Source: Google Image


  

Detail Film
• Judul Film : Alangkah Lucunya Negeri Ini
• Produksi : Citra Sinema
• Rilis : 2010
• Durasi : 105 Menit
• Produser : Zairin Zain
• Penulis scenario : Musfar Yasin
• Sutradara : Deddy Mizwar
Pemain : Reza Rahadian, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Jaja Mihardja, Tio Pakusadewo, Asrul Dahlan, Ratu Tika Bravani, Rina Hasyim, Sakurta Ginting, Sonia, Teuku Edwin.

Kali ini gue pengen mencoba meresensi film yang sebenarnya udah lumayan lama juga, yakni Alangkah Lucunya Negeri Ini. Film yang dirilis tahun 2010 ini pasti udah enggak asing banget di telinga para pecinta film Indonesia. Agak telat memang gue mengulas film ini, maklum baru kemarin gue nonton nih film (kudet). Udah lama gue penasaran sama ini film. Dan baru kesampaian nonton filmnya kemarin berkat ngopy dari laptop temen gue hehehe.
Anyway kali ini gue bakal mengulas sedikit tentang film yang bergenre komedi ini. Kalau ada kesalahan dalam meresensi tolong dimaafkan yah, namanya juga belajar hehehehehe 

Film Alangkah Lucunya Negeri Ini mengangkat cerita tentang kehidupan anak jalan yang ada di Indonesia, khususnya di Jakarta. Dengan menonjolkan tema pendidikan, film ini bermaksud untuk menyentil masyarakat Indonesia agar sadar betapa pentingnya pendidikan untuk kemajuan suatu bangsa. Cerita bermula saat Muluk (Reza Rahadian) yang sejak lulus S1, hampir 2 tahun Muluk belum mendapatkan pekerjaan. Dengan keadaan demikian Muluk tak menyerah begitu saja. Pertemuan yang tak disengaja dengan pencopet bernama Komet tak disangka membuka peluang pekerjaan bagi Muluk. Melalui perkenalan itu Komet, mengajak Muluk untuk melihat markas besar yang menjadi tempat tinggal Komet bersama teman-temannya selama ini.
Saat datang ketempat markas tersebut Muluk dikagetkan oleh keadaan yang sangat memperihatinkan dari markas yang ditunjukkan Komet yakni berupa rumah tua yang sebenarnya tak layak huni. Muluk berpikir dan melihat peluang yang ia tawarkan kepada Jarot (Tio Pakusadewo).Muluk berusaha meyakinkan Jarot bahwa ia dapat mengelola keuangan mereka, dan meminta imbalan 10% dari hasil mencopet, termasuk biaya mendidik mereka. Usaha yang dikelola Muluk berbuah, namun di hati kecilnya tergerak niat untuk mengarahkan para pencopet agar mau mengubah profesi mereka. DIbantu dua rekannya yang juga sarjana,yakni Samsul (Asrul Dahlan), dan Pipit (Ratu Tika Bravani) yang juga pengangguran. Muluk membagi tugas mereka untuk mengajar agama, budi pekerti dan kewarganegaraan.

Muluk mengenalkan pendidikan kepada anak-anak pencopet ini bersama dua rekannya tadi, dalam proses mengubah kebiasaan pencopet yang masih berusia belia menjadi anak-anakyang berakhlak dan berpendidikan tidaklah mudah, Muluk, Pipit dan Samsul harus sabar mengajarkan kepada anak didik mereka tersebut tentang pentingnya pendidikan. Tidak hanya mengajarkan akhlak dan pendidikan, Muluk beserta dua rekannya juga menginginkan para pencopet tersebut merubah profesinya. Muluk ingin pencopet yang masih muda itu mencari penghasilan dengan cara yang halal yakni menjadi pedagang asongan.
Tantangan pun muncul, banyak para pencopet tersebut yang memberontak dan tidak ingin mengasong, mereka ingin tetap menjadi pencopet. Tidak hanya itu Orang tua Muluk yaitu Pak Makbul yang diperankan oleh Deddy Mizwar dan Orang Tua Pipit Haji Rahmat (Slamet Rahardjo) serta calon mertua Muluk Haji Sarbini (Jaja Mihardja) mengetahui jika anak-anak mereka ternyata tidak bekerja di kantor besar, tapi justru bekerja di tempat yang kumuh dan mengajar para pencopet pula. Para orang tua tersebut menganggap bahwa uang hasil kerja yang didapat oleh Muluk dan Pipit berasal dari uang haram.

Menurut gue dalam film ini bisa membuka mata kita bahwa masih banyak sekali anak-anak muda yang tak bisa mengakses pendidikan karena terhambat oleh biaya, belum lagi dalam film ini digambarkan pula tekanan sebagai seorang sarjana, gue jadi sadar walaupun kita punya title dibelakang nama kita dari berbagai disiplin ilmu, enggak menjamin kita bakal gampang diterima kerja. Bahkan sekarang banyak sarjana yang nganggur. Ini bisa terlihat dari kelakuan Pipit yang sebelum menjadi pengajar, ia sering mengikuti kuis di televisi dan undian berhadiah sebagai jalan pintas untuk mencari materi.

Ada yang menarik dari cuplikan akhir dari film ini, ada tulisan yang diambil dari bunyi pasal 34 UUD 1945 yang berbunyi “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara.” Ini sebagai kalimat penutup yang sangat menyentil bagi para masyarakat dan juga pemerintah. Ya menurut gue film ini bisa bikin sedikit kita melek lah sama keadaan bangsa ini, jangan terlalu egois mikirin diri sendiri, tapi kita juga perlu berempati kepada orang-orang yang tak seberuntung kita.

Sekian! 

