Hallo, manteman!
udah lamaaaaaaaaa banget gue enggak posting tulisan di blog kesayangan gue ini. kali ini gue pengen kasih tahu sebuah kabar gembira. kabar gembira buat siapa? yang pasti buat gue (yaiyalah). jadi singkat cerita gue sudah menerbitkan sebuah buku. (Apa sebuah buku? backsound “jeng-jeng-jenggggggg”)
Iya, gue menerbitkan sebuah buku hasil pikiran dan jerih bpayah gue sendiri (tsaaaahhhh!) Judul bukunya adalah “Cinta Melulu dan Cerita Cinta Lainnya” Buku ini isinya kumpulan cerita pendek alias cerpen. iya cerpen, karena gue belum mmpu buat novel, jadi ya dari yang kecil-kecil dulu yaudah akhirnya gue buat deh cerpen. Dalam buku gue itu terdiri dari 238 hal dan lima cerita pendek yang kelima-limanya terinspirasi dari pengalaman-pengalaman temen-temen gue (loh kok bukan pengalaman gue?), jadi temen-temen gue itu sering curhat ke gue tentang masalah pengalaman cinta mereka, nah sebagai teman yang baik, gue pasti mendengarkan cerita mereka dari awal, tengah hingga akhir dan sebagai pendengar sekaligus temen yang baik gue pasti memberi solusi yang baik buat masalah cinta mereka (serasa dewi cinta gue huehuehue). Dan setelah gue mendengarkan curhatan temen-temen gue itu gue jadi kepikiran kenapa gue enggak jadiin cerita aja tuh curhatan, kan lumayan nambah-nambahin tulisan gue, saat itu gue masih SMA dan gue udah suka sama yang namanya nulis, cuma kendala di M aja, iya M MALESSS!!!



Dengan segenap tenaga dan berusaha mengingat cerita apa saja yang udh disampein temen-temen gue, gue karang lah cerita pendek itu dan yang pasti nama mereka gue samarkan. Setelah gue tulis dan selesai beberapa tahun gue sempet mendem tuh cerpen di komputer dan buku harian gue. karena faktor M tadi dan gue juga enggak tahu mau nerbitin tuh cerpen gue di mana. Tapi cahaya terang menunjukkan jalan buat gue (yeillah bahasa gue) salah satu temen kuliah gue yang namanya Netya, ngasih gue inspirasi buat menerbitkan tulisan gue ke dalam sebuah buku.

Akhirnya dari liat-liat bukunya Netya yang juga menerbitkan buku, gue mengikuti jejaknya. Ada sebuah wadah bagi penulis pemula seperti gue yang ingin bukunya diterbitin bisa langsung akses di wwww.nulisbuku.com (kok yang bagian ini gue kaya promosi ya? Bodoamat!)
Setelah semua materi gue terkumpul akhirnya gue meng-upload naskah buku gue di situs tersebut. butuh waktu 14 hari untuk proses membuat buku tersebut.
Buat yang penasaran sama buku gue, Nih gue kasih link buku gue http://nulisbuku.com/books/view_book/4786/cinta-melulu-dan-cerita-cinta-lainnya
Jangan dibuka doang linknya, tapi dibuka juga bukunya (nyuruh kalian beli hehehehe). ini bukan buku yang ada di toko buku di mall-mall tapi ini buku indie, jadi kita sebagai penulis harus berperan aktif mempromosikan buku kita sendiri. Gue posting tulisan ini juga sebagai media gue untuk mempromosikan buku gue. jadi kalo manteman ada yang mau pesen buku gue bisa langsung pesen di nulisbuku.com dan mengirim email pastinya.



Kamis, (20/6) gue nonton film yang keren abis. Film apakah itu? Pernah denger nama tokoh “Soe Hok Gie”? atau biasa dikenal dengan nama “Gie”? enggak kenal yah? Atau belum pernah denger namanya sama sekali? Nah buat lo yang belum pernah denger dan enggak tahu tentang film “Gie” ini kali ini gue mau ngasih tahu sedikit tentang sosok Soe Hok Gie hasil gue searching di mbah Google hehehehe. Soe Hok Gie atau Gie ini adalah aktivis muda Indonesia yang lahir di Jakarta 17 Desember 1942. Ia merupakan mahasiswa fakultas sastra jurusan  sejarah Universitas Indonesia 1962–1969. Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Gie meninggal 16 Desember 1969 di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama temannya, Idhan Dhanvantari Lubis.


Buat lo yang suka sama film yang berbau sejarah, NAH! Film Gie ini cocok banget nih buat lo. Kenapa gue bisa bilang kaya gitu? Soalnya film ini memang menceritakan tentang sejarah perjuangan Gie yang berani menyuarakan pendapatnya di jaman Revolusi (halah bahasa gue berat bener yeeee. Bodoamat!).

Difilm yang release tahun 2005 diproduseri oleh Mira Lesmana dan disutradarai oleh Riri Riza ini  diilhami dari catatan harian “Soe Hok Gie” yang kemudian dibukukan, nama bukunya adalah Catatan Seorang Demonstran yang di terbitkan tahun (1983) (sejak gue nonton film “Gie” gue jadi tertarik pengen baca buku dan tulisan-tulisannya Gie, tapi sayang bukunya udah jarang banget di jual di pasaran L). Pemeran utama dari film ini adalah Nicholas Saputra yang memerankan Gie saat dewasa, ada juga Jonathan Mulia yang memerankan Gie saat masih remaja.

Gue percaya, setiap film yang diperanin sama si Nicholas Saputra pasti filmnya bagus-bagus, ya salah satunya film “Gie” ini yang emang bener-bener bagus. Film Gie ini sendiri bercerita tentang Soe Hok Gie dibesarkan di sebuah keluarga keturunan Tionghoa yang tidak begitu kaya dan tinggal di Jakarta. Sejak remaja, Gie sudah tertarik pada konsep-konsep idealis yang disampaikan oleh tokoh-tokoh kelas dunia. Semangat juangnya, setiakawan, dan hatinya yang peduli akan orang lain dan tanah airnya jadi satu di dalam diri Gie kecil dan tidak mengenal toleransi terhadap ketidakadilan dan mengimpikan Indonesia yang didasari oleh keadilan dan kebenaran yang murni. Semangat ini sering salah dimengerti orang lain. Bahkan sahabat-sahabat Gie, Tan Tjin Han dan Herman Lantang bertanya “Untuk apa semua perlawanan ini?”. Gie menjawab bahwa untuk memperoleh kemerdekaan sejati dan hak-hak yang dijunjung sebagaimana mestinya, ada harga yang harus dibayar, dan memberontaklah caranya. Ada semboyan Gie yang mengesankan berbunyi, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

Masa remaja dan kuliah Gie dijalani di bawah rezim pelopor kemerdekaan Indonesia Bung Karno, yang ditandai dengan konflik antara militer dengan PKI (tahukan PKI, ihhh masa enggak tahu sih? Itu loh Partai Komunis Indonesia yang dulu heboh banget diomongin huehuehue) . Gie dan teman-temannya tidak memihak golongan manapun. Meskipun  Gie menghormati Sukarno sebagai founding father negara Indonesia,  Gie begitu membenci pemerintahan Sukarno yang diktator dan menyebabkan hak rakyat yang miskin terinjak-injak.  Gie tahu banyak tentang ketidakadilan sosial, penyalahgunaan kedaulatan, dan korupsi di bawah pemerintahan Sukarno, dan dengan tegas bersuara menulis kritikan-kritikan yang tajam di media. Gie sangat membenci bagaimana banyak mahasiswa berkedudukan senat janji-janji manisnya hanya omong kosong belaka yang mengedoki usaha mereka memperalat situasi politik untuk memperoleh keuntungan pribadi. Penentangan ini memenangkan banyak simpati bagi Gie, tetapi juga memprovokasikan banyak musuh. Banyak interest group berusaha melobi Gie untuk mendukung kampanyenya, sementara musuh-musuh Gie bersemangat menggunakan setiap kesempatan untuk mengintimidasi dirinya.

