi yang selalu membuatnya semangat yakni tukang cerita.

Prama Putra Sastrosubroto.
seorang sarjana teknik perminyakan yang lulus tepat waktu dan langsung dilamar oleh perusahaan minyak Perancis, T & T,sebagai reservoir engineering dan berstatus international mobile employee.status yang membuatnya harus siap berkelana ke berbagai belahan benua sesuai dengan proyek pengeboran ladang minyak. Tapi semua pencapaian itu tidak serta-merta membuatnya bahagia. Tidak ada lagi tantangan kerja selain kemampuannya yang makin tumpul dan tidak bergairah. Refleksi kariernya memang tidak pada uang, tapi pada ketenangan serta kebahagiaan hati. Sudah tiga tahun kebahagiaan itu belum datang dalam wujud yang diinginkan.

Novel 23 Episentrum berkisah tentang perjalanan cerita tiga orang dalam mencapai mimpi dan harapan mereka masing-masing (tokoh utamanya sudah gue jabarkan). Disetiap perjalanan meraih mimpi itu, setiap dari tiga tokoh itu diharuskan berhadapan dengan dilema dan hambatan. Tujuan hidup Matari dalam bekerja bukan hanya untuk mencapai cita-citanya sebagai news anchor, tetapi ada tujuan lain, ia bekerja keras agar segera memperoleh uang untuk membayar kembali hutang yang sudah membuatnya menjadi seorang sarjana. Hari-hari Tari tak lepas dari perjuangan hidup untuk memperbaiki status ekonomi keluarganya. Selepas ayahnya di PHK, ayahnya tak mampu lagi memenuhi kebutuhan sekolah Tari (kuliahnya).

Dalam benak Tari, ia harus kuliah untuk bisa memperbaiki kehidupannya. Dengan modal nekat akhirnya Tari memutuskan untuk melanjutkan kuliah dengan cara berutang pada 23 orang temannya dan pastinya dengan jumlah uang yang tidak sedikit. Dicerita lainnya kita akan disuguhkan juga perjuangan hidup dari Awan Angkasa yang merupakan seorang Bankir, namun sangat tidak menikmati pekerjaannya tersebut. Disela hari-hari yang tidak menyenangkan selama di Bank Madani (tempat Awan bekerja) hanya satu yang selalu membuat ia bisa melupakan keluh-kesahnya di kantor, yakni film. Ia sangat menyukai film.

Sepertinya bukan keahlian menjadi Bankir yang diturunkan oleh sang Ayah ke dalam diri Awan, justru Ayahnya mewarisi sifat suka bercerita kepada Awan tanpa disadari. Pertentangan juga tak hanya berasal dari hati Awan yang tidak menyukai pekerjaannya, tapi juga pertentangan dengan ibunya yang tidak merestui Awan menekuni dunia film, dunia yang anaknya sukai.

Kisah berlanjut pada seorang Prama Putra Sastrosubroto, yang hidupnya selalu dipenuhi target dan ia berhasil memenuhi target tersebut dengan baik. Bisa dibilang jalan hidup dari seorang Prama adalah hidup yang diimpikan oleh semua orang di dunia ini. Umur 26 tahun berhasil lulus S-2 di Prancis, 27 tahun hidup mapan dengan segala kenikmatan pekerjaan yang luar biasa mewah, karena ia sering bolak-balik keluar negeri untuk pekerjaannya tersebut. Tapi dibalik itu semua, Prama baru menyadari bahwa kehidupannya selama ini hanya membahagiakannya dari sisi luarnya saja, tapi hatinya ternyata masih kurang bahagia.

Bukan Prama tidak menyukai pekerjaannya, ia justru sangat mencintai pekerjaannya. Tapi ia merasa hidupnya ada yang kurang, namun ia tak tahu apa yang kurang dari dirinya. Dalam kisahnya Prama melakukan perjalanan hati yang membuat ia menemukan jawaban atas semua pertanyaannya. Saat ia melakukan perjalanan hati ke Medan menemui gurunya yakni Pak Muktar, yang membuat Prama menemukan jawaban dari semua pertanyaannya. Ternyata Prama merasa selama ia hidup sampai saat ini, merasa masih kurang berbagi dengan orang lain. Bukan berarti Prama itu pelit, ia selalu membagi setiap rizekinya pada orang yang membutuhkan, tapi ia tak pernah tahu siapa orang yang ia sumbang itu. Biasanya ia hanya menyuruh orang lain untuk membantu menyumbangkan rezekinya. Dan tidak hanya itu, ia juga merasa hatinya pun kurang, kurang kasih sayang dari seseorang yang bernama wanita.