Source:Goodreads.com

Udah lama banget gue enggak posting resensi buku. Huffft. Tapi jangan khawatir, karena dipostingan gue ini gue bakal meresensi buku yang baru aja gue baca. Buku apa itu?
Kali ini gue bakal meresensi buku yang judulnya “Off The Record : Kisah-kisah Jurnalistik Dari Lapangan Dan Meja Redaksi Surat Kabar” yang ditulis oleh Zaenuddin HM. Buat yang belum tahu siapa itu Zaenuddin HM, gue bakal ulas sedikit tentang beliau.
Zaenuddin HM merupakan wartawan senior Rakyat Merdeka Group, memimpin Harian Umum NonStop yang lahir di Jakarta 1966 yang aktif menulis sejak masa kuliah tahun 1980-an. Tulisan beliau banyak tersebar di berbagai media, seperti Majalah Hai, Hikmah, Didaktika, Harian Terbit, Merdeka, Pelita Mutiara, Jayakarta, Rakyat Merdeka dan Bandung Pos.
Buat yang suka sama bidang kewartawanan pasti udah enggak asing lagi sama nama jurnalis senior yang udah sedikit gue ulas. Langsung aja gue resensi buku “Off The Record” Karya Zaenuddin HM.

Judul : Off The Record : Kisah-kisah Jurnalistik Dari Lapangan Dan Meja Redaksi Surat Kabar
Penulis : Zaenuddin HM
Tahun Terbit : Juni 2007
Tebal Buku : 246 Halaman
Penerbit : Prestasi Pustaka
Tempat Terbit : Jakarta


Buku ini gue pinjam dari teman gue yang emang tertarik sama bidang kewartawanan. Iseng-iseng gue pinjam aja bukunya. Lumayan buat nambah-nambah pengetahuan dan suku kata karena kebetulan gue juga suka nulis. Buku yang bercerita tentang dunia kewartawanan ini, menurut gue asyik banget dibaca, kenapa? Karena buku ini secara tidak langsung memberikan gambaran bagi para pembaca khususnya yang ingin terjun di dunia kewartawanan di bidang media cetak. Buku yang dicetak pada Juni 2007 ini berisi cerita tentang pengalaman Zaenuddin HM yang mengawali karir sebagai jurnalis di tahun 1980-an hingga 2000-an.

Salah satu isi bukunya yang bisa gue share adalah di bab “Wartawan Anjing”. Apa maksudnya? Jadi di buku Off The Record itu menjelaskan kalo yang dimaksud dengan wartawan anjing adalah ini ada hubungannya dengan dengan fungsi pers yang sering diistilahkan dan digambarkan sebagai “Watch dog” atau “anjing penjaga”. Maksudnya adalah. Pers dan tentu saja kerja wartawan adalah sebagai kontrol sosial, menegor pemerintah atau penguasa agar tidak salah dalam mengeluarkan kebijakan, sehingga rakyat yang dirugikan.

Di dalam bukunya tersebut Zaenuddin juga menceritakan kalo wartawan itu bisa saja disuap oleh oknum-oknum tertentu. Dalam dunia kewartawanan dinamakan wartawan amplop. Terkadang ada saja wartawan yang diming-imingi uang oleh sumber berita agar berita yang dipublikasikan tidak berisi hal-hal negative yang dapat membuat nama baik maupun citra sumber berita menjadi buruk. Sebenarnya itu tergantung dari wartawannya sendiri, jika ia komitmen dengan tugasnya yakni harus berpihak pada kebenaran dan rakyat kecil wartawan yang diiming-imingi itu tidak akan tergoda.

Wartawan juga rentan terseret ke polisi. Dalam bukunya penulis mengisahkan yang saat itu beliau menjadi redaktur di Rakyat Merdeka harus ke kantor polisi menjadi saksi akibat berita yang dimuat oleh Rakyat Merdeka mengenai kerusuhan 27 juli 1996 (penyerbuan kantor DPP PDI Megawati di Jl Diponegoro Jakarta Pusat) yang saat itu Koran Merdeka menurunkan Headline “Ini Dia Tersangka Kasus 27 Juli” dan memasang foto-foto dari para tersangka yang salah satunya adalah pejabat polisi. Penulis diwawancarai mengenai bagaimana proses berita itu bisa turun hingga masuk ke surat kabar dan seterusnya.

Yang gue tangkap setelah membaca buku ini adalah menjadi seorang wartawan itu tidak mudah, selain kita harus akurat dalam memberitakan berita suatu kasus, kita juga harus memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan dari berita yang kita muat dikoran. Dan tidak bisa dipungkiri kalo wartawan juga ada enaknya yaitu kita bisa ketemu banyak orang, berkunjung ketempat baru bahkan bisa keluar negeri gratis. Buku ini bagus banget jadi panduan buat lo yang pengen jadi wartawan cetak!.


Hallo, manteman!
udah lamaaaaaaaaa banget gue enggak posting tulisan di blog kesayangan gue ini. kali ini gue pengen kasih tahu sebuah kabar gembira. kabar gembira buat siapa? yang pasti buat gue (yaiyalah). jadi singkat cerita gue sudah menerbitkan sebuah buku. (Apa sebuah buku? backsound “jeng-jeng-jenggggggg”)
Iya, gue menerbitkan sebuah buku hasil pikiran dan jerih bpayah gue sendiri (tsaaaahhhh!) Judul bukunya adalah “Cinta Melulu dan Cerita Cinta Lainnya” Buku ini isinya kumpulan cerita pendek alias cerpen. iya cerpen, karena gue belum mmpu buat novel, jadi ya dari yang kecil-kecil dulu yaudah akhirnya gue buat deh cerpen. Dalam buku gue itu terdiri dari 238 hal dan lima cerita pendek yang kelima-limanya terinspirasi dari pengalaman-pengalaman temen-temen gue (loh kok bukan pengalaman gue?), jadi temen-temen gue itu sering curhat ke gue tentang masalah pengalaman cinta mereka, nah sebagai teman yang baik, gue pasti mendengarkan cerita mereka dari awal, tengah hingga akhir dan sebagai pendengar sekaligus temen yang baik gue pasti memberi solusi yang baik buat masalah cinta mereka (serasa dewi cinta gue huehuehue). Dan setelah gue mendengarkan curhatan temen-temen gue itu gue jadi kepikiran kenapa gue enggak jadiin cerita aja tuh curhatan, kan lumayan nambah-nambahin tulisan gue, saat itu gue masih SMA dan gue udah suka sama yang namanya nulis, cuma kendala di M aja, iya M MALESSS!!!