Tan Tjin Han, teman kecil Gie, sudah lama mengagumi keuletan dan keberanian Gie, namun dirinya sendiri tidak memiliki semangat pejuang yang sama. Dalam usia berkepala dua, kedua lelaki dipertemukan kembali meski hanya sebentar. Gie menemukan bahwa Tan telah terlibat PKI tetapi tidak tahu konsekuensi apa yang sebenarnya menantinya. Gie memaksa Tan untuk meninggalkan segala ikatan dengan PKI dan bersembunyi, tetapi Tan tidak menerima desakan tersebut (AHHH PAYAH ENGGAK NURUT SAMA GIE).

Gie dan teman-temannya menghabiskan waktu luang mereka naik gunung dan menikmati alam Indonesia yang asri dengan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UI. Selain itu, mereka juga gemar menonton dan menganalisa film, menikmati kesenian-kesenian tradisional, dan menghadiri pesta-pesta.

Film ini menggambarkan petualangan Soe Hok Gie mencapai tujuannya untuk menggulingkan rezim Sukarno, dan perubahan-perubahan dalam hidupnya setelah tujuan ini tercapai.

*Itu dia synopsis dari film “Gie” yang gue dapatkan dari hasil ngegoogling hehe, ada yang gue ubah dikit kata-katanya biar enggak keliatan copast banget gitu wkwkwkwk, tapi intinya sih tetap sama 😀

Film ini juga menang di beberapa kategori di  Piala Citra Festifal Film Indonesia (FFI 2005) diantaranya :

Piala Citra – Film Bioksop Terbaik
Piala Citra – Pemeran Utama Pria Terbaik (Nicholas Saputra)
Piala Citra – Pengarah Sinematografi Terbaik.

Nah menurut gue sendiri film “Gie” ini bagus banget, karena di film ini kita bisa belajar buat jangan takut buat ngeluarin pendapat yang menurut kita benar dan jangan takut buat menyuarakan ketidakadilan di negeri ini (ceiiilah bahasa gue tinggi banget yeee, bodoamat!!!) walaupun bakalan banyak banget yang akan menjadi musuh kita karena sikap keberanian kita, enggak masalah asal kita benar enggak usah dengerin apa kata orang yang benci sama kita. Gue saranin buat lo yang suka sama film sejarah dan ngaku pemuda berani mending lo nonton dulu deh film “Gie” ini, gue jamin lo bakalan bangga sama sosok Gie yang berani melawan ketidakadilan di negeri ini 😀
Source: carousell.com


Judul buku                       : Madre Kumpulan Cerita

Judul Resensi Novel        : MADRE

Pengarang                        : Dewi Lestari “Dee”

Penerbit                           : Bentang Pustaka

Tahun Terbit                    : Februari 2013

Kota Terbit                       : Yogyakarta

Jumlah Halaman              : 160 Halaman


MADRE


Dewi Lestari atau yang biasa disebut sebagai Dee, menulis sebuah buku yang berjudul “Madre Kumpulan Cerita” . Dalam buku ini terdapat beberapa kisah yang terdiri dari 13 karya fiksi dan prosa pendek, yang merupakan karyanya selama lima tahun. Cuma gue lebih tertarik untuk meresensi sebagian dari buku Madre ini. Kenapa Cuma sebagian? Karena menurut gue yang menarik perhatian gue Cuma cerita itu. Hehe.

Oke, gue bakalan meresensi cerita yang menurut gue bagian paling menarik dari buku Madre ini. Apakah itu? Cerita tentang Madre sendiri lah yang menurut gue menarik. Bingung? Makanya baca nih resensi gue wkwkwkwk.

Cerita pertama yang disajikan oleh buku Madre adalah cerita mengenai Madre itu sendiri. Pasti kalian bertanya-tanya kan apasih Madre itu? Madre adalah sebutan untuk adonan biang roti yang sudah berumur puluhan tahun, yang terbuat dari tepung, air, fungi bernama Saccharomyses exiguus dan bakteri.

Cerita berawal dari laki-laki bernama Tansen Roy Wuisan seorang pemuda berambut gimbal dan berkulit gelap memiliki sedikit darah tionghoa dan india yang merupakan seorang surfing mengetahui asal-usul keluarganya yang ternyata mewarisi sebuah adonan biang roti yang bernama Madre yang sudah gue jelaskan di atas kepadanya. Kakek dan Nenek Tansen yang bernama Tan Sin Gie dan Laksmhie adalah pembuat roti terkenal pada masanya. Kakek Nenek Tansen membuka usaha toko Roti dengan nama “Tan de Bakker” yang berdiri tahun 1943 di Jakarta Kota. Seiring bermunculan bakery modern, toko roti Tan tenggelam pelan-pelan yang disebabkan tak ada untung.

Mendengar ia mendapat warisan “Madre” Tansen yang pada awalnya tinggal di Bali pergi ke Jakarta untuk menengok seperti apa warisan yang diberikan sang kakek padanya. Ketika mengetahui yang ia dapatkan hanya setoples adonan biang roti Tansen enggan untuk mengurus warsan tersebut, namun atas penjelasan Pak Hadi seorang mantan pembuat roti di toko roti Tan yang mengatakan kalo jika Madre hanya bisa diturunkan pada seseorang yang punya “hubungan langsung” yang ternyata adalah Tansen sendiri.

Selama tinggl di Tan de Bakker Pak Hadi mengajarkan bagaimana membuat roti dengan biang Madre. Semua pengalamannya selama tinggal di Jakarta atau lebih tepatnya tinggal di Toko Tan de Bakker  ia tulis di blog pribadinya. Cerita mengenai pengalaman membuat roti dengan Madre yang ia tulis di blognya membuat ia berkenalan dengan seorang perempuan bernama Mei Tanuwidjaja yang ternyata penikmat blog Tansen selama ini yang juga pengusaha roti  yang bernama Fairy Bread dan sudah tiga generasi diurus oleh keluarga Mei.