Gue menangkap dari semua cerita yang barusan gue jelaskan dari masing-masing tokoh, ada benang merah dari semuanya. Benang merahnya adalah bahwa kebahagiaan itu enggak hanya dari materi, tapi juga kebahagiaan hati, itu lah yang paling penting. Tari, walaupun ia harus banting tulang bekerja demi melunasi utang kuliahnya ia merasa bahagia dengan pekerjaannya menjadi seorang reporter. Ia merasa ini merupakan langkah awal bagi cita-citanya menjadi seorang news anchor.

Awan dengan semua kegundahan hatinya akan pekerjaannya sebagai seorang Bankir,tapi ia tak pernah kenal kata menyerah untuk terus mengerjakan pekerjaan yang ia inginkan yakni sebagai penulis sKenario. Prama walaupun sudah berkecukupan di bidang financial ia tak juga menemukan kebahagiaannya, dan belakangan ia tahu bahwa tidak hanya financial yang ia butuhkan tapi juga harus memenuhi kebutuhan hatinya untuk saling berbagi (tidak hanya dalam bentuk uang tapi juga ilmu, semangat dll) dan juga kasih sayang.

Dalam novel ini dijelaskan, makna dari 23 Episentrum adalah 23 berasal dari 23 tangan manusia (teman-teman Tari yang membantu/merelakan uang mereka dipinjam oelh Tari untuk mebayar biaya kuliah saat itu). Episentrum itu adalah epi.sen.trum / épisentrum / n titik pada permukaan bumi yang terletak tegak lurus di atas pusat gempa yang ada di dalam bumi. Maksudnya adalah dalam mengejar impian pekerjaan yang Awan inginkan yakni menjadi penulis skenario, selama ia menjadi Bankir, Awan tak pernah berhenti menulis cerita dan ada sebuah folder yang berisikan hobi dari Awan yakni kumpulan cerita yang sudah Awan buat sejak kuliah dan folder tersebut diberi nama Episentrum. Ada saatnya Awan merasa folder itu seperti bergerak, mengguncang seperti gempa yang ingin keluar dari persembunyiannya, dan rasa itu terjadi saat Awan telah bulat untuk beralih profesi sebagai penulis skenario.

Bab 23 : Modus Bonus
“Orang yang berjuang mempertahankan apa yang dicintainya akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Mungkin bukan sekarang, bukan besok… tapi nanti. Akan ada banyak jalan meraih apa yang kamu butuhkan tanpa perlu meninggalkan apa yang sudah kamu lakukan dan cintai. Melakukan sesuatu yang kita sukai itu mahal harganya.”

Bab 26 : Enam Bundle Uang
“Orang kecil modalnya cuma ilmu.dan jujur. Modal utama banget buat kita bisa jadi besar. Tuhan itu enggak tidur, Tuhan tahu, tapi Dia menunggu. Kalau enggak bisa jadi yang terbaik, lebih baik berhenti sekarang.”

Bab 27 : Cinta Itu Memberi
“Kalau mau punya pasangan yang baik, kita juga harus baik dulu. Hukum alam itu mendekatkan apa-apa yang serupa. Jika kita Cuma pengin dicintai berarti egois mentingin diri sendiri. Karena dicintai bisa bikin lupa diri. Aku dicintai karena aku mencintai.

Cukup ya resensi buku kali ini, kalo gue jabarin semua enggak enak dong. Mending kalian baca bukunya aja sendiri dan meresapi sendiri inspirasi yang bisa kalian dapetin dari buku ini. Gue sangat menyarankan buat kalian untuk membaca buku ini. Karena buku ini keren abis. Dalam buku ini pembaca bakal merasakan cerita tokoh yang dituliskan oleh penulis, karena memang cerita yang disuguhkan itu benar-benar terjadi di kehidupan saat ini.
Source: Google Image


  

Detail Film
• Judul Film : Alangkah Lucunya Negeri Ini
• Produksi : Citra Sinema
• Rilis : 2010
• Durasi : 105 Menit
• Produser : Zairin Zain
• Penulis scenario : Musfar Yasin
• Sutradara : Deddy Mizwar
Pemain : Reza Rahadian, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Jaja Mihardja, Tio Pakusadewo, Asrul Dahlan, Ratu Tika Bravani, Rina Hasyim, Sakurta Ginting, Sonia, Teuku Edwin.