Dengan segenap tenaga dan berusaha mengingat cerita apa saja yang udh disampein temen-temen gue, gue karang lah cerita pendek itu dan yang pasti nama mereka gue samarkan. Setelah gue tulis dan selesai beberapa tahun gue sempet mendem tuh cerpen di komputer dan buku harian gue. karena faktor M tadi dan gue juga enggak tahu mau nerbitin tuh cerpen gue di mana. Tapi cahaya terang menunjukkan jalan buat gue (yeillah bahasa gue) salah satu temen kuliah gue yang namanya Netya, ngasih gue inspirasi buat menerbitkan tulisan gue ke dalam sebuah buku.

Akhirnya dari liat-liat bukunya Netya yang juga menerbitkan buku, gue mengikuti jejaknya. Ada sebuah wadah bagi penulis pemula seperti gue yang ingin bukunya diterbitin bisa langsung akses di wwww.nulisbuku.com (kok yang bagian ini gue kaya promosi ya? Bodoamat!)
Setelah semua materi gue terkumpul akhirnya gue meng-upload naskah buku gue di situs tersebut. butuh waktu 14 hari untuk proses membuat buku tersebut.
Buat yang penasaran sama buku gue, Nih gue kasih link buku gue http://nulisbuku.com/books/view_book/4786/cinta-melulu-dan-cerita-cinta-lainnya
Jangan dibuka doang linknya, tapi dibuka juga bukunya (nyuruh kalian beli hehehehe). ini bukan buku yang ada di toko buku di mall-mall tapi ini buku indie, jadi kita sebagai penulis harus berperan aktif mempromosikan buku kita sendiri. Gue posting tulisan ini juga sebagai media gue untuk mempromosikan buku gue. jadi kalo manteman ada yang mau pesen buku gue bisa langsung pesen di nulisbuku.com dan mengirim email pastinya.



Kamis, (20/6) gue nonton film yang keren abis. Film apakah itu? Pernah denger nama tokoh “Soe Hok Gie”? atau biasa dikenal dengan nama “Gie”? enggak kenal yah? Atau belum pernah denger namanya sama sekali? Nah buat lo yang belum pernah denger dan enggak tahu tentang film “Gie” ini kali ini gue mau ngasih tahu sedikit tentang sosok Soe Hok Gie hasil gue searching di mbah Google hehehehe. Soe Hok Gie atau Gie ini adalah aktivis muda Indonesia yang lahir di Jakarta 17 Desember 1942. Ia merupakan mahasiswa fakultas sastra jurusan  sejarah Universitas Indonesia 1962–1969. Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Gie meninggal 16 Desember 1969 di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama temannya, Idhan Dhanvantari Lubis.


Buat lo yang suka sama film yang berbau sejarah, NAH! Film Gie ini cocok banget nih buat lo. Kenapa gue bisa bilang kaya gitu? Soalnya film ini memang menceritakan tentang sejarah perjuangan Gie yang berani menyuarakan pendapatnya di jaman Revolusi (halah bahasa gue berat bener yeeee. Bodoamat!).

Difilm yang release tahun 2005 diproduseri oleh Mira Lesmana dan disutradarai oleh Riri Riza ini  diilhami dari catatan harian “Soe Hok Gie” yang kemudian dibukukan, nama bukunya adalah Catatan Seorang Demonstran yang di terbitkan tahun (1983) (sejak gue nonton film “Gie” gue jadi tertarik pengen baca buku dan tulisan-tulisannya Gie, tapi sayang bukunya udah jarang banget di jual di pasaran L). Pemeran utama dari film ini adalah Nicholas Saputra yang memerankan Gie saat dewasa, ada juga Jonathan Mulia yang memerankan Gie saat masih remaja.

Gue percaya, setiap film yang diperanin sama si Nicholas Saputra pasti filmnya bagus-bagus, ya salah satunya film “Gie” ini yang emang bener-bener bagus. Film Gie ini sendiri bercerita tentang Soe Hok Gie dibesarkan di sebuah keluarga keturunan Tionghoa yang tidak begitu kaya dan tinggal di Jakarta. Sejak remaja, Gie sudah tertarik pada konsep-konsep idealis yang disampaikan oleh tokoh-tokoh kelas dunia. Semangat juangnya, setiakawan, dan hatinya yang peduli akan orang lain dan tanah airnya jadi satu di dalam diri Gie kecil dan tidak mengenal toleransi terhadap ketidakadilan dan mengimpikan Indonesia yang didasari oleh keadilan dan kebenaran yang murni. Semangat ini sering salah dimengerti orang lain. Bahkan sahabat-sahabat Gie, Tan Tjin Han dan Herman Lantang bertanya “Untuk apa semua perlawanan ini?”. Gie menjawab bahwa untuk memperoleh kemerdekaan sejati dan hak-hak yang dijunjung sebagaimana mestinya, ada harga yang harus dibayar, dan memberontaklah caranya. Ada semboyan Gie yang mengesankan berbunyi, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