Mei si pembaca setia blog Tansen tertarik untuk memcicipi roti yang terbuat dari Madre dan berniat membeli resep Madre. Maka Mei mengunjungi Tan de Bakker dan menceritakan niatnya untuk membeli resep Madre. Namun Tansen menolak untuk menjual Madre. Walaupun Tansen menolak untuk menjual Madre, Mei tak pantang menyerah. Mei menawarkan 100 juta kepada Tansen untuk menjual Madre.

Tansen merasa tergiur dengan tawaran Mei, karena ia berpikir kalo dirinya tidak pandai mengolah roti jadi lebih baik Madre dijual kepada orang yang tepat seperti Mei. Pak Hadi yang sudah puluhan tahun bekerja di Tan de Bakker tidak rela menjual Madre. Namun apa daya Madre sekarang sudah dimiliki Tansen, jadi Pak Hadi tidak punya hak untuk melarang Tansen menjual Madre.

Di tengah cerita Tansen mengetahui betapa berharganya Madre tidak hanya untuk Pak Hadi saja tapi juga untuk keempat orang keluarga Tan de Bakker yakni Bu Sum, Bu Cory, Bu Dedeh dan Pak Joko yang sudah bekerja bertahun-tahun di Tan de Bakker. Melihat itu Tansen merasa tidak enak hati. Akhirnya Tansen menghubungi Mei dan merubah kesepakatan mereka. Tansen membuat kesepakatan jika semua roti yang diperlukan Mei akan dibuat di Toko Roti Tan, jadi Tansen dan seluruh keluarga besar Tan de Bakker yang menerima order dari Mei. Keputusan Tansen itupun membuat Pak Hadi dan keempat orang lainnya ikut senang.

Kerja sama itu berjalan baik. Mei mengajak Tansen untuk makan malam bersama. Mei banyak bercerita tentang usaha rotinya dan kesukaanya melihat tulisan Tansen di blog pribadinya yang membuat ia iri dengan Tansen kan kebebasan yang ia miliki waktu di Bali. Dari obrolan itu Tansen jadi tertarik pada Mei.

Walaupun kerjasama antara Tan de Bakker berjalan lancar ada hal yang mengganjal hati Tansen, yakni kondisi Bu sum, Pak Hadi, Bu Cory, Bu Dedeh dan Pak Joko yang sudah menua dan tidak lagi memiliki fisik sekuat Tansen. Tansen menceritakan kegelisahannnya itu pada Mei dan Mei memberikan solusi. Solusi yang diberikan Mei adalah bergabungnya Fairy Bread dan Tan de Bakker jadi jam kerja Pak Hadi dan kawan-kawan jomponya. dengan pegawai Fairy Bakker bergantian sehingga tidak memporsir kerja Pak Hadi dan kawan-kawan jomponya.

Dengan menggabungkan Tan de Bakker dengan Fairy Bread membuat nama toko roti Tan de Bakker berubah menjadi Tansen de Bakker yang berarti Tansen si pembuat roti. Media publikasi pun juga bertambah sehingga Tansen Bakker mempunyai website, twitter, facebook dan lainnya. Tidak hanya itu sekarang Tansen de Bakker tidak hanya menjual roti tapi sudah punya menu all day dining, yang meski daftarnya. tak banyak semua adalah menu terbaik.

Gue ngebaca buku ini sebenarnya agak bingung, kenapa? Bingung kok bisa-bisanya tuh kakek Tansen tahu kalo si Tansen emang pantes dan bisa ngelola toko roti yang udah lima tahun bangkrut? Padahal penulisnya nyeritain kalo si Tansen sama kakeknya enggak pernah kenal satu sama lain. Itu doang sih kekurangan dari cerita Madre menurut gue. Kurang detail aja. Tapi selebihnya oke kok 😀
Judul Novel           : Cinta Kamu, Aku…: Ini Bukan Drama Radio!
Judul resensi novel: Bukan sekedar Drama Radio
Pengarang             : Irfan Ihsan
Penerbit                : Noura Books
Tahun Terbit         : Februari 2013
Kota Terbit           : Jakarta
Jumlah Halaman  : 304 hal





Cinta Kamu, Aku merupakan karya pertama dari Irfan Ihsan si penulis novel ini. Pertama kali tahu kalo Irfan Ihsan bikin novel saya langsung berencana ingin membeli dan membacanya, dan akhirnya kesampaian juga. Alhamdulillah :). Kenapa saya tertarik dengan novel ini? Alasan pertamanya sudah pasti karena penulisnya. Kenapa penulisnya? Saya sejak SMP sudah mengikuti siaran VOA baik itu di radio maupun di televisi dan sudah pasti tahu dengan Irfan Ihsan yang nerupakan broadcaster internasional di VOA jadi kepengin tahu gimana sih kalo seorang penyiar radio terkenal bikin novel. Alasan kedua adalah karena saya merupakan seorang announcer di Radio Kampus di Jakarta, pokoknya semua hal yang berkaitan sama radio saya suka. Pas tahu novel ini juga ada kaitannya sama dunia radio tanpa pikir panjang saya langsung beli dan membabat abis buku ini. Hehehehehe 😀

Novel  “Cinta Kamu, Aku…” berkisah tentang seorang penyiar radio weekend 93.5 Flash FM yang selalu membawakan acara Pengin Request (PR) setiap hari sabtu malam dia adalah Fabian Suhendra atau yang biasa dipanggil Aan. Walaupun cara siarannya dinilai bagus baik itu oleh kru Flash FM maupun pendengar setianya, namun  kehidupan Aan tidak sebagus siarannya. Sebagai penyiar radio dengan air time pas-pasan, uang kos yang selalu nunggak dan penyakit jomblonya yang sudah ia derita selama 27 tahun ia selalu dilanda kegalauan.


Ada yang berbeda dari malam minggu sebelumnya yang sering Aan lewati, malam minggu kali ini terasa berbeda karena ada tamu siaran yang bikin Aan lupa sama galaunya yakni kedatangan penyanyi cantik, Risha, yang dikenal dengan suara merdunya, kecantikan, dan segudang prestasinya.  Dari awal pertemuan dengan Risha itulah Aan langsung jatuh hati pada penyanyi terkenal itu, namun sayang hati Risha sudah dimiliki orang lain.

Kenikamatan kehidupan Risha sebagai seorang penyanyi papan atas yang disukai banyak orang tidak seindah kehidupan pribadi Risha yang sejak kecil sudah berpisah dengan Orang tuanya akibat bercerai, ibunya yang juga seorang penyanyi sibuk dengan kegiatan shownya dan ayahnya yang juga sibuk. Belum lagi dengan kisah cintanya yang terbilang cukup rumit, karena selama beberapa tahun ini Risha menjalin hubungan special dengan suami orang yakni Yudha Ardiansyah selaku composer dan pencipta lagu terkenal.