Kali ini gue pengen mencoba meresensi film yang sebenarnya udah lumayan lama juga, yakni Alangkah Lucunya Negeri Ini. Film yang dirilis tahun 2010 ini pasti udah enggak asing banget di telinga para pecinta film Indonesia. Agak telat memang gue mengulas film ini, maklum baru kemarin gue nonton nih film (kudet). Udah lama gue penasaran sama ini film. Dan baru kesampaian nonton filmnya kemarin berkat ngopy dari laptop temen gue hehehe.
Anyway kali ini gue bakal mengulas sedikit tentang film yang bergenre komedi ini. Kalau ada kesalahan dalam meresensi tolong dimaafkan yah, namanya juga belajar hehehehehe 

Film Alangkah Lucunya Negeri Ini mengangkat cerita tentang kehidupan anak jalan yang ada di Indonesia, khususnya di Jakarta. Dengan menonjolkan tema pendidikan, film ini bermaksud untuk menyentil masyarakat Indonesia agar sadar betapa pentingnya pendidikan untuk kemajuan suatu bangsa. Cerita bermula saat Muluk (Reza Rahadian) yang sejak lulus S1, hampir 2 tahun Muluk belum mendapatkan pekerjaan. Dengan keadaan demikian Muluk tak menyerah begitu saja. Pertemuan yang tak disengaja dengan pencopet bernama Komet tak disangka membuka peluang pekerjaan bagi Muluk. Melalui perkenalan itu Komet, mengajak Muluk untuk melihat markas besar yang menjadi tempat tinggal Komet bersama teman-temannya selama ini.
Saat datang ketempat markas tersebut Muluk dikagetkan oleh keadaan yang sangat memperihatinkan dari markas yang ditunjukkan Komet yakni berupa rumah tua yang sebenarnya tak layak huni. Muluk berpikir dan melihat peluang yang ia tawarkan kepada Jarot (Tio Pakusadewo).Muluk berusaha meyakinkan Jarot bahwa ia dapat mengelola keuangan mereka, dan meminta imbalan 10% dari hasil mencopet, termasuk biaya mendidik mereka. Usaha yang dikelola Muluk berbuah, namun di hati kecilnya tergerak niat untuk mengarahkan para pencopet agar mau mengubah profesi mereka. DIbantu dua rekannya yang juga sarjana,yakni Samsul (Asrul Dahlan), dan Pipit (Ratu Tika Bravani) yang juga pengangguran. Muluk membagi tugas mereka untuk mengajar agama, budi pekerti dan kewarganegaraan.

Muluk mengenalkan pendidikan kepada anak-anak pencopet ini bersama dua rekannya tadi, dalam proses mengubah kebiasaan pencopet yang masih berusia belia menjadi anak-anakyang berakhlak dan berpendidikan tidaklah mudah, Muluk, Pipit dan Samsul harus sabar mengajarkan kepada anak didik mereka tersebut tentang pentingnya pendidikan. Tidak hanya mengajarkan akhlak dan pendidikan, Muluk beserta dua rekannya juga menginginkan para pencopet tersebut merubah profesinya. Muluk ingin pencopet yang masih muda itu mencari penghasilan dengan cara yang halal yakni menjadi pedagang asongan.
Tantangan pun muncul, banyak para pencopet tersebut yang memberontak dan tidak ingin mengasong, mereka ingin tetap menjadi pencopet. Tidak hanya itu Orang tua Muluk yaitu Pak Makbul yang diperankan oleh Deddy Mizwar dan Orang Tua Pipit Haji Rahmat (Slamet Rahardjo) serta calon mertua Muluk Haji Sarbini (Jaja Mihardja) mengetahui jika anak-anak mereka ternyata tidak bekerja di kantor besar, tapi justru bekerja di tempat yang kumuh dan mengajar para pencopet pula. Para orang tua tersebut menganggap bahwa uang hasil kerja yang didapat oleh Muluk dan Pipit berasal dari uang haram.