Masa remaja dan kuliah Gie dijalani di bawah rezim pelopor kemerdekaan Indonesia Bung Karno, yang ditandai dengan konflik antara militer dengan PKI (tahukan PKI, ihhh masa enggak tahu sih? Itu loh Partai Komunis Indonesia yang dulu heboh banget diomongin huehuehue) . Gie dan teman-temannya tidak memihak golongan manapun. Meskipun  Gie menghormati Sukarno sebagai founding father negara Indonesia,  Gie begitu membenci pemerintahan Sukarno yang diktator dan menyebabkan hak rakyat yang miskin terinjak-injak.  Gie tahu banyak tentang ketidakadilan sosial, penyalahgunaan kedaulatan, dan korupsi di bawah pemerintahan Sukarno, dan dengan tegas bersuara menulis kritikan-kritikan yang tajam di media. Gie sangat membenci bagaimana banyak mahasiswa berkedudukan senat janji-janji manisnya hanya omong kosong belaka yang mengedoki usaha mereka memperalat situasi politik untuk memperoleh keuntungan pribadi. Penentangan ini memenangkan banyak simpati bagi Gie, tetapi juga memprovokasikan banyak musuh. Banyak interest group berusaha melobi Gie untuk mendukung kampanyenya, sementara musuh-musuh Gie bersemangat menggunakan setiap kesempatan untuk mengintimidasi dirinya.

Tan Tjin Han, teman kecil Gie, sudah lama mengagumi keuletan dan keberanian Gie, namun dirinya sendiri tidak memiliki semangat pejuang yang sama. Dalam usia berkepala dua, kedua lelaki dipertemukan kembali meski hanya sebentar. Gie menemukan bahwa Tan telah terlibat PKI tetapi tidak tahu konsekuensi apa yang sebenarnya menantinya. Gie memaksa Tan untuk meninggalkan segala ikatan dengan PKI dan bersembunyi, tetapi Tan tidak menerima desakan tersebut (AHHH PAYAH ENGGAK NURUT SAMA GIE).

Gie dan teman-temannya menghabiskan waktu luang mereka naik gunung dan menikmati alam Indonesia yang asri dengan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UI. Selain itu, mereka juga gemar menonton dan menganalisa film, menikmati kesenian-kesenian tradisional, dan menghadiri pesta-pesta.

Film ini menggambarkan petualangan Soe Hok Gie mencapai tujuannya untuk menggulingkan rezim Sukarno, dan perubahan-perubahan dalam hidupnya setelah tujuan ini tercapai.

*Itu dia synopsis dari film “Gie” yang gue dapatkan dari hasil ngegoogling hehe, ada yang gue ubah dikit kata-katanya biar enggak keliatan copast banget gitu wkwkwkwk, tapi intinya sih tetap sama 😀

Film ini juga menang di beberapa kategori di  Piala Citra Festifal Film Indonesia (FFI 2005) diantaranya :

Piala Citra – Film Bioksop Terbaik
Piala Citra – Pemeran Utama Pria Terbaik (Nicholas Saputra)
Piala Citra – Pengarah Sinematografi Terbaik.

Nah menurut gue sendiri film “Gie” ini bagus banget, karena di film ini kita bisa belajar buat jangan takut buat ngeluarin pendapat yang menurut kita benar dan jangan takut buat menyuarakan ketidakadilan di negeri ini (ceiiilah bahasa gue tinggi banget yeee, bodoamat!!!) walaupun bakalan banyak banget yang akan menjadi musuh kita karena sikap keberanian kita, enggak masalah asal kita benar enggak usah dengerin apa kata orang yang benci sama kita. Gue saranin buat lo yang suka sama film sejarah dan ngaku pemuda berani mending lo nonton dulu deh film “Gie” ini, gue jamin lo bakalan bangga sama sosok Gie yang berani melawan ketidakadilan di negeri ini 😀
Source: carousell.com


Judul buku                       : Madre Kumpulan Cerita

Judul Resensi Novel        : MADRE

Pengarang                        : Dewi Lestari “Dee”

Penerbit                           : Bentang Pustaka

Tahun Terbit                    : Februari 2013

Kota Terbit                       : Yogyakarta

Jumlah Halaman              : 160 Halaman


MADRE


Dewi Lestari atau yang biasa disebut sebagai Dee, menulis sebuah buku yang berjudul “Madre Kumpulan Cerita” . Dalam buku ini terdapat beberapa kisah yang terdiri dari 13 karya fiksi dan prosa pendek, yang merupakan karyanya selama lima tahun. Cuma gue lebih tertarik untuk meresensi sebagian dari buku Madre ini. Kenapa Cuma sebagian? Karena menurut gue yang menarik perhatian gue Cuma cerita itu. Hehe.

Oke, gue bakalan meresensi cerita yang menurut gue bagian paling menarik dari buku Madre ini. Apakah itu? Cerita tentang Madre sendiri lah yang menurut gue menarik. Bingung? Makanya baca nih resensi gue wkwkwkwk.

Cerita pertama yang disajikan oleh buku Madre adalah cerita mengenai Madre itu sendiri. Pasti kalian bertanya-tanya kan apasih Madre itu? Madre adalah sebutan untuk adonan biang roti yang sudah berumur puluhan tahun, yang terbuat dari tepung, air, fungi bernama Saccharomyses exiguus dan bakteri.

Cerita berawal dari laki-laki bernama Tansen Roy Wuisan seorang pemuda berambut gimbal dan berkulit gelap memiliki sedikit darah tionghoa dan india yang merupakan seorang surfing mengetahui asal-usul keluarganya yang ternyata mewarisi sebuah adonan biang roti yang bernama Madre yang sudah gue jelaskan di atas kepadanya. Kakek dan Nenek Tansen yang bernama Tan Sin Gie dan Laksmhie adalah pembuat roti terkenal pada masanya. Kakek Nenek Tansen membuka usaha toko Roti dengan nama “Tan de Bakker” yang berdiri tahun 1943 di Jakarta Kota. Seiring bermunculan bakery modern, toko roti Tan tenggelam pelan-pelan yang disebabkan tak ada untung.

