Kamu ada yang sudah mengenal Podcast? Atau mungkin ada dari kamu yang lebih suka mendengarkan podcast daripada radio? Media suara ini memang belum se-terkenal Blog atau Vlog di Indonesia.  Peminatnya juga belum sebanyak negara asalnya, yakni Amerika. Di negara Paman Sam, podcast sama terkenalnya dengan Youtube. Kebanyakan mayarakat di Amerika mendengarkan informasi di sela-sela waktu dengan mendengarkan podcast. Memang podcast sendiri diproduksi oleh Apple.

Podcast sendiri adalah sebuah platform siaran suara yang sekilas mirip dengan radio, tapi bedanya bisa di-download dari internet dan bisa didengarkan kapan aja yang kamu mau. Podcast atau iPod Broadcast ini juga diartikan sebagai sebuah blog bersuara (atau audio blog). Saat ini podcast bukan hanya terbatas pada suara aja, tapi sekarang video juga bisa, tapi yang lebih popular adalah untuk suara.

Adanya podcast, sebenarnya sangat memudahkan kamu mendengarkan informasi audio yang sesuai dengan kebutuhan. Di podcast juga banyak tersedia jenis kategori yang bisa dipilih untuk bisa didengarkan, misalnya tentang dunia hiburan, olahraga, lifestyle, bahkan bisnis juga ada. Kalau berbicara soal platform untuk podcast, ada banyak yang bisa digunakan baik gratis maupun berbayar. Selain Apple Podcast bawaan aplikasi dari iphone, salah satu platform yang banyak digunakan juga  oleh para podcaster adalah Soundcloud

Mungkin kamu udah familiar, sama yang satu ini ya? Saya juga udah tahu soundcloud dari kuliah, buat dengerin cover-an lagu. Ya, dulu Soundcloud memang menjadi salah satu media yang digunakan banyak orang sebagai ajang media sosial buat orang yang suka nyanyi tapi hanya ingin didengar suaranya aja. Hahahaha.

Saya sendiri udah punya podcast dari beberapa tahun lalu sejak kuliah. Tapi enggak pernah diurus hahaha. Buka cuma buat dengerin cover-an lagu yang dinyanyiin sama cowok yang saya suka di kampus. Hahaha. Terus di tahun 2018 ini saya kepikiran buat coba mulai ‘isi’ Soundcloud saya dengan podcast yang ngebahas tentang buku (rencananya sih gitu), tapi enggak tahu kalau sore. *Lah hehehe

Jadi, untuk podcast pertama saya ini, saya mencoba membahas novel yang berjudul Resign karangan Almira Bastari. Sekilas tentang buku ini, bercerita tentang satu geng yang terdiri dari 4 orang yang menyebut diri mereka cungpret, alias kacung kampret yang ada di sebuah kantor konsultan di Jakarta yang berlomba-lomba untuk resign duluan dari kantor gara-gara bos mereka yang super nyebelin dan selalu bisa mengendus niatan karyawannya yang mau resign. Kata resign tentu jadi agak sedikit menggelitik karena di luaran sana ada banyak karyawan yang mau resign dari tempat kerjaannya, salah satu alasannya karena bos! hehehe. Soundcloud saya sendiri bernama Eka Rahmawati. Buat kamu yang mau mendengar Soundcloud saya tentang buku Resign, bisa klik di sini.

Jadi, tujuan saya bikin podcast sebenarnya buat memotivasi saya baca buku biar enggak malas. Hehehe. Saya punya kebiasaan kalau abis beli buku baru, enggak langsung dibaca. Jadi, buku baru pada numpuk tuh di lemari. Dengan adanya podcast sebenarnya kayak membuat saya memiliki kewajiban aja buat bikin konten baru. Heheheh. Mudah-mudahan bisa terus konsisten buat bikin podcast baru. Aamiin 😊. 

Untuk membuat podcast yang bagus, memang memerlukan beberapa persiapan yang seharusnya dilakukan, salah satunya adalah membuat script atau naskah. Ya, naskah bukan cuma buat acting aja lho ya, tapi bikin podcast pun juga harus bikin, biar ngomongnya terarah gitu. Di podcast saya yang pertama ini jujur saya enggak pakai script. Saya cuma nulis poin-poin mau ngomong apa, dengan maksud biar terarah kalau ngomong.