Menurut gue dalam film ini bisa membuka mata kita bahwa masih banyak sekali anak-anak muda yang tak bisa mengakses pendidikan karena terhambat oleh biaya, belum lagi dalam film ini digambarkan pula tekanan sebagai seorang sarjana, gue jadi sadar walaupun kita punya title dibelakang nama kita dari berbagai disiplin ilmu, enggak menjamin kita bakal gampang diterima kerja. Bahkan sekarang banyak sarjana yang nganggur. Ini bisa terlihat dari kelakuan Pipit yang sebelum menjadi pengajar, ia sering mengikuti kuis di televisi dan undian berhadiah sebagai jalan pintas untuk mencari materi.

Ada yang menarik dari cuplikan akhir dari film ini, ada tulisan yang diambil dari bunyi pasal 34 UUD 1945 yang berbunyi “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara.” Ini sebagai kalimat penutup yang sangat menyentil bagi para masyarakat dan juga pemerintah. Ya menurut gue film ini bisa bikin sedikit kita melek lah sama keadaan bangsa ini, jangan terlalu egois mikirin diri sendiri, tapi kita juga perlu berempati kepada orang-orang yang tak seberuntung kita.

Sekian! 

Source:Goodreads.com

Udah lama banget gue enggak posting resensi buku. Huffft. Tapi jangan khawatir, karena dipostingan gue ini gue bakal meresensi buku yang baru aja gue baca. Buku apa itu?
Kali ini gue bakal meresensi buku yang judulnya “Off The Record : Kisah-kisah Jurnalistik Dari Lapangan Dan Meja Redaksi Surat Kabar” yang ditulis oleh Zaenuddin HM. Buat yang belum tahu siapa itu Zaenuddin HM, gue bakal ulas sedikit tentang beliau.
Zaenuddin HM merupakan wartawan senior Rakyat Merdeka Group, memimpin Harian Umum NonStop yang lahir di Jakarta 1966 yang aktif menulis sejak masa kuliah tahun 1980-an. Tulisan beliau banyak tersebar di berbagai media, seperti Majalah Hai, Hikmah, Didaktika, Harian Terbit, Merdeka, Pelita Mutiara, Jayakarta, Rakyat Merdeka dan Bandung Pos.
Buat yang suka sama bidang kewartawanan pasti udah enggak asing lagi sama nama jurnalis senior yang udah sedikit gue ulas. Langsung aja gue resensi buku “Off The Record” Karya Zaenuddin HM.

Judul : Off The Record : Kisah-kisah Jurnalistik Dari Lapangan Dan Meja Redaksi Surat Kabar
Penulis : Zaenuddin HM
Tahun Terbit : Juni 2007
Tebal Buku : 246 Halaman
Penerbit : Prestasi Pustaka
Tempat Terbit : Jakarta


Buku ini gue pinjam dari teman gue yang emang tertarik sama bidang kewartawanan. Iseng-iseng gue pinjam aja bukunya. Lumayan buat nambah-nambah pengetahuan dan suku kata karena kebetulan gue juga suka nulis. Buku yang bercerita tentang dunia kewartawanan ini, menurut gue asyik banget dibaca, kenapa? Karena buku ini secara tidak langsung memberikan gambaran bagi para pembaca khususnya yang ingin terjun di dunia kewartawanan di bidang media cetak. Buku yang dicetak pada Juni 2007 ini berisi cerita tentang pengalaman Zaenuddin HM yang mengawali karir sebagai jurnalis di tahun 1980-an hingga 2000-an.

Salah satu isi bukunya yang bisa gue share adalah di bab “Wartawan Anjing”. Apa maksudnya? Jadi di buku Off The Record itu menjelaskan kalo yang dimaksud dengan wartawan anjing adalah ini ada hubungannya dengan dengan fungsi pers yang sering diistilahkan dan digambarkan sebagai “Watch dog” atau “anjing penjaga”. Maksudnya adalah. Pers dan tentu saja kerja wartawan adalah sebagai kontrol sosial, menegor pemerintah atau penguasa agar tidak salah dalam mengeluarkan kebijakan, sehingga rakyat yang dirugikan.