Mendengar ia mendapat warisan “Madre” Tansen yang pada awalnya tinggal di Bali pergi ke Jakarta untuk menengok seperti apa warisan yang diberikan sang kakek padanya. Ketika mengetahui yang ia dapatkan hanya setoples adonan biang roti Tansen enggan untuk mengurus warsan tersebut, namun atas penjelasan Pak Hadi seorang mantan pembuat roti di toko roti Tan yang mengatakan kalo jika Madre hanya bisa diturunkan pada seseorang yang punya “hubungan langsung” yang ternyata adalah Tansen sendiri.

Selama tinggl di Tan de Bakker Pak Hadi mengajarkan bagaimana membuat roti dengan biang Madre. Semua pengalamannya selama tinggal di Jakarta atau lebih tepatnya tinggal di Toko Tan de Bakker  ia tulis di blog pribadinya. Cerita mengenai pengalaman membuat roti dengan Madre yang ia tulis di blognya membuat ia berkenalan dengan seorang perempuan bernama Mei Tanuwidjaja yang ternyata penikmat blog Tansen selama ini yang juga pengusaha roti  yang bernama Fairy Bread dan sudah tiga generasi diurus oleh keluarga Mei.

Mei si pembaca setia blog Tansen tertarik untuk memcicipi roti yang terbuat dari Madre dan berniat membeli resep Madre. Maka Mei mengunjungi Tan de Bakker dan menceritakan niatnya untuk membeli resep Madre. Namun Tansen menolak untuk menjual Madre. Walaupun Tansen menolak untuk menjual Madre, Mei tak pantang menyerah. Mei menawarkan 100 juta kepada Tansen untuk menjual Madre.

Tansen merasa tergiur dengan tawaran Mei, karena ia berpikir kalo dirinya tidak pandai mengolah roti jadi lebih baik Madre dijual kepada orang yang tepat seperti Mei. Pak Hadi yang sudah puluhan tahun bekerja di Tan de Bakker tidak rela menjual Madre. Namun apa daya Madre sekarang sudah dimiliki Tansen, jadi Pak Hadi tidak punya hak untuk melarang Tansen menjual Madre.

Di tengah cerita Tansen mengetahui betapa berharganya Madre tidak hanya untuk Pak Hadi saja tapi juga untuk keempat orang keluarga Tan de Bakker yakni Bu Sum, Bu Cory, Bu Dedeh dan Pak Joko yang sudah bekerja bertahun-tahun di Tan de Bakker. Melihat itu Tansen merasa tidak enak hati. Akhirnya Tansen menghubungi Mei dan merubah kesepakatan mereka. Tansen membuat kesepakatan jika semua roti yang diperlukan Mei akan dibuat di Toko Roti Tan, jadi Tansen dan seluruh keluarga besar Tan de Bakker yang menerima order dari Mei. Keputusan Tansen itupun membuat Pak Hadi dan keempat orang lainnya ikut senang.

Kerja sama itu berjalan baik. Mei mengajak Tansen untuk makan malam bersama. Mei banyak bercerita tentang usaha rotinya dan kesukaanya melihat tulisan Tansen di blog pribadinya yang membuat ia iri dengan Tansen kan kebebasan yang ia miliki waktu di Bali. Dari obrolan itu Tansen jadi tertarik pada Mei.

Walaupun kerjasama antara Tan de Bakker berjalan lancar ada hal yang mengganjal hati Tansen, yakni kondisi Bu sum, Pak Hadi, Bu Cory, Bu Dedeh dan Pak Joko yang sudah menua dan tidak lagi memiliki fisik sekuat Tansen. Tansen menceritakan kegelisahannnya itu pada Mei dan Mei memberikan solusi. Solusi yang diberikan Mei adalah bergabungnya Fairy Bread dan Tan de Bakker jadi jam kerja Pak Hadi dan kawan-kawan jomponya. dengan pegawai Fairy Bakker bergantian sehingga tidak memporsir kerja Pak Hadi dan kawan-kawan jomponya.

Dengan menggabungkan Tan de Bakker dengan Fairy Bread membuat nama toko roti Tan de Bakker berubah menjadi Tansen de Bakker yang berarti Tansen si pembuat roti. Media publikasi pun juga bertambah sehingga Tansen Bakker mempunyai website, twitter, facebook dan lainnya. Tidak hanya itu sekarang Tansen de Bakker tidak hanya menjual roti tapi sudah punya menu all day dining, yang meski daftarnya. tak banyak semua adalah menu terbaik.

Gue ngebaca buku ini sebenarnya agak bingung, kenapa? Bingung kok bisa-bisanya tuh kakek Tansen tahu kalo si Tansen emang pantes dan bisa ngelola toko roti yang udah lima tahun bangkrut? Padahal penulisnya nyeritain kalo si Tansen sama kakeknya enggak pernah kenal satu sama lain. Itu doang sih kekurangan dari cerita Madre menurut gue. Kurang detail aja. Tapi selebihnya oke kok 😀
Judul Novel           : Cinta Kamu, Aku…: Ini Bukan Drama Radio!
Judul resensi novel: Bukan sekedar Drama Radio
Pengarang             : Irfan Ihsan
Penerbit                : Noura Books
Tahun Terbit         : Februari 2013
Kota Terbit           : Jakarta
Jumlah Halaman  : 304 hal





Cinta Kamu, Aku merupakan karya pertama dari Irfan Ihsan si penulis novel ini. Pertama kali tahu kalo Irfan Ihsan bikin novel saya langsung berencana ingin membeli dan membacanya, dan akhirnya kesampaian juga. Alhamdulillah :). Kenapa saya tertarik dengan novel ini? Alasan pertamanya sudah pasti karena penulisnya. Kenapa penulisnya? Saya sejak SMP sudah mengikuti siaran VOA baik itu di radio maupun di televisi dan sudah pasti tahu dengan Irfan Ihsan yang nerupakan broadcaster internasional di VOA jadi kepengin tahu gimana sih kalo seorang penyiar radio terkenal bikin novel. Alasan kedua adalah karena saya merupakan seorang announcer di Radio Kampus di Jakarta, pokoknya semua hal yang berkaitan sama radio saya suka. Pas tahu novel ini juga ada kaitannya sama dunia radio tanpa pikir panjang saya langsung beli dan membabat abis buku ini. Hehehehehe 😀