Kerumitan cinta Aan, Risha dan Yudha berawal dari Risha yang tanpa sengaja mencium Aan yang saat itu sedang berada di dekatnya yang sama-sama sedang menghadiri acara Cipta Indonesia Music Award (CIMA), karena refleks melihat sang pujaan hati Yudha bermesraan dengan Ratih istri Yudha. Semenjak kejadian itu banyak infotainment yang memberitakan. Urusan wartawan dan lain-lainnya dapat diselesaikan oleh Lego manager Risha, namun tidak dengan Aan. Sejak kejadian ciuman tersebut Aki-Ninik Aan yang ada di Bandung sudah mengetahui dan menginginkan Aan untuk memperkenalkan Risha pada Mereka.

Risha berniat untuk mengklrifikasi kejadian itu pada Aan dan berharap Aan tidak menganggap insiden itu sebagai hal yang serius. Namun perkiraan Risha salah besar! Aan justru menganggap bahwa tindakan Risha itu sebagai ungkapan rasa sayangnya pada Aan. Keinginan Risha untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi tertahan oleh suruhan Aki-Ninik Aan untuk mampir ke rumah mereka. Dirumah Aki Ninik Risha merasakan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Bersama Risha untuk beberapa waktu, belum membuat Aan yakin kalau Risha betul-betul menyukainya.Dan pada akhirnya ketidakyakinan itu terjawab okeh curhatan Risha yang membuat Aan sadar ternyata ada orang lain di hati Risha bukan dirinya yang hanya seorang penyiar radio weekend dan anak kos yang sering ngutang. Walapun demikian Aan dan Risha tetap dekat dan kedekatan mereka membuat Risha merasakan perasaan yang berbeda pada Aan. Hubungan Aan dan Risha sudah diketahui oleh banyak pihak termasuk kru Flash fm dan infotainment.

Kedekatan Aan dan Risha membawa berkah bagi Aan. Akhirnya Aan mendapatkan jadwal siaran pagi dan banyak job-job lain yang berdatangan, pokoknya sejak Aan kenal dengan Risha banyak hal-hal yang menghujam jantung Aan banget deh seperti lagunya Tompi “Menghujam Jantungku”.

Kebahagiaan Aan dengan Risha mulai terganggu saat Yudha sudah menggugat cerai istrinya dan berusaha mendekati Risha lagi. Risha pun mulai goyah dengan perasaannya antara ingin kembali dengan Yudha atau bersama dengan Aan. Serapat-rapatnya rahasia hubungan Risha dan Yudha akhirnya pun terbongkar juga di saat Risha ingin mengakhiri hubungan dengan Yudha, Aan pun merasa kecewa dan berpikir kalo Risha telah mempermainkannya. Rahasia Risha ini juga diketahui oleh seluruh infotainment dan banyak berita miring mengenai Risha. Banyak yang mengatakan bahwa cinta Risha dan Aan hanya sekedar drama radio. “Kami yakin itu hanya akal-akalan mereka saja. Sebuah dongeng. Namanya juga penyiar. Seperti sebuah kisah dalam radio saja.” (Hal 252).

Menjelang akhir cerita, Aan berusaha ingin membuktikan pada Risha dan semua orang di dunia kalo cinta mereka bukanlah sekedar Drama Radio. “Sha.. mau nggak kamumembuktikan ke dunia, kalau cinta kita, bukanlah hanya sebuah Drama Radio… Cinta kita benar ada.”( Hal 291).

Dalam novel ini banyak menggambarkan suasana radio dan juga kehidupan dunia hiburan. Bagaimana terkadang wartawan yang hanya mengincar berita yang sensasional dan terkadang menyudutkan sang artis. Cerita ini mengalir begitu saja dan mempertemukan tokoh-tokohnya dalam satu frekuensi yang tak disadari. Meskipun ada beberapa kesalahan dalam penulisan waktu kejadian tapi itu tidak mempengaruhi nilai novel, ke-khasan anak mudanya dan inti dari cerita yang ingin disampaikan penulis.

Kesimpulan yang bisa didapatkan oleh para pembaca novel Cinta Kamu, Aku…: Ini Bukan Drama Radio! adalah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, dalam mencari pasangan hidup walaupun kita merasa bukan siapa-siapa tidak berarti kita tidak dapat menemukan pasangan yang juga bukan siapa-siapa. Aan dan Risha telah membuktikan bahwa cinta akan datang pada orang, waktu dan tempat yang tepat jika Tuhan telah merestui untuk mereka bertemu di satu frekuensi. Dan satu lagi bahwa kesabaran itu akan membuahkan hasil yang tak terduga. Aan yang sudah jomblo selama 27 tahun bisa mendapatkan Risha yang sangat sempurna berkat kesabarannya.


Saya baru pertama kali ke Bali. Perjalanan saya ke Bali bisa dibilang setengah happysetengah was-was. Happy karena akhirnya bisa ke Bali juga dan menyaksikan sendiri keindahan dan kearifan lokal Bali bukan hanya dari TV aja, Youtube, atau foto-foto dari media sosial maupun artikel di internet tapi dengan mata saya sendiri. Was-was karena saya sempat bermasalah dengan travel yang saya gunakan untuk mengakomodir perjalanan saya dan teman-teman dari Jakarta ke Bali maupun sebaliknya.

Saya ke Bali bareng sama 7 temen saya lainnya.  3 orang adalah teman-teman SD. Sementara 4 lainnya adalah temennya temen-temen saya yang sekarang juga jadi temen saya (semoga yang baca enggak bingung ya :D). Saya berangkat dari hari Sabtu, tanggal 23 September 2017 malam dan balik ke Jakarta Selasa malam tanggal 26 September 2017.

Kalau mau diceritain dari awal cukup rumit juga. Tapi poin dari masalah saya dan temen-temen saya adalah SALAH PILIH TRAVEL! Itu harus banget saya caps lock karena udah kesel banget sama nih pihak travel. Awalnya kenapa akhirnya saya sama temen-temen saya memilih travel ini, karena cuma satu faktor-nya, yaitu pihak travel menawarkan harga tiket PP Jakarta-Bali maupun sebaliknya, tempat penginapan, dan mobil selama di Bali dengan harga yang cukup ‘terjangkau’ yaitu, Rp1.250.000. Bagi kami yang belum punya pengalaman memakai jasa travel, dan belum pernah ke Bali, melihat penawaran menarik seperti itu, seperti melihat diskon gede-gedean di Departemen Store, jadi langsung mau aja. Hahaha. Emang sih sebelum akhirnya kami sepakat untuk memilih travel tersebut kami rundingan dulu, dan mencari tahu soal testimoni orang-orang soal travel tersebut di Line travel ini.

Berdasarkan hasil ‘riset’ kecil-kecilan kami, tidak ada yang mencurigakan dari travel ini. Akhirnya, yaudah kami sepakat memakai travel ini. Setelah kami membayar full (seinget saya h-1 bulan sebelum keberangkatan) ke pihak travel-nya, kami menemukan berbagai kejanggalan. Pertama, pihak travel ngasih tiket keberangkatan Jakarta Bali h-1 keberangkatan.  Kalo nih travel emang bener, enggak ada tuh sejarahnya ngasih tiket keberangkatan h-1. Bikin ngeri-ngeri jengkel gimana gitu kan, deg-degan takut enggak jadi berangkat.