Di dalam bukunya tersebut Zaenuddin juga menceritakan kalo wartawan itu bisa saja disuap oleh oknum-oknum tertentu. Dalam dunia kewartawanan dinamakan wartawan amplop. Terkadang ada saja wartawan yang diming-imingi uang oleh sumber berita agar berita yang dipublikasikan tidak berisi hal-hal negative yang dapat membuat nama baik maupun citra sumber berita menjadi buruk. Sebenarnya itu tergantung dari wartawannya sendiri, jika ia komitmen dengan tugasnya yakni harus berpihak pada kebenaran dan rakyat kecil wartawan yang diiming-imingi itu tidak akan tergoda.

Wartawan juga rentan terseret ke polisi. Dalam bukunya penulis mengisahkan yang saat itu beliau menjadi redaktur di Rakyat Merdeka harus ke kantor polisi menjadi saksi akibat berita yang dimuat oleh Rakyat Merdeka mengenai kerusuhan 27 juli 1996 (penyerbuan kantor DPP PDI Megawati di Jl Diponegoro Jakarta Pusat) yang saat itu Koran Merdeka menurunkan Headline “Ini Dia Tersangka Kasus 27 Juli” dan memasang foto-foto dari para tersangka yang salah satunya adalah pejabat polisi. Penulis diwawancarai mengenai bagaimana proses berita itu bisa turun hingga masuk ke surat kabar dan seterusnya.

Yang gue tangkap setelah membaca buku ini adalah menjadi seorang wartawan itu tidak mudah, selain kita harus akurat dalam memberitakan berita suatu kasus, kita juga harus memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan dari berita yang kita muat dikoran. Dan tidak bisa dipungkiri kalo wartawan juga ada enaknya yaitu kita bisa ketemu banyak orang, berkunjung ketempat baru bahkan bisa keluar negeri gratis. Buku ini bagus banget jadi panduan buat lo yang pengen jadi wartawan cetak!.


Hallo, manteman!
udah lamaaaaaaaaa banget gue enggak posting tulisan di blog kesayangan gue ini. kali ini gue pengen kasih tahu sebuah kabar gembira. kabar gembira buat siapa? yang pasti buat gue (yaiyalah). jadi singkat cerita gue sudah menerbitkan sebuah buku. (Apa sebuah buku? backsound “jeng-jeng-jenggggggg”)
Iya, gue menerbitkan sebuah buku hasil pikiran dan jerih bpayah gue sendiri (tsaaaahhhh!) Judul bukunya adalah “Cinta Melulu dan Cerita Cinta Lainnya” Buku ini isinya kumpulan cerita pendek alias cerpen. iya cerpen, karena gue belum mmpu buat novel, jadi ya dari yang kecil-kecil dulu yaudah akhirnya gue buat deh cerpen. Dalam buku gue itu terdiri dari 238 hal dan lima cerita pendek yang kelima-limanya terinspirasi dari pengalaman-pengalaman temen-temen gue (loh kok bukan pengalaman gue?), jadi temen-temen gue itu sering curhat ke gue tentang masalah pengalaman cinta mereka, nah sebagai teman yang baik, gue pasti mendengarkan cerita mereka dari awal, tengah hingga akhir dan sebagai pendengar sekaligus temen yang baik gue pasti memberi solusi yang baik buat masalah cinta mereka (serasa dewi cinta gue huehuehue). Dan setelah gue mendengarkan curhatan temen-temen gue itu gue jadi kepikiran kenapa gue enggak jadiin cerita aja tuh curhatan, kan lumayan nambah-nambahin tulisan gue, saat itu gue masih SMA dan gue udah suka sama yang namanya nulis, cuma kendala di M aja, iya M MALESSS!!!



Dengan segenap tenaga dan berusaha mengingat cerita apa saja yang udh disampein temen-temen gue, gue karang lah cerita pendek itu dan yang pasti nama mereka gue samarkan. Setelah gue tulis dan selesai beberapa tahun gue sempet mendem tuh cerpen di komputer dan buku harian gue. karena faktor M tadi dan gue juga enggak tahu mau nerbitin tuh cerpen gue di mana. Tapi cahaya terang menunjukkan jalan buat gue (yeillah bahasa gue) salah satu temen kuliah gue yang namanya Netya, ngasih gue inspirasi buat menerbitkan tulisan gue ke dalam sebuah buku.