Novel  “Cinta Kamu, Aku…” berkisah tentang seorang penyiar radio weekend 93.5 Flash FM yang selalu membawakan acara Pengin Request (PR) setiap hari sabtu malam dia adalah Fabian Suhendra atau yang biasa dipanggil Aan. Walaupun cara siarannya dinilai bagus baik itu oleh kru Flash FM maupun pendengar setianya, namun  kehidupan Aan tidak sebagus siarannya. Sebagai penyiar radio dengan air time pas-pasan, uang kos yang selalu nunggak dan penyakit jomblonya yang sudah ia derita selama 27 tahun ia selalu dilanda kegalauan.


Ada yang berbeda dari malam minggu sebelumnya yang sering Aan lewati, malam minggu kali ini terasa berbeda karena ada tamu siaran yang bikin Aan lupa sama galaunya yakni kedatangan penyanyi cantik, Risha, yang dikenal dengan suara merdunya, kecantikan, dan segudang prestasinya.  Dari awal pertemuan dengan Risha itulah Aan langsung jatuh hati pada penyanyi terkenal itu, namun sayang hati Risha sudah dimiliki orang lain.

Kenikamatan kehidupan Risha sebagai seorang penyanyi papan atas yang disukai banyak orang tidak seindah kehidupan pribadi Risha yang sejak kecil sudah berpisah dengan Orang tuanya akibat bercerai, ibunya yang juga seorang penyanyi sibuk dengan kegiatan shownya dan ayahnya yang juga sibuk. Belum lagi dengan kisah cintanya yang terbilang cukup rumit, karena selama beberapa tahun ini Risha menjalin hubungan special dengan suami orang yakni Yudha Ardiansyah selaku composer dan pencipta lagu terkenal.

Kerumitan cinta Aan, Risha dan Yudha berawal dari Risha yang tanpa sengaja mencium Aan yang saat itu sedang berada di dekatnya yang sama-sama sedang menghadiri acara Cipta Indonesia Music Award (CIMA), karena refleks melihat sang pujaan hati Yudha bermesraan dengan Ratih istri Yudha. Semenjak kejadian itu banyak infotainment yang memberitakan. Urusan wartawan dan lain-lainnya dapat diselesaikan oleh Lego manager Risha, namun tidak dengan Aan. Sejak kejadian ciuman tersebut Aki-Ninik Aan yang ada di Bandung sudah mengetahui dan menginginkan Aan untuk memperkenalkan Risha pada Mereka.

Risha berniat untuk mengklrifikasi kejadian itu pada Aan dan berharap Aan tidak menganggap insiden itu sebagai hal yang serius. Namun perkiraan Risha salah besar! Aan justru menganggap bahwa tindakan Risha itu sebagai ungkapan rasa sayangnya pada Aan. Keinginan Risha untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi tertahan oleh suruhan Aki-Ninik Aan untuk mampir ke rumah mereka. Dirumah Aki Ninik Risha merasakan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Bersama Risha untuk beberapa waktu, belum membuat Aan yakin kalau Risha betul-betul menyukainya.Dan pada akhirnya ketidakyakinan itu terjawab okeh curhatan Risha yang membuat Aan sadar ternyata ada orang lain di hati Risha bukan dirinya yang hanya seorang penyiar radio weekend dan anak kos yang sering ngutang. Walapun demikian Aan dan Risha tetap dekat dan kedekatan mereka membuat Risha merasakan perasaan yang berbeda pada Aan. Hubungan Aan dan Risha sudah diketahui oleh banyak pihak termasuk kru Flash fm dan infotainment.

Kedekatan Aan dan Risha membawa berkah bagi Aan. Akhirnya Aan mendapatkan jadwal siaran pagi dan banyak job-job lain yang berdatangan, pokoknya sejak Aan kenal dengan Risha banyak hal-hal yang menghujam jantung Aan banget deh seperti lagunya Tompi “Menghujam Jantungku”.

Kebahagiaan Aan dengan Risha mulai terganggu saat Yudha sudah menggugat cerai istrinya dan berusaha mendekati Risha lagi. Risha pun mulai goyah dengan perasaannya antara ingin kembali dengan Yudha atau bersama dengan Aan. Serapat-rapatnya rahasia hubungan Risha dan Yudha akhirnya pun terbongkar juga di saat Risha ingin mengakhiri hubungan dengan Yudha, Aan pun merasa kecewa dan berpikir kalo Risha telah mempermainkannya. Rahasia Risha ini juga diketahui oleh seluruh infotainment dan banyak berita miring mengenai Risha. Banyak yang mengatakan bahwa cinta Risha dan Aan hanya sekedar drama radio. “Kami yakin itu hanya akal-akalan mereka saja. Sebuah dongeng. Namanya juga penyiar. Seperti sebuah kisah dalam radio saja.” (Hal 252).

Menjelang akhir cerita, Aan berusaha ingin membuktikan pada Risha dan semua orang di dunia kalo cinta mereka bukanlah sekedar Drama Radio. “Sha.. mau nggak kamumembuktikan ke dunia, kalau cinta kita, bukanlah hanya sebuah Drama Radio… Cinta kita benar ada.”( Hal 291).

Dalam novel ini banyak menggambarkan suasana radio dan juga kehidupan dunia hiburan. Bagaimana terkadang wartawan yang hanya mengincar berita yang sensasional dan terkadang menyudutkan sang artis. Cerita ini mengalir begitu saja dan mempertemukan tokoh-tokohnya dalam satu frekuensi yang tak disadari. Meskipun ada beberapa kesalahan dalam penulisan waktu kejadian tapi itu tidak mempengaruhi nilai novel, ke-khasan anak mudanya dan inti dari cerita yang ingin disampaikan penulis.