Saya udah geregetan banget sama nih travel, temen-temen saya yang ikut trip ini pada hubungin tuh owner travel nanyain ‘mana Mba tiket keberangkatan saya dan teman-teman?’ Tapi jawabannya slow banget kayak siput. Mending kalau masalahnya cuma sampai disitu aja. Ketidakberesan juga berlanjut dengan penginapan yang dijanjikan diawal. Di awal-awal sebelum bayar lunas, owner ngejanjiin saya sama temen-temen saya dapat penginapan yang lumayan baguslah. Pas kita cari diinternet juga kelihatannya bagus. Tapi pas sampe Bali, yang kita dapetin malah beda banget dan enggak sesuai sama nama tempat yang dijanjiin. Malah dikasih penginapan yang menurut kami minim fasilitas dan di dekat tempat yang banyak klub malam. Daerah penginapannya ada di Legian.

Oh iya, pas kami sampai di Bali, kami dijemput oleh Pak Adi. Beliau bekerja sebagai guide di Bali dan bekerjasama dengan pihak travel yang saya gunakan. Tapi jangan salah, Pak Adi ini orangnya baik, lucu, dan bener-bener ngebimbing kami untuk bisa menikmati perjalanan selama di Bali. Terus, paginya kita mutusin buat cari penginapan lain yang lebih nyaman dan untungnya harganya pun murah. Saya dan temen-temen jadinya nginap di Spazio hotel. Lokasinya ada di Legian, Kuta. Fasilitas kamarnya bagus, dalam satu kamar tidur ada satu bed besar yang muat untuk empat orang, TV LED, AC, kamar mandi yang bersih, dan di depan kamar saya itu langsung menghadap kolam renang. Waktu itu, kami memesan 2 kamar tidur yang lumayan besar agar muat untuk diinggal 4 orang satu kamar. Petugasnya juga ramah-ramah. Intinya enggak nyesel lah nginep di sini dan beda sama penginapan yang sebelumnya.

24 September 2017

Hari Minggu saya sama temen-temen saya memutuskan untuk mengunjungi Taman Wisata Munduk Danu Desa Pakraman Wanagiri. Harga tiketnya cukup murah cuma. Rp10.000 untuk satu orang. Di tempat ini kita bisa foto-foto di atas wahana yang menggantung di ketinggian gitu. Jadi kalau kita foto bisa kelihatan tuh pemandangn luas yang pastinya bagus buat jadi background. Kayaknya emang sekarang lagi musim deh wisata yang semacam itu.

Sayangnya dihari itu, Bali hujannya cukup deras, jadi saat saya ngunjungin tempat wisata itu dengan basah-basahan. Demi dapaetin foto di sana kami rela deh basah-basahan kena hujan. Setelah itu lanjut lagi kami ngunjungin Daya Tarik Wisata Ulun Danu Beratan. Tiket masuk ke tempat wisata ini murah juga cuma Rp20.000. Di sini kita bisa liat semacam candi atau apa ya namanya pokoknya yang ada di gambar uang 50 ribuan. Di sini juga banyak banget bule-bulenya, mulai dari Asia sampe non Asia.



Oh iya, pas makan siang saya juga sempet nyobain makanan khas Bali yakni ayam betutu. Kalo berdasarkan penjelasan dari Pak Adi sebenarnya ayam betutu yang asli itu ada kuahnya. Nah, sementara yang saya beli itu enggak ada kuahnya dan bentuk serta rasanya lebih mirip sama pepes ayam. Hahahaah. Tapi tetep enak kok. Mungkin yang saya makan itu ayam betutu versi lainnya kali yah disesuain sama yang bisa masak hahahaha.



Malamnya saya makan di tempat makan deket hotel namanya Dewi Sri Food Center. Di sini macem-macem makanan yang bisa dipesen. Mulai dari seafood, nasi goreng, mie goreng sampe makanan yang berbahan babi pun ada.

25 September 2017

Di hari Senin, saya sama temen-temen saya datang ke Tanah Lot. Untuk tiketnya sendiri sebesar Rp20.000 per orang (hanya untuk WNI). Jadi, harga tiket masuk antara WNI sama WNA dibedain. Saya lupa harga tiket masuk untuk WNA berapa. Kalo kepo, coba search di google pasti ada. Hahaha. Oh iya, Pak Adi cuma nemenin kami jalan-jalan sehari aja. Nah,  sisanya temen saya, Nilta yang membawa mobil selama kami keliling di Bali.

Di Tanah Lot bukan cuma bisa lihat pemandangan pantainya yang bagus, tapi pengunjung juga bisa beli beberapa suvenir dan oleh-oleh di sini. Ada toko baju khas Bali, aksesoris, toko makanan, dan lain-lain. Mumpung ada tempat oleh-oleh, kami mutusin buat belanja sebagian oleh-oleh di sini. Saya sendiri beli beberapa kaos, tas khas Bali, dan daster (buat nyokap). Kalo saya bilang sih harganya masih relatif terjangkaulah, ya walaupun masih harus nawar juga hahaha.

Di Tanah Lot


Sehabis dari Tanah Lot, kami berkunjung ke GWK (Garuda Wisnu Kencana). Di sini kita bisa liat 3 patung yaitu Garuda, Wisnu sama Kencana. Harga tiketnya untuk WNI dewasa Rp70.000 sementara untuk WNA Dewasa harga tiketnya Rp100.000.

Pasukan lengkap  di GWK ( dari Kiri-Kanan) ada Eva, Titha, Hani, Nilta, Firdha, saya, Vika, dan Kak Frisca
Ini teman-teman SD saya. Yang kedua dari kiri, udah mau nikah tahun ini heheheh

Abis itu kita ke Pantai Jimbaran yang lokasinya enggak terlalu jauh sama GWK. Sebenarnya kami ngejar sunset, tapi ternyata, sunset di sini kurang keliatan. Dan pantainya udah terlalu banyak ‘kontaminasi’ manusia, alias banyak sampah.

Di Pantai Jimbaran


26 September 2017

Hari terakhir, saya sama temen-temen ngunjungin pantai Pandawa yang lokasinya di area Kuta. Kalo menurut saya pantainya lebih bagus dari pantai Jimbaran dan di sini bulenya lebih banyak hahha.




Fyi, dihari terakhir, saya sama temen2 belum mendapat kepastian soal tiket pulang. Ngeri kan travel yang saya pake waktu itu? Saya sama temen2 udah hubungin pihak travel­nya dengan berbagai cara seperti SMS, telepon, Line, WA, semuanya deh. Tapi enggak di respon dari pihak travel yang tidak bertanggung jawab ini.

Akhirnya, saya dan kawan-kawan memutuskan untuk membeli sendiri tiket pesawat buat kembali ke Jakarta dengan membelinya langsung di Bandara dan temen saya yang lain ada yang beli melalui aplikasi Traveloka. Asli sih, kesel banget saya sama travel abal-abal itu. Dari awal emang udah enggak beres, mulai dari tiket berangkat ke Bali yang dikasih baru h-1 malam, penginapan enggak sesuai sama yang dijanjiin, tiket pulang ke Jakarta kita beli sendiri. Ckckck.