Eh tapi pas udah mulai nge-record suara pakai hape, malah enggak sesuai sama yang ada di poin-poin. Hahaha. Tapi saya pikir ya udah enggak apa-apa, namanya juga masih belajar. Saya buat bikin 1 podcast aja ngerekam sampai 4 kali hahaha. Kalau menuntut kesempurnaan di awal, kayaknya karya enggak bakal jadi-jadi. Iya, enggak? Bener apa bener? 😊





Tampak Luar Coto Makassar Senen Syamsul Daeng Awing

Sabtu (28/4/2018) kemarin saya pergi ke daerah Senen, Jakarta Pusat untuk makan coto Makassar. Daerah rumah saya itu Tangerang, tepatnya di daerah Kreo. Nah, ngapain sih jauh-jauh ke Senen buat makan coto Makassar aja? Kata temen kantor saya, Ardan yang emang asli orang Makassar, selama dia tinggal di Jakarta, coto Makassar di Senen-lah yang cukup juara.

Oke, berhubung saya emang enggak tahu apa-apa soal makanan Makassar, jadi saya ngikut aja. Tempat makannya bernama Coto Makassar Senen Syamsul Daeng Awing, yang lokasinya enggak jauh dari Atrium Senen, tepatnya di Jalan Kramat Raya / Soka No. 2 Jakarta Pusat. Tempatnya di belakang deretan warung padang dan posisinya paling pojok. Kalau dari segi tempatnya, samalah kayak tempat makan pada umumnya, cuma emang di salah satu dinding tempat makan ini banyak foto-foto tempat bersejarah di daerah Makassar.

Oh iya, buat yang belum tahu, sebenarnya apa sih coto Makassar itu? Apa sama kayak soto-soto lainnya? Jadi, coto Makassar itu terbuat dari jeroan sapi yang direbus dalam waktu yang lama. Terus dipotong kecil-kecil dan dibumbui dengan bumbu khusus. Bukan cuma isi sama kuahnya aja yang beda, tapi dari sisi penyajiannya juga beda.

Coto Makassar dihidangkan dalam mangkuk kecil seukuran mangkuk sekoteng menurut saya. Kalau kata Ardan, emang sengaja disajiin dalam porsi kecil karena makan coto Makassar bisa bikin kolesterol kalau kebanyakan, apalagi kalau sampe coto Makassarnya enak dan bikin nagih. Hahaha. Terus biasanya, coto Makassar dimakan sama ketupat dan "burasa" atau yang biasa dikenal sebagai buras, semacam lontong tanpa isi tapi bentuknya kecil, agak pipih dan dibungkus daun pisang.

Saya dipesenin sama Ardan coto Makassar campur, yang isinya itu ada usus, hati, daging, dan paru. Pas saya cobain emang rasanya enak apalagi kalau dimakan sama ketupat dan burasa, wah makin tambah nikmat. Kuahnya juga pas bumbunya. Biar makin maknyos, bisa juga ditambahin bawang goreng, kacang tanah sama daun bawang. Buat yang suka pedes sama ada rasa asam juga bisa ditambah sambal cabai sama perasan jeruk nipis yang disedia-in sama coto Makassar Senen.


Coto Makassar sebelum dan sesudah dicampur ketupat, kacang tanah, bawang goreng, dan daun bawang (Dokpri) 


Bukan cuma itu aja, saya juga diminta cobain Jalangkote, makanan ringan kuliner khas Makassar yang mirip sama kue pastel. Cuma bedanya kalo dari tampilan kue pastel kulitnya lebih tebal daripada jalangkote. Sementara dari cara makannya, pastel biasa dimakan dengan cabai rawit, tapi kalau jalangkote dimakan sama sambal cair yang terbuat dari cuka, gula, dan cabai.


Jalangkote. Gimana, mirip banget pastel, kan?


Isi dari jalangkote yang saya makan kemarin itu, ada wortel dan kentang yang dipotong dadu, tauge, sama laksa. Terus cara makannya, sambal jalangkote dituangin di isi jalangkotenya. Pas digigit, duh rasanya nikmat banget, bahkan pas saya gigit, sambal cairnya sampai keluar ke sela-sela jari tangan kanan saya.  Rasanya sendiri, menurut saya hampir sama sih kayak pastel cuma lebih sedikit lembek dari pastel. Pas saya tanya sama Ardan harga satu jalangkote itu berapa, katanya 1 jalangkote  Rp5.000. Sementara untuk satu porsi coto Makassar dihargai Rp30.000.

Ardan bilang, kalau di Makassar sendiri biasanya coto Makassar bisa dibanderol harga sekitar Rp15.000 cenderung lebih murah daripada Jakarta. Iyalah, pasti di tempat asalnya akan lebih murah daripada di luar daerah asalnya. Buat kamu yang pengin juga cobain coto Makassar yang enak di Jakarta, Coto Makassar Senen Syamsul Daeng Awing bisa menjadi pilihan. Saya senang bisa nyobain coto Makassar, jadi udah enggak penasaran lagi sama makanan khas Sulawesi Selatan ini.

Buat kamu yang punya rekomendasi tempat makan daerah Makassar di Jakarta, boleh lho sharing di kolom komentar ya.