Akhirnya dari liat-liat bukunya Netya yang juga menerbitkan buku, gue mengikuti jejaknya. Ada sebuah wadah bagi penulis pemula seperti gue yang ingin bukunya diterbitin bisa langsung akses di wwww.nulisbuku.com (kok yang bagian ini gue kaya promosi ya? Bodoamat!)
Setelah semua materi gue terkumpul akhirnya gue meng-upload naskah buku gue di situs tersebut. butuh waktu 14 hari untuk proses membuat buku tersebut.
Buat yang penasaran sama buku gue, Nih gue kasih link buku gue http://nulisbuku.com/books/view_book/4786/cinta-melulu-dan-cerita-cinta-lainnya
Jangan dibuka doang linknya, tapi dibuka juga bukunya (nyuruh kalian beli hehehehe). ini bukan buku yang ada di toko buku di mall-mall tapi ini buku indie, jadi kita sebagai penulis harus berperan aktif mempromosikan buku kita sendiri. Gue posting tulisan ini juga sebagai media gue untuk mempromosikan buku gue. jadi kalo manteman ada yang mau pesen buku gue bisa langsung pesen di nulisbuku.com dan mengirim email pastinya.



Kamis, (20/6) gue nonton film yang keren abis. Film apakah itu? Pernah denger nama tokoh “Soe Hok Gie”? atau biasa dikenal dengan nama “Gie”? enggak kenal yah? Atau belum pernah denger namanya sama sekali? Nah buat lo yang belum pernah denger dan enggak tahu tentang film “Gie” ini kali ini gue mau ngasih tahu sedikit tentang sosok Soe Hok Gie hasil gue searching di mbah Google hehehehe. Soe Hok Gie atau Gie ini adalah aktivis muda Indonesia yang lahir di Jakarta 17 Desember 1942. Ia merupakan mahasiswa fakultas sastra jurusan  sejarah Universitas Indonesia 1962–1969. Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Gie meninggal 16 Desember 1969 di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama temannya, Idhan Dhanvantari Lubis.


Buat lo yang suka sama film yang berbau sejarah, NAH! Film Gie ini cocok banget nih buat lo. Kenapa gue bisa bilang kaya gitu? Soalnya film ini memang menceritakan tentang sejarah perjuangan Gie yang berani menyuarakan pendapatnya di jaman Revolusi (halah bahasa gue berat bener yeeee. Bodoamat!).

Difilm yang release tahun 2005 diproduseri oleh Mira Lesmana dan disutradarai oleh Riri Riza ini  diilhami dari catatan harian “Soe Hok Gie” yang kemudian dibukukan, nama bukunya adalah Catatan Seorang Demonstran yang di terbitkan tahun (1983) (sejak gue nonton film “Gie” gue jadi tertarik pengen baca buku dan tulisan-tulisannya Gie, tapi sayang bukunya udah jarang banget di jual di pasaran L). Pemeran utama dari film ini adalah Nicholas Saputra yang memerankan Gie saat dewasa, ada juga Jonathan Mulia yang memerankan Gie saat masih remaja.

Gue percaya, setiap film yang diperanin sama si Nicholas Saputra pasti filmnya bagus-bagus, ya salah satunya film “Gie” ini yang emang bener-bener bagus. Film Gie ini sendiri bercerita tentang Soe Hok Gie dibesarkan di sebuah keluarga keturunan Tionghoa yang tidak begitu kaya dan tinggal di Jakarta. Sejak remaja, Gie sudah tertarik pada konsep-konsep idealis yang disampaikan oleh tokoh-tokoh kelas dunia. Semangat juangnya, setiakawan, dan hatinya yang peduli akan orang lain dan tanah airnya jadi satu di dalam diri Gie kecil dan tidak mengenal toleransi terhadap ketidakadilan dan mengimpikan Indonesia yang didasari oleh keadilan dan kebenaran yang murni. Semangat ini sering salah dimengerti orang lain. Bahkan sahabat-sahabat Gie, Tan Tjin Han dan Herman Lantang bertanya “Untuk apa semua perlawanan ini?”. Gie menjawab bahwa untuk memperoleh kemerdekaan sejati dan hak-hak yang dijunjung sebagaimana mestinya, ada harga yang harus dibayar, dan memberontaklah caranya. Ada semboyan Gie yang mengesankan berbunyi, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