Pada akhir cerita perjalanan ini, saya sama temen-temen menuntut si pihak travel buat ngeganti uang tiket pesawat pulang kita dan nagih janji dia kalau tiket GWK kita mau diganti. Saya lupa sih totalnya ‘kerugian’ uangnya berapa, tapi kayaknya 5.5 juta kalau enggak salah. Setelah kami kembali ke Jakarta, beberapa hari kemudian kami menagih dan akhirnya cuma diganti 5 juta saja. Agak kesel sih kurang Rp500 ribu. Tapi yaudah lah, masih bersyukur uang 5 juta kami di kembalikan.

Jujur ini jadi pelajaran berharga banget sih buat kami, untuk lebih berhati-hati dalam memilih travel untuk melakukan perjalanan kemana pun. Terlebih lagi kalau si pihak travel meng-iming-imingi harga yang super duper murah. Itu harus diwaspadai banget.

Ya, itulah sekelumit cerita perjalanan saya ke Bali tahun lalu. Semoga dari pengalaman saya dan teman-teman saya bisa menjadi pelajaran bagi yang membaca-nya.


Content writer, agency, digital, agency digital
Sumber: Unsplash.com
Sebelum saya cerita soal pengalaman saya menjadi Content Writer (CW), saya mau kasih tahu dulu soal bedanya Content Writer sama Copywriter. Soalnya masih ada sebagian orang yang nganggep kalau kedua posisi ini memiliki tugas yang sama. Untuk yang belum tahu, perbedaan kedua posisi ini, mereka sebenarnya serupa tapi tak sama.

Content writer itu orang yang menulis atau yang menyediakan konten untuk web atau brand. Biasanya  artikel yang dibuat bertujuan untuk memberikan informasi kepada pembaca. Seringnya kalau Content writer itu nulis tentang artikel tips. Intinya artikel yang dibuat harus informatif, edukatif, dan menarik, tapi harus dikaitkan juga sama brand-nya dengan memasarkan brand se-smooth mungkin (soft selling).

Kalau copywriter tugasnya bikin tulisan sepersuasif mungkin untuk membuat pembaca tertarik dan akhirnya membeli produk yang ditawarkan. Pokoknya bikin tulisan pemasaran produk atau iklan (hard selling).

Saya kurang lebih sudah 11 bulan 12 hari (diitungin banget:P) menjalani pekerjaan seorang CW di digital agensi di daerah Jakarta. Awalnya saya bisa nyemplung di dunia digital agensi berkat teman saya yang ngajak untuk masuk kantornya karena waktu itu emang lagi perlu CW tambahan.

Saat itu, saya emang lagi menganggur, karena resign dari tempat kerjaan yang lama. Jadi pas ada tawaran kerjaan yang menurut saya cocok dengan saya, langsung saya meng-iyakan tawaran teman saya itu. Saya enggak tahu ya, apakah rata-rata proses recruitment di setiap kantor digital agensi enggak seribet kantor atau pekerjaan lainnya kayak media, PNS, atau bidang lainnya yang mengharuskan mengikuti beberapa tahap seleksi kayak psikotes, wawancara HRD, wawancara user, tes kesehatan, FGD, dan lain-lain. Karena waktu saya mau masuk jadi karyawan di tempat yang sekarang, saya langsung diwawancara sama user-nya, dua orang (Editor and Content Strategist dan Head of SEO) sekitar bulan Oktober 2016.

Sayangnya, pas saya masuk, Editor and Content Strategist-nya udah resign dan dua minggu setelah saya masuk Head of SEO-nya juga resign. Kalau yang saya denger sih mereka resign karena pada mau bikin usaha sendiri. Cuma enggak tahu deh ini bener apa enggak. Hehehe. Kalau  kata teman-teman saya yang udah lama kerja di digital agensi, rata-rata di ‘dunia’ ini turnover-nya tinggi banget. Dalam setahun bisa lebih dari 10 karyawan yang resign dan masuk. Ya tapi, hilang satu, dua, tiga, perusahaan bisa nyari lagi satu, dua, tiga, empat, lima, dan sebanyak yang mereka mau. hahaha.

Oke balik lagi ke topik. Saya enggak langsung kerja setelah melalui proses wawancara itu, saya diminta untuk menjadi freelancer dulu selama 3 bulan. Saat itu, buat saya yang memang lagi nganggur dan perlu uang, saya mau-mau saja ditawarin jadi freelancer dulu. Saya mikirnya positif aja, karena saya juga belum ada pengalaman banyak soal dunia tulis di bidang digital. Jadi emang butuh waktu untuk ngebuktiin ke mereka soal kebisa-an saya nulis. Mungkin. Hahahha. Masuk ke bulan Januari 2017, saya dapat kabar kalau saya diterima di kantor yang sekarang buat jadi SEO Content Writer. Wah denger itu saya langsung seneng pake banget.

Jujur, saya buta banget sama yang namanya dunia digital. Saya memang sebelumnya sudah suka nulis di blog pribadi dan di tempat kerja saya yang lama, kerjaan saya juga ada kaitannya sama nulis juga, cuma lebih ke nulis soal kegiatan kampus buat kepentingan website kampus. Di dunia digital, khususnya SEO saya enggak tahu apa-apa. Saya belajar dari nol (sampai saat ini masih belajar juga, karena SEO itu banyak banget tekniknya). Waktu itu saya cuma tahu, SEO itu bisa bikin sebuah situs ada di urutan nomor satu Google. Tapi saya enggak tahu aturan bikin artikel SEO itu kayak gimana.

Mungkin ada yang nanya, kan katanya Eka udah pernah jadi freelancer selama 3 bulan, masa iya belum tahu nulis artikel SEO kayak gimana? Menurut saya enaknya jadi freelancer adalah enggak banyak aturan. Waktu saya jadi freelancer, di-brief untuk nulis klien MAP, mereka cuma bilang ‘bikin artikelnya yang penting per artikel terdiri dari 500 kata, jangan copy-paste, hindari typo, sumber bisa dari mana saja, masukkan keyword sebanyak 1 persen dari 500 kata (berarti 5 keyword dalam 500 kata)’. Sudah gitu saja. Maklum namanya freelancer kan pasti tulisannya bakal diedit lagi sama editor. Hehehe.

Pas saya jadi SEO CW beneran, ternyata nulis artikel SEO enggak semudah itu. Ada aturannya kayak di judul, meta description harus dimasukkin keyword. Judul enggak boleh lebih dari 60 karakter, meta description enggak boleh lebih dari 160 karakter, gitulah pokoknya. Udah gitu, pas saya masuk jadi karyawan, editor yang harusnya ada malah resign. Jadi kerjaan saya double, nulis juga, ngedit tulisan sendiri juga. Emang sih di kantor saya ada yang namanya SEO Project Management, posisi-nya ini lebih kepada ngatur jatah berapa banyak seorang CW nulis artikel setiap bulan, ngatur jatah backlink, dan lain-lain. Semenjak editor enggak ada, si SEO Project Management membantu juga ngedit tulisan saya, tapi kan pasti enggak se-detail editor yang sesungguhnya hehehe.