Kesimpulan yang bisa didapatkan oleh para pembaca novel Cinta Kamu, Aku…: Ini Bukan Drama Radio! adalah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, dalam mencari pasangan hidup walaupun kita merasa bukan siapa-siapa tidak berarti kita tidak dapat menemukan pasangan yang juga bukan siapa-siapa. Aan dan Risha telah membuktikan bahwa cinta akan datang pada orang, waktu dan tempat yang tepat jika Tuhan telah merestui untuk mereka bertemu di satu frekuensi. Dan satu lagi bahwa kesabaran itu akan membuahkan hasil yang tak terduga. Aan yang sudah jomblo selama 27 tahun bisa mendapatkan Risha yang sangat sempurna berkat kesabarannya.


Saya baru pertama kali ke Bali. Perjalanan saya ke Bali bisa dibilang setengah happysetengah was-was. Happy karena akhirnya bisa ke Bali juga dan menyaksikan sendiri keindahan dan kearifan lokal Bali bukan hanya dari TV aja, Youtube, atau foto-foto dari media sosial maupun artikel di internet tapi dengan mata saya sendiri. Was-was karena saya sempat bermasalah dengan travel yang saya gunakan untuk mengakomodir perjalanan saya dan teman-teman dari Jakarta ke Bali maupun sebaliknya.

Saya ke Bali bareng sama 7 temen saya lainnya.  3 orang adalah teman-teman SD. Sementara 4 lainnya adalah temennya temen-temen saya yang sekarang juga jadi temen saya (semoga yang baca enggak bingung ya :D). Saya berangkat dari hari Sabtu, tanggal 23 September 2017 malam dan balik ke Jakarta Selasa malam tanggal 26 September 2017.

Kalau mau diceritain dari awal cukup rumit juga. Tapi poin dari masalah saya dan temen-temen saya adalah SALAH PILIH TRAVEL! Itu harus banget saya caps lock karena udah kesel banget sama nih pihak travel. Awalnya kenapa akhirnya saya sama temen-temen saya memilih travel ini, karena cuma satu faktor-nya, yaitu pihak travel menawarkan harga tiket PP Jakarta-Bali maupun sebaliknya, tempat penginapan, dan mobil selama di Bali dengan harga yang cukup ‘terjangkau’ yaitu, Rp1.250.000. Bagi kami yang belum punya pengalaman memakai jasa travel, dan belum pernah ke Bali, melihat penawaran menarik seperti itu, seperti melihat diskon gede-gedean di Departemen Store, jadi langsung mau aja. Hahaha. Emang sih sebelum akhirnya kami sepakat untuk memilih travel tersebut kami rundingan dulu, dan mencari tahu soal testimoni orang-orang soal travel tersebut di Line travel ini.

Berdasarkan hasil ‘riset’ kecil-kecilan kami, tidak ada yang mencurigakan dari travel ini. Akhirnya, yaudah kami sepakat memakai travel ini. Setelah kami membayar full (seinget saya h-1 bulan sebelum keberangkatan) ke pihak travel-nya, kami menemukan berbagai kejanggalan. Pertama, pihak travel ngasih tiket keberangkatan Jakarta Bali h-1 keberangkatan.  Kalo nih travel emang bener, enggak ada tuh sejarahnya ngasih tiket keberangkatan h-1. Bikin ngeri-ngeri jengkel gimana gitu kan, deg-degan takut enggak jadi berangkat.

Saya udah geregetan banget sama nih travel, temen-temen saya yang ikut trip ini pada hubungin tuh owner travel nanyain ‘mana Mba tiket keberangkatan saya dan teman-teman?’ Tapi jawabannya slow banget kayak siput. Mending kalau masalahnya cuma sampai disitu aja. Ketidakberesan juga berlanjut dengan penginapan yang dijanjikan diawal. Di awal-awal sebelum bayar lunas, owner ngejanjiin saya sama temen-temen saya dapat penginapan yang lumayan baguslah. Pas kita cari diinternet juga kelihatannya bagus. Tapi pas sampe Bali, yang kita dapetin malah beda banget dan enggak sesuai sama nama tempat yang dijanjiin. Malah dikasih penginapan yang menurut kami minim fasilitas dan di dekat tempat yang banyak klub malam. Daerah penginapannya ada di Legian.

Oh iya, pas kami sampai di Bali, kami dijemput oleh Pak Adi. Beliau bekerja sebagai guide di Bali dan bekerjasama dengan pihak travel yang saya gunakan. Tapi jangan salah, Pak Adi ini orangnya baik, lucu, dan bener-bener ngebimbing kami untuk bisa menikmati perjalanan selama di Bali. Terus, paginya kita mutusin buat cari penginapan lain yang lebih nyaman dan untungnya harganya pun murah. Saya dan temen-temen jadinya nginap di Spazio hotel. Lokasinya ada di Legian, Kuta. Fasilitas kamarnya bagus, dalam satu kamar tidur ada satu bed besar yang muat untuk empat orang, TV LED, AC, kamar mandi yang bersih, dan di depan kamar saya itu langsung menghadap kolam renang. Waktu itu, kami memesan 2 kamar tidur yang lumayan besar agar muat untuk diinggal 4 orang satu kamar. Petugasnya juga ramah-ramah. Intinya enggak nyesel lah nginep di sini dan beda sama penginapan yang sebelumnya.

24 September 2017

Hari Minggu saya sama temen-temen saya memutuskan untuk mengunjungi Taman Wisata Munduk Danu Desa Pakraman Wanagiri. Harga tiketnya cukup murah cuma. Rp10.000 untuk satu orang. Di tempat ini kita bisa foto-foto di atas wahana yang menggantung di ketinggian gitu. Jadi kalau kita foto bisa kelihatan tuh pemandangn luas yang pastinya bagus buat jadi background. Kayaknya emang sekarang lagi musim deh wisata yang semacam itu.