Masa remaja dan kuliah Gie dijalani di bawah rezim pelopor kemerdekaan Indonesia Bung Karno, yang ditandai dengan konflik antara militer dengan PKI (tahukan PKI, ihhh masa enggak tahu sih? Itu loh Partai Komunis Indonesia yang dulu heboh banget diomongin huehuehue) . Gie dan teman-temannya tidak memihak golongan manapun. Meskipun  Gie menghormati Sukarno sebagai founding father negara Indonesia,  Gie begitu membenci pemerintahan Sukarno yang diktator dan menyebabkan hak rakyat yang miskin terinjak-injak.  Gie tahu banyak tentang ketidakadilan sosial, penyalahgunaan kedaulatan, dan korupsi di bawah pemerintahan Sukarno, dan dengan tegas bersuara menulis kritikan-kritikan yang tajam di media. Gie sangat membenci bagaimana banyak mahasiswa berkedudukan senat janji-janji manisnya hanya omong kosong belaka yang mengedoki usaha mereka memperalat situasi politik untuk memperoleh keuntungan pribadi. Penentangan ini memenangkan banyak simpati bagi Gie, tetapi juga memprovokasikan banyak musuh. Banyak interest group berusaha melobi Gie untuk mendukung kampanyenya, sementara musuh-musuh Gie bersemangat menggunakan setiap kesempatan untuk mengintimidasi dirinya.

Tan Tjin Han, teman kecil Gie, sudah lama mengagumi keuletan dan keberanian Gie, namun dirinya sendiri tidak memiliki semangat pejuang yang sama. Dalam usia berkepala dua, kedua lelaki dipertemukan kembali meski hanya sebentar. Gie menemukan bahwa Tan telah terlibat PKI tetapi tidak tahu konsekuensi apa yang sebenarnya menantinya. Gie memaksa Tan untuk meninggalkan segala ikatan dengan PKI dan bersembunyi, tetapi Tan tidak menerima desakan tersebut (AHHH PAYAH ENGGAK NURUT SAMA GIE).

Gie dan teman-temannya menghabiskan waktu luang mereka naik gunung dan menikmati alam Indonesia yang asri dengan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UI. Selain itu, mereka juga gemar menonton dan menganalisa film, menikmati kesenian-kesenian tradisional, dan menghadiri pesta-pesta.

Film ini menggambarkan petualangan Soe Hok Gie mencapai tujuannya untuk menggulingkan rezim Sukarno, dan perubahan-perubahan dalam hidupnya setelah tujuan ini tercapai.

*Itu dia synopsis dari film “Gie” yang gue dapatkan dari hasil ngegoogling hehe, ada yang gue ubah dikit kata-katanya biar enggak keliatan copast banget gitu wkwkwkwk, tapi intinya sih tetap sama 😀

Film ini juga menang di beberapa kategori di  Piala Citra Festifal Film Indonesia (FFI 2005) diantaranya :

Piala Citra – Film Bioksop Terbaik
Piala Citra – Pemeran Utama Pria Terbaik (Nicholas Saputra)
Piala Citra – Pengarah Sinematografi Terbaik.

Nah menurut gue sendiri film “Gie” ini bagus banget, karena di film ini kita bisa belajar buat jangan takut buat ngeluarin pendapat yang menurut kita benar dan jangan takut buat menyuarakan ketidakadilan di negeri ini (ceiiilah bahasa gue tinggi banget yeee, bodoamat!!!) walaupun bakalan banyak banget yang akan menjadi musuh kita karena sikap keberanian kita, enggak masalah asal kita benar enggak usah dengerin apa kata orang yang benci sama kita. Gue saranin buat lo yang suka sama film sejarah dan ngaku pemuda berani mending lo nonton dulu deh film “Gie” ini, gue jamin lo bakalan bangga sama sosok Gie yang berani melawan ketidakadilan di negeri ini 😀