Sesuai sama judul saya ‘Enak – Enggaknya Jadi Content Writer di Digital Agency’, berikut enak dan enggak-nya yang saya alami selama 11 bulan 12 hari.

Enak-nya Jadi Content Writer di Digital Agensi

1. Ada rasa bangga kalau tulisan kita diposting di website klien, apalagi kalo tulisan kita banyak yang baca dan ada di halaman satu Google. Salah satu klien yang saya pegang saat ini adalah klien yang ngebahas soal ajang olahraga yang sebentar lagi mau diadain di Jakarta dan Palembang. Klien ini sebenarnya cukup ribet karena pengin tulisan yang dibuat itu bagus banget, kayak tulisan portal-portal situs olahraga di website luar negeri dan harus detail.

Buat saya, ini tantangan sih. Karena saya harus melakukan riset lumayan lama buat bikin satu artikel. Kebetulan kliennya cukup detail soal data-data kayak cabang olahraga, prestasi atlet, dan lain-lain dan banyak maunya, enggak boleh nulis tentang ini -itu, jangan pakai kata ini-itu, dan lain-lain. Kalau kata atasan saya, artikel SEO itu enggak mesti cantik kayak artikel di majalah atau bikinan kayak tulisan advertising agency. Yang penting ada keyword, tulisannya nyambung, dan enggak banyak typo. Tapi kan susah juga ya, klien ini nuntut kita buat nulis artikel sebagus dan sedetail mungkin. Jadi bikinnya juga enggak bisa cepet-cepet. Ya kadang ngomong doang emang gampang, tapi pas dikerjain enggak semudah yang diomongin :’)

2. Jadi nambah ilmu tiap hari. Karena nulis artikel buat klien enggak bisa asal jadi, saya harus riset dulu kalo mau nulis. Otomatis saya jadi tahu kan soal topik yang saya mau tulis dan nambah wawasan juga sedikit demi sedikit.

3. Traktiran dari klien. Enaknya lagi nih¸ kadang suka dapat traktiran makan dari klien. Emang enggak tiap bulan sih. Tapi lumayan lah bisa makan enak. Terakhir saya makan di Abuba Steak di Senopati, ditraktir makan steak yang kalau saya beli sendiri, saya pasti mikir-mikir buat belinya. Cuma karena ini traktiran, otomatis bisa pesen yang mana saja. Hehehe.

Enggak Enaknya Jadi Content Writer di Digital Agensi

1. Sering pusing, sakit punggang, leher dan tangan pegal. Ya, saya sering pusing saking banyaknya artikel yang saya tulis. Sebulan bikin 80 artikel untuk 4 sampai 5 klien yang berbeda-beda, bahkan pernah 7 klien sebulan, gimana enggak pusing? Dalam sehari kadang saya bisa ngerjain 2 sampai 3 klien yang beda-beda. Satu soal HP, satu soal lifestyle, satu tentang biskuit, dan lainnya. Selain itu, jadi CW itu kan kebanyakan duduk. 

Tangan dan leher jadi sering pegal. Koyo adalah benda yang selalu ada di laci kerja saya. Kalau lagi kerja, tapi tangan lagi pegal, ya saya ngetik dengan tangan ditempelin koyo. Mending kalau tangan doang yang pegal, kalau leher sama punggung juga lagi pegal yaudah saya kerja dengan tiga tempelan koyo di badan 😦

2. Klien banyak maunya. Paling kesal kalau ada klien yang banyak aturan dan banyak mau. Saat ini saya megang klien biskuit buatan luar negeri yang katanya sih enggak dijual di Indonesia. Mereka punya standar tinggi banget kalo soal pemilihan gambar buat artikel yang saya buat. Setiap saya ajukan gambar, mereka sering nolak dan bilang gambarnya kurang menarik. Saya sudah cari di Google bahkan hingga ShutterStock (situs gambar berbayar) kadang itu masih enggak di approved

Pas ditanya, mau gambar kayak gimana, mereka cuma bilang cari gambar yang elegan, mewah, dan sesuai-in sama produknya. Bingung enggak tuh? Kan selera saya sama mereka kan beda ya. Saya kadang bisa cuma cari satu sampai dua  gambar itu lebih dari satu jam, gara-gara biar sesuai sama yang klien mau.

3. Mengira seorang content writer itu tahu semua hal. Menghadapi klien emang harus sabar sih. Secara klien itu raja kan? (Begitu kata bos saya dan bos-bos lainnya hahaha). Tapi kata-kata ini saya enggak suka. Justru menurut saya malah bikin klien ngelunjak. Saya pernah menghadapi klien yang banyak enggak tahunya kalau ditanya. Wajar dong kalo saya tanya soal product knowledge-nya, masa iya perusahaan enggak ada product knowledge-nya, atau at least press release-nya gitu. Tapi mereka bilang enggak ada. 

Si klien malah nyuruh saya cari di Google. Emang sih klien ini udah punya nama di Indonesia maupun Asia. Jadi mereka nganggep-nya semua informasi tentang brand mereka ada di Google. Kayaknya impossible banget kalo mereka enggak punya product knowledge tentang produk mereka sendiri, iya kan? Ini mah alasan mereka saja kali, enggak mau susah nyari di data base mereka. Malah bikin susah orang lain. (sabar kan aku ya Allah :’)). Di website resmi mereka katanya ada soal produknya. Iya memang ada, tapi cuma dikit banget. Itu juga informasinya enggak sampai 200 kata kali! Jadi mereka cuma ngasih guideline seadanya tapi minta saya bikin artikel se-cakep mungkin. Katanya referensi bisa dari mana saja. Tapi kalau saya salah nulis, saya dimarah-in dengan kata-kata yang lumayan bikin elus-elus dada.

4. Banyak orang yang menilai jadi CW itu kerjanya gampang. Saya paling sebal kalau ada yang bilang, "Jadi CW itu gampang, kan udah ada referensinya di Google, tinggal riset dikit, tulis pake kata-kata sendiri, masukin keyword, asal jangan copas jadi deh artikel SEO. Jadi enggak usah capek-capek mikir". Pikiran ini bukan cuma dari teman-teman saya yang tidak menjadi CW maupun yang tidak bekerja di agensi digital, tapi orang-orang di kantor saya pun ada beberapa yang menganggap enteng pekerjaan CW. 

Saya yang dengar kata-kata itu, biasanya langsung bilang ‘mending lo rasain deh satu hari aja jadi CW kayak gimana. Rasain gimana pusingnya ngerangkai kata, yang cuma berdasarkan dari 2-3 kata keyword tapi lu harus kembangin jadi 500 kata. Yang ada lo mungkin langsung ajuin surat resign.’ Saya sampai seketus itu, karena kesel banget. Hahahha. Maap yak. 