Sayangnya dihari itu, Bali hujannya cukup deras, jadi saat saya ngunjungin tempat wisata itu dengan basah-basahan. Demi dapaetin foto di sana kami rela deh basah-basahan kena hujan. Setelah itu lanjut lagi kami ngunjungin Daya Tarik Wisata Ulun Danu Beratan. Tiket masuk ke tempat wisata ini murah juga cuma Rp20.000. Di sini kita bisa liat semacam candi atau apa ya namanya pokoknya yang ada di gambar uang 50 ribuan. Di sini juga banyak banget bule-bulenya, mulai dari Asia sampe non Asia.



Oh iya, pas makan siang saya juga sempet nyobain makanan khas Bali yakni ayam betutu. Kalo berdasarkan penjelasan dari Pak Adi sebenarnya ayam betutu yang asli itu ada kuahnya. Nah, sementara yang saya beli itu enggak ada kuahnya dan bentuk serta rasanya lebih mirip sama pepes ayam. Hahahaah. Tapi tetep enak kok. Mungkin yang saya makan itu ayam betutu versi lainnya kali yah disesuain sama yang bisa masak hahahaha.



Malamnya saya makan di tempat makan deket hotel namanya Dewi Sri Food Center. Di sini macem-macem makanan yang bisa dipesen. Mulai dari seafood, nasi goreng, mie goreng sampe makanan yang berbahan babi pun ada.

25 September 2017

Di hari Senin, saya sama temen-temen saya datang ke Tanah Lot. Untuk tiketnya sendiri sebesar Rp20.000 per orang (hanya untuk WNI). Jadi, harga tiket masuk antara WNI sama WNA dibedain. Saya lupa harga tiket masuk untuk WNA berapa. Kalo kepo, coba search di google pasti ada. Hahaha. Oh iya, Pak Adi cuma nemenin kami jalan-jalan sehari aja. Nah,  sisanya temen saya, Nilta yang membawa mobil selama kami keliling di Bali.

Di Tanah Lot bukan cuma bisa lihat pemandangan pantainya yang bagus, tapi pengunjung juga bisa beli beberapa suvenir dan oleh-oleh di sini. Ada toko baju khas Bali, aksesoris, toko makanan, dan lain-lain. Mumpung ada tempat oleh-oleh, kami mutusin buat belanja sebagian oleh-oleh di sini. Saya sendiri beli beberapa kaos, tas khas Bali, dan daster (buat nyokap). Kalo saya bilang sih harganya masih relatif terjangkaulah, ya walaupun masih harus nawar juga hahaha.

Di Tanah Lot


Sehabis dari Tanah Lot, kami berkunjung ke GWK (Garuda Wisnu Kencana). Di sini kita bisa liat 3 patung yaitu Garuda, Wisnu sama Kencana. Harga tiketnya untuk WNI dewasa Rp70.000 sementara untuk WNA Dewasa harga tiketnya Rp100.000.

Pasukan lengkap  di GWK ( dari Kiri-Kanan) ada Eva, Titha, Hani, Nilta, Firdha, saya, Vika, dan Kak Frisca
Ini teman-teman SD saya. Yang kedua dari kiri, udah mau nikah tahun ini heheheh

Abis itu kita ke Pantai Jimbaran yang lokasinya enggak terlalu jauh sama GWK. Sebenarnya kami ngejar sunset, tapi ternyata, sunset di sini kurang keliatan. Dan pantainya udah terlalu banyak ‘kontaminasi’ manusia, alias banyak sampah.

Di Pantai Jimbaran


26 September 2017

Hari terakhir, saya sama temen-temen ngunjungin pantai Pandawa yang lokasinya di area Kuta. Kalo menurut saya pantainya lebih bagus dari pantai Jimbaran dan di sini bulenya lebih banyak hahha.




Fyi, dihari terakhir, saya sama temen2 belum mendapat kepastian soal tiket pulang. Ngeri kan travel yang saya pake waktu itu? Saya sama temen2 udah hubungin pihak travel­nya dengan berbagai cara seperti SMS, telepon, Line, WA, semuanya deh. Tapi enggak di respon dari pihak travel yang tidak bertanggung jawab ini.

Akhirnya, saya dan kawan-kawan memutuskan untuk membeli sendiri tiket pesawat buat kembali ke Jakarta dengan membelinya langsung di Bandara dan temen saya yang lain ada yang beli melalui aplikasi Traveloka. Asli sih, kesel banget saya sama travel abal-abal itu. Dari awal emang udah enggak beres, mulai dari tiket berangkat ke Bali yang dikasih baru h-1 malam, penginapan enggak sesuai sama yang dijanjiin, tiket pulang ke Jakarta kita beli sendiri. Ckckck.

Pada akhir cerita perjalanan ini, saya sama temen-temen menuntut si pihak travel buat ngeganti uang tiket pesawat pulang kita dan nagih janji dia kalau tiket GWK kita mau diganti. Saya lupa sih totalnya ‘kerugian’ uangnya berapa, tapi kayaknya 5.5 juta kalau enggak salah. Setelah kami kembali ke Jakarta, beberapa hari kemudian kami menagih dan akhirnya cuma diganti 5 juta saja. Agak kesel sih kurang Rp500 ribu. Tapi yaudah lah, masih bersyukur uang 5 juta kami di kembalikan.

Jujur ini jadi pelajaran berharga banget sih buat kami, untuk lebih berhati-hati dalam memilih travel untuk melakukan perjalanan kemana pun. Terlebih lagi kalau si pihak travel meng-iming-imingi harga yang super duper murah. Itu harus diwaspadai banget.

Ya, itulah sekelumit cerita perjalanan saya ke Bali tahun lalu. Semoga dari pengalaman saya dan teman-teman saya bisa menjadi pelajaran bagi yang membaca-nya.