5. Sering bawa kerjaan ke rumah. Kadang weekend enggak berasa. Saya sering banget kerja weekend di rumah. Ini biasanya terjadi karena di weekedays saya ngerjain revisi dari klien, bahan buat bikin artikel susah dicari, ada meeting sama klien, atau datang ke event klien yang bisa dimasukin buat bikin artikel. Jadi otomatis, waktu saya buat ngerjain artikel berkurang. Bisa aja sih dikerjain pas weekdays selanjutnya, tapi otomatis akan mempengaruhi jadwal pekerjaan saya buat mengerjakan artikel lainnya.

Itu dia cerita pengalaman saya kerja menjadi CW digital agensi. Terlepas dari enggak enaknya jadi CW, Buat kamu yang emang passion banget di dunia tulis dan tertarik sama dunia digital, jadi CW bisa banget jadi salah satu pilihan buat ngembangin kemampuan nulis dan gajinya juga lumayan (Yang pasti di atas UMR :p). Selain itu, naik jabatannya juga lumayan cepat (kalo kerja-nya bagus). Tapi ya, emang banyak banget yang resign dan masuk jadi karyawan baru. Karena rata-rata yang kerja di digital agency itu anak-anak yang masih muda yang masih mau banyak-banyakin pengalaman dan enggak mau cepat puas (katanya sih gitu).

Jadi buat kamu yang mau mengembangkan karir di dunia digital, digital agensi bisa jadi tempat belajar yang bagus banget buat membentuk mental, networking, ilmu, dan lain-lain. Oh iya, maaf ya kalau kepanjangan ceritanya 🙂

Semoga bermanfaat!

Dibeberapa minggu lalu saya nonton film dokumenter berjudul Negeri Dongeng yang menceritakan tentang sebuah komunitas yang bernama Aksa 7 yang melakukan ekspedisi pendakian ke tujuh gunung tertinggi yang ada di Indonesia.  Saya waktu itu nonton di Blok M Square.  Sebelum saya membahas tentang film Negeri Dongeng, saya pengin ngasih tahu kenapa saya kepengin banget nonton film ini.

Jujur ini adalah film dokumenter pertama yang saya tonton full sampai habis. Karena sebenarnya saya agak kurang tertarik sih sama film dokumenter.  Alasan saya kepengin banget nonton Negeri Dongeng, karena cerita filmnya yang menarik, yakni berkaitan sama pendakian gunung. Saya sebenarnya punya keinginan, minimal sekali semasa hidup ngerasain yang namanya mendaki gunung itu kayak gimana. Keinginan naik gunung itu ada sejak saya baca novel dan nonton film 5 CM karya Donny Dirghantoro dan disutradarai sama Rizal Mantovani yang dirilis di bioskop tahun 2012.


Saya juga sempat mendengar beberapa cerita dari orang-orang yang pernah mendaki gunung, kalau naik gunung itu bisa membuat pendakinya semakin mengenal dirinya sendiri, mengingat apa-apa saja yang sudah pernah dilakukan di dunia, makin mencintai ibu pertiwi, dan pastinya semakin mengingat akan kebesaran Tuhan YME.  Maka dari itu, saya ingin sekali naik gunung suatu saat nanti, pengin ngebuktiin sendiri 🙂

Oke, balik ke topik utama. Jadi, seperti yang sudah saya singgung di atas jika Negeri Dongeng ini bercerita tentang perjalanan sekumpulan tujuh pemuda Indonesia yang bukan hanya ingin mengeksplor keindahan Indonesia, namun juga ingin menceritakan kepada masyarakat luas jika Indonesia itu memang benar-benar indah dan memiliki alam yang kaya lewat sebuah karya, yakni film.

Film Negeri Dongeng dibuat dari mengumpulkan kisah pendakian yang dilakukan selama kurang lebih dua tahun yang dimulai bulan November 2014 menuju Gunung Kerinci, kemudian dilanjutkan pada bulan Desember 2014 untuk Gunung Semeru. Pada Januari 2015 untuk Gunung Rinjani, Februari 2015 untuk Gunung Bukit Raya, Mei 2015 untuk Gunung Rantemario, November 2015 untuk Gunung Binaiya. Ditutup dengan pendakian ke Gunung Cartenz, Papua, yang termasuk dalam seven summit dunia pada April 2016.

Lewat film ini para penonton diperlihatkan bagaimana sulitnya mendaki gunung, apa saja tantangannya (bukan hanya dari alam, melainkan dari partner mendaki, bahkan dari diri pendakinya sendiri). Negeri Dongeng juga menggambarkan secara apa adanya konflik-konflik yang terjadi oleh para tim Aksa 7, yang terkadang menimbulkan sisi ego dari masing-masing tim. Menurut saya yang paling menyentuh adalah ketika ada salah satu orang yang ikut mendaki, namun sudah tidak bisa atau tidak sanggup mendaki karena sakit bahkan harus dirawat di rumah sakit, namun saat sebelum dibawa ke rumah sakit, semua kru ikut turut membantu agar perempuan tersebut bisa mendapat pengobatan dan meneruskan pendakian, namun apa daya, perempuan tersebut harus menyerah lebih dulu dan dirawat di rumah sakit.

Dari situ saya belajar akan arti dari gotong royong, saling membantu, susah senang ditanggung bersama, meskipun tidak bisa dipungkiri jika terkadang ego diri sendiri pun masih muncul sesekali.  Selain itu, terlihat pula kehidupan masyarakat pegunungan serta proses interaksi personal antar tim ekspedisi demi mencapai ke-7 puncak gunung yang didaki. Dan tak ketinggalan gambaran kekayaan Indonesia baik tumbuhan maupun satwa yang begitu banyak, namun sayangnya tidak bisa dinikmati seluruhnya oleh masyarakat Indonesia sendiri.

Contohnya, dalam film ini menceritakan fakta tentang produksi teh Indonesia, di mana pasar nasional hanya membeli kualitas kelas III, sementara untuk kelas I-II untuk diekspor. Dan digambarkan pula adanya kerusakan alam seperti penebangan pohon.

Film Negeri Dongeng disutradarai oleh Anggi Frisca. Dalam film juga ditampilkan perjalanan komunitas Aksa 7 bersama dengan personel lainnya, ada Chandra Sembiring sebagai produser, Teguh Rahmadi, Jogie KM Nadeak, Rivan Hanggarai, Wihana Erlangga, Yohanes Patiassina.  Ada pula Nadine Chandrawinata, Medina Kamil, dan Darius Sinatria.

Yang saya lihat dari film ini, seakan ingin menyampaikan nilai pesan jika masyarakat Indonesia diharapkan bisa bergotong royong untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik, dengan salah satunya adalah tidak merusak alam.  Dan ingin pula mengedepankan sisi empati antar sesama manusia.

Film yang berdurasi 1 jam 44 menit ini juga memiliki beberapa kutipan yang menurut saya jleb banget. Dua diantaranya kalau saya tidak salah ingat yakni  “Semakin tinggi kita naik gunung, kita semakin bisa mengenal diri kita sendiri” dan  “Setiap hidup kita adalah film kita. Kita adalah sutradara dalam hidup kita”.